
Daffa telah selesai mandi, mengusap rambutnya dengan handuk kecil, dilihatnya Lulu masih terbaring diatas tidur menutupi wajahnya dengan bantal. Daffa yang melihatnya terkekeh, menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.
"Daffa! Daffa! menyebalkan!" teriaknya menghentak-hentakkan kaki diatas kasur. Lulu masih tidak sadar bahwa suaminya sedang menatapnya.
"Sudah teriaknya! bising tau. mandi sana" suruh Daffa terkekeh segera ia melangkahkan kaki ke ruang ganti. Lulu terkejut, disingkirkannya bantal dari wajahnya, menatap punggung yang baru saja memasuki ruang ganti.
"Aaah Daffa!" gerutunya kesal. segera ia beranjak, mengambil handuk dan memasuki tubuhnya ke kamar mandi.
Kini mereka telah duduk di ruang makan, menikmati menu sarapan pagi berupa bubur kacang ijo buatan bibi dan ditemani oleh segelas susu coklat disebelah kanannya.
"Bi.." panggil Lulu yang melihat Bibi sedang berjalan menuju keluar ruang makan.
"Ya nyonya?" sahut bibi.
"Bi, bisa masukkan kue tadi malam kedalam kotak makan? Lulu pengen ngemil dikantor nanti" pinta Lulu.
"Baik nyonya, semuanya aja?" tanya bibi memastikan.
"Iya bi, ada tiga macam itu" ucap Lulu lalu kembali meminum susu coklatnya.
"Nanti kita makan diruanganku yaa" sahut Daffa yang sedang menyesap kopinya.
"Iya, kalau masih ada" ketus Lulu.
"Heeem, jangan dimakan dulu. kerjain tugasmu, yang ada kertas belepotan coklat kamu buat" ucap Daffa yang paham pasti Lulu mengemilnya disaat sedang bekerja.
"Baiklah" ucap Lulu.
Daffa dan Lulu telah tiba dikantor, para pegawai yang melihat orang nomor satu tiba bersama sang istri segera berkumpul menundukkan separuh tubuhnya untuk menghormati kedatangan pemilik perusahaan.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya" ucap mereka menunduk.
"Selamat pagi juga" jawab Lulu tersenyum sambil menggandeng tangan sang suami.
Dengan langkah bak ratu dan raja, kedua insan itu melewati puluhan mata yang menatap mereka dengan tersenyum. sepanjang jalan itu juga, Lulu terus memberi senyuman manisnya kepada para pegawai. hingga tidak jarang, seluruh pegawai sangat memuji istri Tuan nomor satu itu digedung ini. Lulu dan Daffa memasuki lift, mengantarkan mereka ke lantai tujuan dimana ruang kerja mereka berada disana.
ting,
Pintu lift pun terbuka, sama seperti dilantai bawah, lantai yang sedang mereka pijak juga disambut hormat oleh para pegawai yang berpapasan dengan mereka. memberi sambutan hangat dengan senyum yang hangat pula, juga dibalas dengan senyuman hangat nan manis oleh Lulu. tidak kaget lagi, mereka sudah kenal sekali kepada Lulu selama menjabat sebagai sekretaris CEO pengganti sekretaris Luna yang sedang cuti lahiran. menurut mereka, Lulu mudah berbaur dengan siapa saja padahal dirinya tau ia adalah istri pemilik perusahaan ini namun Lulu tetap rendah hati kepada staff karyawan hingga menjadikan mereka teman, tidak memilih mana yang kaya atau sederhana.
"Selamat pagi nyonya presdir" sambut Rani yang kebetulan ingin ke toilet namun langkahnya terhenti sebab melihat Lulu dan Daffa berjalan menuju ruangan presdir.
__ADS_1
"Apaan sih Ran, gak enak tau dibilang nyonya" ucap Lulu melirik Daffa.
"Hehehe, kalau gak dibilang Nyonya, gue bakal dimarahi si bos" ucapnya terbata melirik Daffa.
"Gak akan, iyakan sayang?" tanya Lulu mendongakkan kepalanya menatap Daffa. Daffa pun hanya mengganggukan kepalanya.
"Nah, betulkan??" ucap Lulu sedang Rani hanya cengar-cengir tak karuan.
"Yasudah, gue ke toilet dulu. sesak ni. permisi presdir" pamitnya segera berlari menuju toilet yang dekat dengan pantri.
