
"Ding!"
"Selamat! Kelompok 1001 berhasil menyelesaikan ujian lantai 3. Apakah seluruh anggota setuju berpindah ke lantai 4?" Bunyi pesan masuk yang juga mengejutkan Ravettha.
Sebuah pesan masuk itu langsung tersimpan dan menjadi papan peringkat.
Ia terkejut karena apa yang dikatakan partnernya adalah kebenaran.
"Kau benar, Cedric! Baiklah, sekarang kita sudah bisa pulang dan menemui yang lainnya." Ucap Ravettha dengan membuka portal teleport.
Sementara Vicenzo memasukkan hadiahnya, secepat mungkin ia langsung menarik lengan Ravettha dan mengeluarkan 'Night Horse' miliknya.
"Aku sudah menyiapkan kendaraan kita. Berpeganglah padaku!" Ucap Vicenzo mengulurkan tangannya.
Ravettha menyetujui inisiatif partnernya dan berkuda bersama.
"Ini alamatku, Nona Ravettha! Kunjungilah kami di sela waktu anda! Kami menantikan kalian." Ucap Tuan Jeufton bergembira sekaligus melambaikan tangannya.
Ia benar-benar terkesan akan kedua tamunya dan berharap segera dapat bertemu.
'Night Horse' kepercayaan Vicenzo langsung melompat terbang dari dinding kapal dan mengembangkan sayapnya.
Sayap hitam dengan sedikit merah di setiap ujungnya mempercepat laju terbangnya.
Terlihat dengan jelas suasana ujian yang masih berlangsung bagi sebagian besar peserta.
"Woah! Dilihat-lihat 'Lava Hill' menakjubkan, ya?" Tanya Ravettha yang masih kagum pada keindahan alam.
Meskipun pemandangannya didominasi lempengan batu berwarna cokelat gelap dan lava merah, itu adalah satu-satunya hal paling menarik baginya.
Tanpa disadari, tubuh Ravettha terlalu banyak gerak sehingga membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aku menangkapmu, sayang! Kamu terluka, aku juga ikut terluka. Jadi tetaplah duduk diam dan pegangan erat padaku! Ucap Vicenzo menarik baju bagian belakang Ravettha dan memindahkannya dengan bantuan sihirnya.
"Tadi hampir saja, Cedric! Kita turun ke bawah sekarang sekarang! Kita sudah menemukan yang lainnya." Ucap Ravettha.
Pandangan matanya tertuju pada keempat sahabat dan satu gurunya.
Vicenzo yang pertama menyadarinya langsung melakukan arahan partnernya.
Masing-masing sebuah lengan menepuk bahu Ravettha dan Vicenzo.
"Pak Victor?" Tanya Ravettha sedikit menoleh ke belakang tubuhnya dan begitupun dengan Vicenzo.
"Sudah puas bermainnya? Kami semua mencari kalian, terutama kau, keponakanku! Jika dia tau, habislah aku!" Ucap Pak Victor memberi hukuman ringan sekaligus menggoyangkan tubuh Ravettha berkali-kali.
Wajahnya yang dipenuhi isak tangis belaka ternyata tidak mempengaruhi hati keponakannya.
__ADS_1
"Loh? Keponakanku, kau tidak ikut menangis bersamaku?" Tanya Pak Victor tidak berhenti membayangkan malapetaka dari sahabatnya, Ellievont dan kakak sahabatnya, Elliovent.
"Tidak mau." Ucap Ravettha dengan menyeringai lebar.
Sekilas dilihat, ia lebih mirip iblis daripada malaikat dan itu juga menambah kesedihan Pak Victor.
"Huh...! Keponakan kecilku... Yang terbaik!" Ucap Pak Victor mengacungkan ibu jarinya, sedangkan satu tangan lainnya mengusap air mata.
Mendengar kalimat terakhir dari Pak Victor, kelima anggota bersamaan merasa bingung dengan perubahan yang mendadak.
"Apa mereka biasanya begitu?" Tanya Waldon lebih kebingungan dibandingkan anggota lainnya.
Tidak ada sepatah kata pun dari Levord, Sorayna, Kalvetno, maupun Vicenzo.
Keempatnya hanya bisa diam dan menerka-nerka.
"Rave! Mengapa pria raksasa itu tidak berhenti melambaikan tangan? Mereka benar-benar merisihkan!" Ucap Sorayna dengan nada yang sinis terhadap Tuan Jeufton.
"Rave! Rave! Kemarilah!" Ucap Kalvetno berusaha mendekati Ravettha dan berkali-kali dihadang Vicenzo.
Sebagai partnernya, ia tidak ingin Ravettha dilibatkan jauh dengan Kalvetno.
Di samping itu, Ravettha merasakan hal menarik yang harus ia ketahui selama kepergiannya.
