
Hari baru telah berganti, matahari telah menampakkan wujudnya dilangit Ibukota. dengan sinar cahayanya yang terang benderang mampu membangunkan seluruh penduduk yang masih bersedekap didalam selimut. kini salah satunya adalah Lulu dan Daffa, matahari menyoroti keduanya yang tengah pulas dalam tidur apalagi Daffa sampai kelupaan menutup kain gorden yang berwarna silver tersebut hingga mentari lebih leluasa untuk membangunkan keduanya.
"Eeeemh... silaunya" gumam Lulu dengan suara serak khas bangun tidur. Daffa membalikkan tubuhnya membelakangi Lulu sebab ia juga merasaa kesilauan. Lulu bergeliat, pelan-pelan ia membuka matanya, menatap luar jendela yang terang benderang. Lulu pun menduduki tubuhnya diatas ranjang dan menoleh menatap jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Cepat amat jamnya, perasaan baru tidur" gumam Lulu segera bangkit dan meraih handuknya untuk segera membersihkan diri yang sudah sangat bau.
Setelah selesai mandi dan memakai pakaian kerjanya, Lulu membangunkan Daffa dengan menepuk pipi sang suami. Daffa bergeliat dan sontak membuka matanya merasa terpana dengan sosok wanita yang berada didepannya.
"Bidadariku" ucap Daffa dengan mata yang mulai sayu.
"Ya bangunlah! kita harus berangkat" suruh Lulu.
"Nanti saja sayang, kantor gak akan lari kemana" ujar Daffa dengan suaranya yang serak.
"Kantor memang tidak kemana sayang, tapi kita harus mengantarkan Roni dan kak Karin ke Bandara" ujar Lulu.
"Aah iya, baiklah" ucap Daffa segera menyibak selimutnya dan memasuki kamar mandi.
Pagi ini mereka terlebih dahulu mengantarkan Roni dan Karin ke Bandara dengan menggunakan pesawat jet pribadi milik mahesa. kebetulan papa Mahesa memiliki dua pesawat. satu untuknya, dan satu lagi untuk Daffa jikaa saja ia telah menikah. kebetulan Daffa telah menikah, maka dari itu Pesawat tersebut telah dipegang atas nama Daffa. setelah mengantarkan Roni nanti, Daffa dan Lulu juga ke kantor untuk mengurus semua pekerjaan yang ada.
Daffa telah selesai mandi, ia keluar dengan balutan handuk yang meliliti pinggangnya, memperlihatkan tubuh sixpacknya dan otot-otot begitu menonjol. Lulu yang sedang meng-hairdryer rambutnya merasa terpana melihat suami yang tengah menggosok rambutnya dengan handuk kecil hingga ia menelan salivanya dengan susah.
Daffa tersenyum seringai melihat ekspresi istrinya dibalik handuk yang menutupi sedikit wajahnya. Daffa pura-pura tidak tau dan memilih ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya.
"Sayang..." ucap Daffa memeluk istrinya dari belakang.
"Heem" sahut Lulu yang mengoleskan lipstick pada bibirnya. menunggu jawaban dari Daffa tak kunjung ada, Lulu kembali membuka suara menatap Daffa dari cermin.
"Ada apa hm?" tanya Lulu.
Eeemh....
Seketika mata Lulu membulat merasakan sesuatu yang keras dan menonjol dari belakang, ternyata Daffa menggesekkan tongkatnya di belakang rok Lulu hingga Lulu merasakannya.
"Ayooo...." ujar Daffa dengan nada yang sensual.
"Ayo apa?" tanya Lulu yang mulai gemetaran. Daffa membalikkan tubuh istrinya untuk menatap dirinya. Daffa memandang wajah itu dengan lekat dengan penuh rasa hasrat yang berapi-api.
__ADS_1
"Hmmm, aku tidak suka dengan lipstikmu yang terlalu tebal." ujar Daffa menatap bibir itu.
"Ini tidak tebal, warnanya saja or..." ucap Lulu terpotong sebab Daffa langsung melahap bibir itu hingga memasukkan lidahnya ke dalam mulut Lulu dan bergoyang didalam sana. Lulu terhanyut dan ikut menarikan lidahnya, merem melek melihat wajah Daffa yang begitu menikmatinya. Daffa mulai mengangkat Lulu, tangan yang menggeserkan alat makeup Lulu yang berada dimeja rias hingga berjatuhan dan berceceran dilantai lalu menaruh istrinya diatas meja itu. Masih dalam berpagutan, ia pun mengangkat rok istrinya dan membuka resleting celananya.
"Eeeemh... aaaah" desah keduanya. apalagi Daffa yang berpindah posisi mengecup leher Lulu sembari mengaduk-ngaduk pelan goa milik Lulu.
Hingga permainan pun telah selesai, Daffa memasang kembali resleting celananya dan Lulu turun merapikan penampilannya yang acakan sebab ulah Daffa. Lulu membalikkan tubuhnya menatap cermin namun ia terkejut sebab peralatan makeupnya sudah tidak ada diatas meja.
"Sayang, mana alat makeup ku?" tanya Lulu menatap suaminya yang sedang memakai dasi.
"Itu!" tunjuk Daffa dengan mengarahkan mulutnya.
"Astaga yaaang, lihatlah bedakku patah, berceceran pula" gerutu Lulu menatap berak padatnya yang bermerek Wardah itu telah berhampuran dilantai. Lulu mengecek lipstiknya untuk saja tidak patah.
"Hanya itu kan? nanti pulang krja kita beli sekalian borong produknya" ujar Daffa.
"Is apaan sih" ucap Lulu menaruh semua alat makeupnya diatas meja yang berupa handbody lotion, sunscreen, parfum, lipstick, bedak padat, foundation, blush on dan eyeliner tak lupa juga pensil alis. Hanya saja tidak ada eyeshadow karna Lulu belum memilikinya.
Kini keduanya telah selesai sarapan pagi, tak lupa meminum susu hamil. pasangan suami istri itu pun segera menuju pintu utama yang terbuka namun tiba-tiba Roni dan Karin memasukinya terlebih dahulu.
"Yuhuuuuu... Tuan rumah, where are you?" sorak Roni.
"Kakak, apa kabar?" tanya Lulu.
"Baik Lu, bagaimana honeymoon kalian?" tanya Karin.
"Menyenangkan sekali kak, ohiya aku ada oleh-oleh untuk kkak, ini dia" ujar Lulu menunjukkan paperbag dan memberiknnya pada Karin. Karin pun mulai membukanya namun langkahnya terhenti sebab Lulu yang melarangnya.
"Eeeeeit!! jangan disini.. lebih baik saat telah tiba di hotel itu ya kk" ujar Lulu mengatupkan kedua tangannya. Karin menatap Roni yang berada dsampingnya seolah meminta pendapat namun Roni hanya mengangkat kedua bahunya seolah cuma bilang terserah kamu. Karin pun kembali menatap Lulu dan tersenyum.
"Baiklah, terima kasih lho" ujar Karin tersenyum lalu memeluk Lulu.
"Yasudah ayo kita ke bandara" ajak Roni dan diangguki oleh yang lainnya.
Didalam mobil, tidak ada keheningan. semuanya bersuara sembari mengobrol hingga Karin menceritakan nasib Sheila yang berada dijeruji besi, membuat Daffa dan Lulu merasa penasaran.
"Kalian tau Sheila mantanmu Daf?" tanya Karin memulai pembahasan.
__ADS_1
"Ya, ada apa wanita itu?" tanya Daffa menatap Lulu sekilas.
"Malang sekali nasibnya. kalian tau? dia habis dihajar oleh geng tahanan wanita yang sangat kejam" ujar Karin. hingga membuat Lulu membayangi Sheila dan bergidik ngeri.
"Ih kasian amat kak. emang boleh ya orang jahat hajar yang jahat?" tanya Lulu dengan polosnya.
"Pada hakikatnya emang seperti itu Lulu, begitulah kehidupan di jeruji besi. bukannya enak, justru kita akan merasakan pembullyan disana" jelas Karin.
"Emangnya polisi gak hentikan mereka?" tanya Lulu.
"Sayang, kenapa nanya itu sih. biarin saja Sheila dihajar" sahut Daffa.
"Tapi kan kasihan.. ya tidak apalah. hitung-hitung emang begitu pembalasan yang ia dapat" ucap Lulu.
"Kalau Nathan bagaimana Rin?" tanya Daffa.
"Nathan?? aku gak tau orangnya yang mana" ujar Karin yang bingung.
"Itu lho kak, dia masih muda seumuran aku" ujar Lulu.
"Heem, banyak sih yang muda" ujar Karin yang tidak tau siapa dan yang mana orang yang bernama Nathan.
"Hedeeeeeuh kakak.."
Β°
Β°
Β°
Happy sunday guys..
jangan lupa sarapan, jaga kesehatan dan juga jangan lupa beri aku semangat ya π
tau caranya?? dengan meng-Like, hadiah 19 point atau lebih, juga komentarnya. Kalau Vote, aku tidak terlalu berharap ya karna karya lain lebih bagus dariku ππ
Btw, kira-kira apa yaa isi paperbag untuk Karin hingga ia menyuruhnya membuka di hotel???
__ADS_1
Hmmmmm??? π