
“Apa? Jebakan? Tidak peduli dimanapun jebakannya karena kita akan menghilangkannya bersama-sama!” Ucap Sorayna dengan mengeluarkan sebuah monster slime dari bukunya yang berjudul ‘Enemy Kingdom Infirmities’.
Buku tersebut adalah salah satu dari tiga pusaka utama yang diturunkan oleh Raja Vampir kepada para calon penerusnya.
‘Valdesferon’ adalah benda pusaka utama yang sebenarnya, sayangnya Raja Vampir Pertama memiliki rencana lain sehingga ia membaginya menjadi tiga benda pusaka utama yang terdiri atas, ‘Geronivald’, ‘Enemy Kingdom Infirmities Book’, dan ‘Xyvel Crown’.
Tujuan utama dari pemberian tiga pusaka utama yang dibuat oleh Raja Vampir Pertama adalah untuk menjinakan lebih dari 1 juta jiwa kegelapan yang ada di dalamnya karena apabila terdapat 1 jiwa kegelapan saja yang gagal dijinakan oleh para pemiliknya, maka Raja Vampir Pertama akan bangun dari tidur panjangnya dan kehancuran yang lebih mengerikan akan terjadi di seluruh dunia.
Oleh karena itu, Raja Vampir Kedua memberikan perintah yang mutlak ke dalam aturan dimana seluruh perintah tersebut berlaku dan wajib dilaksanakan oleh seluruh kaum rasnya.
Perintah tersebut berbunyi, “Kami (para Raja Vampir Mulia dan Teragung) memberikan sebuah perintah mutlak yang wajib dilaksanakan oleh seluruh anak-anak kami, khususnya oleh para calon dan para penerus tahta kami. Ambillah masing-masing dari kalian satu pusaka yang tersedia ini! Rawat dan jagalah mereka (928 juta jiwa kegelapan) sebaik mungkin!”
Perintah tersebut selalu menggema di dalam pikiran sang Penerima benda pusaka utama setiap kali saat mereka ingin menggunakannya di peristiwa darurat.
Bagi mereka yang baru saja menerima benda pusaka utama tersebut akan dibuat cemas dengan keputusan yang telah atau akan dibuatnya, sedangkan bagi mereka yang telah berpengalaman langsung menggunakannya karena hal tersebut juga termasuk merawat dan menjaga benda pusaka utama.
Kaum ras Vampir meyakini bahwa apabila benda pusaka-pusaka tersebut tidak digunakan dalam jangka waktu 3-5 abad, maka beberapa jiwa kegelapan akan melakukan perlawanan yang membuat benda pusaka tersebut menjadi kehilangan kendali.
Sorayna yang mewarisi ‘Enemy Kingdom Infirmities Book’ memiliki kegunaan yang berupa alat pencarian titik kelemahan musuh tanpa pandang bulu termasuk pemiliknya jika dibutuhkan, dapat memanggil berbagai jenis alat penangkal hingga penghancur target musuhnya, memiliki ‘Self Defense System’ yang melindungi pemilik sekaligus bukunya, bersifat fleksibel, yang berarti buku ini dapat berubah wujud demi beradaptasi dengan sang Pemiliknya.
“Baiklah! Cari kelemahan orang yang telah mengurungku sekarang, buku yang baik!” Ucap Sorayna dengan memberikan perintah baru setelah 4,9 abad yang lalu.
“Baik, Nona Geoverra!” Ucap ‘Enemy Kingdom Infirmities Book’ dengan tunduk dan langsung menjalankan perintah sang Pemiliknya.
“Pencarian titik kelemahan musuh sedang dilakukan!” Ucap ‘Enemy Kingdom Infirmities Book’.
Buku tersebut membuka masing-masing halamannya dengan cepat, lalu berhenti di halaman 103 dan 104.
Tepat setelah halaman tersebut terbuka dengan sendirinya, seluruh penjelasan mengenai titik kelemahan, cara mengatasinya, menghabisinya, dan seluruh informasi penting baik itu legal maupun ilegal yang berhasil didapatkan.
Sorayna yang melihatnya menjadi tidak bereaksi apa-apa, hanya satu kata yang keluar dari mulutnya, yaitu “Mengesankan!”.
__ADS_1
“Pencarian dan pemindaian telah selesai! Musuh anda bernama Victor Karl Gilderoy. Kelemahannya terdapat di pikirannya untuk saat ini, Nona Geoverra.” Ucap ‘Enemy Kingdom Infirmities Book’.
“Kelemahannya terdapat di pikirannya? Kau memberikanku ide yang bagus walaupun cukup berisiko. Terima kasih atas bantuanmu! Aku sangat menyukai risiko itu sendiri!” Ucap Sorayna dengan tersenyum sangat puas.
Saat Kalvetno dan Levord telah selesai memikirkan rencana baru yang lain, mereka berdua dikejutkan terhadap Sorayna yang tersenyum-senyum sendiri dan berjalan selangkah demi selangkah mendekati Pak Victor.
“Levord! Apa kau juga merasakan hal yang sama denganku?” Tanya Kalvetno yang terlihat tidak percaya terhadap perubahan sikap Sorayna karena dimatanya, Sorayna menjadi lebih santai dan tenang dibandingkan dirinya yang tempramental.
