
Lulu dan Daffa baru saja selesai membuatkan adonan di bilik mereka. adonan yang akan menjadi manusia untuk menemani Ayura saat beranjak besar nanti. Daffa sangat lega sudah mengeluarkan hasratnya. untung saja sebelum pulang ia membelikan barbie dulu pada putrinya tersebut. Lulu keluar kamar, ingin melihat putrinya yang entah sedang apa diluar sana. Lulu pun tersenyum, merasa lega melihat putrinya yang tengah bermain bersama Bi Ningsih.
"Yuraaaa....." panggil Lulu dari atas tangga, segera ia menuruni tangga dengan cepat untuk menghampiri putrinya itu.
"Ya ammi.." sahut Yura menghentikan bermainnya dan menoleh ke asal suara. Yura pun beranjak berdiri dan berlari menghampiri amminya.
"Ammi mana ja? uya dari adi nunggu ammi" ucap bocah itu.
"Ammi ngantuk. jadi bobo bentar" ucap Lulu.
"Cama appi?" tanyanya penuh selidik lalu diangguki Lulu.
"Huaaaa........ ammi tak ajak uyaaa.. huaaaaa" Yura berteriak sembari menangis karna kesal ia ditinggal tidur oleh kedua orang tuanya. Lulu pun mendiamkan anaknya namun Yura juga tidak kunjung diam.
"Cup cup cup sayang... jangan nangis lagi, nanti malam kita naik odong-odong lagi deh" ucap Lulu membujuk anaknya.
"Janji?" tanya Yura sesegukan.
"Janji sayang. asalkan jangan menangis lagi" ucap Lulu lalu diangguki olehnya.
"Anak pintar. ammi makan dulu ya, Yura mau ikut?" tanya Lulu memandang wajah imutnya. Yura pun mengangguki kepalanya bahwa ia juga ingin ikut menemani orang tuanya makan siang yang sudah cukup telat itu. Daffa baru keluar dari kamar, segera ia berjalan cepat menghampiri kedua orang yang dicintainya itu. Daffa pun langsung mengecup kedua pipi milik Yura. pipi yang chubby, membuat siapa saja ingin mengigitnya.
"Anak kesayangan appi gak rewel yaa" ucap Daffa menciumi anaknya.
"Iya dong pi, Yura kan anak pintar" ucap Lulu memandang wajah putrinya yang tengah ia gendong.
"Ayo sayang kita makan" ajak Daffa lalu berjalan mendahului mereka.
Setelah selesai makan, Daffa kembali berpamitan karna harus ke kantor untuk mengurusi pekerjaannya. tampak Yura sudah tertidur digendongan Lulu. Daffa mengecup kening putrinya dan beralih pada kening sang istri. setelahnya Daffa pun berlalu pergi menuju mobilnya hingga mobil melaju dengan cepat. Lulu segera masuk ke rumah, berjalan menaiki tangga untuk mengantarkan sang buah hati untuk ditaruh diatas ranjang.
"Selamat tidur anak ammi" ucap Lulu mengecup kening Ayura. Lulu pun juga ikut tidur karna ia juga merasa sudah lelah habis berperang bersama suami.
__ADS_1
Matahari sayup-sayup sudah mulai memudarkan pancaran cahayanya, bersiap-siap untuk meninggalkan bumi yang telah dua belas jam ia tempati. Lulu tengah mandi bersama putrinya, menikmati busa-busa yang membaluti tubuh keduanya. Yura sangat senang, ia mengobok-obokkan air dan busa sabun itu hingga memperlihatkan gigi jaraknya yang mungil. merasa sudah cukup lama didalam bathup, Lulu pun mengajak putrinya untuk berbilas tubuh dengan guyuran air shower karna takut sang putri akan masuk angin jika berlama-lama didalamnya.
"Sayang, kita udahan ya main busanya" ucap Lulu.
"Nti lah mi, uya masih mau main" ucapnya menggelengkan kepala.
"Nanti masuk angin lho, gak jadi deh main odong-odong" ucap Lulu. Ayura pun langsung terdiam, mencerna omongan amminya.
"Odong? ayo bangun mi" ucap Yura segera mengangkat kakinya ke dinding bathup untuk segera turun. Lulu yang melihatnya langsung mengangkat tubuh mungil itu. kini keduanya membersihkan diri dengan air shower yang begitu hangat.
