Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
123. Mawar yang layu


__ADS_3

Matahari mulai terbangun dari peraduannya, memancarkan sinarnyaa yang menghapus titik-titik embun didedaunan, menghangatkan tubuh dari udara dingin dan membakar semangat baru di hari yang baru.


Lulu terbangun dari lelapnya merasa hangat diwajahnya yang telah disinari mentari. kemudian ia duduk lalu meregangkan otot-otot tubuhnya sambil menguap. diliriknya jam didinding telah menunjukkan pukul tujuh, Lulu segera membangunkan suaminya untuk bersiap-siap bekerja.


"Sayang bangun.. sudah jam tujuh" ucap Lulu menepuk pipi Daffa.


"Eemh.. kau menggangu saja" dengus Daffa lalu menduduki tubuhnya dengan mata yang masih terpejam.


"Bangun sayang, muach" goda Lulu tersenyum sengaja menggoda suaminya agar Daffa bersemangat bangun dipagi hari.


"Gitu dong, kamu harus berinisiatif membangunkan suami" ucap Daffa seketika membuka matanya dan tersenyum memandang wajah cantik istrinya itu.


"Yeeee... kalau dicium aja langsung melek, dasar" ledek Lulu mencubit perut Daffa dan berlalu pergi memasuki kamar mandi.


"Dasar istri tidak ada akhlak" gumamnya menatap pintu yang telah ditutup. Daffa pun segera bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju balkon untuk menghirup udara segar yang telah diberikan tuhan pada makhluknya.


"Heeeemmmmm.... segernya" gumamnya menghirup dalam-dalam udara itu.


"Ah rasanya badanku enak sekali, mungkin sudah mendapat jatah tadi malam yaa.. hihi" gumamnya bicara sendiri.


Beberapa menit Daffa menikmati udara segar dan teriknya mentari, sesuatu membuyarkan dirinya dengan suara cempreng yang memekik didalam sana.


"Daaaaffff........" panggil Lulu berteriak dari ambang pintu.


"Iyaaaaaaaa....".sahutnya.


"Apa sih ni perempuan, pagi-pagi sudah heboh" gumamnya berjalan menuju kamar mandi.


"Sayang, ambilkan handuk. aku kedinginan nih" rengek Lulu.


"Ambil sendiri" ucap Daffa menolak ia memilih mencongkil hidungnya saja daripada nuruti Lulu.


"Is jorok! cepetan dong ambili" pinta Lulu dengan wajah sendunya.


"Oke deh" ucap Daffa dengan senyumnya seringai seolah ingin menjahili Lulu. segera ia mendekati istrinya dan menaruh sesuatu di pipi Lulu dan berlalu meninggalkannya.


"Sayang apa sih ni" ucap Lulu mengambil sesuatu di pipinya lalu melihatnya. seketika Lulu terkejut dan berang melihat tahi hidung yang diberikan Daffa.


"Daffaaaaaaaaa!!!!! suami tak ada akhlak!!" teriaknya dengan volume suara yang menggelegar. sedangkan Daffa hanyaa terkekeh kesenangan sudah menjahili istrinya.


"Hahahaha apa sih yang heboh banget" tanya Daffa menyerahkan handuk.


"Kurang ajar kamu! kasih aku tahi hidung" berang Lulu memukul suaminya. hingga tanpa sadar ia keluar kamar mandi dengan posisi telanjang dan tangan yang memegang handuk. Daffa tidak menghiraukan pukulannya, ia terfokus akan pemandangan indah didepannya. kulit putih yang bersih tanpa nodaa sedikitpun membuatnya susah menelan ludah.


"Sayang apa yang kau lihat haa!" tanya Lulu melambaikan tangannya didepan wajah Daffa.


"Kau sungguh membuatku meronta-ronta" jawab Daffa yang masih fokus pada tubuh Lulu. Lulu melihat dirinya sendiri dan terkejut tak ketulungan.


"Haaaaaaaa........." teriaknya, segera ia lilitkan handuk ditubuhnya.


"Kau harus tanggung jawab" ucap Daffa mendorong Lulu untuk masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu itu. Daffa segera menarik kasar handuknya membuat Lulu membulatkan mata indahnya.

__ADS_1


"Jangan lakukan lagi" pinta Lulu.


"Kau harus tanggung jawab, kau benar-benar menggodaku yaa" ucap Daffa sambil membuka pakaiannya. hingga terjadilah pergumulan hebat dikamar mandi membuat pasrah akan kelakuan suaminya.


Satu jam kemudian mereka telah selesai, Lulu melangkah lesu keluar kamar mandi dengan diikuti Daffa. Daffa sangat senang, ia bahagia tak terkira. Lulu segera berjalan ke lemari dengan langkah lemasnya.


"Kau harus tanggung jawab yang, ambilkan pakaian ku" suruh Lulu yang kini mendudukkan dirinya.


"Baiklah baiklah" turut Daffa mengambil baju mereka dan memberikannya pada Lulu.


