Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
86. Kegalauan Daffa


__ADS_3

Roni pun membawa Daffa keruangannya.


"Apa-apaan ini Assisten kurang ajar!" ucap Daffa memberontak dan merapikan dasinya setelah tangannya dilepas oleh Roni.


"Ini jam istirahat, jadi tidak apa kan saya bersikap begini pada anda!" ucap Roni menunjukkan wajah dinginnya.


"Kau kenapa?!" tanya Daffa


"Aku heran padamu daf, disini ada istrimu tapi masih berani membawa perempuan lain! Apalagi melakukan itu,jika dia melihat bagaimana!" ucap Roni berang.


"Kenapa kau yang malah sibuk, Ron?" heran Daffa.


"Karna aku peduli pada istrimu, sungguh malang." ucap Roni membayangi Lulu.


"Hahahaha, ya ya aku mengerti.. kau menyukai istriku yaa sampai-sampai tadi pagi ku melihat kau seperti melakukan mesum padanya" ucap Daffa sinis.


Roni pun terkesiap, ia mengernyitkan dahinya memandangi Daffa,


"Apa maksudmu?" tanya Roni.


"Belaga bego! tadi pagi kau ngapain disamping istriku seperti memandang dada datarnya itu!" ucap Daffa berang.


Roni pun berfikir keras tenntang pagi tadi,


"Oh, anda salah tuan.. tadi pagi itu bahu istrimu terluka, dan aku mengobatinya. itulah kau yang sudah dibutakan oleh Sheila sampai tidak melihat istrimu yang sudah pucat" jelas Roni.


"Astagaaa.... benarkah?" tanya Daffa. sedangkan Roni menatap sinis Presdirnya itu.


"Sebaiknya lepasin Sheila! anda sudah menikah tuan, jadilah suami yang baik untuk istrimu" ucap Roni.


"Aku tidak bisa, aku mencintainya" jawab Daffa merujuk pada Sheilla.


"Kalau gitu kau ceraikan Lulu" ucap Roni. Daffa pun menoleh menatap tajam pada Roni.


"Itu tidak mungkin, akuuuu....." ucap Daffa terpotong.


"Mencintainya juga kan?? hahaha.. aku sudah tebak. apalagi melihatmu yang cemburu padanya makan berdua dengan kepala HRD itu" ledek Roni. sedangkan Daffa hanya terdiam.


"Maaf presdir, aku bicara begini demi kalian berdua, ku lihat kalian sudah saling menyukai apalagi melihatmu yang cemburu itu ditambah lagi tadi pagi ku melihat mata Lulu berkaca-kaca memandang kalian berdua. aku tau hatinya pasti sakit apalagi kau tak menoleh padanya sedikitpun yang lagi terluka" jelas Roni dengan wajahnya yang tiba sendu.


"Cobalah kau renungkan, Tuan.. lihat sikap dia akhir-akhir ini padamu, ditambah lagi ia jalan dengan lelaki lain. itu karna apa???? hanya kau yang tahu. Saya permisi" ucap Roni pamit pergi setelah ia memberi pencerahan pada atasannya itu.


Daffa pun terpaku diatas kursi itu, ia merenungkan perkataan-perkataan yang dilontarkan Roni. setelah berdiam beberapa saat ia pun mengucap rambutnya kasar karna memikirkan sikap Lulu padanya.

__ADS_1


"Apa karna waktu itu Lulu melihatku bersama Sheila hingga menjatuhkan coklat itu?? setelah kejadian itu dia benar-benar berubah" gumam Daffa lalu meninju meja kerja Roni.


"Sial!!" ucapnya kembali.


Sheila yang menunggu lama itu segera keluar dari ruangan Daffa,


"Kemana sih mereka!" gerutu Sheila. hingga ia pun mencoba membuka ruangan Roni dan melihat Daffa seperti orang yang frustasi.


"Sayang?" panggil Sheila memegang bahu Daffa. Daffa pun menoleh,


"Pulanglah Shel.. aku butuh waktu sendiri" suruh Daffa dengan lembut.


"Baiklah, tapi bagi uang.." pinta Sheila menengadahkan tangannya. Daffa pun mengambil dompet dan memberikan uangnya pada Sheila. setelah mendapatkannya, Sheila pun pergi meninggalkan Daffa.


Sheila pun berjalan setelah keluar dari lift dan menuju lobi tapi ia mendengar ponselnya berdering, Sheila pun segera mengangkatnya.


"Hallo om" ucap Shela tersenyum.


"Oke om, Sheila akan kesana" ucapnya sumringah. tanpa sadar, Roni yang sedang mengobrol dengan seseorang di lobi itu pun mendengar ucapan Sheila yang sedang bicara diponselnya.


"Om??" gumam Roni. lalu Roni pun mengikuti Sheila pergi karna ia penasaran.


"Maaf pak saya harus permisi" ucap Roni buru-buru dan langsung pergi menuju mobilnya dengan mata yang masih menilik Sheila.


"Siapa Om itu?? sangat mencurigakan" gumam Roni. Sheila pun masuk ke dalam taksi dan Roni langsung mengikutinya.


"Jadi dia bertemu Om itu dihotel?? sungguh wanita liar!" gumam Roni. hingga Roni pun terkesiap saat Sheila memasuki sebuah kamar, Roni pun mengikutinya hingga pintu pun tertutup.


"Sial! aku tidak bisa melihatnya lagi didalam situ" gumam Roni yang mengepalkan tangannya. Roni pun segera pergi dengan perasaan yakin bahwa Sheila bermain dengan Pria lain.


"Wanita mu*ahan" ucap Roni.


Roni pun kembali ke kantor setelah mengikuti Sheila, ia pun langsung menuju ruangan Daffa.


Ceklek,


Roni pun membuka pintu tapi tidak ada Daffa yang dicarinya. ia pun beralih ke ruangannya ternyata Daffa masih berada disana.


"Kau masih disini?" tanya Roni.


"Ya, kenapa?" tanya Daffa balik.


"Kau sungguh pria yang malang, tuan.. Kau menyiakan istrimu dan mempertahankan wanita mur*han itu" ucap Roni memasang senyum devil.

__ADS_1


"Apa maksudmu!" tanya Daffa menarik kerah baju Roni.


"Haha kau tak akan percaya ini presdir, tapi kau harus percaya" ucap Roni.


"Apa maksudmu!" bentak Daffa berang.


"Kau tau? wanita yang kau cintai itu bermain dengan Om-om.. ya ampun, walaupun aku belum ada bukti kau harus mencari tahu sendiri" ucap Roni sinis.


"Aku tak percaya, mana mungkin" ucap Daffa.


"Oh astaga, kau benar-benar dibutakan"


*


*


Tak terasa hari sudah sore, Lulu pun berberes-beres untuk pulang. sedangkan Daffa masih bekerja tetapi ia sudah tidak berkonsentrasi lagi. ia pun segera menutup laptopnya dan berlalu pergi meninggalkan ruangannya. ia menoleh ke meja Lulu, Lulu sudah tidak ada lagi. Daffa pun segera turun dan menuju mobilnya.


Lulu baru sampai dikamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya. hingga beberapa menit berbaring, ia pun bangkit untuk duduk dan melihat luka pisau yang menyayat daging bahunya.


"Bagaimana caranya aku mandi" gumam Lulu. ia pun membuka bajunya pelan-pelan. walau terasa perih, ia tetap bertahan hingga bajunya lepas. Lulu pun segera mengisi air dan sabun, setelahnya ia berendam dan menaikkan tangan kirinya diatas bathup agar tidak terkena air.


Daffa pun baru sampai dirumahnya dan berpapasan dengan Bi Ningsih.


"Lulu sudah pulang, bi?" tanya Daffa.


"Sudah tuan" jawabnya. Daffa pun segera memasuki kamarnya untuk membersihkan dirinya yang lengket. setelah mandi, ia segera menuju kamar Lulu alih-alih untuk melihat luka dibahunya seperti kata Roni.


tok.. tok..


Lulu yang sedang memasang perban pun enggan untuk membuka pintu. ia yakin itu Daffa. karna kalau Bibi, Lulu sudah memberitahu kalau mengetuk pintu kamarnya, harus mengucapkan ini bibi.


Daffa yang menunggu pintu dibuka pun hanya menghela nafas kasar karna sekian lama ia mengetuk tapi tidak ada sahutan dari Lulu. ia pun kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaan tadi. tapi sayang, Daffa juga tidak konsentrasi.


"Sial sial!! kenapa perkataan Roni slalu terngiang-ngiang!" gumamnya bicara sendiri.


Β°


Β°


Β°


Β°

__ADS_1


Kejutan tentang Sheila ditunggu ya nanti sore.. khusus untuk kalian yang sudah penasaran πŸ˜‰πŸ˜‰


Jangan lupa Like, koment dan Votenya πŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2