
Levord hanya mendengarkan perkataan kakaknya dan berlalu begitu saja.
Ia bahkan tidak berniat melanjutkan percakapan jika tidak menarik baginya.
Sebagai bentuk peralihan, ia bertarung sekaligus berlatih sihirnya.
"Sudah lama sekali, ya?" Ucap Levord sebelum memulai latihannya.
Dilihatnya kedua telapak tangan, tubuh bagian bawah, hingga kakinya yang masih lengkap dalam wujud manusia.
Ia ingin lagi dan lagi mencoba eksperimen 'Texion Magnify', sebuah proyek percobaan pribadi yang belum menunjukkan perkembangan besar.
Dengan kata lain, percobaan itu telah berkali-kali gagal.
Dibandingkan dengan kata "Gagal", ia menilai lebih tepat jika disebut "Keberhasilan awal".
"Ayolah, Texion! Waktu kita hanya 17 detik untuk bertranformasi!" Ucap Levord dengan membangkitkan faktor penyebab yang pernah ia pelajari.
"Kita masih punya misi disini! Jangan hanya kaku disana, sialan!" Ucap seorang peserta yang diharuskan menjadi pemimpin sementara.
Ia bernama Arphyno Louqude, pria yang dijuluki "Greenhorn" oleh rekan seangkatannya.
Meskipun ia mencoba yang terbaik dengan caranya sendiri, tetap saja dirinya membutuhkan orang lain.
"Apa dia benar temanmu? Jika dipikir-pikir... Dia menjengkelkan?" Tanya seseorang yang tepat di depan Arphyno.
"Aku bisa mendengarmu!" Ucap Arphyno yang cukup kesal mendengar kalimat terakhirnya.
"Tentu saja kau mendengarku! Untuk apa aku bicara jika bukan untuk yang didengar?" Tanya peserta yang sama dengan begitu tenangnya.
"Huh?! Kuanggap itu masukan gratis, kawan!" Ucap Arphyno dengan tersenyum kecil di wajahnya.
Ia tertunduk sejenak, perhatiannya fokus menatap ke permukaan tanah yang tandus dan penuh retakan.
Tanpa dikatakan lebih lanjut, ia mengetahui maksud rekannya.
"Baiklah! Aku akan berterima kasih padanya setelah semua ini berakhir!" Pikir Arphyno yang tersenyum senang.
Hanya berjarak 20 m, ia dan rekan pasukannya sudah dapat melihat kedatangan Levord yang sendirian.
Tidak ada yang menemani dirinya di samping, udara, ataupun tanda-tanda musuh lainnya.
Hanya ada satu pikiran yang terus menerus terbesit dalam benak sebagian besar pasukan.
"Sungguh malangnya anak muda itu!" Pikir mereka.
Wajah mereka juga ikut memberikan respon yang berbeda terhadap tindakan yang akan dilakukannya.
"Kalian telah memberiku saran terbaik. Jadi, biarkan aku menunjukkan seberapa besar perubahan yang akan kita dapatkan! Sepertiga dari kita terus menyerang! Dua per tiga akan jadi pertahanan sekaligus bala bantuan!" Ucap Arphyno dengan penuh keyakinan.
Suaranya yang begitu tegas dan perintah yang jelas membuka seluruh mata pasukan di belakangnya.
Mereka mulai menghormati perjuangan meraih kemenangan bersama-sama.
__ADS_1
"PROK! PROK! PROK!"
Tepuk tangan itu mewakili jiwa Levord dalam permulaan latihannya.
Wajahnya yang berseri-seri merasa kembali bersemangat menghabisi jatah tugasnya.
"SRING!"
"Oh! Jadi ini peta perbatasan kalian, ya? Wah... Aku menyukai kalian!" Ucap Levord yang berteleport ke tengah-tengah medan tempur.
Ia mengambil secarik kertas berukuran besar yang tersimpan rapih dalam kotak gulungan.
Ia tahu bahwa kotak itu terdapat sihir penghalang dan alasan itulah yang membuatnya tertarik ingin mengetahui.
Baginya, tidak ada satupun yang diizinkan menghancurkan pilar rasa keingintahuannya.
"I-Itu rencana darurat kita! Duh, bodohnya hingga melupakan benda sepenting ini!" Pikir satu peserta yang ditugaskan untuk membawa kemanapun kotak gulungan.
"Sudah! Kau ulur waktu dan kami yang menanganinya!" Ucap rekan lainnya yang ditugaskan melindungi pembawa kotak gulungan.
Mendengar akan kerja sama itu membuat seorang pembawa kotak gulungan merasa tersinggung karena tugasnya digantikan.
"Apa aku terlalu ceroboh? Bisakah aku mengetahui jalan keluarnya? A-Aku ti-tidak... Aku tidak ingin menyerah!" Pikir pembawa kotak gulungan yang mendapati tubuhnya bergetar hebat.
