
"Aku tidak tahu kalian Raja atau Ratu, tetapi yang kutahu kalian semua sempurna untuk memperoleh kekuasaan. Mau kubantu cara mewujudkannya?" Tanya Ravettha menawarkan bantuan sekaligus memperhitungkan ujian yang akan menghampirinya kembali.
"Katakanlah terlebih dahulu bagaimana caranya, manusia!" Ucap arwah lain sama sekali tidak peduli pada rekan kerjasamanya.
"Baik, akan kukatakan...!" Ucap Ravettha dengan tersenyum kecil.
"SLURP!"
Lokasi yang telah ditandai 'Light Black Hole' langsung bisa digunakan untuk kedua kalinya.
Melalui hal tersebut, Ravettha sangat senang telah berhasil memakan para arwah tersebut dan mengolahnya menjadi energi baru.
"Diburu atau memburu? Tentu saja akan kupilih memburu! Dengan begitu aku akan lebih mengerti cara tidak meremehkan lawan dan menghargai pencapaianku." Pikir Ravettha telah siap menerima ujian lainnya yang belum diselesaikan.
Waktu terus berjalan dan ujian 3.100 kali ketakutan telah mencapai batas maksimal.
Pergantian ujian terakhir ini begitu cepat karena Ravettha harus melepaskan diri dari 4.500 kali kutukan yang menimpanya.
"Apa karena kutukan ini mahal? Tanda mengganggu ini terus hidup di tubuhku!" Pikir Ravettha memikirkan solusi dari pengalamannya.
"Ujian terakhir ini kau harus lulus, diriku di kehidupan ketiga!" Ucap Yang Mulia menatap penuh kepercayaan pada Ravettha.
Meskipun Ravettha mengetahui maksudnya, tetap saja dukungan itu juga mampu mendorong dirinya untuk terus berkembang dan tumbuh.
"Pft! Baru kali ini mengalami orang asing datang sebagai kenalan dan membantu sebagai saudara." Ucap Ravettha tersenyum pahit begitu dirinya menyaksikan ketulusan Yang Mulia dan keempat bawahannya.
Semakin lama dirinya mencari solusi, semakin cepat kutukan yang ada di tubuhnya merambat ke dalam inti sel tubuh.
Pembuluh darahnya menghitam dan menampakkan dirinya hingga berada di dekat epidermis kulit.
"Urgh! Bodoh jika aku langsung menggunakan elemen penyembuhku yang berlawanan dan perbedaan tingkat energi begitu tinggi! Dibandingkan membiarkan tubuh ini beregenerasi dan melemahkan sistem kekebalan tubuhku, aku harus bermutasi agar selamat dari ancaman. Lagipula yang mereka uji bukanlah sifat keras kepalaku, melainkan bagaimana aku beradaptasi dengan perubahan!" Pikir Ravettha memfokuskan diri agar berhasil bermutasi.
Detak jantung terus meningkat dan bertahan hingga 102 bpm.
__ADS_1
Tanpa dirinya sadari, 6 sayap merah muncul di punggungnya, tubuh putih pucat seperti salju, dan penampilan dasarnya telah berubah.
"Apa ada yang salah denganku? Seharusnya kutukanku membuatku cepat mati, sekalipun bermutasi...! Mengapa penampilan ini sangat sesuai denganku?" Tanya Ravettha sekaligus berteriak histeris setelah menatap hasil mutasinya di cermin.
"Bagaimana? Kau suka perubahan barumu? Tubuhmu sendiri yang meminta penampilan ini. Kau beruntung karena kehendak mutasinya sama." Ucap Wielmsiestor bertepuk tangan tiga kali.
"Tunggu! Jadi mutasinya berhasil?" Tanya Ravettha yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya.
"Ya. Kenapa kau terkejut? Bukankah kau telah merencanakannya?" Tanya Wielmsiestor sama sekali tidak mengerti setelah mengetahui respon Ravettha.
"Tentu saja terkejut! Aku tidak menyangka solusi yang kutemukan ditambah hasil yang kudapat ternyata sejalan, seperti ada sesuatu yang mendorongnya untuk berhasil. Sangat jarang ada hasil sebagus ini!" Ucap Ravettha menjelaskan pemahamannya.
"Baiklah! Sekarang coba kau aktifkan seluruh 'Passive and Active Skills' milikmu! Ada beragam kemampuan yang ditambahkan ke dalam tubuhmu." Ucap Aedoglas menantikan pertunjukan koleksi keterampilan yang Ravettha miliki.
Mendengar sarannya, Ravettha langsung membuka status di layar hologram miliknya dan membaca satu per satu keterampilan yang ia miliki.
Belum selesai dirinya membaca satu per satu, 78% energinya disediakan untuk 'Passive and Active skills'.
