Lord Of The Secret Dimension

Lord Of The Secret Dimension
Bimbingan Guru Kembar


__ADS_3

"Sekarang kita impas loh!" Ungkap Cedric langsung bangkit dan membantu bersihkan kekacauan yang telah dibuat atasannya.


"Hm... Belum selesai, bukan?" Pikir Ravettha yang penasaran bagaimana kehidupan keduanya berakhir.


Tepat saat ia berpikir demikian, 'Lautan Waktu' justru telah selesai menunjukkan kepingan memorinya.


Ravettha tidak sempat mencari informasi lanjut disana merasa harus menghela napas.


"Tunggu! Mengapa aku harus sedih? Jika 'Lautan Waktu' menyebutnya sebagai kepingan memori, maka teka-teki itu pasti akan kutemukan di saat ini. Bagus! Kali ini semakin menarik saja." Pikir Ravettha yang berusaha menghentikan pencariannya di 'Lautan Waktu' untuk sementara.


Ia langsung membuka matanya secepat mungkin dan menantikan hal menarik yang akan hadir di dalam hidupnya.


Ketika ia membuka matanya, wajah asing yang cukup familiar berada tepat di hadapan Ravettha.


"Halo, nak! Selamat datang di 'Daytonbert', kebanggaanku!" Ucap seorang kakek yang belum menyelesaikan perkenalannya.


"Kebanggaanmu?" Tanya Ravettha sama sekali tidak mengerti atas dasar apa seorang kakek tidak dikenal menyebutnya seperti itu daripada memanggil nama.


"Biarkan aku menyelesaikan perkataanku dulu!" Ucap kakek sangat kesal pembicaraannya terpotong.


"Oh, baiklah! Lanjutkan, kakek." Ucap Ravettha mencoba dengarkan dan menangkap maksud kakek tersebut.


"Disini kau sudah menjadi bagian dari kami. Kau tidak akan bisa keluar dari sini hidup-hidup, aku jamin itu. Kau akan dilatih disini selama 8 bulan dan mereka berdua yang menjadi gurumu!" Ucap kakek dengan menunjuk dua orang di belakang pria berjas putih.


Ketiganya diam tanpa membantah sedikitpun, badan yang memberi hormat, dan bersedia diberikan tugas oleh penguasanya, yaitu Raja Gielco.


Hanya dengan penjelasan sesingkat itu, dua orang yang telah ditunjuk oleh Raja Gielco langsung pamit undur diri sekaligus membawa Ravettha ke tempat yang seharusnya ia berada.


"Baguslah pertemuan ini sudah berakhir! Aku benar-benar heran! Kakek itu menyembunyikan informasi yang seharusnya kuketahui. Jika tebakanku benar, sistem mereka bertujuan untuk melahirkan generasi berkuasa dan memanfaatkan penerusnya dalam mencapai kehancuran mutlak." Pikir Ravettha yang ikut meninggalkan ruang pertemuan tersebut.


Ia berjalan membelakangi Raja Gielco dan pria berjubah putih.


Tidak ada keinginan untuk menoleh ke arah belakang karena baginya, hal yang ada di belakang harus segera ditinggalkan dan terus maju ke depan apapun hambatannya.


"Kalian berdua kembar. Bisa jelaskan padaku pelatihan apa yang harus kuambil?" Tanya Ravettha berusaha memenuhi keingintahuannya.


"Anak ini tidak ada sopan santunnya!" Ucap Cheidon merasa sedikit kesal pada penilaian kesan pertama murid barunya.

__ADS_1


"Biarkan saja saat ini. Dia bahkan belum tau cara dunia kita bekerja!" Ucap Chayton dengan mengesampingkan keluhan adiknya.


"Grrr! Kakak saja yang menjelaskannya!" Ucap Cheidon menggertakkan giginya dan pergi lebih dulu.


"Hiraukan saja perilakunya! Di dunia ini, siapa yang tidak banyak menggunakan emosi, dialah pemenangnya." Ucap Chayton melirik murid barunya.


Ia justru terkejut mendapati murid barunya ini sangat antusias mendengarkan perkataan rumitnya.


Meskipun begitu, wajahnya tetap dingin tanpa ada arti yang bisa ditebak oleh kebanyakan kenalannya.


"Apakah itu berarti pelatihan yang akan kujalani selama 8 bulan dan mungkin ada tambahan lain justru mengandalkan cara bersikap netral?" Tanya Ravettha dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi hanya untuk bertanya pada guru di sampingnya.


"Salah! Hal yang paling utama adalah andalkan dirimu sendiri! Semakin kau mengandalkan dirimu, kau akan mempelajari batasanmu. Di saat itulah, kau boleh menyetorkan apa yang telah kau pelajari selama ini!" Ucap Chayton memeriksa nomor kamar bagi para muridnya.


Sebuah kamar luas yang saling berbagi dengan para murid lainnya itu terlihat berantakan.


Para murid juga belum ada satupun yang bersiap untuk hari pertama pelatihannya.


Mereka justru terlihat senang menghabiskan waktu luangnya dengan kegiatannya masing-masing.


"Kalian kedatangan anak baru. Jangan lupakan sore ini jadwal pelatihan kita!" Ucap Chayton memberikan sebuah kunci bernomor 47.


Tidak ada jawaban dari Chayton, kecuali sorot kemarahan di ujung matanya telah terbaca jelas oleh Ravettha.


Dibandingkan merasa keanehan pada suasana kamar yang terasa menegangkan, Ravettha justru menikmati dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.


"Mengapa pengekang itu belum dilepaskan gurunya?" Tanya seseorang siswa kebingungan dengan perbedaan pengalaman yang mereka miliki.


"Ah! Dia malang sekali! Bertemu dengan Yang Mulia adalah yang paling tabu disini dan dia melakukannya!" Ucap sekumpulan siswi datang untuk mengacaukan harapan Ravettha.


"Cepat buang barang miliknya!" Ucap pemimpin sekumpulan siswi tersebut.


"Baik, ratu!" Ucap beberapa siswi yang bekerjasama dalam menjalankan perintah pemimpinnya.


Baru saja mereka mengangkat tas Ravettha, seluruh siswi yang bekerjasama dibuat tidak berdaya oleh massa tas tersebut.


Sudah berkali-kali mendorong, menarik, dan melemparnya ke udara, tetap tidak ada satupun yang berhasil.

__ADS_1


"Ini tidak boleh dibiarkan! Kita tidak akan mengecewakan ratu!" Ucap para siswi bersusah payah menggunakan berbagai cara hingga ingin menyingkirkan pemilik tas.


"Hm... Menarik!" Pikir Ravettha berjalan menuju kasur dan perabotan miliknya.


"Hei! Kau mau kemana? Aku belum menyuruhmu pergi!" Ucap pemimpin sekumpulan siswi yang mendapat julukan 'Ratu' karena kecantikan, kekuasaan, dan kejeniusannya.


"Lanjutkan saja bermain dengan tasku itu." Ucap Ravettha sama sekali tidak peduli akan perbuatan teman barunya saat ini.


Ledakan amarah milik pemimpin tersebut terus meningkat.


Apapun benda, makhluk hidup, atau lainnya akan menjadi pelampiasan amarahnya.


Sejak dirinya berjanji tidak akan melupakan perbuatan Ravettha, hampir seluruh isi 'Daytonbert' yang menarik perhatian musuhnya ini harus dimusnahkan.


"Sepertinya aku harus menyingkirkan hambatan itu." Pikir Ravettha memeriksa dengan sedetail mungkin fasilitas yang telah menjadi miliknya.


"Tidak ada, tidak, disini juga tidak ada, dan disana pun sama. Bagaimana yang ini? Bagus! Benar-benar sempurna!" Gumam Ravettha.


Saat dirinya sibuk mencari alat-alat pengintai, teman kasur di bawahnya merasa terganggu dengan yang dilakukan Ravettha.


"Apa yang kau lakukan disini? Kau mengganggu tau!" Ucap siswa berkacamata mengulang kembali pelatihan mandirinya.


"Oh! Kupikir tidak ada orang disini." Ucap Ravettha memancing respon temannya.


"Huh, sudahlah!" Gumam siswa berkacamata masih berusaha keras melupakan kejadian barusan dan fokus kembali.


Sejenak ia menutup mata, sementara Ravettha memperhatikan apa yang dilakukan temannya.


Terlintas dengan cepat sebuah ide menguntungkan kedua belah pihak termasuk rancangan mendapatkan keinginannya.


"Aku tau kau mendengarkanku! Mari kita berteman! Kubantu kau mengolah titik fokusmu, kau bantu aku mencarikan buku di perpustakaan." Ucap Ravettha yang berniat memberikan waktu pada teman barunya ini untuk memikirkan perkataannya.


Belum menetapkan batas waktu, siswa berkacamata justru langsung menyetujuinya tanpa meminta tambahan.


Ia tersenyum dan melompat dengan semangat, menantikan hasil kesepakatan dari Ravettha.


"Sepakat! Ajari aku dulu, lalu kubantu kau!" Ucap siswa berkacamata mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2