Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Upaya Penghentian Kehancuran Lantai Kesebelas


__ADS_3

"Kalau begitu, kami akan kembali ke ruang pelatihan rahasia lagi. Cepatlah menyelesaikan seluruh misi disini lalu menghabiskan waktu bersama!" Ucap Lartson dengan senang.


"Tentu." Ucap Ravettha.


Mereka pun pergi meninggalkan Ravettha sendirian dan berdiri tegak di atas bekas peperangan tersebut.


"Yang Mulia!" Ucap Rufino yang kembali lagi dan terpisah dari teman-temannya.


Ravettha dengan spontannya menjadi terkejut saat mendengarnya.


"Ya?" Tanya Ravettha yang kebingungan saat melihat Rufino kembali lagi dan terus mengikuti Ravettha.


"Bukan masalah penting. Izinkan saya mengikuti kemanapun anda pergi?" Tanya Rufino.


"Baiklah." Ucap Ravettha.


"Apakah anda ingin menaiki lantai ke-11?" Bunyi pesan sistem yang kembali muncul.


"Tentu saja." Ucap Ravettha dengan kembali bersemangat.


"Baik..." Bunyi pesan sistem tersebut.


"Pemindahan selesai! Anda telah berada di lantai ke-11. Misi anda disini adalah menghentikan seluruh 'Penghancuran Lantai ke-11' oleh Ananta Radcliffe Gyllenhaal. Hadiah dari misi ini adalah 450.000 koin emas dan 400.000 koin perak." Bunyi pesan sistem tersebut.


"Penghancuran, ya? Menarik!" Pikir Ravettha yang menjadi sangat bersemangat untuk melakukan misinya.


Setelah dilakukan pemindahan ke lantai kesebelas, ia langsung merasakan tanah yang ia pijak bergetar dengan magnitudo gempa berskala 1,9 SR.


Walaupun gempa tersebut termasuk gempa kecil dan tidak terasa, hal itu tidak berpengaruh kepada Ravettha karena ia justru berpikir gempa tersebut akan berkembang menjadi sangat cepat dan kuat getarannya.


Karena spontan, ia langsung terbang melayang di atas tanah tersebut yang sangat gersang tanpa ada mata air satupun.


Ia mencari asal tersebut dengan mengamatinya menggunakan 'Eye Sighting' miliknya.


Hal itu berasal dari 200 km dari permukaan bawah tanah.


Saat ia memperhatikan getaran tersebut, ia melihat seseorang tertawa senang di atas awan yang melayang di udara.

__ADS_1


"Hahahaha! Akan kubuat tempat ini hancur dengan seketika! Tunggu saja! Tidak akan kubiarkan siapapun menghentikan rencanamu! Salah sendiri mereka memasukkan ku ke tempat ini selama ribuan tahun!" Ucap seorang pria yang mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya, kecuali setengah mukanya dan tangannya.


"Tunggu... Aku tidak salah dengar, bukan? Dia melampiaskan amarahnya kepada seluruh tempat ini dengan cara menghancurkannya? Apakah dia Tuan Ananta Radcliffe Gyllenhaal?" Pikir Ravettha yang sedikit penasaran.


"Hm... Jika aku langsung menghampirinya dan menanyakan namanya, itu sama saja mencari mati. Jika aku mengamatinya dari jauh dan mencari penyebab asli orang tersebut melakukannya, mungkin aku bisa menghentikannya. Baiklah! Aku akan menjalankan rencana pertama!" Pikir Ravettha dengan melirik ke arah pria tersebut.


"Permisi..." Ucap Ravettha dengan menghampiri pria tersebut.


"Huh! Siapa lagi? Kau juga ingin menghentikanku?" Tanya pria tersebut dengan penuh amarah.


"Saya ingin bertanya. Apakah anda adalah Tuan Ananta Radcliffe Gyllenhaal?" Tanya Ravettha dengan tatapan yang serius.


"Argh! Akhirnya ada yang mencarimu! Apa maumu?" Tanya Tuan Ananta dengan tatapan dingin dan cueknya.


"Lupakan. Kalau begitu, aku pergi dahulu!" Ucap Ravettha yang langsung meninggalkan Tuan Ananta dengan tersenyum licik.


"Oh, ya! Hati-hati saat melakukan pekerjaan anda!" Ucap Ravettha dengan tersenyum senang yang terlihat menyemangati.


Saat mendengar hal tersebut, Tuan Ananta langsung merasakan sesuatu yang ganjil dari sikap Ravettha.


"Tidak usah basa-basi! Katakan saja jika kau ingin menghentikanku!" Ucap Tuan Ananta dengan tegas.


Ia langsung melanjutkan perjalannya dan memulai rencana selanjutnya.


Walaupun ia telah dicurigai oleh Tuan Ananta tersebut, rencana miliknya tetap berjalan lancar tanpa hambatan.