Napasnya semakin berat, partikel-partikel jiwa Alvina dan Neance menyatu ke dalam tubuh Ravettha.
"Ha, versi terbaru?! Tubuhku terasa sama seperti sebelumnya. Lalu mengapa saat mendengar 'Versi Terbaru', diriku terasa layaknya sebuah sistem saja, ya?" Pikir Ravettha kebingungan dengan perubahan cepat ini.
"Nona! Tidak lengkap tanpa pengetahuan ini. Terimalah dan serap baik-baik hingga tertanam di alam bawah sadar anda, Nona Ravettha!" Ucap Indereit menyentuh dahi Ravettha dan mentransferkan apa yang baru saja ia sebut 'Pengetahuan'.
Perlahan dan pasti, impuls saraf bergerak dalam waktu sesingkat mungkin dan mengantarkannya ke dalam otak Ravettha.
92% pengetahuan terus meresap dan disimpan sebelum diolah kembali.
Terdapat beberapa kecerdasan yang membutuhkan atribut lengkap.
Mengetahui akan hal tersebut, Indereit dengan sigapnya langsung menyediakan seluruh kebutuhan termasuk persediaan alat tempur ke dalam tas penyimpanan Ravettha.
"Apa aku membutuhkan semua ini?" Tanya Ravettha meyakinkan dirinya sekali lagi.
__ADS_1
Yang Mulia dan keempat anak buahnya mengangguk setuju, kemudian bertepuk tangan memberikan selamat atas 100% keberhasilan bersamanya.
Wajah penuh keceriaan, bangga, dan kehangatan terlihat jelas di antara mereka.
"Aku tidak akan melupakan jasa kalian. Beritahu aku cara membalas budi, Yang Mulia, Tuan Wielmsiestor, Nyonya Indereit, Tuan Aedoglas, dan Tuan Nomiculfon!" Ucap Ravettha memberi hormat dengan lutut yang ditekuk dan patuh menerima saran gurunya.
"Bangunlah, Ravettha! Kami akan memberitahumu cara membalasnya." Ucap Wielmsiestor, Indereit, Aedoglas, dan Nomiculfon memberikan isyarat khusus yang hanya dimengerti oleh keempatnya.
"Apa itu? Ravettha bersedia melaksanakannya." Ucap Ravettha berdiri sejajar dengan Yang Mulia dan dikelilingi oleh keempat bawahan Yang Mulia.
"Caranya adalah hindari membalas budi demi kami berlima, Ravettha." Ucap Yang Mulia, Wielmsiestor, Indereit, Aedoglas, dan Nomiculfon secara bersamaan.
"Baiklah, guruku. Ravettha akan tetap berusaha melaksanakan cara yang dianjurkan." Ucap Ravettha menerimanya meskipun hatinya tetap menolak keberatan.
"Kami akan kembali mengerjakan urusan kami. Ingatlah untuk berkunjung, Ravettha." Ucap Wielmsiestor, Indereit, Aedoglas, dan Nomiculfon secara bersamaan, sedangkan Yang Mulia hanya mengangguk setuju dengan perkataan keempat bawahannya.
Ravettha yakin percakapan ini bukanlah perpisahan mereka.
Mendapati kepergian kelima gurunya, ia menunggu hingga para gurunya tersebut telah menikmati perjalanan dan sebelum dirinya memutuskan tindakan selanjutnya yang akan ia ambil.
"Guru telah menikmati setengah perjalanan, maka aku harus memulai tugasku!" Pikir Ravettha membuka pintu portal dan memasuki 'Ruang Pelatihan Rahasia' nya.
"Master! Apa kita akan memulai itu?" Tanya Falext memeriksa apakah majikannya tetap mengingat hal besar yang pernah mereka rencanakan.
"Ya! Lebih cepat, lebih bagus. Perlu diingat prinsip kita bekerja. Kau mengingatnya juga bukan, Falext?" Tanya Ravettha memeriksa pemahaman bawahannya terhadap hal yang pernah dijelaskan olehnya.
"Tentu master! Prinsip kita adalah DA-KSP, terdiri dari Dominasi, Ambisi, Kesejahteraan, Senyap, dan Pencapaian." Ucap Falext tersenyum bangga karena mampu mengingatnya secara detail meskipun telah 99.000 tahun beristirahat dari sisi majikannya.
"Bagus, bagus, bagus! Mohon kerjasamanya, Falext!" Ucap Ravettha tersenyum senang mendapati partner utamanya memiliki sifat yang sama sekali tidak pernah berubah sedikitpun.
Di samping itu, beristirahat selama 99.000 tahun karena perintah majikannya merupakan hal yang sedikitpun tidak membosankan bagi Falext.
Ia berani mengambil perintah majikannya dan melaksanakannya dengan penuh keyakinan hingga hari yang disepakati benar-benar tiba.
__ADS_1
BERSAMBUNG