
Sheila meringis kesakitan akibat tamparan yang dilakukan oleh Daffa, ia mengelus pipinya sambil menatap tajam pria itu.
"Tega kamu ya Daf hanya karna perempuan perebut itu!" ucap Sheila menahan sakitnya. Daffa hanya menaikkan sebelah bibirnya menatap sinis Sheila.
"Dia istriku bukan perebut! Lulu tidak pernah merebutku. jaga mulut mu jal*ng!" ucap Daffa geram memegang kuat dagu mantan kekasihnya itu.
"Sudah yang, kau tidak perlu meladeninya. seorang jal*ng tidak akan pernah puas mengganggu suami orang" ucap Lulu yang langsung menusuk hati Sheila. dia tersindir oleh perkataan Lulu. ia semakin kesal mengepalkan salah satu tangannya, ingin melawan tetapi Daffa malah melepas cengkraman itu dan mendorongnya kuat hingga terbentur tembok.
Rani dan Cindy seorang pegawai Daffa berdiri mematung melihat pertengkaran yang terjadi didepan matanya itu. tubuh mereka menegang melihat amarah di mata presdirnya.
"Rani, Cindy, usir dia dari sini! pastikan perempuan itu tidak akan menginjakkan kaki lagi digedung ini" perintah Daffa.
"Baik presdir" ucap mereka serempak. Rani dan Cindy pun mengotong Sheila untuk segera keluar. mereka memegang tangan kiri dan kanannya.
"Lepas!! aku bisa jalan sendiri!!" berontak Sheila.
"Diamlah! tutup mulutmu dan jalan!" bentak Rani. tetapi Sheila tidak menghiraukannya dan tetap memberontak, Rani dan Cindy mencengkram tangannya kuat seolah Sheila adalah tahanan yang akan dimasukkan ke jeruji besi. Hingga mereka melewati lobi dan tibalah diluar gedung, Rani dan Cindy saling menatap seolah memberi kode. secara bersamaan, mereka membuang Sheila hingga ia tersungkur. Sheila merintih, merasa kesakitan ternyata lututnya tergores oleh bebatuan.
"Pergi sana! jangan pernah menginjakkan kaki kesini lagi!" usir Rani. Rani sangat pemberani sekali, ia tidak akan segan menghajar orang yang mengganggu hidup sahabatnya. Rani dan Cindy segera masuk kedalam gedung setelah mengusir Sheila.
"Kurang ajar mereka mengusirku dengan cara memalukan seperti ini!" gumamnya melihat sekeliling banyak pekerja yang berlalu lalang. mereka tertawa melihat mantan kekasih presdir mereka diperlakukan seperti itu.
"Akhirnya wanita angkuh itu terusir dari sini" ucap salah satu dari mereka.
Sheila merasa sangat malu, ia direndahkan, Sheila bangkit dan berdiri dari tempatnya. Sheila berjalan tertatih-tatih karna lututnya yang terluka. ia tidak akan melupakan kejadian ini dan akan membuat Daffa dan Lulu berpisah.
Ditempat Daffa, ia sedang merapikan rambut istrinya yang terlihat berantakan dan kusut akibat ulah Sheila.
"Sayang, apa kepalamu sakit?" tanya Daffa menyisir rambut Lulu.
"Tidak kok yang" jawab Lulu.
"Permpuan itu tidak akan ada habisnya!" ucap Daffa berang.
"Sudahlah, biarin saja." ucap Lulu santai.
Lulu kembali ke meja kerjanya begitupun Daffa yang mulai sibuk dengan laptopnya. Daffa teringat akan Sheila yang ingin mencelakai Lulu, ia segera meraih gagang telepon dan menelepon security yang berjaga.
tring tring tring
"Hallo tuan" sahut salah satu security.
__ADS_1
"Aku perintahkan kalian jangan sampai Sheila memasuki gedung ini lagi" perintah Daffa melalui telepon.
"Baik tuan, siap laksanakan" ucapnya. setelahnya Daffa menutup telepon dan kembali bekerja.
Ditempat Sheila, ia kembali ke bar tempat Nathan bekerja. ia menggebrak meja melampiaskan kekesalannya.
Braaak!!!!
"Woohooo.... santai sayang, ada apa kau marah-marah kemari?" tanya Nathan.
"Brengsek mereka semua! mereka membuatku sangat malu. ya ampun.. harga diriku telah jatuh" keluhnya memijit keningnya.
"Tenang sayang, aku ada rencana yang dipastikan ini sangat mempan" ucap Nathan tersenyum devil.