Ia memulai rencananya dengan mencari tahu alasan Tuan Ananta melakukan hal tersebut melalui hasil rekaman seluruh ingatan Tuan Ananta yang ia ambil tanpa sepengetahuan Tuan Ananta.


Ia menggunakan 'Memory Reserve'.


'Memory Reserve' adalah sebuah kemampuan untuk mencadangkan suatu ingatan yang telah diduplikat sesuai dengan aslinya dan menyimpan sesuatu ingatan yang ingin dilupakan atau telah dilupakan oleh pemilik asli ingatan tersebut.


Hal itu sangat membantu dan mempermudah pekerjaan Ravettha sehingga ia tidak perlu berurusan langsung dengan Tuan Ananta tersebut.


"A-Apa? Ternyata dia juga termasuk peserta yang memasuki Tower Oltorn ini? Karena dia telah terjebak di Tower Oltorn ini, ia pasti pernah mengalami keputus asaan!" Pikir Ravettha dengan sedikit terkejut.


"Sungguh menarik!" Pikir Ravettha yang tiba-tiba menjadi bersemangat.

__ADS_1


Ia pun melanjutkan rencana selanjutnya yang berupa pembatalan seluruh kemampuan milik Tuan Ananta dan menyimpan setengah bagian milik Tuan Ananta kedalam ruang cadangan kekuatan milik Ravettha.


"Hehe, siap! Anda tidak akan bisa menghancurkan lantai ini dengan cara itu!" Pikir Ravettha dengan senang karena telah membatalkan seluruh rencana milik Tuan Ananta.


Ia kembali memperhatikan pergerakan Tuan Ananta.


Sementara itu, Tuan Ananta menjadi sangat kesal dan menjadi marah.


"Kenapa kekuatanku tidak bekerja? Argh! Ayolah! Berikan kesempatan padaku untuk menghancurkan seluruh tempat ini!" Ucap Tuan Ananta dengan penuh amarah dan kesal.


Tuan Ananta mencari cara untuk membuat kekuatannya kembali bekerja seperti dahulu.


Sayangnya hal itu tidak dapat bekerja sesuai harapannya.


Hal itu menjadi kesempatan Ravettha untuk menduplikat seluruh pengetahuan dan teknik-teknik pembelajaran, baik itu teknik bertahan hidup, berburu, bertarung, dll.


Seluruh hasil penduplikatannya tersebut, telah ditingkatkan menjadi lima ribu tingkat lebih kuat dari kemampuan asli milik Tuan Ananta.


Ia pun mempelajari dan memahaminya dengan lebih dalam dengan memerlukan waktu yang sangat sedikit.


"Sangat berguna!" Pikir Ravettha yang menjadi sangat senang.


"Apakah anda butuh bantuan?" Tanya Ravettha dengan tatapan seriusnya.


"Kenapa kau diam saja disitu? Cepat bantu aku memulihkan kekuatanku!" Ucap Tuan Ananta yang sangat kesal dan merasa terganggu dengan kedatangan Ravettha.


"Tentu, tapi ada syaratnya!" Ucap Ravettha dengan tatapan dinginnya.


"Huh? Apa?! Pft! Yang benar saja! Kau tidak tahu siapa aku, tetapi kau malah mengajukan syarat kepadaku! Baiklah! Lagipula aku sudah tidak membutuhkan bantuanku lagi!" Ucap Tuan Ananta dengan memalingkan wajahnya dan sibuk mengurusi kekuatannya dengan ekspresi kebingungan karena ia tidak pernah mengalami sebelumnya.


"Anda akan menyesal, loh!" Ucap Ravettha dengan memancing amarah Tuan Ananta dan mencoba untuk mengujinya.


"Pft! Hahahaha! Apa kau bilang? Menyesal karenamu? Yang benar saja! Kau hanyalah anak kecil yang tidak tahu apa-apa dan sedang mencoba untuk terbujuk oleh keinginanmu? Kau tahu? Aku tidak suka dengan anak yang bodoh, loh! Jadi, pergilah sebelum aku membunuhmu!" Tanya Tuan Ananta dengan nada meremehkan Ravettha.


"Oh, ya? Padahal syaratnya sangat mudah! Anda hanya berhenti menghancurkan lantai ini. Lalu, kita bersama-sama akan keluar dari sini secepatnya. Bagaimana?" Tanya Ravettha dengan tatapan dinginnya.


"Heh! Kau pikir aku akan percaya dengan bocah sepertimu? Kau pikir aku bodoh, ya? Walaupun kekuatanku sedang tidak berfungsi, aku akan membunuhmu sekarang! Bukankah itu ide yang tidak terlalu buruk? Justru sangat menyenangkan!" Ucap Tuan Ananta dengan tersenyum licik.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tidak akan memaksa anda untuk bekerjasama denganku. Satu yang anda harus ingat! Hentikan penghancuran ini sekarang juga!" Ucap Ravettha dengan tatapan seriusnya.


BERSAMBUNG


__ADS_2