"Sayang, masuklah dulu. aku akan buatkan kopi lagi" ucap Lulu menyuruh Daffa memasuki ruangannya.
"Baiklah, cepat ya gak pakai lama" perintah Daffa.
"Heem"
Lulu segera menaruh tasnya dan berjalan menuju pantri untuk membuat kopi dan susu coklat untuk dirinya. makan kue ditemani susu pasti sangat menyenangkan, pikirnya. Lulu telah tiba di pantri, terlihat pegawai pantri sedang membuat pisang goreng untuk siapa saja yang ingin mengambilnya, kecuali Daffa yang tidak menyukai gorengan. Lulu melihat ibu itu sedang menggoreng, membuat Lulu tampak tergiur.
"Heeem, enak banget. Lulu boleh minta ga bu?" tanya Lulu dari belakang tubuh mereka. Ibu pantri pun menoleh ke belakang, melihat siapa yang berbicara.
"Eh nyonya, boleh sekali nyonya. saya ambil piringnya dulu ya" ucapnya pada Lulu.
Lulu keluar dari pantri, membawa nampan berisi gelas kopi dan susu juga sepiring goreng pisang untuk ia santai.
Ceklek,
Lulu membuka pintu ruangan dengan badannya, terlihat Daffa yang sedang fokus didepan laptop hingga tidak menyadari kedatangan Lulu.
"Yuhuuuu.. pesanannya sudah datang" ucap Lulu menghampiri Daffa dan menaruh gelas di atas mejanya.
"Terima kasih sayang, kau bawa apa?" tanya Daffa sekilas melirik.
"Goreng pisang, kamu mau?" tanya Lulu dan Daffa hanya menggelengkan kepala.
"Baiklah, padahal ini enak. aku ke meja kerjaku dulu" ucap Lulu segera menuju keluar.
"Tunggu! ingat, jangan makan kuenya" suruh Daffa.
"Iya-iya.. takut banget habis" ucap Lulu segera membuka pintu dan menutupnya kembali.
Lulu menatap layar komputer, mulai bekerja mengerjakan tugasnya. sesekali ia mengemil gorengan dan menyesap susu coklatnya, nikmat sekali. Lulu sangat lihai dan pintar, dalam sekejap satu tugas telah terselesaikan dan beralih pada tugas yang lain. hingga tak terasa hari sudah siang, perut Lulu juga sudah keroncongan. segera ia matikan komputer, dan mengambil kotak makannya untuk disantap bersama Daffa.
__ADS_1
Ceklek,
Lulu masuk begitu saja keruangan suaminya, Tampak Daffa sedang meregangkan ototnya yang kaku dan mengucek kedua matanya.
"Sayang, ayolah makan dulu.. nanti lagi kerjanya" suruh Lulu menaruh kotak makan diatas meja dan menutup laptop suaminya.
"Ah sayang, sedikit lagi" rengek Daffa.
"Lihatlah matamu sudah memerah, pasti tidak istirahat daritadi. ayolah kita makan dulu" ajak Lulu menarik tangan suaminya menuju sofa.
"Baiklah" pasrahnya lalu beranjak dari duduk.
"Pejamkan matamu sebentar, biar aku pijit lenganmu. kau ini, terlalu giat sekali. biar besok Roni saja yang menyelesaikannya" ujar Lulu memijat lengan Daffa.
"Tidaklah yang, kasihan sekali dia kalau diberi tugas sebanyak ini. aku ingin pikiranku tenang nantinya" ujar Daffa.
"Tapi jangan terlalu dipaksa juga" ucap Lulu lalu memberi air putih untuk suaminya.
"Ini minumlah" suruh Lulu. Daffa mengambilnya dan meneguk habis air putih itu.
Kini mereka sedang menikmati kue yang dibawa dari rumah tadi, memakannya hingga habis dan diselingin canda tawa membuat tawa Lulu menggelegar diruangan itu.
Kruyuk kruyuk..
"Uppzzz!!"
Perut Daffa berbunyi membuat tawa mereka kembali menggelegar, untung saja ruangan itu kedap suara hingga tidak ada yang mendengar tawa mereka.
"Aduh yang, yang! perutmu mengganggu saja." ledek Lulu.
"Hehehehe, mereka ngamuk sih mendengar kita tertawa, tidur mereka jadi terganggu" ujar Daffa merujuk pada cacingnya.
"Hahahaha, iya benar. ah udah ah, ayo kita ke kantin" ajak Lulu menarik tangan suaminya.
°
°
°
°
__ADS_1