Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
169. Ingin Gorengan


__ADS_3

Keesokan harinya, matahari sudah mulai menampakkan diri dan menyoroti sinarnya ke bumi. Daffa dan Lulu masih enggan untuk bangun, akibat pertempuran tadi subuh yang membuat keduanya kelelahan. dentingan jam semakin laju dan terasa cepat, hingga yang tadinya pukul tujuh kini sudah hampir pukul sembilan dan kedua insan itu masih pulas dengan tidurnya.


tralala lala.. tralala lala..


Bunyi ponsel berulang kali membangunkan Daffa dan Lulu, Lulu bergeliat ke samping dengan wajah yang ia tutupi dengan selimut alih-alih tidak ingin mendengar keributan ponsel itu. sedang Daffa meraih ponselnya diatas nakas yang berada disampingnya. dengan mata yang masih terpejam, ia segera mengambilnya.


"Hallo, siapa?" tanya Daffa dengan suara yang serak. Daffa enggan untuk melihat siapa yang menelponnya sepagi ini.


"Assisten setiamu dong, masa kau lupa" sahut Roni dibalik sana.


"Astaga, kau!! ada apa menggangguku!" ketus Daffa.


"Kau sudah pulang kan? ini sudah dua minggu lebih" ujar Roni.


"Terus kenapa?" tanya Daffa balik.


"Kembali ke kantor, dan aku akan pergi honeymoon" ujar Roni.


"Besok aku mulai bekerja. apa istrimu sudah cuti?" tanya Daffa.


"Sudah, kau membuang waktu cutinya saja!" gerutu Roni.


"Hahahahaha, baiklah baiklah. besok kalian akan terbang. nanti datang ke rumahku kalau kau mau sama tiket itu" ujar Daffa.


"Tentu saja mau masbro.. nanti gue kesana" ujar Roni lalu segera mematikan panggilannya tanpa pamit sedikitpun.


"Tidak sopan sekali main matiin saja".gerutu Daffa. Daffa pun menaruh ponselnya kembali, sekilas ia melirik istrinya yang menutupi wajah dengan selimut. Daffa segera membukanya hingga Lulu mengerutkan dahinya sebab kesilauan yang menerpa.


"Kau jangan bunuh diri berdua yang! bisa-bisanya menutupi wajah dengan selimut" gerutu Daffa.


"Eeeemh kau ini! emangnya ada apa?" tanya Lulu mengucek kedua matanya.


"Nanti kau tidak bisa bernafas sayang" ujar Daffa.


"Kau ini, ngawur saja" tukas Lulu segera bangun dan membuka kain gorden jendelanya hingga kamar semakin terang dan sinar matahari langsung menyoroti kamar itu. Lulu pun pergi ke kamar mandi, untuk mencuci wajah dan menyikat gigi. sedang Daffa, pergi keluar kamar untuk menuju ke dapur.


"Bi, sarapannya sudah siap?" tanya Daffa yang berdiri diambang pintu dapur.


"Sudah Tuan" jawab bi Ningsih.

__ADS_1


"Baiklah, antarkan saja ke kamar ya bi, jangan lupa kopi dan susu hamilnya" titah Daffa lalu segera pergi meninggalkan dapur.


Daffa duduk berselonjor diatas kasur sembari menonton upin dan ipin di layar televisinya. Lulu baru selesai mandi, dan segera pergi ke ruang ganti. namun sekilas ia melirik layar tv yang menampilkan film kartun itu.


"Astaga yang, sejak kapan kau doyan nonton kartun?" tanya Lulu mengusap rambut pendeknya dengan handuk.


"Sejak hadirnya seseorang yang penting buatku" jawab Daffa tersenyum.


"Aaaaaaik.. perasaan sejak menikah denganku kau tidak pernah menonton ini" ujar Lulu menggelengkan kepala dan berjalan menuju ruang ganti.


"Percaya diri sekali dia, ya kehadiran anakku lah yang ku maksud. hadeeeeuh" gumam Daffa menatap pintu ruang ganti.


Lulu telah selesai berpakaian santai dengan baju kaos yang sedikit selebor dan celana pendek diatas lutut, biasanya hari-hari di rumah Lulu hanya mengenakan pakaian yang menurutnya nyaman dan bebas bergerak. terlihat Daffa yang masih menonton dengan tawanya yang cekikikan. Lulu tersenyum seringai, ia menghampiri Daffa dan menduduki tubuhnya dipangkuan itu.


"Sayang, tubuhmu menghalangiku!" gerutu Daffa.


"Aku candu duduk disini sayang" ucap Lulu.


