
Ravettha dan Rufino yang telah tiba di koridor istana tiba-tiba mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekati mereka.
Rufino yang menyadari hal tersebut langsung menarik tangan Ravettha dan bersembunyi di balik pilar-pilar yang tinggi.
Ravettha memerintahkan Rufino untuk tidak berbicara satu kata pun sehingga mereka berdua tidak tertangkap nantinya.
Rufino pun menyetujui perintah dari Ravettha.
Mereka berdua mengintip suara langkah kaki tersebut berasal.
Ternyata itu adalah Ratu Ophelia bersama seorang duke.
Duke tersebut bernama Duke Mervyn Devont Luverson IV of Windsworth.
"Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir dengan hal tersebut. Hamba telah memerintahkan seseorang yang ahli untuk mencari tahu penyebab kematian putra mahkota. Ia akan segera datang." Ucap ksatria tersebut.
"Baiklah." Ucap Ratu Ophelia yang berencana menuju ke ruang utama istananya.
Sementara itu, Ravettha dan Rufino mengikuti Ratu Ophelia dan Duke Mervyn tersebut dari sangat jauh.
"Mengapa kita harus mengikutinya dari sangat jauh?" Tanya Rufino dengan menggunakan telepatinya.
"Kau mau diserang oleh pengawalnya itu?" Tanya Ravettha dengan menggunakan telepatinya.
Rufino langsung menggelengkan kepalanya karena ia tidak ingin merepotkan Ravettha.
Ia juga menyadari perbedaan kekuatan yang sangat jauh di antara mereka.
Setelah tiba di ruang utama istana Ratu Ophelia, mereka berdua melihat seorang pria yang sedang berlutut di hadapan Ratu Ophelia.
"Perkenalkan hamba adalah Yardley Jennison Shuffield. Saya adalah mantan peneliti di Gedung Pusat Penelitian." Ucap Tuan Yardley dengan sopan dan ramah.
"Bangunlah. Aku punya permintaan kepadamu. Bisakah kau mencari tahu penyebab kematian putra mahkota?" Tanya Ratu Ophelia.
"Tentu saja, Yang Mulia Ratu." Ucap Tuan Yardley.
"Baiklah. Datang dan laporkan hasil pencarianmu di jam dan tempat yang sama!" Ucap Ratu Ophelia dengan tegas.
"Baik. Saya izin untuk memulai pencariannya, Yang Mulia Ratu." Ucap Tuan Yardley.
"Ya. Silahkan!" Ucap Ratu Ophelia.
Saat Tuan Yardley telah berjalan setengah menuju pintu keluar, seorang ksatria datang untuk menghadap kepada sang Ratu.
"Lapor, Yang Mulia Ratu. Saya mendapatkan sebuah kabar. Beredar sebuah rumor yang mengatakan bahwa 'Project F-078' telah menghilang di pagi hari sekitar jam 4. Kemungkinan besar mereka akan menghancurkan wilayah ini. Anehnya, mereka sama sekali tidak meninggalkan jejak satupun di dalam gedung pusat penelitian." Ucap ksatria tersebut.
__ADS_1
"Hm... Hal itu cepat sekali sudah hilang, padahal pihak penelitian menemukannya sebulan yang lalu. Itu artinya, mereka sengaja menyembunyikan rumor ini sehingga tidak terdengar olehku, ya? Tetapi, siapa yang mencurinya? Jangan sampai disalahgunakan oleh pencurinya!" Pikir Ratu Ophelia.
"Panggil seluruh para peneliti yang masih bekerja disana! Sisanya selidiki dan cari 'Project F-078' itu sampai dapat!" Ucap Ratu Ophelia dengan tegas.
"Baik, Yang Mulia Ratu." Ucap ksatria tersebut.
Ia langsung memerintahkan seluruh pasukannya untuk menjalankan perintah dari Ratu Ophelia.
Sementara itu, Ravettha dan Rufino yang sedang menguping pembicaraan mereka justru menyadari sesuatu.
"Hah! Sudah kuduga! Jika pihak istana akan mencari tahu penyebab kematian Tuan Calhoun dan hilangnya para manusia mutasi tersebut. Sebaiknya kita segera kembali pulang sebelum kita diinterogasi oleh mereka!" Ucap Ravettha dengan menggunakan telepatinya kepada Rufino.
Mereka berdua langsung pulang menuju tempat peristirahatannya.
"Adikku! Aku sangat khawatir kau akan terbunuh oleh percobaan yang telah dikabarkan menghilang! Walaupun itu hanyalah rumor, aku tidak bisa tenang sebelum melihat adikku yang imut ini!" Ucap Roosevelt dengan memeluk adiknya dengan senang.
"BRAK!"
Suara pintu kamar Ravettha dan Roosevelt terbuka dengan keras.
Sekelompok ksatria kerajaan yang datang membawa senjata pedang yang siap untuk menakuti para penduduk untuk mengatakan yang sejujurnya terang apa yang ia lihat.