"Awas saja kalau rencanamu tidak mempan! kenapa kau tidak gunakan anak buahmu saja untuk menembak mereka" ucap Sheila kesal.
"Tidak tidak, itu sangat gegabah. kita akan bermain-main dengan mereka secara halus lalu mereka akan berpisah. kau bisa merebut Daffa, dan Lulu akan ku tangani, Hahahaha" ucap Nathan sambil membayangi rencananya. menurutnya idenya kali ini akan pasti sangat berhasil.
"Baiklah, ku ikuti saja rencanamu" ucap Sheila.
"Sayang, kau pasti sangat haus bukan? aku akan memanggil pelayan ku" ucap Nathan agar suasana ruangannya kembali baik.
"Aku mau Wine, siapkan sebanyak-banyaknya" pinta Sheila.
Beberapa menit kemudian, pesanan mereka pun tiba dan Sheila langsung antusias menyambut minuman itu. ia segera meneguknya langsung dari botolnya hingga membuatnya mabuk.
~
~
Dikantor, hari sudah siang saatnya untuk beristirahat. Daffa keluar dari ruangannya dan melihat Lulu yang sedang meregangkan kedua tangannya keatas.
"Sayang, kamu capek hm??" tanya Daffa melihat wajah letih istrinya.
"Astaga sayang, kau membuatku terkejut!" ucap Lulu yang memang terkejut karna Daffa menyapanya tiba-tiba.
"Kau ini lucu sekali, sini aku pijit bahumu" ucap Daffa.
"Tidak perlu sayang, aku ingin memelukmu" ucap Lulu manja.
"Cup cup istriku.. cepat-cepatlah selesai datang bulanmu, aku ingin anak" bisik Daffa ditelinga Lulu.
__ADS_1
"Is genit deh, sabar yaa semoga kita cepat diberi keturunan" ucap Lulu yang juga berharap.
"Baiklah, ayo kita makan.. aku akan mengajak mu ke restaurant mewah" ajak Daffa.
"Benarkah??? kita ajak Rani dan Gibran yaa" ucap Lulu sumringah. seketika senyum Daffa pun luntur mendengar nama rivalnya.
"Aku gak mau kalau ada lelaki itu" ketus Daffa cemberut. Lulu seakan mengerti dengan kecemburuan suaminya, ia pun berfikir bagaimana caranya agar suaminya yang nyebelin itu menuruti keinginannya.
"Ahaaa.... aku ada ide" gumam Lulu dalam hati.
"Sayang, sebenarnya aku ada rencana untuk mereka, boleh yaa??" pinta Lulu mengatupkan kedua tangannya memohon pada suaminya.
"Baiklah, panggil mereka" suruh Daffa.
"Yes, aku akan menelpon Gibran dulu" ucap Lulu sumringah, ia mengambil telepon yang ada dimejanya dan menelpon Gibran. akhirnya Gibran menyetujuinya dan menunggu mereka dilobi. Lulu pun pergi ke meja kerja Rani untuk mengajaknya makan bersama, dengan antusiasnya Rani bersedia. mereka bertiga pun menaiki lift dan keluar dari lift. Gibran yang melihat mereka dari kejauhan segera menyamperin dan mereka berjalan menuju mobil.
"Ini, kamu yang setir" suruh Daffa dengan wajah dinginnya.
"Baik tuan" ucap Gibran.
Daffa dan Lulu duduk dibelakang, sedangkan Rani disebelah Gibran. Gibran melajukan mobilnya menuju restaurant yang telah diberitahu Presdirnya.
"Sayang, kamu cantik sekali" goda Daffa memandang wajah Lulu. ia sengaja berkata seperti itu untuk melihat ekspresi Gibran dari spion dalam mobil.
"Aku emang cantik kok" ketus Lulu membuat Daffa menelan ludah kasar. ia merasa gombalannya sangat basi sekali. ia melihat ke arah spion, terlihat Gibran menahan tawanya. begitupun Rani yang menutup mulutnya menahan tawa. perkataan ketus Lulu membuat Daffa tidak bisa berkutik.
"Tertawa saja kalian berdua, makan kalian bayar sendiri" ucap Daffa kesal. mendengar itu Rani dan Gibran menghentikan tawanya. Lulu merasa bingung entah apa yang lucu hingga mereka menahan tawa.
"Emang apa yang lucu sayang??" tanya Lulu dengan polosnya.
"Hahahaha" akhirnya tawa Rani dan Gibran lepas membuat Lulu dan Daffa menatap mereka dengan tajam mengerucutkan bibirnya.
°
°
°
°
°
__ADS_1
°