
Pangeran Mahkota Plebe dan Pangeran Allen mengambil 3 buah dokumen tersebut, membacanya secara bergantian, dan memeriksanya dengan cepat, teliti, dan penuh kewaspadaan.
"Spekulasimu sudah hampir sepenuhnya benar. Bagaimana dengan saksi matanya? Apa disini juga ada yang merupakan bawahan sang Pelaku?" Tanya Pangeran Mahkota Plebe dengan memberikan sorot tatapan mata yang penuh kecurigaan.
"Ya. Sepertinya dewa keberuntungan sedang berpihak kepada kita hingga membuat saksi matanya sendiri yang datang kepada kita!" Ucap Pak Hugo dengan memanggil Pak Victor, Sorayna, Kalvetno, dan Levord agar segera menghadap Pangeran Mahkota Plebe dan Pangeran Allen.
Sorayna, Kalvetno, dan Levord yang bertanya-tanya di dalam benaknya, sedangkan Pak Victor berjalan dengan memberanikan diri setelah kejadian yang menimpanya.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Pak Victor merasakan keamanan yang tinggi selama dirinya tidak bertindak impulsif karena ia sangat tahu bahwa apapun yang dilakukan pihak luar, hal tersebut tidak akan mengubah keberhasilan rencana yang telah ia buat.
Melihat akan kemunculan anak murid yang terlibat dalam peristiwa tersebut membuat Pangeran Allen kekurangan kepercayaan terhadap hasil kinerja Pak Hugo beserta timnya kali ini.
"Kau juga memasukkan anak-anak ini sebagai saksi mata yang terpenting?" Tanya Pangeran Allen dengan menunjukkan ekspresi wajah datarnya.
"Tentunya! Semua saksi mata memberikan hasil besar pada pemecahan kasus ini, tidak peduli seberapa pandai mereka menyembunyikan ceritanya." Ucap Pak Hugo dengan tersenyum kecil.
"Jadi, apa saja hasil introgasinya?" Tanya Pangeran Mahkota Plebe dengan penuh penasaran dan terlihat sangat antusias untuk selalu menjadi pendengar yang baik.
__ADS_1
"Baik. Akan saya jelaskan secara lebih detailnya dari saksi mata yang pertama!" Ucap Pak Hugo dengan memutar ulang rekaman video yang telah terekam selama pengintrogasian dan hal tersebut tidak ada yang mengetahuinya kecuali dirinya hingga sedetik yang sebelumnya.
Tepat sebelum rekaman diputar, kedua pangeran tersebut dipersilahkan duduk di kursinya masing-masing.
"Berdasarkan semua respon yang diberikannya, hal itu menunjukkan sifat aslinya yang buruk, yaitu agresif dan didominasi oleh perasaan. Melalui ucapan dan jawaban yang ia berikan, juga menunjukkan sifatnya yang kaku, hal itulah yang membuatnya terkesan 'Berpikir Keras' hanya untuk mengucapkan apa yang sebenarnya ingin ia katakan dan hal ini juga sama dengan 'Mengunci Informasi Penting' serapat-rapatnya agar pihak yang tidak diinginkan atau kejahatannya terbongkar. 'Aku adalah musuh yang berubah menjadi temannya!', seperti yang kita tahu bahwa pelaku kejahatan tidak akan rela mengakui seluruh kejahatannya dan kalaupun dalam situasi yang darurat, ia hanya akan terus berbohong dengan berusaha menutupi semua tindakan kejahatan sebelumnya. Bisa disimpulkan bahwa Sorayna Eucaston Geoverra bukanlah pelaku ataupun suruhan orang lain karena pada saat diriku melontarkan umpan menyerang, 'Kau mulai tidak jujur dengan dirimu, nak!', sebenarnya itu hanyalah sebuah teknik yang biasa disebut 'Timbal Balik' dan tentunya akan sangat menguntungkan jika sang Target terjebak di dalam perkataannya sendiri." Ucap Pak Hugo dengan menjelaskan seluruh hasil pengamatannya dengan diperkuat banyak fakta yang telah didapatkannya.
"Apa maksudmu saksi mata pertama hanyalah warga biasa yang secara tidak sengaja mendukung pergerakan sang Pelaku?" Tanya Pak Brian dengan menyimpulkan terhadap informasi apa yang telah ia peroleh.
"Tepat!" Ucap Pak Hugo dengan menjentikkan tangannya sekali.
