Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
196. Menjalankan Misi


__ADS_3

Rani tersenyum semringah mendengar ide cemerlang dari Lulu. tampak senyum yang mengembang di wajah cantik wanita itu. Rani merasa senang melihat wajah ceria sahabatnya yang seolah melupakan permasalahannya dan berambisi untuk menjalankan rencananya itu. Namun, sang Mama dari Rani membuyar kesenangan mereka dengan mengajaknya untuk sarapan pagi sebelum berangkat bekerja. Rani dan Lulu pun mendatangi meja makan, hanya terlihat Papa dan Mama dari Rani yang tengah menghidangkan makanan.


"Selamat pagi om, tante" sapa Lulu menundukkan sedikit kepalanya.


"Selamat pagi nak Lulu, ayo duduk" ajak Papa Rani. Lulu dan Rani pun menduduki tubuhnya namun Lulu heran kenapa tidak ada Gibran di ruang makan itu.


"Ran, laki lo mana?" tanya Lulu mengedarkan pandangan.


"Masih di kamar, ntar juga nongol" jawab Rani yang tengah menyiapi nasi untuk suaminya dan juga Lulu.


"Aaaaih istri idaman" ledek Lulu tersenyum menatap sahabatnya yang tengah menyiapi sarapan didalam piring.


"Apaan sih, bisa saja" ucap Rani mengambil lauk.


"Jadi gak enak nih, malah diambilin segala" ujar Lulu.


"Tidak apa nak Lulu, kamu lagi hamil besar nanti malah kecapekan" ujar Mama Rani yang sangat mengerti akan keadaan bumil itu.


"Hehe enggak kok tan" ucap Lulu salah tingkah. hingga Gibran pun datang menghampiri mereka. menduduki tubuhnya disamping Papa mertua.


"Selamat pagi pa, ma, Lulu" sapa Gibran tersenyum. kini satu keluarga itu pun melahap sarapan pagi dengan nikmat dan tanpa kebisingan. Lulu merasa sangat menikmati lauk yang dimasak oleh Mamanya Rani hingga ingin rasanya Lulu menambahkan nasi juga lauk. Namun Lulu merasa segan dan itu adalah suatu hal yang tidak sopan.


"Tambah Gib, nak Lulu" tawar Papa.


"Enggak om, sudah kenyang" jawab Lulu yang merasa tidak enak untuk menambahkan porsinya walaupun sebenarnya ia pengen makan lagi.


"Tidak apa, anggap rumah sendiri" timpal Mama. Lulu menatap Rani, Rani pun mengerti dan mengambilkan nasi juga lauk untuk Lulu.


"Aduh Ran, jangan dong. sudah kenyang" ucap Lulu melihat Rani yang melayaninya. Lulu benar-benar salut pada sahabatnya itu.


"Sudah ah, gue tau porsi makan lo banyak pasti ingin nambah lagi kan?" ujar Rani seolah bisa membaca isi pikiran Lulu. Lulu pun hanya cengengesan dan menatap pahanya.


"Hahaha, malu dia" ledek Papa Rani. seketika membuat Lulu malu dan pipinya yang bersemu merah.


Setelah sarapan pagi, ketiga orang itu berpamitan pada orang tua Rani. Lulu menyaliminya dan mengucapkan terima kasih telah bersedia menampung Lulu untuk menginap semalaman.


"Bu, pak, terima kasih ya atas tumpangannya, sudah membolehkan Lulu menginap disini" ucapnya tersenyum, menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Tidak masalah nak, tapi ingat, bicarakan baik-baik pada suamimu ya. pasti dia tengah khawatir padamu" nasihat Ibu tersebut.


"Iya bu, pasti nanti akan Lulu selesaikan" ujar Lulu.


"Lu , ayo cepatan!" seru Rani berteriak.

__ADS_1


"Kalau gitu Lulu permisi bu, pak. Assalamualaikum" pamit Lulu dan segera berlari menghampiri mobil.


Kini Lulu, Rani dan Gibran telah tiba di Gedung perusahaan mahesa 2. mereka memasuki gedung itu, belum terlalu ramai karna jam belum menunjukkan pukul tujuh. biasanya pada pukul itu para pegawai sudah mulai berbondong-bondong memasuki gedung yang menjulang tinggi itu.


"Lo yakin mau jadi seperti mereka?" tanya Rani menunjuk seseorang yang sedang fokus pada lantai.


"Tentu saja. gue pergi dulu" ujar Lulu meninggalkan Rani dan Gibran. Lulu berjalan ke arah ruang tertentu, dan mendapati salah seorang pegawai yang tengah mengganti pakaiannya.


"Mbak," panggil Lulu menepuk pundak seorang wanita. Ia pun menoleh dan terkejut melihat Nyonya Presdir itu.


"A-ada apa, Nyonya?" tanyanya gugup.


"Jangan gugup. ada pakaian seperti itu lagi gak, Mbak?" tanya Lulu menunjuk sebuah pakaian yang dikenakan wanita itu.


"Untuk apa Nyonya?" tanyanya balik.


"Ada deh, bajunya ada kan? bisa ambilin?" ujar Lulu


"Baiklah Nyonya, sebentar" ucapnya dan mengambil sebuah baju yang sama dari dalam penyimpanan dan memberikannya pada Lulu.


"Ini Nyonya" ucapnya memberi.


"Terima kasih." ucap Lulu lalu segera pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan mulai mengeluarkan peralatan untuk menyamar.



Lulu terus menunggu, dan menduduki tubuhnya disebuah kursi yang berada dekat dengan lift sembari menunggu mangsanya. Lulu sadar, ia dari tadi tengah diperhatikan oleh seluruh pegawai yang menatap heran padanya hingga ada beberapa orang yang menyapanya dan menyuruhnya untuk bekerja. Namun Lulu hanya tersenyum dan tidak peduli dengan suruhan mereka.


