Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
184. Seagresif itu?


__ADS_3

Sudah setengah jam Lulu dan Daffa berada diatas sana sembari menunggu pakaian yang dibeli oleh Gibran. ya, Lulu menyuruh Gibran untuk membelikan kemeja dan celana karena pakaian yang dikenakan Daffa tadi sudah sangat kotor. kini pasangan suami istri itu menuruni tangga, ada beberapa dari pegawai dilantai itu merasa kaget kenapa ada orang nomor satu itu diatas sana.


Daffa dan Lulu memasuki lift yang mengantarkan mereka ke lantai tempat mereka bekerja. Lulu terus menempel pada suaminya sebab ia merasa rindu dengan Daffa yang seperti ini. Daffa mengelus rambut istrinya, sesekali mengecup pucuk rambut ini dengan penuh kasih sayang.


"Jangan marah lagi yaa" ujar Lulu menatap mata suaminya.


"Kalau kau bercerita padaku apa saja yang kau lakukan diluar dan bertemu dengan siapa, harus melapor denganku!" tegas Daffa.


"Iya baiklah, aku gak akan ulangi lagi" turut Lulu.


"Sekali lagi, jangan pernah bertemu mantanmu itu" ujar Daffa.


"Kalau tidak sengaja bertemu?" tanya Lulu.


"Kau harus lari menghindarinya" jawab Daffa.


"Baiklah, Kau ini pecemburu sekali" gumam Lulu.


Ting,


Pintu lift terbuka, Daffa dan Lulu segera keluar dengan berpegangan tangan, menunjukkan kemesraan mereka dikalangan khalayak. setiba di meja kerja istrinya, Daffa berhenti sebentar.


"Buatkan kopi lagi ya sayang" pinta Daffa dan diangguki oleh Lulu dengan senyum cerianya. Daffa bergegas pergi memasuki ruang kerja yang ia tempati. Lulu tampak beryes-ria telah berhasil menjalankan rencana yang diberi oleh Rani. Lulu pun bergegas menuju meja kerja Rani dengan perasaan gembiranya.


"Yeees! berhasil juga. Rani,, I'm coming" seru Lulu berjalan cepat menuju meja temannya itu.


Tampak Rani sedang mengobrol dengan teman sejawatnya, entah apa yang mereka obrolkan hanya Rani yang tau. hingga tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang membuat Rani sontak terkejut.


"Ran, thank you so much" ujar Lulu menguyel-uyel pipi Rani dengan gemas.


"Rani gitu loh, tapi itu tidak gratis yaa" ujar Rani.


"What!" ucap Lulu.


"Lo harus traktirin kita makan siang besok tapi dikantin yaa" pinta Rani mengedipkan matanya berulang kali.


"Hanya itu?? baiklah, tidak masalah" ucap Lulu dengan bangganya.

__ADS_1


"Astaga! gue balikk dulu" pamit Lulu segera berlari meninggalkan meja kerja Rani dan menghampiri pantri. Lulu meracik kopi untuk suaminya, kali ini sangat manis tidak seperti yang.dibuat oleh Rani. Lulu membuatnya dengan penuh cinta, takaran gula yang pas tidak terlalu manis, setelahnya membuat susu coklat untuk dirinya. Lulu membawa dua gelas itu dengan nampan, dengan langkah cantiknya ia berjalan dan menghampiri ruang kerja suaminya.


"Hai sayang" panggil Lulu menaruh nampan diatas meja. Lulu menetralkan perasaannya, memandang Daffa yang.fokus pada laptop.


"Ehem!" dehem Lulu.


"Iya yang" sahut Daffa melirik istrinya sekilas. Lulu berjalan menghampiri Daffa, lalu mendorong tubuh suaminya kebelakang hingga Daffa yang sedang fokus dengan laptop pun teralihkan memandang Lulu yang tiba-tiba duduk dipangkuannya dan kini mereka saling berhadapan. sontak saja, Daffa terkejut dengan ulah Lulu yang tampak agresif.


"Ada apa sayang?" tanya Daffa. Lulu tidak menjawabnya, hanya tersenyum dan merangkul kedua tangannya dileher itu. Daffa menatap wajahnya dengan lekat, Lulu berubah, ia seperti binatang buas yang ingin memangsa lawannya.


Hap!!


Tanpa banyak bicara, Lulu langsung melahap bibir suaminya dengan buas. kali ini Daffa yang terkejut namun ia tersenyum akan ulah istrinya dan kembali lagi membalas perlakuan itu dengan sangat buas.


Eeeemh...