"Pertanyaan yang menarik! Sifat-sifat itu yang akan mempengaruhi pola pikir, tindakan, dan cara menyikapi suatu hal penting itu di masing-masing individu. Melalui sifat itu juga kita dapat menilai seseorang baik yang buruk ataupun tidak. Selain itu, cara ini sangat berarti untuk mengklasifikasikan fakta, data, dan informasi yang telah didapatkan dari berbagai sumber." Ucap Pak Hugo.
Mendengar hal tersebut, Sorayna yang merasakan dirinya terintimidasi oleh perkataan yang telah diucapkan oleh Pak Hugo membuat wajahnya memerah karena menahan malu yang lebih berbeda daripada yang sebelumnya ia rasakan.
Walaupun nama Pak Victor belum disebutkan, ia sudah terlebih dahulu muak dengan apa yang dikatakan dan direncanakan oleh pihak kerajaan sehingga ia memutuskan untuk pergi keluar secara diam-diam saat semua perhatian tertuju pada hasil pengintrogasian Pak Hugo, termasuk ketiga calon muridnya.
Alasannya sangat mudah untuk ditebak, ia benci dengan suasana dan keadaan yang berisik, terlebih lagi kepada semua orang yang banyak bicara.
__ADS_1
"Jika saksi mata pertama bukan pelaku maupun suruhan sang Pelakunya, lalu apa? Bukankah dia sangat berguna untuk dijadikan pasukan Ellievont dengan memanfaatkan identitas asli yang dimiliki anak ini?" Tanya Pangeran Allen dengan mengernyitkan alisnya.
"Tidak. Hubungan asli Sorayna dengan Ravettha sebenarnya sangat buruk jika Ravettha tidak berinisiatif menjalin persahabatan dengan keempat temannya itu. Cepat atau lambat, Sorayna akan masuk ke dalam lubang terdalam dimana tidak ada yang mengulurkan tangan kepadanya." Ucap Pak Hugo dengan memperhitungkan seluruh kemungkinan dan resiko yang terburuk atas keputusan yang akan diambilnya.
"Aku tidak mengerti apa maksudnya, pak! Anda mengatakan bahwa Ellievont adalah penjahat yang harus dimusnahkan, lalu peran Ravettha sebagai anak adopsinya apa? Mengapa juga dia berinisiatif menjalin persahabatan dengan keempat temannya dimana ia tahu bahwa dirinya berada di dalam bayangan kedua walinya?" Tanya Grissham dengan penuh penasaran.
"Jika kau bertanya peran anak itu apa, aku kurang tahu dan juga kita sedang sangat minim terhadap informasi dirinya. Kurasa sebutan 'bayangan kedua walinya' itu kurang tepat, karena dari informasi yang telah kudapatkan dari para saksi mata yang mengenalnya hanya menjelaskan bahwa Ravettha adalah anak yang mandiri." Ucap Pak Hugo.
"Bukankah itu artinya ia hanya sekadar warga biasa yang tidak berarti apa-apa bagi pihak musuh? Yang kupelajari dari pengalaman, para anak-anak kecil yang mandiri tidak mudah percaya pada orang lain dengan mudah. Itu sudah cukup memungkinkan bahwa dia tidak akan terjerumus ke dalam rencana jahat Ellievont, bukan?" Tanya rekan Grissham.
"Tidak. Aku yakin musuh kita sangatlah kuat, jadi hapuslah kata 'Sekadar' dan kalimat 'Tidak Berarti Apa-Apa' itu dari kamusmu! Jika kau masih membantah, kita semua yang ada disini justru hanya akan menjadikan para pedang kita sebagai kelemahan! Ingatlah akan hal itu!" Ucap Pak Hugo dengan penuh ketegasan terhadap perkataan dan tindakannya.
"Huh! Padahal aku sangat tidak mengharapkan adanya pertumpahan darah lagi, tetapi sepertinya akan keluar dari jalur...!" Gumam Pak Brian dengan menghela napas dengan tangan yang mengambil 3 lembar tisu untuk mengelap keringat di dahi dan lehernya.
"Pastinya! Setiap persaingan baik itu legal maupun ilegal akan ada pertumpahan darah! Tidak peduli apakah taruhannya adalah nyawa, kekuasaan, harta warisan, gelar, posisi, kehormatan karena semua itu adalah insting bertahan hidup." Ucap Pak Hugo yang mendengar gumaman Pak Brian.
BERSAMBUNG
__ADS_1