"Bagus... Teruslah seperti itu...!" Bisik Levord yang meninggalkan lawan bicaranya.
Rasa kewaspadaan yang tinggi ternyata sangat berguna baginya.
Sang Pembawa melihat ketiga rekannya meluncurkan gabungan kekuatannya dari punggung Levord.
Sebuah cincin api putih berinti listrik pengikat partikel gas terbang menuju Levord dari belakang.
Mereka bertiga sungguh profesional dalam melempar objek.
Mata sang Pembawa yang terkejut langsung menikam tajam perut Levord dan mengunci kedua lengan musuhnya.
"Benar-benar perpaduan yang unik! Bagaimana dengan tambahan ini?" Tanya Levord dengan menjulurkan lidahnya.
Pendek semakin panjang, terus tumbuh menebal dan menguat.
Para musuhnya justru tidak dapat bertindak apa-apa terhadap nyawa sang Pembawa.
"Lidahnya memanjang?!" Tanya salah satu rekan yang membantu penggabungan kekuatan.
Tangannya terspontan mengambil pedang cadangan di saku celana.
Tanpa berkata sepatah katapun, ia langsung memotong lidah Levord yang sudah tidak normal.
"SRET! CLANGK!"
"Ah, kalian tidak mengerti?" Tanya Levord dengan mencabut sebilah pedang milik sang Pembawa, lalu mengembalikannya tepat di jantung musuhnya.
Pandangannya tidak lagi dingin, ia justru sangat tertarik dan ingin melanjutkan latihannya.
__ADS_1
Salah satu tangannya terus mengulur ke depan seolah meminta siapapun dari ketiga musuh terdepannya menyambut hangat ulurannya.
Semakin lama ketiganya menatap penuh kebingungan, semakin cepat ketiganya mendapatkan hukuman dari Levord.
"Ini pasti sakit. Kalian mau kan menemani teman kesayangan kalian?" Tanya Levord dengan tersenyum kecil.
Kedua alisnya menurun yang menandakan seberapa besar kesedihannya.
"Apa-apaan kau? Kami pasti dan tau akan tersakiti. Itulah kenapa kami mau mengorbankan nyawa kami bersama!" Ucap sang Pembawa dengan menahan rasa sakit akan luka di jantungnya.
Ia sama sekali tidak ingin meninggalkan dunianya tanpa kesan istimewa untuk yang terakhir kalinya.
Rasa yang sama dialami olehnya ternyata dirasakan oleh ketiga rekan yang telah membantunya.
Keinginan untuk menang begitu besar dibandingkan penjemputan kematian secara paksa.
"BRUK! BWOOSSSHHH!"
Levord melepaskan keempat tawanannya di tempat.
Ini bukanlah bentuk perdamaian ataupun kesepakatan yang baru hanya karena belas kasih yang terpupuk jauh di dalam lubuk hatinya.
Tanah yang tandus dieksploitasi hingga habis total persediaan air dan mineralnya.
Ia mengubah jenis sumber daya itu menjadi 9.999 butir peluru air yang telah terkontaminasi racun mematikan.
Peluru-peluru itu diluncurkan sesuai target yang tersedia di medan perang tanpa peduli milik siapa musuhnya.
"Adikku... Kau terlalu semangat!" Ucap Waldon yang menatap lama tindakan adiknya dari atas pohon 'Legeam Root'.
Sebagai kakak keduanya, sangat jelas terlihat bahwa adiknya menyimpan ratusan dendam yang belum terbalaskan.
Ia langsung turun dan menghampiri adik semata wayangnya, lalu tersenyum bangga.
"Kau menang, adikku!" Ucap Waldon dengan memeluk erat adiknya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan hangat.
"Huh?!" Tanya Levord dengan melepaskan pelukan memalukannya dan melihat ke sekeliling.
Hasil latihan percobaannya sudah cukup memuaskan di matanya.
Ia sama sekali tidak tahu potensi terbesar yang dilihat kakaknya.
"Kau akan mengetahuinya segera, adik kecil!" Pikir Waldon dengan mencoba memeluk kembali meskipun yang ia dapatkan adalah penolakan seperti biasanya.
Itu adalah kebiasaan akrab yang mungkin bisa mereka terima.
"Bisa kau jauhkan liur busuk itu?" Tanya Levord dengan menghapus air liur yang keluar dari perkataan dan sisa pelukan paksa dari kakaknya.
"Tidak bisa! Khekheke!" Ucap Waldon yang berpura-pura lari.
Keduanya tidak bisa membohongi rasa senang yang telah lama menghilang.
Mereka tidak peduli lagi karena selama mereka bisa tertawa riang, ikatan yang longgar itu pasti akan menguat.
__ADS_1
BERSAMBUNG