"Maaf menganggu nona-nona. Bisakah anda memberikan penjelasan tentang rumor menghilangnya 'Project F-078'?" Tanya salah satu ksatria kerajaan.
"Kami tidak tahu!" Ucap Roosevelt dengan tegas.
Mereka memilih untuk menanyakan kebenaran dari pernyataan tersebut kepada penyihir yang dapat mendeteksi kebohongan.
"Bagaimana?" Tanya salah satu ksatria kepada penyihir tersebut.
"Mereka sama sekali tidak berbohong." Ucap penyihir tersebut.
"Huh, baiklah! Ayo kita ke tempat selanjutnya!" Ucap salah satu ksatria kepada pasukannya dan penyihir.
"Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Roosevelt dengan sangat penasaran.
Ravettha hanya menganggukkan kepalanya dan terlihat penasaran.
"Kami sedang mencari penculik yang telah mencuri 'Project F-078' kami." Ucap salah satu ksatria.
"Apa itu 'Project F-078'?" Tanya Roosevelt dengan penasaran.
"Itu adalah aset berharga milik istana." Ucap salah satu ksatria.
"Oh..." Ucap Roosevelt.
__ADS_1
"Baiklah, kami pergi dahulu!" Ucap penyihir tersebut dengan tersenyum ramah.
"Dasar! Kenapa para penduduk tidak ada yang mengetahui kebenaran yang sepele ini? Padahal mereka sangat mudah untuk menyebarkan rumor! Dan lagi mereka juga berpura-pura tidak tahu!" Ucap penyihir yang menjadi kehilangan kesabarannya.
"Tenanglah! Apa mereka yang tadi juga berpura-pura tidak tahu?" Tanya salah satu ksatria.
"Tidak. Mereka benar-benar mengatakannya dengan jujur." Ucap penyihir tersebut.
"Hm... Itu artinya, mereka bahkan sama sekali tidak mengetahui rumor tersebut!" Ucap salah satu ksatria.
"Tepat sekali!" Ucap penyihir.
Para ksatria dan penyihir tersebut pergi dan mencari informasi ke penduduk lainnya lagi.
Sementara itu, Roosevelt dan Ravettha saling bertatapan.
"Kakak tidak akan mempermasalahkan kemana kau pergi. Yang penting, adikku tidak boleh ke tempat yang berbahaya. Mengerti?" Tanya Roosevelt.
"Ya. Kakak, ada yang ingin kutanyakan!" Ucap Ravettha yang berusaha untuk menguji kakaknya.
"Katakan saja, adikku. Kakak akan menjawabnya!" Ucap Roosevelt.
"Seandainya aku adalah pencuri 'Project F-078', kakak akan memilih siapa? Aku yang sudah menjadi keluargamu atau pihak istana?" Tanya Ravettha yang sedang menguji kakaknya.
"Aku akan memilih siapa? Tentu saja adikku yang telah menjadi keluargaku. Bagiku, keluarga adalah hal terpenting. Lebih baik pihak istana yang kuhancurkan!" Ucap Roosevelt dengan meyakinkan.
Ravettha menjadi tersenyum kecil yang disembunyikan di balik wajahnya setelah mendengar perkataan yang diberikan oleh kakaknya.
"Walaupun aku hanyalah adik angkatmu, kau tetap saja selalu baik kepadaku. Mungkinkah kau akan baik kepadaku walaupun aku juga yang akan menyakitimu? Seberapa kuat kakak menahan semuanya selama ini? Akankah kakak akan membenciku jika aku meninggalkanmu?" Pikir Ravettha.
"Baiklah! Apa kakak mau memakan kue ini bersama?" Tanya Ravettha dengan menunjukkan seloyang kue pie blueberry.
"Tentu! Akan menyenangkan jika kita memakannya dengan berbagi cerita bersama-sama!" Ucap Roosevelt dengan menarik tangan adiknya ke meja tamu.
"Yam, yam, yam! Ini lezat sekali! Adikku ini habis beli dimana? Dan juga apa nama kue lezat ini?" Tanya Roosevelt dengan penasaran.
Ia memakannya dengan sangat lahap seperti tidak pernah memakan makanan manis setelah sekian lama.
"Aku membelinya di toko kue 'Wientirly Village', tepatnya di pusat perdagangan. Nama kue ini adalah Kue Pie Blueberry." Ucap Ravettha dengan memakan kue pie blueberry tersebut.
"Wah! Aku bahkan tidak tahu jika sekarang sudah ada pusat perdagangan! Bahkan ada toko kue yang selezat ini lagi! Kapan-kapan kita harus berbelanja disana!" Ucap Roosevelt dengan sangat berharap.
Ravettha hanya terdiam dan menganggukkan kepala saja.
Mereka pun memulai berbincang-bincang bersama walaupun hanya candaan dan percakapan kecil, mereka sangat senang selayaknya kakak beradik yang akrab.
__ADS_1
BERSAMBUNG