
"Yah... baiklah, paman." Ucap Ravettha dengan meminum kembali minumannya.
"Haduh! Begini nih yang paling menyebalkannya! Di saat keponakanku ini diam seribu bahasa, dia bisa saja menyerang titik kelemahan para musuhnya kapanpun ia mau." Pikir Paman Karl dengan menepuk dahinya sekaligus menghela napas.
"Akan kupikirkan lagi kedepannya, lebih baik kau kembali pulang sebelum ayah dan pamanmu mengamuk kepadaku." Ucap Paman Karl.
Ravettha yang mendengar hal tersebut menjadi sangat bersemangat dan seluruh adrenalinnya kembali berkumpul tepat sama rata di seluruh bagian tubuhnya.
Walaupun ia sebenarnya mendengar sebuah kalimat "Akan kupikirkan lagi kedepannya." dari pamannya, ia tetap saja menganggap kalimat tersebut sebagai persetujuan di dalam benaknya.
"Padahal tanpa bertanya secara kritis, paman tetap saja tidak akan bisa lari dari tanggung jawabnya. Itu pun termasuk paman menyetujui permintaanku!" Pikir Ravettha dengan melirik pamannya yang sedang di dominasi oleh rasa keputus asaan.
Ia langsung berpamitan kepada pamannya dan langsung berlari dengan cepat menuju kamarnya.
"Kalau begitu, aku pergi dahulu, paman! Jangan lupa bahwa hari ini ada kelas tambahan!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang dan melambaikan tangannya.
Sesaat terlihat banyak sekali luapan semangat belajar di dalam diri keponakannya.
"Mungkin sudah saatnya aku melakukan tanggung jawab sebagai paman angkatnya lagi." Pikir Paman Karl dengan alis yang mengernyit dan senyum yang mulai terukir di wajahnya.
Ia langsung pergi ke kasir untuk membayar biaya para pesanannya.
Setelah Ravettha meninggalkanya, Paman Karl langsung kembali mengajar di kelasnya.
Sementara itu, Ravettha sedang berlari cepat lalu sedikit memperlambat kecepatannya.
Ia sengaja melakukannya untuk mengambil kesempatan melihat-lihat pemandangan di Tscaxius yang sangat indah dan asri.
Taman-taman kota mulai banyak digemari, banyak wisatawan yang mayoritasnya adalah penduduk wilayah tersebut bersuka ria melakukan aktivitas rekreasi bersama disana.
Karena rasa ingin tahunya terhadap kegiatan disana rendah, Ravettha berpindah ke tujuan selanjutnya, yaitu pelabuhan.
Baginya, tempat itu lebih menakjubkan daripada mengamati hubungan antar manusia dengan alam dan sesamanya.
__ADS_1
"Aku baru melihat jika di sekitar ini sedang ada pembangunan! Kira-kira akan dibangun seperti apa, ya?" Gumam Ravettha dengan melihat ke sekelilingnya yang dipenuhi para kerangka kapal-kapal besar.
"Hm... Jika tempat ini berhasil dibangun, semuanya akan menjadi semakin sibuk. Sama seperti kehidupan yang selalu diiringi dengan risiko dan dampaknya!" Pikir Ravettha dengan menatap ke arah para pekerja yang sedang membangun kapal-kapal tersebut dengan sangat serius.
Ia yang sudah puas mengamati keadaan di pelabuhan tersebut, langsung meninggalkannya dan pergi menuju ke rumahnya.
"Sungguh mengesankan! Baru 2 hari terlewatkan sejak pengamatan itu dan sekarang sudah bertambah maju? Jika diibaratkan, mereka seperti lebah-lebah pekerja dari atas ini, ya?" Pikir Ravettha dengan berlari dan melompati atap-atap perumahan dan gedung-gedung tinggi.
Ia melakukannya karena tidak ingin ada seorangpun yang melihatnya ataupun mengetahui keberadaannya.
Dua belas menit telah berlalu dan ia telah merasa sangat puas mengamati pemandangan indah tersebut sebelum menjalankan kegiatan-kegiatan sehari-harinya.
"KLIK!"
Tepat saat Ravettha sedang membuka jendelanya, ia mendengar suara langkah kaki sekaligus suara terbukanya pintu kamarnya.
Dirinya yang merasakan bahaya, ia langsung berteleportasi ke ruang tamu untuk mengurangi kecurigaannya.
"Loh? Dimana tuan putri kecil kita?" Tanya ayah dan paman yang mulai panik saat mencari Ravettha.
