
"Hushh!"
Suara angin yang berhembus kencang tersebut memasuki ruangan yang didalamnya terdapat Ravettha, Roosevelt, dan Tuan Ananta.
Tidak hanya suara angin saja, bahkan kumpulan angin kencang tersebut membentuk sebuah pusaran topan yang masih berukuran sedang.
Dibalik hembusan angin tersebut, terdapat seorang pria yang muncul dari pusat pusaran topan.
Pria tersebut datang dengan tersenyum senang kepada Ravettha.
"Hai, manusia! Kita bertemu lagi sejak kejadian itu! Kau masih ingat, bukan?" Tanya pria tersebut dengan tersenyum ramah.
Ravettha menoleh ke kanan dan kirinya untuk memastikan kepada siapa tamu itu berbicara.
Anehnya ia menyadari bahwa kedua temannya tidak menyadari kedatangan tamu tersebut.
"Kau berbicara denganku?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Ya! Memangnya dengan siapa lagi? Mereka saja tidak dapat melihatku apalagi dengan mendengarku!" Ucap pria tersebut.
"Tunggu, aura ini... Kau cahaya ungu yang keluar dari dokumen rahasia yang kutemukan di 'Rumah Hantu' itu, bukan?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Tepat sekali! Aku kemari dengan tujuan untuk berterimakasih karena telah membebaskanku waktu itu." Ucap pria tersebut.
"Kenapa kau berterimakasih kepadaku?" Tanya Ravettha.
"Selain telah membebaskanku, aku dapat berburu makanan dengan bebas." Ucap pria tersebut.
"Berburu makanan dengan bebas? Sebenarnya apa telah kau mangsa?" Tanya Ravettha.
"Ah bukan apa-apa, lupakan saja! Kalau begitu, aku pergi dahulu! Sampai berjumpa di lain waktu!" Ucap pria tersebut.
"Hei, tunggu! Kau belum memberitahu namamu!" Ucap Ravettha.
"Panggil aku dengan Kent saja. Dahhhh!" Ucap Tuan Kent dengan melambaikan tangannya dan melompat keluar dari jendela kamar.
"Kenapa dia? Hm... Jika mereka tidak bisa menyadari dan melihatnya, itu artinya Tuan Kent sedang menyembunyikan identitasnya!" Pikir Ravettha.
"Ravettha!" Ucap Tuan Ananta dengan berteriak.
Ravettha menjadi terkejut karena namanya dipanggil.
__ADS_1
"Eh, ya?" Tanya Ravettha.
"Kenapa kau melamun terus?" Tanya Tuan Ananta.
"Itu benar!" Ucap Roosevelt dengan penasaran.
"Apa kalian tidak melihat seorang tamu yang datang kemari?" Tanya Ravettha dengan menguji tentang apa yang ia telah pikirkan.
"Tidak. Memangnya ada siapa yang kemari tadi?" Tanya Tuan Ananta.
"Entahlah, aku juga tidak terlalu mengenalnya." Ucap Ravettha.
"Baiklah." Ucap Roosevelt yang mempercayai adiknya.
Sementara itu, di dalam istana Ratu Ophelia, banyak bangsawan yang menghadiri rapat mengenai penyebab kematian putra mahkota.
"Yang Mulia, kudengar kabar putra mahkota telah meninggal? Apakah kami harus menghukum pembunuh tersebut?" Tanya salah satu bangsawan yang bernama Duchess Violence Pholy Xenerious of Winthrop.
"Itu benar. Aku juga sependapat denganmu untuk menghukumnya. Sayangnya pembunuh tersebut sama sekali tidak diketahui jejaknya. Berdasarkan laporan yang kuterima, para pasukan ksatria dan penyihir yang telah kuutus untuk mencari penyebab tersebut justru mati dengan mengenaskan." Ucap Ratu Ophelia.
"A-Apa? Aku tidak percaya bahwa pasukan ksatria terkuat kita justru mati di tangan pembunuh! Apa lagi mereka mati dengan mengenaskan! Bukankah itu tidak masuk akal?" Ucap Duke Fielos Geneiruth Lostheis of Woindly.
"Jika itu benar, apa yang harus kita lakukan untuk membantu Yang Mulia?" Tanya Duke Theviet Montella Counneft of Weftlow.
"Begini saja, aku punya kenalan yang memiliki kekuatan yang tidak tertandingi. Di usia mudanya, ia bahkan bisa menghancurkan 50.000 pasukan baik itu manusia berkekuatan sihir ataupun tidak, ia akan membunuhnya jika ia menginginkannya. Aku yakin bisa mengajaknya bekerjasama untuk menyelesaikan masalah ini! Bagaimana menurut anda, Yang Mulia?" Tanya Duke Harris Umbridge Albermarle of Wuftland.
"Ide yang bagus! Tapi, kita harus menyusun rencana lainnya apabila ada sesuatu yang tidak kita inginkan!" Ucap Ratu Ophelia.