"Tapi kau sangat bau yang, sabun apa yang kau kenakan" ujar Daffa menutup mulutnya, perutnya seperti diaduk-aduk, ia segera menurunkan Lulu dengan pelan dan berlari ke kamar mandi.


Uweeeek!! uweeeek!


"Jangan mendekat plis" ujar Daffa yang masih mengeluarkan isi perutnya.


Tok tok tok


Lulu segera keluar dari kamar mandi dan membuka pintu kamarnya, terlihat bibi yang membawa nampan untuk sarapan pagi majikannya. Lulu segera meraih nampan tersebut untuk segera ia bawa masuk.


"Terima kasih ya bi" ujar Lulu tersenyum.


"Sama-sama Nyonya, saya permisi" pamit Bibi menundukkan sedikit badannya dan berlalu pergi. Lulu menutup kembali pintunya, membawa nampan pada meja yang bersebelahan dengan ranjangnya. Lulu menata makanan itu diatasnya, lalu melirik pintu kamar mandi terlihat Daffa baru saja keluar.


"Sayang, makanlah dulu biar perutmu terisi" suruh Lulu.


"Yang, kamu makan di balkon saja. aku gak sanggup, sungguh" ujar Daffa dengan nada lemasnya. Lulu merasa iba, ia menuruti mau suami dan menaruh kembali makanan untuknya beserta susu diatas nampan.


"Baiklah, selesai makan jangan lupa oleskan minyak angin agar sedikit enakan" ujar Lulu mengangkat nampan itu.


"Terima kasih sudah pengertian yang" ucap Daffa menutup hidungnya membiarkan Lulu berlalu meninggalkan dirinya. Daffa benar-benar mulas dan mual mencium wangi tubuh istrinya, jabang bayinya mulai berulah lagi, entah apa salah Daffa hingga ia terkena imbasnya.

__ADS_1


Daffa menduduki tubuh diatas sofa sembari makan dan menonton. namun Daffa tampak tidak berselera menyantap hidangan itu. Daffa mendengkus, perutnya terasa mual lagi mencium aroma makanan itu. Daffa mencoba mejauhi makanan itu, dan menekan perutnya agar berhenti merasakan mual.


Diatas balkon, sesekali Lulu melirik suaminya yang sepertinya tengah mengurut perutnya sendiri. ingin menghampirinya namun Lulu takut kalau Daffa akan mual lagi. Lulu segera menghabiskan sarapan paginya dengan cepat lalu meneguk susunya hingga habis tanpa sisa. Lulu menghampiri Daffa, tampak Daffa membaringkan tubuhnya di sofa tersebut.


"Sayang, kenapa tidak dimakan?" tanya Lulu dari ambang jendela balkon.


"Aku tidak selera yang" ujar Daffa.


"Kamu mual lagi?" tanya Lulu merasa iba lalu diangguki oleh Daffa.


"Lalu kamu pengen makan apa yang?" tanya Lulu.


"Aa..aku.. pengen makan gorengan yang tapi tahu isi, resoles dan bakwan, sepertinya menggiurkan" ujar Daffa membayangi makanan itu. sontak Lulu ternganga karna itu adalah makanan yang tidak ingin dimakan oleh Daffa, sebab Daffa tidak menyukai makanan yang berminyak.


"Tapi yang, itu kan makanan berminyak. biasanya kamu tidak suka" ucap Lulu bingung.


"Aku juga tidak tau, tiba-tiba kepengen itu yang" ujar Daffa. Lulu pun menghembus nafasnya kasar dan mengangguki permintaan suaminya.


"Baiklah, aku akan menyuruh mang Fais untuk membelinya" ujar Lulu segera keluar dari kamar.


"Tunggu yang! aku ingin kamu yang beli" pinta Daffa.


"Baiklah, tapi minum kopimu" ujar Lulu dan segera membuka pintu. langkahnya terhenti sebab Lulu melupakan sesuatu yaitu uang. Lulu segera masuk dan mengambil dompetnya didalam tas. mengambil uang biru dan memasukinya kedalam saku celananya. Daffa memerhatikan istrinya, ia pun membuka suara kembali walau tubuhnya terasa lemas.


"Yang, ganti pakaianmu dengan pakaian sopan" ujar Daffa.


"Memang kenapa kalau begini?" tanya Lulu.


"Kalau kau berpenampilan seperti itu maka kau menambahkan dosa untukku" ujar Daffa.


"Sejak kapan kau memikirkan dosa? sudah beristri pun kau masih bersama orang lain" ujar Lulu mencebikkan bibir bawahnya.


"Itu masa lalu, gantilah pakaianmu atau kau akan menggunakan gamis"


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2