Karena ruangan-ruangan yang terdapat di rumah tersebut cukup luas, hal tersebut tidak memungkinkan Ravettha untuk berteriak hanya demi memberi tahu keberadaannya, jadi ia lebih memilih duduk diam dengan memakan beberapa cemilan yang memang kebetulan telah tersedia di meja ruang tamu.
"Apa ada acara penting, ya? Bahkan ayah menyiapkan cemilan sebanyak ini? Bukankah ini sangat berlebihan?" Pikir Ravettha dengan melirik ke beberapa cemilan yang tersaji di atas meja tersebut.
Awalnya ia sama sekali tidak tertarik mencicipi dan memakannya karena ia sudah merasa kenyang.
Perhatiannya teralihkan oleh sebuah piring besar yang berisi biskuit mentega yang di dalamnya terdapat taburan buah kismis.
"Makanlah aku!" Ucap sebuah suara yang entah berasal darimana.
Suara tersebut terdengar sangat serak dan menyeramkan.
Ravettha yang merasakan aura aneh yang berasal dari sekeliling cemilan tersebut, ia langsung menghampirinya dan hanya bertujuan untuk mencari tahu penyebabnya saja.
__ADS_1
"Berhenti, master!!! Berhenti sekarang juga! Biskuit itu sangat berbahaya, master!!!" Ucap Falext dengan menggunakan suara yang lebih keras hingga menggetarkan gendang telinga majikannya.
"Apa? Biskuit mana yang kau maksud?" Tanya Ravettha dengan sangat penasaran sekaligus melihat ke seluruh jenis biskuit yang terdapat di atas meja.
"Biskuit mentega dengan taburan kismis di dalamnya! Letaknya tepat di-...!" Ucap Falext yang belum selesai berbicara mengenai larangan atas bahaya yang akan terjadi.
"Berhenti berbicara dan makanlah aku! Aku sangat lezat dan semua orang sangat menyukainya!" Ucap suara yang di duga berasal dari biskuit tersebut.
Ia langsung membentuk sebuah tumbuhan yang memiliki untaian jembatan yang panjang lalu memasukkannya dengan paksa ke dalam mulut Ravettha.
Sebelum mencapai mulut Ravettha, Falext sebagai bawahan pertama sekaligus salah satu pelayan setianya langsung membuat sebuah perlindungan yang terdiri dari 20 lapisan dengan ketebalan yang semakin keluar semakin luas.
Ia yang tahu bahwa 20 lapisan tersebut akan hancur dengan seketika apabila melawan musuh yang kuat, dengan sigapnya ia membuat berbagai jebakan di dalamnya sehingga ia dapat memanen hasil keuntungannya.
Untaian jembatan yang berhasil merusakkan lapisan ke-20, membuat Ravettha menjadi paham maksud dan tujuan utama dari pihak musuhnya.
Tidak perlu membuang waktu lagi, ia dengan cepatnya langsung mengambil panah dan busurnya hanya untuk mengeluarkan satu peringatan kepada musuhnya.
Supaya tidak terhalau, ia menambahkan satu keunggulan ke dalam sebuah busurnya, yaitu
"WOOOSSHHH!!!"
Sebuah busur meluncur tepat ke sasaran, menembus jembatan-jembatan, menghancurkan wadah tersebut hingga tiba di tujuan, yaitu inti 'Dark Spirit' nya.
'Dark Spirit' yang tidak terima kekalahannya menjadi sangat murka dan mengusahakan segala cara demi menyelesaikan misinya.
"Kenapa kau tetap mempertahankan perisaimu? Hadapilah aku tanpa alat bodoh itu!" Ucap 'Dark Spirit' dengan menyeringai.
Terlihat jelas bahwa ia sangat meremehkan lawannya melalui tatapan mata, cara bicara, dan ekspresinya.
"Ternyata dia masih termasuk jiwa muda! Biasanya dia juga termasuk jiwa yang tidak mengenal 'Kegagalan'. Hm... Sungguh menarik! Mari kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, ya?" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang dan menatap tajam ke arah 'Dark Spirit'.
"Apa yang sedang kau tertawaan? Haah? Manusia sepertimu hanyalah jiwa yang penuh dosa kemaksiatan dan hawa nafsu! Camkan itu baik-baik di pikiranmu!" Ucap 'Dark Spirit' dengan meluncurkan serangan lainnya.
__ADS_1
Sementara Ravettha berjalan maju dengan tenang tanpa mengkhawatirkan apapun.
BERSAMBUNG