Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
143. Mencurahkan isi hati


__ADS_3

Lulu segera turun dengan perasaan tidak sabarnya. berlari ke arah pintu meninggalkan sang suami.


ting tong.. ting tong..


Ceklek,


"Lulu...!" sahut Tari yang melihat sahabatnya berada didepan pintu dengan perasaan senangnya.


"Tarii! aku rinduu" ujar Lulu memeluk sahabatnya.


"Aku juga, ayo masuklah.." ajaknya menggandeng tangan Lulu dengan diikuti oleh Daffa dibelakangnya. Tari mengajak Lulu dan Daffa ke ruang keluarga, terlihat Ferdi yang sedang menonton film laga china. sontak Daffa kegirangan melihat layar televisi yang menayangkan film favoritenya, ia pun menghampiri Ferdi dan duduk di sebelahnya.


"Woohooo... Ip Man yaa" ucapnya menduduki bokongnya diatas sofa.


"Eh Daffa, iya tu. Mari kita nonton" ajak Ferdi.


"Baru mulai kan ini?? aku sangat menyukai laga ini" ucap Daffa girang.


"Wah kebetulan sama ya, aku bahkan sampai menolak Tari untuk pergi belanja" ucapnya melirik istrinya.


"Menyebalkan!" lirih Tari menatap suaminya dengan tajam.


"Sabar, yang penting sekarang ada gue" ucap Lulu menenangkan Tari yang menggerutu.


"Syukurlah lo kesini, gue kesal habis sama dia. lihatlah suami kita pada fokus sekali menatap layar itu" gerutu Tari melihat suaminya.


"Ohya lu, ayo kita ke taman belakang. kebetulan bibi buat brownies tadi" sambung Tari kemudian meraih tangan Lulu mengajaknya ke taman belakang.


Tiba di taman belakang, Lulu terpana melihat banyak bunga dan tanaman lainnya dibelakang rumah Tari, ia mendekati bunga mawar, menciumnya hingga wangi mawar itu menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


"Tar, mawar lo banyak amat.. hmm wangi sekali" pujinya.


"Hehe kebetulan gue suka bunga. lo bisa bawa pulang tuh kalau mau" ucap Tari tersenyum.


"Benarkah????" tanya Lulu antusias.

__ADS_1


"Tentu, untuk sahabat gue apa sih yang enggak. ayo kemarilah minum dulu" ajak Tari lalu menduduki tubuhnya di kursi. begitupun Lulu yang menghampiri Tari sedang meminum susu.


"Sejak kapan lo minum susu? perasaan lo gak suka deh susu vanila" tanya Lulu terheran.


"Terpaksa minum ini demi janin gue" jawabnya mengelus perutnya yang sedikit buncit. sontak Lulu yang mendengarnya langsung terkejut senang mendengar kabar itu.


"Lo hamil????" tanyanya mencondongkan tubuhnya ke arah Tari. Tari membalasnya dengan senyum manis lalu melirik perutnya yang sedikit buncit.


"Astaga.. gue senang banget.. calon keponakanku." ucap Lulu mengelus perut Tari.


"Lo sudah isi belum lu?" tanya Tari.


"Belum nih, gak ada tanda-tanda" jawab Lulu cemberut.


"Sabar ya, sebentar lagi pasti isi tuh. Ferdi selalu hajar gue, tidak ada puas-puasnya. jadi baru nikah langsung dapat deh, alhamdulillah" ujar Tari tersenyum memegang pundak Lulu.


"Alhamdulillah ya, doain gue moga juga cepat nyusul" pinta Lulu.


"Pasti itu, ah gue gak sabar kalau anak kita nanti satu sekolahan. hahaha" ujar Tari membayangkan anak mereka bersahabat dan satu kelas pasti sangat menyenangkan.


Lulu dan Tari asyik mengobrol, canda tawa menggelegar di taman belakang itu. entah apa yang mereka obrolkan sampai tertawa cekikikan. menghabiskan waktu bersama orang terkasih hingga melepaskan rindu yang membuat mereka jarang bertemu selepas berkeluarga. ditambah lagi kesibukan mereka yang bekerja pagi hingga sore.


"Tar, gue sampai lupa sesuatu" ucap Lulu yang tampaknya serius membuat Tari merasa penasaran.


"Apaan?" tanya Tari.


"Gue ketemu Dimas di Mall" ucap Lulu membuat Tari ternganga karena kaget mendengar nama Dimas.


