
Kejadian itu membuatnya sangat marah, sedih, semua campur aduk ia rasakan. Lulu mengepalkan tangannya seolah ingin meninju wanita itu. Lulu ingat jelas wajah-wajah perusak rumah tangganya termasuk wanita tadi yang sangat mirip dengan wanita yang tempo lalu menumpang duduk di mejanya dan Daffa. Lulu geram, air matanya sudah tidak ingin keluar lagi, pertanda ia harus kuat, tegar dan siap untuk membasmikan seluruh pelakor. hanya saja ia tidak menyangka Daffa seluluh itu dengan taktik yang dijebak wanita itu.
"Bagaimana bisa wanita itu---- ah sial! apa dia kliennya?" gumam Lulu kesal.
"Pantasan saja dia tidak membolehkanku ini dan itu, kesana dan kesini, ternyata-- malah bertemu wanita itu" lanjutnya.
"Aku yakin wanita itu sengaja menjebak suamiku! Daffa bodoh! terlalu luluh sama perempuan!!" berangnya mengepalkan tangan. pak sopir hanya mengupingnya saja tidak berani menatap penumpangnya karna itu sangat tidak etis.
"Kita ke taman kota saja pak" suruh Lulu pada pak sopir.
"Baik non" ucapnya. Taksi pun melaju dengan cepat ke taman kota. Lulu ingin merilekskan pikirannya sebelum pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan janinnya. di sisi lain, Daffa tengah mencari keberadaan istrinya. ingin mengejar mobil tadi tapi ia tidak memiliki kesempatan yang cukup karna ia harus masuk dulu ke restaurant untuk meminta kunci pada Roni. kini Daffa dan Roni memutuskan untuk pergi ke rumah sakit karna tidak mungkin jika Lulu berada di kantor. keduanya telah tiba dan Daffa segera berlari ke poli kandungan namun nasib tidak mendukungnya, yang ia cari tidak berada disana. Daffa tampak bingung, gusar, ia merasa bersalah seharusnya ia tidak menolong wanita itu dan tak menyangka kalau Lulu akan datang untuk memberikan surat perjanjian yang tertinggal di kantor.
"Lebih baik kita ke kantor dulu, nanti jam dua kita balik lagi" saran Roni.
"Baiklah" turut Daffa yang mulai linglung. mereka pun kembali lagi menuju mobil yang ada di parkiran dan meninggalkan rumah sakit itu untuk sementara waktu.
Di tempat Lulu, ia tengah merenung disebuah kursi yang berada di taman kota. melihat anak-anak yang tengah bermain ayunan, seloncoran, dan itu membuatnya sedikit tersenyum tipis melihat tingkah lugu mereka yang masih suci itu. Lulu menatap perutnya yang besar, mengelus lembut hingga tidak terasa air matanya keluar membasahi pipi.
"Kamu tenang saja ya, ammi akan menghajar wanita itu nanti. dan appimu yang bodoh, akan ammi jauhi untuk sementara waktu" gumam Lulu berbicara pada janinnya. hingga obrolan Lulu dan sang anak pun terhenti sebab seorang anak tengah menangis diseloncoran itu. Lulu mengedarkan pandangannya, tidak terlihat dimana orang tua bocah itu. Lulu mendekatinya dan bertanya kenapa menangis.
"Hai sayang, kenapa menangis?" tanya Lulu pada anak perempuan itu.
"Dia mendorongku tante" ucapnya menunjuk teman mainnya.
"Daritadi asyik dia terus yang main, tante. jadi aku mendorongnya" timpal anak lelaki tersebut.
"Tidak boleh main pukul ya sayang, harus minta baik-baik pada temanmu. kamu juga, harus bergantian mainnya bersama teman ya" nasihat Lulu dengan lembut dan menghapus air mata itu.
"Baiklah tante" ucap mereka serempak.
__ADS_1
"Kemana orang tua kalian?" tanya Lulu.
"Beli permen, kami menginginkannya" jawab anak lelaki tersebut.
"Bahaya juga kalau mereka ditinggali, ah mungkin saja mereka tetap kekeuh untuk bermain" gumam Lulu dalam hati.
"Yasudah, jangan berantem lagi yaa, itu gak boleh dan harus main secara bergantian" nasihat Lulu sekali lagi dan diangguki oleh kedua anak kecil itu. Lulu tersenyum melihat kedua bocah itu, seolah ia lupa akan masalahnya bersama Daffa. Lulu menduduki tubuhnya ditempat tadi namun tiba-tiba perutnya berbunyi, mulai merasakan lapar yang melanda.
"Malas sekali kalau beranjak dari sini, apa aku delivery makanan saja yaa" gumam Lulu lalu merogoh ponselnya yang ada di saku rok yang ia kenakan. Lulu mulai membuka aplikasi Grab dan memilih makanan apa yang ia inginkan.