Levord hanya melirik ke arah Kalvetno sebagai tanda bahwa ia telah mendengarkan pertanyaan yang telah Kalvetno ajukan, lalu pusat perhatiannya kembali pada Sorayna yang sedang berjalan menghampiri Pak Victor.
“Lari!” Teriak Levord dengan menarik kerah Kalvetno dan dengan cepatnya ia membuat sebuah portal.
Kalvetno yang merasa tercekik menjadi tidak bisa membantah perkataan temannya tersebut langsung memutuskan untuk mendengarkan rencana yang telah dibuat oleh kedua temannya.
Menyadari akan kesigapan Levord terhadap maksud tersembunyi dari rencana yang telah Sorayna buat, Pak Victor hanya bisa tersenyum hambar saat melihat pemandangan tersebut.
“Hei, pak! Bisakah anda membantuku mengambil pulpenku yang terjatuh disana? Anda pasti akan menghancurkannya sebelum aku mendapatkannya dan itu sangat tidak adil!” Ucap Sorayna dengan ekspresi yang mengikuti lawan bicaranya.
“Mengapa anda menatapku seperti itu, pak? Apakah salah jika aku meminta tolong, sedangkan bapak selalu m-...!” Ucap Sorayna yang terpotong karena jantung miliknya merasa tertusuk oleh sebuah pisau.
Tubuhnya perlahan-lahan berubah menjadi tua dan semakin tua, lalu menguap ke udara.
"Argh! D-Dasar manusia rendahan!" Ucap Sorayna dengan tatapan mata yang penuh kebencian.
Bersamaan dengan kejadian hal tersebut, Kalvetno datang dari bawah tanah, sedangkan Levord datang dari arah sebaliknya.
“Lepaskan teman kami, pak tua!” Teriak Kalvetno dan Levord secara bersamaan.
“SYUUT! JLEB! JLEB!”
Rantai yang di bagian ujungnya terdapat pisau yang sangat tajam dan runcing sengaja mendarat di tulang selangka Levord dan telinga Kalvetno.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti mengapa kalian masih tidak bisa berbicara, padahal kalian bisa diam-diam menjalankan aksinya tanpa perlu mengkhawatirkan suplai penggantinya, bukan?” Tanya Pak Victor dengan membantingkan tubuh Kalvetno dan Levord dengan sangat kuat ke tanah, tepat disebelah Sorayna yang membeku di tanah.
Cucuran darah Kalvetno dan Levord yang semakin banyak membuat Sorayna tidak kehabisan ide.
“Maafkan aku, teman-teman. Aku akan mengganti darah kalian, tetapi sebelum itu aku pinjam dahulu darah kalian.” Pikir Sorayna dengan menambahkan setetes darah terakhirnya untuk membuat ‘Rose Melody’.
Seperti namanya, simbol-simbol nada yang keluar tersebut saling mengeluarkan masing-masing nada khasnya dan akhirnya membentuk bunga mawar merah darah.
Suara tersebut ternyata sangat cukup jika dikatakan 'Seri' dalam memenangkan permainan.
Pikiran Pak Victor mulai terganggu konsentrasinya, sementara dirinya sedang mencoba untuk mengontrol emosi, tubuh, pikiran, dan alam bawah sadarnya.
"Pft! Sungguh membosankan!" Gumam Pak Victor di saat Sorayna tidak mendengarnya.
"Tidak kusangka anda sangat jeli dalam melihat peluang, ya? Sangat sesuai dengan pepatah yang pernah kubaca, 'Tidak ada orang bodoh karena semua orang di dunia itu adalah orang cerdas'! Memang sangat berlebihan, tetapi pepatah itu akan sangat berguna di saat seperti ini!" Ucap Sorayna dengan tersenyum kecil.
Saat Sorayna tersenyum kecil, intuisi Pak Victor berhasil menangkap respon bahaya yang membuat seluruh pikirannya mencari jalan keluar yang dapat menguntungkannya.
Seluruh emosi, tubuh, pikiran, dan alam bawah sadarnya kembali terkontrol seperti sedia kala dengan sangat cepat, tetapi ia membuat pemanipulasian yang lebih baik daripada sebelumnya.
"Aku benar-benar penasaran apa yang sedang bapak pikirkan? Mau bagaimanapun, kelemahan bapak ada di genggaman tanganku! Sebaiknya anda menyerah saja!" Pikir Sorayna dengan mengerutkan dahinya.
"Berterimakasihlah kepadaku nanti karena kalian selamat hari ini!" Ucap Pak Victor melalui telepatinya.
Melihat tanda-tanda respon bahaya, Pak Victor langsung membersihkan tempat tersebut sebelum orang lain mengetahui dan melaporkannya.
"Cepatlah bangun anak-anak pemalas sebelum aku menyita seluruh kekuatan kalian!" Ucap Pak Victor dengan memberikan perintah pertamanya secara tegas kepada ketiga calon muridnya.
"Apakah benar anda Pak Victor Karl Gilderoy dari Sekolah Akademi Percy Thaddeus?" Tanya seorang pria tinggi bertubuh besar dengan kulit cokelat gelap yang baru saja menghampirinya.
Mendengar hal tersebut, ketiga calon murid dan gurunya terkejut secara bersamaan dengan masing-masing cara pengekspresiannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG