
Karena Tuan Ananta sudah tidak dapat lagi mengontrol rasa kemarahannya, ia justru terpancing untuk meluapkan amarahnya kepada Ravettha.
"Dasar bocah sialan! Lebih baik mati saja daripada merepotkan!" Ucap Tuan Ananta dengan sangat kesal dan amarahnya yang telah meluap-luap.
"Oh ya?" Tanya Ravettha kembali yang tersenyum senang karena melihat kemarahan Tuan Ananta yang telah tidak terkontrol tersebut.
Menurutnya, hal tersebut juga sangat berguna untuk menjatuhkan lawan disaat mereka kehilangan kendali pada emosinya.
"Aku tahu bahwa kau tidak akan menyerah hingga tujuanmu tercapai, tetapi... Mari kubuatkan pertunjukan yang menarik!" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang dan bersemangat.
Ia memberikan kesempatan kepada Tuan Ananta untuk menghancurkan lantai tersebut sesuai dengan rencana yang telah disusun dengan sangat baik.
Tuan Ananta yang tidak menyadari bahwa tindakannya telah termasuk bagian dari rencana Ravettha justru menghiraukan saran yang telah diberikan oleh Ravettha.
Ia tetap mengguncangkan seluruh lantai kesebelas dengan menggunakan kemampuan 'Earth Vibration'.
'Earth Vibration' adalah sebuah kemampuan yang cukup langka karena kemampuan tersebut dapat digunakan oleh pengguna elemen tanah tingkat 100.
Tingkat tersebut merupakan tingkat tertinggi dan juga menghasilkan kekuatan sangat besar yang melebihi sembilan ratus ribu kali dari kekuatan tingkat sebelumnya.
Kemampuan tersebut dengan cepatnya meningkat dan menghasilkan getaran dari pusat bumi yang lumayan besar.
Ravettha yang memperhatikan seluruh tindakan dan pergerakan Tuan Ananta tersebut langsung mengambil beberapa keputusan.
"Apakah anda tidak akan mengubah pemikiran anda kembali?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Tentu saja!" Ucap Tuan Ananta.
"Apakah anda tidak melihat tanda peringatan dari sistem itu?" Tanya Ravettha dengan penasaran.
"Aku tidak peduli dengan itu. Kenapa kau selalu ikut campur urusanku?" Tanya Tuan Ananta yang menjadi kesal kembali.
Ia yang telah kehilangan kesabarannya langsung menggunakan sedikit kekuatannya untuk membunuh Ravettha.
Ia mengeluarkan 'Frost Spike' miliknya.
Kemampuan tersebut langsung membentuk tiga buah pedang es yang telah siap diluncurkan.
Ketiga pedang tersebut meluncur ke arah Ravettha dengan sangat cepat seperti hembusan angin yang kuat.
Ravettha yang melihatnya langsung menghindarinya tanpa meninggalkan luka satupun.
Ia merasa benar-benar tertarik untuk mengajaknya bekerjasama jika ia berhasil mengalahkannya.
Semakin ia menghindarinya, ketiga pedang tersebut tetap mengikuti hingga mengenai targetnya.
"Aku punya ide!" Pikir Ravettha dengan tersenyum licik yang telah disembunyikan dengan sangat baik.
__ADS_1
Ia berlari dengan kecepatan yang lebih tinggi dalam satu putaran kecil.
Putaran tersebut dapat memanipulasi orang lain dengan jangkauan jarak yang sangat jauh hingga memenuhi seluruh wilayah di lantai kesebelas.
Setelah berlari mengelilingi putaran tersebut, ia langsung berlari ke arah Tuan Ananta dengan berteleportasi dan menghilangkan seluruh jejaknya.
Saat ia masih berada di dalam teleportasinya, ia memanggil 'Demon Sword' miliknya dan bersiap untuk menyerang Tuan Ananta yang telah ditetapkan sebagai target selanjutnya.
Ia pun membuka pintu teleportasinya dan langsung menyerang Tuan Ananta dengan tebasan yang sangat fatal.
Kemampuan tebasan pedang tersebut bernama 'Ethereal Blade'.
Salah satu teknik yang ia pelajari saat pelatihan pedang bersama Tuan Zhulfarias.
Teknik tersebut dapat langsung membunuh targetnya dalam jumlah besar dan juga menimbulkan kerusakan yang dapat membuat targetnya mati ditempat.
"Argh!" Ucap Tuan Ananta yang telah terkena tebasan tiba-tiba tersenyum licik.
Karena tebasannya tersebut berhasil mengenai tepat di lehernya, darah dari leher Tuan Ananta yang keluar langsung menguap menjadi kumpulan asap hitam dan kembali menyatu dengan dirinya.
Ravettha yang baru pertama kali menyaksikannya menjadi sangat tertarik dengan kekuatan tersebut.
"Menarik!" Ucap Ravettha dengan tersenyum licik.
"Pft. Kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan mudah? Biar kuberitahu sesuatu!" Ucap Tuan Ananta yang menghampiri Ravettha dengan tatapan dinginnya dan dari matanya yang mengeluarkan cahaya merah yang terang.
Setelah mendengar hal itu, Ravettha menyadari sesuatu tentang kekuatan tersembunyi milik Tuan Ananta dengan menggunakan 'Eye Sighting' miliknya.
Kemampuan tersembunyi miliknya adalah 'Raja Penguasa Lucifer'.
Sebuah kemampuan pemberian yang diberikan karena ia adalah salah satu keturunan murni dari Raja Iblis Lucifer.
Setelah mengetahui akan hal itu, ia langsung menatap tajam ke arah Tuan Ananta.
"Kau sangat berani rupanya! Sayangnya, aku sangat membenci tatapan tersebut." Ucap Tuan Ananta dengan tatapan dinginnya.
Ia berusaha untuk memberikan tebasan pedang kembali yang lebih kuat dari milik Ravettha sehingga ia dapat langsung memakannya hidup-hidup.
Karena Ravettha mengetahui apa yang terdapat di dalam pikiran Tuan Ananta, ia menggunakan sihir pelindungnya yang tidak dapat terlihat oleh Tuan Ananta.
Sihir pelindung tersebut menahan kerusakan pada tubuhnya saat Tuan Ananta menebaskan pedangnya ke arah Ravettha.
Sementara itu, Ravettha yang tidak mengeluarkan serangannya dan memilih untuk diam menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya kembali.
Ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menyalin seluruh teknik dan kemampuan milik Tuan Ananta dengan sangat cepat.
Ia juga menyerap sebagian kekuatan milik Tuan Ananta saat ia tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Bagus! Semuanya telah tersalin!" Pikir Ravettha dengan tersenyum senang.
"Kenapa kau tidak memberikan ekspresi ketakutan?" Tanya Tuan Ananta yang sangat kecewa.
Saat ia memasang ekspresi kekecewaannya, ia menggunakan kesempatan tersebut untuk mempelajari berbagai kemampuan yang tepat untuk mengalahkannya.
Ia mempelajarinya di alam bawah sadarnya dengan begitu, tidak akan ada yang mengganggu pelatihannya.
Ia pun menyelesaikannya dengan lumayan cepat selama lima menit.
Setelah mempelajari hal tersebut, ia menghampiri Tuan Ananta dengan tatapan
"Untuk apa aku perlu takut kepadamu? Lagipula, tidak ada yang perlu ditakutkan." Ucap Ravettha dengan tegas dan penuh percaya diri.
Ia mengeluarkan 'Storm Water Blazed' dan menyerangnya ke arah Tuan Ananta.
Saat serangannya hampir menyentuh Tuan Ananta, ia mengubahnya menjadi 'Devil Cursed'.
Sebuah kutukan yang apabila melanggar pemilik kutukan tersebut akan dijatuhi hukuman mati yang berulang-ulang.
Kutukan tersebut berhasil mengenai permukaan kulit dan menyebar melalui seluruh sisa kekuatan ditubuhnya untuk dikendalikan sesuai keinginan Ravettha.
Penyebaran tersebut juga dapat mempengaruhi seluruh kekuasaan milik Tuan Ananta baik secara internal maupun eksternal.
"A-Apa ini? Kenapa tubuhku terasa terbakar? Ini sangatlah panas dari panasnya api neraka! Lepaskan aku!" Ucap Tuan Ananta dengan sangat kesal dan tubuhnya yang hampir mengalami kematian.
"Sudah kubilang, bukan? Hentikan penghancuran lantai ini dan pergilah bersamaku untuk menaiki lantai selanjutnya." Ucap Ravettha.
"Huh! Baiklah. Aku mengaku kalah darimu! Tapi, kau harus membawaku keluar dari tempat ini bersama-sama! Jika tidak, aku akan membunuhmu bersama karena kutukan ini!" Ucap Tuan Ananta dengan perasaan yang kesal dan memiliki sedikit harapan.
"Baiklah. Kalau begitu, berikan tanda tanganmu di atas kertas ini sebagai tanda persetujuanmu terhadap kesepakatan ini. Bagaimana?" Tanya Ravettha yang telah menyiapkan dua lembar kertas dan dua buah pulpen untuknya dan Tuan Ananta.
"Berikan kepadaku!" Ucap Tuan Ananta yang sangat kesal.
Ravettha pun memberikan selembar kertas dan sebuah pulpen kepada Tuan Ananta.
Mereka berdua langsung menandatangani kesepakatan tersebut setelah membaca persyaratannya.
"Baiklah. Mohon kerjasamanya!" Ucap Ravettha dengan senang.
Seluruh rencana milik Tuan Ananta telah dibatalkan olehnya sendiri tanpa berpikir panjang.
"Selamat! Anda telah berhasil menghentikan seluruh 'Penghancuran Lantai ke-11' oleh Ananta Radcliffe Gyllenhaal. Anda mendapatkan 450.000 koin emas dan 400.000 koin perak. Anda juga mendapatkan pemulihan energi dan 'Kesepakatan Bersama Tuan Ananta'." Bunyi pesan sistem yang tiba-tiba muncul.
"Apakah anda ingin menaiki lantai bersama Tuan Ananta ke lantai 12?" Bunyi pesan sistem tersebut yang kembali muncul.
Ravettha menatap sejenak ke arah Tuan Ananta, ia terlihat setuju untuk menaikinya bersama sehingga Ravettha menyetujui pesan dari sistem tersebut.
__ADS_1
BERSAMBUNG