Beberapa menit kemudian, bapak Grab pun datang menghampiri Lulu memberi pesanannya. dengan senang hati Lulu mengambilnya dan memberikan uang kepada pria itu. Lulu pun melahapnya dengan nikmat, pelan namun pasti, makanan itu sudah berseluncur kedalam lambung Lulu hingga Lulu merasa kenyang.
"Alhamdulillah, kenyang juga ya nak" ujar Lulu mengelus perutnya. Hari sudah semakin siang, Lulu sudah mulai bosan disini. ingin ke rumah sakit namun jadwalnya kontrol pada pukul 2 nanti. Lulu tidak tau harus kemana dulu, sedang tidak ingin untuk pulang apalagi melihat wajah suaminya. Lulu tampak tengah menatap ponsel, Ada rasa keraguan didalam hatinya sebab Ia ingin mengajak sang dokter melajukan jadwalnya pada jam segini.
"Coba saja deh" gumamnya menekan nomor WhatsApp dokter tersebut.
Tit tit tit
Hari sudah menunjukkan pukul 2, Daffa telah tiba di rumah sakit dan dengan langkah cepatnya ia bergegas menuju lift dan mengantarnya ke poli kandungan. Daffa telah tiba, namun tidak melihat keberadaan sang istri. Ia pun memutuskan untuk menunggu kehadiran Lulu yang mungkin saja telat untuk tiba.
Menit terus berputar, para Ibu hamil dan suaminya sudah berangsur memasuki ruangan itu, Daffa terus gusar, tidak mendapati kehadiran Lulu yang entah kemana kini. hanya tersisa tiga pasangan yang tengah mengantri, mereka tampak senang, euforia dan bercampur gugup. sedangkan Daffa hanya sendiri dan tidak ada yang menemani.
"Kemana istrinya Tuan?" tanya seorang Ibu yang berusia sekitar tiga puluh tahunan.
"Heem, dia ada urusan jadi sedikit telat" jawab Daffa gugup.
"Ooh, yasudah kami masuk dulu yaa" pamit Ibu itu bersama suaminya. Daffa pun mengangguk sembari tersenyum.
"Kamu kemana sayang?" gumam Daffa mengusap rambutnya. hingga tidak terasa sudah sangat sepi, pengunjung pun telah pergi meninggalkan rumah sakit ini. Daffa pun beranjak dari duduknya dan bergegas pergi dengan langkah yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
"Tuan Daffa yaa?" sahut seseorang memanggil namanya, Daffa pun menoleh.
Β
Di tempat lain, Lulu berada disebuah rumah yang sederhana dan dipenuhi banyak bunga. Lulu menyukainya, sebelumnya ia pernah ke rumah ini dan terpana menatap bunga-bunga yang terletak di halaman rumah itu. Lulu tidak ingin pulang, ingin memberi pelajaran pada suaminya agar tidak gampang terhasut dan terjebak dalam permainan wanita. Lulu tak habis pikir melihat sikap suaminya itu, kadang dingin kadang cuek namun cepat luluh pada wanita. mengambil sikap seperti ini, Lulu berharap suaminya akan berfikir bagaimana siasat wanita yang ingin merebutnya dan tidak ingin mengulangi hal itu.
"Nak Lulu, ayo minum dulu" tawar seorang Ibu menyuguhkan teh hangat pada tamunya.
"Terima kasih bu" ucap Lulu tersenyum dan meraih gelas itu. mereka pun mengobrol panjang dan Lulu menceritakan masalahnya pada Ibu tersebut, Ibu itu merasa terenyuh, kasihan pada tamunya.
"Sabar nak, setiap rumah tangga pasti akan di uji dan ada cobaan yang diberikan tuhan. kita hanya menjalaninya dan menyelesaikan permasalahan rumah tangga itu dengan baik. sebenarnya dengan cara begini juga tidak bagus, nak" nasihat Ibu itu.
"Tapi Lulu ingin memberinya pelajaran, bu. agar dia mikir akan kesalahannya" ucap Lulu memandang kosong ke arah lain.
"Jumpai suamimu, omongi baik-baik dan nasihati dia" ujar Ibu tersebut.
"Besok Lulu akan ke kantor dan menemuinya, bu. terima kasih nasihatnya ya bu" ucap Lulu tersenyum setelah berfikir cukup lama.
Disela-sela obrolan mereka, sebuah mobil terdengar di pekarangan rumah tersebut. hingga dua orang mendatangi rumah itu dan membuka sepatu yang ia kenakan.
"Assalamualaikum---" ucapnya menyelonong masuk.
Β°
Β°
Β°
Hai readers π
__ADS_1
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa π π
Happy reading π