"Baik, Yang Mulia." Ucap Duchess Violence, Duke Feilos, Duke Mervyn, Duke Theviet, dan Duke Harris secara bersamaan.
"Yang pertama-tama, kita harus menyelidiki kelemahan dan kelebihan pembunuh tersebut. Yang kedua, persiapkan rencana untuk membunuhnya. Yang terakhir, suruh para pembunuh bayaran yang sangat ahli untuk membunuh si Pembunuh Profesional itu!" Ucap Duke Feilos.
"Rencanamu boleh juga, Duke Feilos!" Ucap Duke Theviet dengan sedikit menggodanya.
Dengan seketika, Duke Feilos langsung menatap tajam ke arah Duke Theviet sehingga membuatnya terdiam.
"Oh ya, Yang Mulia! Kudengar juga melalui rumor yang beredar, 'Project F-078' itu tiba-tiba menghilang dengan sekejap di malam hari?" Tanya Duchess Violence.
"Hah! Untungnya kau sensitif terhadap lingkungan sehingga bisa mendapatkan informasi yang tepat dan benar. Setelah kematian putra mahkota dan hilangnya 'Project F-078' membuatku sakit kepala saja! Apalagi kedua masalah itu terlihat saling berkaitan satu sama lain!" Ucap Ratu Ophelia yang menjadi sedikit kesal.
"Kebetulan sekali saya telah menangkap para peneliti yang menciptakan manusia berbahaya itu! Masuklah!" Ucap Duke Mervyn dengan tersenyum licik.
__ADS_1
Beberapa penjaga tahanan menyeret dengan paksa keenam para peneliti yang telah menciptakan manusia yang telah bermutasi atau dikenal dengan nama 'Project-078'.
Seakan tidak percaya bahwa mereka telah dituduh karena tidak menjaga dengan baik 'Project-078' tersebut sehingga mereka dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara.
Hukuman tersebut sangat setimpal dengan perbuatannya yang tidak bertanggungjawab dalam menjaga keamanan para penduduk di 'Wynciouft Land'.
"Kumohon ampuni kami, Yang Mulia. Kami berjanji untuk tidak akan menciptakan eksperimen yang membahayakan nyawa para penduduk. Anda bisa memegang kata-kata bahkan nyawa kami, Yang Mulia." Ucap para peneliti secara bersamaan dengan berlutut untuk memohon ampunan.
"Hm... Karena aku sedang berbaik hati, maka kuampuni kalian dengan satu syarat. Syarat itu adalah kalian harus membuat 100.000 macam inovasi yang dapat mendukung pembangunan 'Wynciouft Land' dalam segala bidang. Aku akan memberikan waktu sebanyak tiga bulan. Bagaimana?" Tanya Ratu Ophelia dengan tersenyum licik yang tersembunyi di wajahnya.
"B-Bukankah itu terlalu cepat, Yang Mulia?" Tanya peneliti keempat.
"CTAK!"
Ratu Ophelia memberikan sebuah kode kepada para penjaga yang telah menyeret para peneliti untuk segera melaksanakan yang dimaksud dari kode tersebut.
Para penjaga mengangguk kepada sesama rekan lainnya untuk memberikan hukuman kepada para peneliti yang telah menciptakan kesalahan besar.
"BLETAK!"
Suara cambukan begitu nyaring terdengar membuat para bangsawan menikmati pertunjukan tersebut.
"Akhhh!"
Teriak sebagian peneliti yang tidak kuat menerima cambukan tersebut.
"Kalian sangat tidak tahu malu! Sudah menciptakan kesalahan malah meminta perpanjangan batas waktu! Seharusnya kalian diam saja dan lakukan sesuai perintah Yang Mulia!" Ucap penjaga yang telah menyeret dan juga mencambuk para peneliti tersebut tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Huh! Aku sudah tahu akan seperti ini! Seandainya kami mati sekarang, kami sangat rela memberikan nyawa ini kepada iblis daripada kepada kalian yang hanya haus kekuasaan!" Ucap ketua peneliti dengan menatap tajam ke arah Ratu Ophelia.
"Apa lagi sekarang? Kau juga masih berani menatap Yang Mulia? Tidak bisa diampuni!" Ucap penjaga yang telah menyeret dan juga mencambuk para peneliti.
"Tahan saja mereka di penjara dan hukum mereka dengan siksaan yang 10 kali lebih berat dari para tahanan! Sampai mati juga tidak berlebihan bagi mereka." Ucap Ratu Ophelia dengan tatapan tajamnya yang seakan ingin membunuh mereka dihadapannya secara langsung.
"Lupakan saja yang barusan kalian lihat! Mari kita lanjutkan rapat kita!" Ucap Ratu Ophelia dengan tegas.
"Baik, Yang Mulia!" Ucap para bangsawan yang hadir.
Mereka pun mendiskusikannya dengan sangat berjalan lancar dan menghasilkan keputusan yang tetap.
BERSAMBUNG
__ADS_1