Ceklek,
Lulu dan Yura keluar dari kamar mandi mengenakan handuk yang membaluti tubuh keduanya. Daffa duduk berselonjor sembari menonton sepak bola di televisinya.
"Mandi sana" suruh Lulu.
"Iya tunggu selesai dulu sayang" ucap Daffa dengan mata yang masih menatap layar itu.
"Appi mandi! bauk!" teriak Yura memandang sinis appinya.
"Astaga sayang, jangan dimainkan" ucap Lulu menjauhkan body lotionnya dari sang putri.
"Uya suka baunya mii" ucapnya menatap Lulu yang tengah memakaikan bajunya.
"Cium aja tangan Yura, wangi kok" ucap Lulu tersenyum lalu diturutinya, mendengkus kulit tangannyaa yang wangi.
"Hmm, arum" ucapnya tersenyum. Lulu pun ikut tersenyum menatap balita itu.
Hari pun sudah sangat gelap. jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. keluarga kecil itu baru saja selesai menyantap hidangan makan malamnya dengan nikmat, apa lagi Yura yang sampai menambahkan porsi nasinya.
"Ayo mi naik odong" ajak Yura yang sudah tidak sabar.
__ADS_1
"Iya sebentar lagi ya, appi baru selesai makan" ucap Lulu.
"Yasudah ayo kita berangkat" ajak Daffa membuat Yura sangat kegirangan dan melompat-lompat diatas lantai rumahnya. ketiganya telah berada dimobil, Daffa mulai menekan pedal gas mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang, memecahkan jalanan malam yang begitu padat itu. lampu-lampu pijar jalanan yang menghidupkan suasana malam Ibu kota.
"Wah ada pasar malam sepertinya" ucap Lulu yang tidak sengaja melihat ke atas langit, tampak sorotan lampu diatasnya.
"Pacar malam mi? yok cana!" desak Yura yang memang sudah mengerti dengan festival pasar malam tersebut sebab Daffa dan Lulu sering mengajaknya kesana untuk bermain. Daffa tersenyum menatap putrinya yang pintar itu, ia mengelus rambutnya sebentar lalu mulai mencari letak dimana pasar malam tersebut. hingga akhirnya mereka telah tiba disana, Daffa memarkirkan mobilnya ditempat yang masih tersedia.
"Kamu ingat waktu pertama kali kita kesini?" tanya Daffa pada Lulu sembari mencari tempat parkiran.
"Tentu saja. kamu tidak suka ditempat beginian. aku ingat, kamu nyebut nama Sheila. membuatku kesal bila memikirkannya" gerutu Lulu mengingat masa itu.
"Sekarang beda lagi, aku akan slalu memikirkan kalian berdua" ucap Daffa. sedangkan Yura tidak menghiraukan omongan orang tuanya dan fokus melihat destinasi permainan yang disediakan dipasar malam tersebut.
Kini mereka bertiga berjalan memasuki tempat itu, Yura sangat euforia sekali melihat permainan di sekelilingnya. ia pun menunjuk kuda-kuda yang berputar dengan jari telunjuknya yang sangat mungil.
"Pi, mi, kuda itu yuk" ajaknya menatap Lulu dan Daffa.
"Baiklah, asal anak appi senang" ucap Daffa lalu berjalan menuju pembelian tiket. mereka pun menaikinya bersama-sama. Yura berada dipegangan Daffa, sedangkan Lulu hanya sendiri menaiki kuda yang berada didepan mereka.
"Huuuu.....yeeeeee.... ceru piii" ucapnya girang bersorak ria.
"Pegangan sayang, nanti jatuh" ucap Daffa yang melihat anaknya sangat lasak.
"Ammiiiiiiii.........." teriak Yura menatap Lulu berada didepannya. Lulu mendengar, dan menoleh ke belakang sembari terkekeh dan melambaikan tangan pada anaknya itu.
Sungguh keluarga kecil yang harmonis, Yura si pelengkap hati mereka berdua. tanpa kebisingannya, rumah terasa sangat sepi dan hanya Daffa yang selalu suka mengganggunya. kini kehadiran bocah itu, membuat suasana hati mereka sungguh terasa hidup dan bersyukur akan pemberian Tuhan untuknya.
Β°
Β°
__ADS_1
Β°
Maaf slow update, ide sempit banget kayak kuburan tambah lagi tubuh terasa hangat tak menentu ππ