"Kok bisa? bukannya dia di Jambi?" tanya Tari bingung.


"Entahlah, gue gak peduli lagi tentang dia. yang jelas dia bekerja jadi office boy di Mall itu" jelas Lulu.


"Apaa???! Office boy? bukannya dia pintar ya dan sarjana gitu" ucap Tari yang semakin kaget.


"Gak tau lah, mungkin sekarang skillnya sudah terkuras habis akibat melayani wanita jal*ng, hahaha" ucap Lulu tertawa.

__ADS_1


"Hahahaha, ada ada saja lo. ohya, terus dia minta balikkan sama lo ga?" tanya Tari.


"Tidaklah, dia minta maaf sama gue katanya dia menyesal. menyesal darimana coba, jelas waktu itu ia bersikap biasa saja. ah geram gue!" ucap Lulu kesal.


"Benar gila itu orang! tapi syukur deh dia sadar kalau lo sudah punya suami dan tidak minta balikkan" ujar Tari menatap Lulu yang termenung.


"Lo masih cinta sama dia?? sampai menung gitu" tanya Tari menyelidik.


"Tidak. gue cuma cinta sama Daffa. gue teringat saja dengan perlakuannya dulu, kurang apa sih gue sampai dia tega duain gue. emang sih gue tidak pernah memberi perawan gue untuknya, tapi tidak gitu juga sampai duain gue" ucap Lulu panjang lebar hingga ia menangis tersedu-sedu. Tari yang melihatnya merasa iba, dihampirinya Lulu lalu memeluk tubuh itu.


"Jangan nangis. tuhan sayang sama lo sampai menunjukkan kebusukannya. lupakan itu Lu, lo sekarang punya Daffa walaupun diawal pernikahan, hati lo juga sesakit ini. percayalah, gue bisa lihat Daffa mencintaimu tulus sampai kapanpun" tutur Tari mengelus punggung itu untuk menenangkan Lulu.


"Lo tau kan, gue tidak pernah disakiti maupun dikasari oleh orang tua gue? tapi saat itu sakit banget Tar, gue lihat dengan jelas mereka sedang bercinta. hiks.. hiks.. Daffa juga gitu teganya dia melakukan itu bersama Sheila diruang kerjanya. sakit itu terasa lagi, hiks hiks" ucap Lulu mencurahkan isi hatinya.


"Cup cup cup... jangan diingat lagi, plis.. itu masa lalu mereka, dan kini Daffa juga sudah berubah. dia slalu bersama lo, slalu mencintai dan menyayangi lo, kebahagiaan sudah datang padamu Lulu.." ucap Tari yang turut mengeluarkan air matanya.


"Iya.... lo jangan nangis juga, maafin gue" ucap Lulu menghapus air mata sahabatnya. Tari turut bersedih bila sahabatnya juga bersedih. mereka seperti dalam satu jiwa yang tidak bisa dipisahkan. Lulu memeluk sahabatnya dengan hangat memejam mata sebentar untuk melupakan dua kejadian yang membuat hatinya terkikis. Tari membiarkan sahabatnya yang terus mendekap tubuhnya. Lulu butuh sandaran untuk melupakan rasa sedihnya yang tertanam sejak lama didalam sanubari. Lulu harus kuat dan akan membinasakan seluruh wanita yang ingin mendekati suaminya.


Setelah merasa tenang, Lulu melepaskan pelukan itu. ia mengajak Tari untuk menyusul suami mereka diruang keluarga.


"Tar, masuk yuk.." ajak Lulu.


"Yasudah, ayoo" sahut Tari menaruh minuman dan cemilan diatas nampan. lalu berjalan menghampiri suami mereka yang masih asyik menatap layar itu.


"Ehem! seru banget yaa nampaknya" ucap Tari menaruh nampan diatas meja. namun mereka hanya diam tidak ada yang menyahuti. Tari menatap Lulu, memutar bola matanya merasa jengah melihat kedua pria itu yang tidak mengangap mereka ada. Lulu mendekati Tari, membisikkan sesuatu dan tentunya Tari sangat menyukai ide itu. segera dicarinya remote tv ternyata ada di pangkuan Ferdi, diambilnya hingga Ferdi pun tidak menyadari. lalu dengan jahilnya, Tari memencet tombol Off sehingga televisi pun mati.


"Tariiiiiiiiiii......."


°


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2