Setellah berpakaian, Lulu merias wajahnya secantik mungkin dengan lipstik yang tipis. sebenarnya Lulu ingin sesekali menebalkan warna lipstik itu di bibirnya tapi ia pasti yakin kalau Daffa akan segera menghapusnya. diam-diam Lulu memasukkan lipstik itu ke dalam tas miliknya.


"Hehehe.. simpan sini saja" guman Lulu tersenyum.


"Sayang, pasangin" pinta Daffa memberi dasinya. dan Lulu segera melakukannya.


"Terima kasih, ayo kita sarapan" ajak Daffa dan diangguki Lulu.


Mereka pun turun ke bawah untuk sarapan, dilihatnya bibi sedang menyapu rumah.


"Selamat pagi bi" sapa Lulu


"Selamat pagi Nyonya, Tuan" balas Bibi tersenyum.


"Sayang, kamu ramah sekali ya" puji Daffa menggandeng tangan Lulu.


"Hehe, ramah pada semua orang itu harus yang.. tidak memandang siapapun" jawab Lulu tersenyum dan menduduki kursi yang sudah ditarik suaminya.


"Baiklah, sekarang kita sarapan. waaah.. menu kali ini bubur ayam" ucap Lulu sumringah.


"Kamu suka??" tanya Daffa dan diangguki Lulu. Lulu segera menuangkannya ke mangkuk Daffa kemudian mangkuk miliknya.


"Makanlah.. ini lebih sehat" ucap Lulu menaruh mangkuk didepan suaminya.


"Terima kasih" ucap Daffa dan segera melahap sarapan paginya.


~


~


Kini mereka telah berangkat menuju perusahaan, Daffa menghentikan mobilnya karna lampu merah yang menyala mengharuskan pengemudi untuk menghentikan lajuaannya. Daffa yang sedang bercengkerama dengan Lulu seketika menoleh ke arah luar sebelah kanan Daffa.


tok tok


Ternyata seorang anak kecil dengan baju yang lusuh mengetuk jendela pintu yang ditempati Daffa.


"Sayang, buka saja" suruh Lulu dan diturutinya.


"Ada apa dek?" tanya Daffa pada anak itu.


"Tuan, maukah anda membeli bunga mawarku?? aku sangat lapar sekali belum ada yang mau membeli bunga ini" pinta anak lelaki itu dengan wajah lesunya. dilihatnya bunga itu sudah sedikit layu, wajar saja tidak ada yang mau membelinya. Daffa menoleh ke arah Lulu untuk meminta jawaban, dan Lulu pun mengangguknya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, Om akan beli. berapa?" tanya Daffa.


"Lima ribu aja tuan" jawabnya dan menyerahkan bunga itu.


"Murah sekali" gumam Lulu. Daffa mengeluarkan uangnya mengambil uang sepuluh ribu didompetnya.


"Ini ambillah" ucap Daffa.


"Saya tidak ada kembalian" tolak bocah itu.


"Ambil saja" ucapnya dan anak itu mengambil uang dari Daffa dan Daffa pun mengambil bunga itu.


"Terima kasih tuan" ucapnya menundukkan kepala dan segera pergi.


"Tunggu deeeek....." teriak Lulu dan untung saja anak itu mendengarnya dan membalikkan badannya kembali.


"Iya Nyonya??" tanyanya.


"Ini ambillah, untuk makan mu.. jangan lupa berhemat yaa" ucap Lulu menyerahkan uang tiga ratus ribu kepada anak kecil itu.


"Ti.. tidak nyonya" tolaknya.


"Sudah ambil saja" suruh Daffa dan diangguki anak itu dan segera mengambil uang merah tiga lembar.


"Terima kasih banyak Nyonya, Tuan, semoga rezeki anda lancar dan berkah" ucapnya tersenyum. tiba-tiba lampu sudah berganti hijau, Daffa segera menekan pedal gas mobil menuju kantor.


"Kami permisi dulu" pamit Daffa segera menutup kembali jendela mobilnya.


Anak kecil itu terus menatapi mobil milik Daffa dengan tersenyum dan kembali melihat uang merah yang telah diberikan kepadanya.


"Semoga mereka selalu dilindungi allah dan rezeki mereka lancar, aamiin" gumamnya berdoa menengadahkan kepalanya menatap langit. setelahnya anak itu pergi menuju warung terdekat.


Di mobil, Lulu tersenyum mengingat anak itu membuat Daffa keheranan akan tingkah istrinya.


"Kamu kenapa senyum-senyum yang?? bunganya ku taruh dibelakang ya" ucap Daffa.


"Eh jangan, sini bunganya.. kita harus menghargai pemberian orang. bunganya juga tidak terlalu buruk" ucap Lulu mengambil bunga itu dari tangan Daffa.


"Aku bangga padamu, jadi bunganya mau diapain?" tanya Daffa.


"Kita pajang dimobil ini saja" jawab Lulu menatap bunga itu.


"Baiklah, terserah kamu" ucap Daffa mengacak rambut istrinya hingga mereka tiba di gedung tinggi itu.


°


°


°


°

__ADS_1


°


__ADS_2