Desah keduanya menggema diruangan itu. Daffa yang sudah tidak tahan segera beranjak menggendong Lulu dan membawanya diatas sofa hingga mereka berdua menghabiskan waktu di sofa tersebut hingga keringat membanjiri kulit mereka.


Satu jam kemudian, pertempuran pun selesai. Lulu menetralkan perasaannya dengan duduk sebentar diatas sofa itu sembari merapikan rambut dan kancing bajunya yang terbuka. sedang Daffa kembali ke kursi kebesarannya dengan perasaan lega dan tersenyum cerah.


"Aku malu sekali, kenapa aku berbuat seperti itu" gumam Lulu dalam hati merasa malu akan ulahnya.


"Tidak perlu malu, nanti malam kau harus menggodaku lagi" ujar Daffa tersenyum.


"Ngawur kamu. sudah ah aku pergi" ucap Lulu mengambil susu coklatnya dan berjalan menuju pintu.


Di meja kerjanya, Lulu tersenyum seolah baru merasakan cinta pertama kalinya. ia tidak menyangka akan seagresif itu bersama Daffa. Lulu menoleh pada perutnya ingin menyampaikan perasaan gembiranya.


"Kamu tau nak? ammi senang sekali, appi sudah baikkan sama ammi. tapi ammi bingung, kenapa ammi seagresif itu ya?? apa mungkin karna ulahmu yaa yang tidak sabar ingin bertemu appi didalam sini? dasar kamu ucul nakal" ujar Lulu pada perutnya yang membuncit hingga ujung-ujungnya ia menyalahkan si jabang yang menginginkan Daffa mengunjungi dirinya.


Lulu menyesap susu coklat yang tidak hangat itu namun rasanya masih nikmat walau sudah dingin. Lulu menyalakan komputernya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda sedari tadi.


"Untung saja istri bos, kalau tidak, sudah dipecat ini" gumam Lulu melihat pekerjaannya yang masih banyak.


Tidak terasa hari pun sudah sore, waktunya seluruh pegawai bersiap-siap untuk berkemas menuju kediaman mereka masing-masing. padahal baru saja Lulu mengurusi pekerjaannya namun waktu berlalu dengan cepat hingga mengharuskannya untuk menghentikan pekerjaan itu.


"Aaah rasanya lelah sekali. perasaan baru saja bekerja" gumam Lulu meregangkan otot-ototnya yang kaku. hingga Lulu melihat dua orang yang sangat dikenalnya sembari melambaikan tangan dan melewati Lulu begitu saja.

__ADS_1


"Woi bukan muhrim! main pelukan saja!" teriak Lulu kepada Rani dan Gibran. sedangkan Rani menjulurkan lidahnya kepada Lulu. Lulu menatap sekitarnya, banyak pegawai yang menatapnya hingga membuat Lulu cengengesan merasa malu.


"Aaaaaish.... terlupakan kalau disini masih ramai" gumam Lulu menutup wajahnya dengan tangan.


"Sayang, kamu kenapa?" sahut seseorang dari samping yang tak lain adalah Daffa.


"Eh, tidak yang. Aku hanya merasa lelah" ucap Lulu setengah jujur setengah berbohong. sebab sebenarnya ia tengah malu ditatap banyak pegawai yang melewati dirinya.


"Itu tandanya kau harus pulang. aku juga merasa lelah" ucap Daffa dan diangguki oleh Lulu. Lulu mematikan komputernya dengan cepat dan meraih tasnya. kini mereka berjalan melewati pegawai lain hingga mereka lebih mempersilakan orang nomor satu itu untuk duluan memasuki lift. Lulu merasa tidak enak pada mereka, sebab kedatangan Daffa dan Lulu membuat mereka mengurungkan niat untuk memasuki lift.


"Sayang, kenapa mereka malah bubar saat melihat kita?" tanya Lulu.


"Mungkin mereka segan" jawab Daffa.


"Padahal kan bisa bareng-bareng memasuki lift" gumam Lulu.


"Itu artinya mereka menyuruh kita untuk berduaan didalam sini" ujar Daffa memegang bokong Lulu.


"Ih apaan sih! jangan genit!" ujar Lulu memukul tangan Daffa.


Dibawah, tepatnya di basement, Daffa dan Lulu berjalan menghampiri mobilnya namun mereka terkejut melihat Gibran dan Rani berdiri didepan mobil mereka.


"Ada apa?" tanya Daffa.


°


°


°


°


°


Ayooo ada apa yaa Rani dan Gibran berdiri di mobil mereka??


Jangan lupa LIKE, KOMENT dan HADIAH BUNGA berupa 19 point 😁😉

__ADS_1


__ADS_2