"Apa tentang itu?" Tanya Ravettha mengecilkan suaranya.
"Saat kau pergi, si Nenek Pemarah itu wajahnya memerah saat kubilang 'Pelayan baru'. Lebih bodohnya lagi, tubuhnya bersedia menjadi pelayan pribadiku!" Bisik Kalvetno yang tidak bisa menahan tawanya.
"Psst! Kau yakin? Dia ada di belakangmu, loh!" Bisik Ravettha menyadari kehadiran sahabatnya melalui bayangan hitam di permukaan tanah.
Dalam hitungan detik, aura pembunuh sudah berada di puncaknya.
Ravettha yang ikut terlibat bertingkah tidak tahu-menahu seolah tidak ada yang terjadi, sementara Kalvetno terlihat tidak berdaya menghadapinya.
"Mereka tak pernah akur ya?" Tanya Levord menghela napas setelah melihat pertikaian sepasang musuh ini tidak ada bosannya.
Karena tidak ingin membuang waktu berharganya, Levord langsung mencari tahu akar rasa penasarannya pada dua sumber, yaitu Ravettha dan Vicenzo.
"Aku tak menyangka ujian ini berjalan tanpa hambatan! Pengumuman papan peringkat pun sudah ingin dimulai. Lalu, bagaimana kalian tersesat sampai keujung sana?" Tanya Levord dibuat heran dengan tindakan kedua sahabatnya ini.
"Siapa bilang kami tersesat? Kami berburu harta karun. Benar bukan, Ravettha?" Tanya Cedric tersenyum bangga atas pengalaman menjalankan misi bersama partnernya.
"Ya bisa dibilang begitu." Ucap Ravettha yang tidak mengerti respon Vicenzo.
Sebelum mereka berpindah ke lantai 4, sekelompok tidak dikenal langsung datang dan memberikan pelajaran pada kelompok 1001 terutama pada Ravettha.
Mereka hanya menggunakan seragam pasukan khusus sebagai tanda pengenalnya.
__ADS_1
"Jadi itu kau ya, Ravettha?" Tanya pria berjas putih.
Tatapan matanya yang tajam ditambah dengan gaya bicaranya tidak kenal perasaan membuat para bawahannya tertunduk tanpa pemberontakan.
Dengan sigapnya, ia memberi kabar melalui panggilan langsung kepada atasannya.
"Target sudah ditemukan! Apa sudah bisa dimulai?" Tanya seorang berjas putih.
"Ya, ya, ya! Mulai saja sekarang! Aku ingin melihatnya setelah sekian lama!" Ucap sang atasan yang belum ingin memutar kursinya ke hadapan Ravettha.
Sementara mereka berdua menutup panggilan, Pak Victor merasa adanya ancaman besar langsung memindahkan keenam anggotanya ke lantai 4.
Lantai untuk memulai kembali petualangannya yang akan diwarnai oleh kelima muridnya dan seorang pendatang.
"BRUK!"
"Sorayna! Menyingkir dari badanku!" Ucap Kalvetno tidak tahan terhadap berat badan Sorayna.
"Hihi! Itu hukuman tambahanmu, loh!" Ucap Sorayna yang sama sekali tidak ingin turun tangan dan melakukan perintah musuhnya ini.
"Huh! Benar-benar deh!" Gumam Kalvetno mendengus kesal dan memaksa tubuhnya bangun dari ranting kayu.
"Lain kali kau yang melindungi diriku, bukan menggangguku, bodoh!" Ucap Sorayna memberikan peringatan.
Di lain tempat, Ravettha tertinggal di tempat yang sama dengan pria berjas putih.
Terlihat begitu jelas dirinya sedang ditertawakan oleh pria tersebut.
"Pft! Keberuntungan berada di pihak kami! Bawa dia ke markas!" Ucap pria berjas putih langsung memberikan perintah pertamanya.
"Baik, ketua!" Ucap para anak buahnya.
Secepat mungkin mereka menangkap Ravettha dan memasang kalung pengekang energi.
Hanya tangan Ravettha yang diikat.
Dirinya yang telah menjadi target pasukan tidak dikenal justru bersikap tenang dan tersenyum senang.
"Nikmatilah! Kau akan segera menjadi bagian dari kami!" Ucap pria berjas putih sekaligus ketua pasukan tersebut.
Tidak ada jawaban, perlawanan, dan penolakan dari Ravettha.
Seakan semuanya berjalan sesuai rencana, sebagai ketua pasukan justru tidak mempermasalahkan apa yang mungkin dipikirkan oleh sanderanya.
"Anak pintar!" Gumam pria berjas putih memperhatikan para pasukannya dari belakang.
BERSAMBUNG
__ADS_1