
Menit demi menit telah berlalu, Ravettha yang berhasil menyelesaikan pekerjaan tambahannya akhirnya memiliki waktu istirahat.
Ia bergegas keluar ruang kerjanya dan secepat mungkin naik ke kasur sebelum orang lain yang melakukannya.
"Kasur manisku, aku datang!" Ucap Ravettha langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur ternyaman.
Berguling-guling seperti anak kecil dan melompat dengan tertawa riang.
Tidak ada hal yang menyenangkan lagi selain dirinya yang membuat seluruh keinginannya terwujudkan.
"Sayang? Kamu dimana?" Tanya Vicenzo kesana-kemari mencari kekasihnya di setiap sudut ruangan.
Ia kebingungan dan merasa takut ditinggalkan di malam yang gelap seperti ini.
"Aku disini! Sudah selesai memeriksanya?" Tanya Ravettha mengintip keluar kamar sehingga dirinya dapat mengunci pintu begitu partnernya ini berniat memasuki kamarnya.
"BRUK!"
"Aku lelah. Bisakah kita tidur bersama, sayang?" Tanya Vicenzo sengaja menjatuhkan badannya agar kekasihnya segera menopangnya.
"Ho?! Kamu sudah melupakan perkataanku sebelumnya ya?" Tanya Ravettha tersenyum pahit dengan tingkat emosi yang tidak stabil.
"Tentu saja tidak." Ucap Vicenzo menyelinap masuk ke kamar tanpa peduli nyawanya terancam.
"CTAK!"
Ravettha menjentikkan jarinya dan teleportasi pun tiba tepat di kaki Vicenzo.
Ia merasa akan ada bahaya yang lebih mematikan daripada medan perang di luar sana.
"Aduh! Walaupun kamu kasar, kamu tidak bisa melemparku seperti barang loh!" Ucap Vicenzo mengingatkan kekasihnya kembali.
Tidak ada yang didengar oleh Ravettha karena kecepatan tangannya telah digunakan untuk menutup pintu kamarnya.
"Apa seseorang baru saja mengatakan sesuatu? Fufufu!" Tanya Ravettha tertawa jahat dan tanpa menunda waktu lagi langsung melakukan perawatan malam.
Cuci muka, sikat gigi, dan melembabkan kesegaran kulitnya.
Hal ini berhasil membuatnya jauh lebih santai hingga merasakan kedamaian yang paling didambakan.
Seluruh kegiatannya hari ini telah selesai dan tibalah saatnya ia harus tidur.
"Hoam! Bangunkan aku 2 jam lebih awal dari yang seharusnya, hologramku!" Ucap Ravettha memberikan perintah untuk mengatur jadwal bangun tidurnya.
__ADS_1
Ia tidur begitu cepat dan karena inilah yang tidak membuatnya sadar bahaya apa yang telah mengintainya.
Vicenzo yang tidak berniat sama sekali untuk menyerah langsung membuka paksa pintu kamar.
"Aku yakin kamu pasti akan terkejut. Sayangnya apapun yang kulakukan, kamu tidak akan bisa marah untuk hal ini." Pikir Vicenzo tersenyum senang dan berjalan dengan senyap.
Ia begitu hati-hati dan berusaha tidak menimbulkan suara sedikitpun karena dirinya tidak bisa meremehkan kekasihnya.
Sama halnya dengan berjalan, menaiki kasur pun perlu waspada atau seluruh rencananya akan gagal total.
"Huft! Hangat!" Gumam Ravettha menjaga suhu panas di dalam tubuhnya.
"Kamu menyukainya, sayang? Kalau begitu aku tidak akan membiarkanmu kedinginan malam ini!" Bisik Vicenzo di telinga kekasihnya dan memeluk erat dari belakang.
Tanda nama lengkap Vicenzo di punggung Ravettha telah diaktifkan dan begitupun nama Ravettha di punggung Vicenzo.
Kedua tanda tersebut mengeluarkan masing-masing sebuah cincin dan mereka saling bertukar sebelum dipakai.
"Aku yakin kamu tidak melupakan janji kita di masa depan yang telah kita buat, sayang! Kali ini kita datang untuk memenuhinya bersama." Ucap Vicenzo membalik tubuh kekasihnya dan mencium tepat di bibirnya.
Ia menyelesaikannya dengan mengenakan cincin pernikahan mereka.
Dengan seketika pakaian mereka berubah dan cincinnya melekat di jari manis mereka berdua.
Meskipun malam telah berlalu, sedangkan dirinya masih tidak ingin melepaskan kekasihnya, Ravettha terbangun karena mengingat jadwal pagi yang harus ia lakukan.
"Sesak! Tangan siapa ini?! Jangan katakan dia tidur disini semalaman!" Tanya Ravettha memutar tubuhnya demi memeriksa seorang penyusup.
Kemarahan, keinginan balas dendam, dan rasa malu melekat di jiwanya.
Ia tidak dapat berkata apapun lagi dan langsung memulai aktivitas secepat mungkin.
