Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
229. Nanas muda


__ADS_3

Daffa berjalan ke arah dapur dengan langkahnya yang sedikit malas. bagaimana tidak, Ia disuruh untuk mengupas Mangga dan Nanas oleh sang Istri yang sedang mengidam itu. tampak Bibi yang berjalan mondar-mandir sepertinya tengah sibuk membersihkan tempat acara yang telah selesai. sontak saja Daffa langsung tersenyum semringah, ide muncul dalam pikirannya dengan sekejap.


"Bibi--" panggil Daffa lalu melambaikan tangannya mengajak Bibi untuk kemari. Bibi pun segera mempercepat langkahnya menghampiri Tuannya itu.


"Iya Tuan, ada apa?" tanya Bibi sedikit menunduk.


"Ikuti saya" ajak Daffa lalu berjalan lebih dulu dari Bi Ningsih. Daffa membawanya menuju dapur dan memperlihatkan dua buah yang berada diatas meja.


"Bi, kupasi nanasnya yaa" pinta Daffa.


"Ba---


"Tidak bi! jangan! biarkan dia saja yang mengupas sendiri." sahut Lulu dari belakang, tepatnya diambang pintu yang tengah memerhatikan suaminya.


"Sial, kenapa dia datang" gumam Daffa dalam hati. Bibi pun bingung, menatap kedua majikannya secara bergantian sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Bibi, selesaikan saja pekerjaanmu" perintah Lulu mengarahkan kepalanya ke keluar.


"Baik Nyonya" turutnya segera berlalu pergi. tinggallah Daffa dan Lulu, Lulu menatap lekat wajah suaminya yang tampak bingung. ingin sekali rasanya Lulu tertawa namun ia takut dosa menertawakan suaminya sendiri.


"Apa lagi? ayo kerjakan" perintah Lulu menghampiri Daffa.


"Aku gak pandai kupas nanas๐Ÿ˜ญ" rengek Daffa menunjukkan wajah sedunya.


"Gak mau tau. ini demi ucul" ucap Lulu tersenyum mengejek lalu segera pergi keluar dapur meninggalkan suaminya.


Pffffft.....


"Wajahnya lucu sekali" gumam Lulu disela berjalannya. Daffa mengambil pisau, memperhatikan pisau dengan lekat bersama pak nanas. Ia pun memulai mengupas nanas itu dengan hati-hati. hingga dalam beberapa menit kemudian pun, pak nanas telah selesai digunduli kulitnya.


"Selesai juga" gumam Daffa mengelap keringat yang membasahi dahi dengan salah satu lengannya. Ia pun mulai memotong-motong pak nanas tersebut dengan sekuat tenaganya.


Bibi memasuki dapur dengan membawa seonggok piring yang digunakan tamu saat acara tadi. Ia menyernyitkan dahi menatap Tuannya memotong nanas yang masih berbaluti duri-duri tipis disekujur tubuh nanas itu.


"Tuan, itu kenapa dipotong dulu?" tanya Bi Ningsih bingung.


"Karna sudah dikupas dong Bibi" ujar Daffa yang masih fokus dalam memotongnya. Bibi pun menggelengkan kepala, segera ia taruh tumpukkan piring itu dan mengambil alih nanas tersebut.


"Tuan, mari saya kerjakan" ucap Bibi merebut nanas itu. Daffa pun dengan senang hati memberikan sebilah pisau itu kepada Bibi. Bibi mulai membersihkan duri tipis itu, karna itu sangat perlu untuk dibuang agar lidah.tidak gatal saat menyicipnya.

__ADS_1


"Ini juga harus dibuang, Tuan. harus bersabar dalam memotong ini" ucap Bibi tanpa menatap mata Tuannya.


"Oh begitu, syukurlah" ucap Daffa tersenyum lalu beralih pada mangga muda yang belum ia kupas.


"Setelah ini diberi air garam agar tidak gatal lidahnya. tapi ini kan nanas muda, untuk apa Tuan?" tanya Bibi heran.


"Untuk Lu----


"Sudah siap sayang?" tanya Lulu tiba-tiba yang telah berdiri diambang pintu.


"Sedikit lagi sayang" ucap Daffa mempercepat mengupasnya.


"Nyonya, apakah nanas ini untuk Nyonya?" tanya Bibi menerka.


"Iya Bi, tentu saja" jawab Lulu tersenyum.


"Tapi Nyonya, ini tidak--" ucapan Bibi terhenti sebab Lulu langsung menarik tangan pembantunya itu. Lulu membisikkan sesuatu pada Bi Ningsih hingga Daffa yang melihat pun merasa bingung apa yang tengah istrinya omongkan.


"Oh gitu, oke deh Nyonya" seru Bibi mengacungkan jempol padanya.


"Apa yang dibisikkan Lulu?? ingin bertanya, ia tak kunjung pergi" gumam Daffa dalam hati menatap istrinya yang tengah mengerlingkan sebelah mata padanya.


"Oya bi, sekalian buati bumbu rujak" ucap Lulu dan segera meninggalkan mereka dan berjalan cepat menuju tangga.


"Ya sayaaang.." sahut Lulu berjalan menaiki tangga. tampak Ayura yang tengah berdiri diujung tangga tersebut.


"Kenapa lama sekali?" gerutunya cemberut.


Beberapa menit kemudian, Daffa telah selesai dengan tugasnya. ia membawa dua gelas air putih dan dua piring berisi buah dan bumbu rujak sesuai permintaan sang istri diatas nampan. dengan cepat, ia berjalan menaiki tangga ketempat Lulu yang sedang berada diruang main sang putri.


"Tadaaaaa..... pesanan bumil telah tiba" seru Daffa memasuki ruang itu.


"Asyik.. mangga muda" girang Lulu segera mengambil piring tersebut dan mencolek mangga itu pada bumbu rujaknya. Lulu memakannya dengan lahap, membuat Daffa yang melihatnya menelan saliva dengan kasar. Yura yang juga memerhatikan amminya, mencoba untuk mengambil satu keping mangga itu dan menggigit kecil dagingnya. sontak ekspresi Yura tampak mengerutkan wajahnya dan menaruh kembali mangga itu kedalam piring.


"Aceeeeem....." gerutu Yura mengambil gelas yang berisi air putih.


"Acem tapi enak sayang" ucap Lulu tersenyum semringah.


"Sayang, kau harus makan nanasnya" ucap Lulu mencolekkan nanas pada bumbu rujak itu lalu memasukinya kedalam mulut Daffa.

__ADS_1


"Eeemh, kenapa aku?" tanya Daffa mengunyah nanas itu dengan wajah yang kecut.


"Karna nanas ini untuk kamu" seru Lulu tersenyum seringai dan memasuki nanas itu lagi kedalam mulut suaminya hingga lagi dan lagi.


"Stop stop! kan kamu yang menginginkan ini" gerutu Daffa.


"Memang. ingin kamu yang memakannya hingga habis. hahaha" ujar Lulu tertawa puas dapat mengerjai suaminya.


"Apa??????? istri tak ada akhlak!" gerutu Daffa terkejut lalu menjauhkan piring itu dari tangan sang istri.


"Is appi, kok dibuang? berdosa kata bu guru" ucap Ayura sedikit manyun. lalu mengambil piring itu kembali dan memberikannya pada Lulu.


"Good girl! Yura, pegang kedua tangan appimu" perintah Lulu.


"Siap bos!" turut Yura lalu memegang tangan appinya dari belakang.


"Yura, jangan dengarkan ammi" ucap Daffa.


"Appi turuti saja apa kata ammi atau tidak, appi akan tidur diluar dan Yura bobo sama ammi dan dedek. weeeeek" ujar Yura dengan pikiran liciknya membuat Daffa mendelik takut mendengar ucapan anaknya itu.


"Benar itu Yura, kalau appi gak mau makan, dia tidur diluar" sahut Lulu tersenyum puas.


"Pintar sekali anakku ini " gumam Lulu dalam hati menatap putrinya yang tengah melototi Daffa.


"Lu, kamu ajari anakku yang tidak-tidak" gumam Daffa dalan hati.


"Baiklah kalau gitu, appi siap menerima permintaan kalian" ucap Daffa pasrah lalu memakan nanas muda itu dari suapan sang Istri. tampak sekali Daffa menahan rasa asam yang menjalar kedalam permukaan mulut dan lidahnya. Namun demi mereka, ia pun rela menikmati sensasi asam itu.


"Demi istri dan si buah hati aku rela untuk melakukannya" gumam Daffa dalam hati. hingga sedikit demi sedikit akhirnya nanas muda itu pun ludes seketika.


ยฐ


ยฐ


ยฐ


Slow update lagi ๐Ÿ˜ญ


Sorry yaa readers tercinta ๐Ÿ˜˜๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2