"Kamu tau gak, itu Nyonya Presdir. Jangan sesekali menyuruhnya" ucap wanita yang dijumpai Lulu tadi.


"Apa?? lalu kenapa Nyonya memakai pakaian seperti kita?" tanya temannya dengan heran.


"Entahlah, pokoknya bilang sama yang lain, jangan ganggu Nyonya" ujarnya memberi saran.


"Baiklah" ucap wanita itu hingga mereka pun bubar dan melanjuti pekerjaannya.


Lulu terus menatap jam di pergelangan tangannya, sudah pukul sepuluh pagi namun yang ia cari belum juga kunjung. kali ini Lulu tidak memikirkan suaminya, yang pasti Daffa tengah sibuk dengan pekerjaannya itu. hingga Lulu menangkap sesosok yang sangat dikenalnya tengah berjalan ke arah lift. Lulu terkejut, ternyata Daffa belum datang ke kantor. Lulu pura-pura bekerja sembari menatap wajah suaminya itu yang hanya berjarak sepuluh meter darinya.


"Kenapa kantung matanya hitam? wajahnya sangat lesu. apakah dia tidak tidur?" gumam Lulu terus memerhatikan wajah suaminya hingga tidak bisa memandang sosok itu lagi sebab pintu lift yang telah tertutup. Lulu pun kembali duduk setelah menghilangnya Daffa dari penglihatannya. mulai merasakan frustasi dan ingin rasanya menyerah.


"Tidak boleh menyerah, setidaknya aku harus nunggu satu jam lagi" gumam Lulu menatap sekitar.


Di suatu tempat, seorang wanita tengah mengunjungi seseorang. Ia menduduki tubuhnya di tempat duduk yang telah dianjurkan. hingga beberapa menit kemudian, orang yang dicarinya pun menghampirinya. ya, seorang wanita yang begitu lusuh dan tidak cantik lagi.

__ADS_1


"Sudah lama tidak kesini, ada apa?" tanya wanita itu.


"Aku ada info penting" ucap wanita yang mendatangi wanita itu.


"Apa???" tanyanya.


"Kau tau, musuh terbesarmu tengah dilanda kehancuran" ujarnya tersenyum seringai.


"Benarkah?? lalu apa rencanamu kembali?" tanya wanita jelek itu.


"Aku akan mendekati Pria itu dan terus membuat mereka benar-benar berpisah" ujarnya tersenyum seringai.


"Bagus! terima kasih kau mau membantuku" ucap wanita jelek tersebut.


"Tapi," sambungnya kembali.


"Apa?" tanyanya.


"Kau tidak boleh menyukainya, dia milikku" peringat wanita jelek itu.


"Tenang saja, aku tidak mengambilnya darimu" ucap wanita itu tersenyum seringai.


"Lagian kau sudah jelek, dekil, mana mungkin pria itu mau bersamamu" gumam wanita itu didalam hati sembari melihat penampilan teman SMA-nya.


"Yasudah, aku harus kembali lagi. aku akan mengunjungi kantor pria itu" ucapnya pamit dan segera berdiri.


"Baiklah Sil." ucap wanita itu lalu menatap kepergian temannya. wanita jelek itu merasa lega, ia tersenyum seringai sembari membayangi musuh terbesarnya akan hancur. hingga seseorang datang membuyarkan lamunannya dan mengantarnya kembali pada tempat semestinya.


Sudah hampir satu jam Lulu menunggu, mulai merasa lelah duduk di sofa itu sedari tadi. bokongnya sudah terasa kebas dan ingin beranjak dari duduknya. Namun Lulu menangkap sesuatu dari kejauhan, sesosok mangsa yang kebetulan tengah ia tunggu. Lulu mulai beraksi dan memulai pekerjaannya yaitu mengepel lantai.


Prisilla, itulah yang Lulu nantikan. ia tengah berbicara pada reseptionist dan mulai berjalan menghampiri lift. kebetulan Lulu berada didekat lift tersebut dan tersenyum seringai melihat wanita itu yang beberapa meter jarak mereka sehingga Lulu dapat melihat wajahnya dengan jelas.


"Siap-siaplah kau, pelakor!" gumam Lulu didalam hati.


Prsilla pun berjalan ke arah lift dengan semangatnya, bokong yang berlenggak-lenggok menampilkan tubuh seksinya yang seperti gitar spanyol. Ia berjalan sembari tersenyum, membuat Lulu sangat tidak menyukai gaya wanita itu. hingga langkah Prisila terhenti tepat dihadapan Lulu yang tengah mengepel lantai. dering ponsel terdengar jelas dari dalam tasnya. Prisilla pun mengangkat telepon itu yang ternyata dari Presdirnya.


"Halo Tuan" ucapnya yang terdengar oleh Lulu. Ini kesempatan Lulu untuk menguping pembicaraan wanita itu.


"Iya Tuan, aku sudah sampai di kantor mahesa 2. tapi maaf, mungkin aku akan sedikit telat untuk ke kantor" ucapnya pada sambungan telephone itu.


"Terima kasih Tuan" ucapnya hingga panggilan telepon pun terputus.


"Tuan yang baik. tau saja aku mau pedekate-an dengan pemilik perusahaan ini" gumamnya tersenyum memasukkan ponsel kedalam tas lalu mengibaskan rambut panjangnya itu ke udara.

__ADS_1


"Dasar sok cantik, kegatelan! ternyata benar pradugaku" gumam Lulu dalam hati hingga ia melihat kaki mulus itu mulai melangkahkan kakinya dan..


Duuuuug!!!!!


__ADS_2