"Katakan selamat tinggal! Kuharap untuk selamanya juga bagus." Ucap Ravettha mengembalikan Vicenzo ke akademinya agar tidak melupakan tugas.
Tidak ada yang peduli apa yang terjadi setelahnya, sayangnya tidak dengan Vicenzo.
Menyadari dirinya terbangun di kamar akademi kekasihnya, ia tersenyum senang karena berhasil memperhitungkan reaksi yang akan ia dapatkan.
"Hehehehe! Aku berhasil menikahimu, sayang! Sekarang kamu hanya bisa fokus pada pekerjaanmu. Pada saat hari itu terjadi, kita pasti benar-benar bersama selamanya! Ah! Aku menantikan hal itu, kamu juga, bukan?" Pikir Vicenzo sangat bergembira dan memandang kegiatan kekasihnya dari cincin pernikahan mereka.
"HATCHI!"
"Ada apa ini? Aku yakin ada yang mengawasiku. Apa itu kau, Cedric?" Tanya Ravettha menyambungkan hologramnya ke Vicenzo.
__ADS_1
"Ya, aku memandangimu dari sini. Kamu mengkhawatirkan diriku?" Tanya Vicenzo tersenyum bangga mendapati keberhasilannya.
"Lakukan saja. Selama tugasmu selesai, itu bukan masalah bagiku!" Ucap Ravettha langsung mematikan panggilannya dan menyelesaikan pekerjaan baru.
Ia berjalan keluar rumahnya dan pergi menghadiri rapat dengan ketujuh partner.
Baru saja ia melangkah sekali, Rufino datang dengan wujud aslinya.
"Sayapmu semakin lebar, Rufino. Kuucapkan selamat mengenai pertumbuhanmu!" Ucap Ravettha masih terpesona menatap sayap partnernya ini tumbuh.
"Terimakasih, master! Keenam rekan kita telah tiba di tempat. Naiklah ke punggungku dan kita akan terbang!" Ucap Rufino berlutut dan membentangkan sayapnya.
"Berubahlah ke wujud aslimu dan bawa aku terbang dengan tongkat ini." Ucap Ravettha memikirkan cara lain yang berbeda.
"Baik. Sesuai permintaan anda, master!" Ucap Rufino langsung berubah menjadi wujud iblis kecil dan sungguh imut di mata majikannya.
Udara terasa lebih sejuk hingga siapapun warganya dapat terlihat dari langit.
Cara berbeda ternyata menghasilkan kesan lebih baik daripada terbang sendirian.
"Selamat datang, master!" Ucap Falext, Nicholas, Leonardo, Lartson, Tuan Glendy, dan Layla memberikan sambutan sekaligus hormat.
"Apa anda telah membaca laporannya, master?" Tanya Tuan Glendy penasaran akan hasil kinerja dirinya dan Lartson.
"Sudah, Tuan Glendy. Laporannya mudah dimengerti dan tetap pada formatnya." Ucap Ravettha mengangguk setuju terhadap isi laporan milik kedua partnernya.
"Senang mendengarnya!" Ucap Tuan Glendy merasa kinerjanya juga diperhatikan secara detail.
"Falext telah memberitahuku bahwa kita mengalami keberhasilan sebesar 99,9%. Hampir seluruh pasukan kita selamat dan hanya sedikit yang terluka ringan. Di pengambilan alih saat ini, kita akan menargetkan 61 dunia bersamaan dengan meluncurkan hasil penelitian Tuan Glendy dan Lartson. Bagaimana menurut kalian?" Tanya Ravettha menguji pemikiran sekaligus pandangan ketujuh partnernya dalam tantangan yang berbahaya.
Ia mengetahui jika ada seorangpun yang mengeluarkan pandangan bertolak belakang dengannya, maka pikiran Ravettha sendiri yang terlalu kaku.
Hal itu mengharuskan dirinya banyak belajar dari pandangan orang tersebut.
"Master! Anda akan menggunakan penemuan Tuan Glendy dan Lartson? Aku tidak bisa membayangkan keberhasilan kita. Senjata temuannya sungguh mengerikan!" Ucap Nicholas mengakui keunggulan kinerja dua rekannya ini.
"Kami setuju. Sumber daya dan pembangunan kami mampu mendukung proses pembuatannya." Ucap Leonardo dan Layla secara bersamaan.
"Aku tidak masalah jika kedepannya tenaga pasukan khusus dikurangi atau menganggur karena bagaimanapun keadaannya, kami tetap bisa mempertahankan struktur dunia utama kita ini." Ucap Rufino memikirkan kemungkinan yang terjadi bagi bawahannya.
"Tugasku berada di bidang pengaturan. Jadi, serahkan saja tugasnya dan biarkan hamba yang mengatur keseluruhannya." Ucap Falext menyetujui keputusan majikannya.
"Sebuah kehormatan besar bagi kami untuk terus berjasa! Kami bersedia meluncurkan hasil penemuannya, master." Ucap Tuan Glendy dan Lartson secara bersamaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG