Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
151. Otewe to Paris


__ADS_3

Daffa sudah merasa agak enakkan saat Mama memberi minyak angin pada putranya. terlihat Daffa tampak lelah sekali setelah beberapa kali ia memuntahkan semua isi yang berada didalam perutnya. Lulu merasa khawatir melihat suaminya yang mual, baru saja menuju perjalanan Daffa sudah tidak enak badan bagaimana nanti diperjalanan selanjutnya, Lulu harus slalu siaga untuk mengurus suaminya.


"Ma, kita mampir ke warung dulu ya.. Lulu mau beli minyak angin dan minta beberapa kresek" ucap Lulu menatap mertuanya.


"Ide bagus, tapi kasihan kamu nak bakal mengurus Daffa nantinya, gimana honeymoon kalian ditunda dulu" ucap Mama yang tiba-tiba sedu.


"Tidak kok Ma, jangan ditunda. sayang tiketnya, palingan ini hanya mabuk kendaraan saja" tukas Lulu.


"Baiklah nak, semoga setelah perjalanan Daffa tidak akan menyusahkanmu" ucap Mama menoleh pada putranya yang terlelap.


Pak supir memberhentikan mobil yang dikendarainya tepat didepan warung, Lulu segera turun dengan hati-hati karna ia harus melewati tubuh Daffa, setelahnya Lulu berjalan menghampiri warung itu untuk membeli keperluannya selama diperjalanan.


"Permisi.. bu.. pak??" panggil Lulu dengan sedikit teriakan.


"Iyaa..... beli apa neng?" tanya Ibu penjual.


"Bu, beli minyak angin satu saja" pinta Lulu.


"Baik neng, cuma yang kecil adanya, tidak apakah?" tanya Ibu itu memastikan dan Lulu mengangguk tersenyum. Ibu itu pun memberikan minyak angin kepada Lulu dan Lulu meraihnya kembali.


"Ada lagi neng?" tanyanya.


"Heem... boleh minta kresek ga bu, beberapa biji saja" pinta Lulu.


"Boleh, ini neng" ucap Ibu memberikan beberapa kresek yang cukup banyak.


"Baiklah, berapa semua bu?" tanya Lulu.


"Lima ribu neng" sahut ibu itu dan Lulu pun memberikan uang sepuluh ribu kepadanya.


"Ini bu, terima kasih. ambil saja lebihnya ya bu" ucap Lulu tersenyum ramah. setelahnya ia pergi meninggalkan warung dan menuju mobil yang tengah menantinya. Lulu pun masuk dan menutup kembali pintu mobilnya. Lulu merasa lega, akhirnya ia punya persiapan gawat darurat untuk suaminya. mobil kembali melaju menuju bandara, beberapa menit kemudian mereka telah tiba dibandara itu.


"Sayang, bangun.." panggil Lulu menepuk pelan pipi suaminya.


"Emh, sudah sampai paris yang?" tanya Daffa. Lulu mengerutkan keningnya kemudian menatap Mama disebelahnya, mereka saling terkekeh mendengar ngawuran itu.


"Yang-yang, kita baru tiba di bandara lho" ujar Lulu.


"Betul, kamu ini terlalu pulas tidurnya malah jadi ngawur" seru Mama yang segera membuka pintu disebelahnya. tampak mobil belakang, keluarga Lulu juga sudah turun, berbincang-bincang bersama besannya.


"Ayo bangun, mereka sudah diluar semuanya" ucap Lulu.


"Masih lemas yang, ku kira kita sudah di Paris" ucap Daffa.

__ADS_1


"Besok baru tiba di Paris, ayoo.. pesawat kita sebentar lagi terbang" ucap Lulu dengan penuh kelembutan. Daffa menurut, ia segera turun dan diikuti oleh Lulu yang berada dibelakangnya.


Mama Sarah dan Papa Adi menghampiri Daffa, mengelus punggung menantunya agar merasa lebih enakan.


"Nak Daf, kenapa bisa muntah?" tanya Papa Adi. sedang Mama Sarah mengelus punggung menantunya.


"Entahlah pa, tiba-tiba Daffa mual mencium aroma mobil" adunya.


"Waduh, kamu mabuk kendaraan?" tanya Mama Sarah.


"Biasanya tidak ma, hanya ini saja" ucap Daffa.


"Tapi sudah enakan-kan badannya?" tanya Mama lagi dan diangguki oleh Daffa. semuanya berjalan memasuki bandara, tampak crew pilot dan pramugari menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi Tuan, Nyonya" ucap mereka serempak menundukkan sedikit kepalanya.


"Selamat pagi" balas mereka. Kemudian para pramugari segera mengambil kedua koper milik Daffa dan Lulu lalu menaruhnya kedalam pesawat. Lulu dan Daffa memeluk kedua orang tuanya dan mertuanya serta Vivi gadis mungil itu, Vivi nampak mengeluarkan air matanya karna sudah rindu dengan kakaknya dan kini melihat sang kakak yang kembali pergi untuk beberapa hari.


"Vivi kok nangis, jangan nangis ya sayang.. nanti kakak cepat pulang dan kita, akan ke dufan. iya kan sayang?" tanya Lulu pada suaminya meminta persetujuan.


"Iya benar, nanti kakak akan beli oleh-oleh yang banyak ya" ucap Daffa mengelus rambut panjang adik iparnya. Vivi pun mengangguk dan kembali tersenyum menghapus air matanya yang cukup deras.


"Hati-hati, pulang dari sini bawa keponakan untukku" ujar Vivi terkekeh. semua yang mendengar pun ikut terkekeh dengan pintanya.


Daffa dan Lulu akhirnya menaiki pesawat, perut Daffa kembali merasa tidak enakan namun ia masih bisa menahannya. Daffa tidak mau membuat keluarganya turut prihatin dan merasa cemas dengan kepergiaannya bersama Lulu. Lulu dan Daffa melambaikan tangannya, setelahnya mereka masuk dan menduduki kursi. pesawat mulai take off, pramugari memberikan sedikit arahan kepada keduanya untuk memakai seatbelt.


Lulu terus menatap keluar dari jendela, melihat keluarganya yang mulai menghilang dan berganti dengan pemandangan. Lulu tersenyum, setelah sekian lama akhirnya ia kembali pergi ke luar negeri untuk berhoneymoon dengan suaminya.


Uweeek....


Lulu tersadar, segera ia ambil kresek dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Daffa.


"Sayang, tampung pakai ini" suruh Lulu dan Daffa pun meraihnya lalu mengeluarkan isi perutnya kedalam kresek itu.


"Sudah" ucap Daffa mengikat kresek lalu membuangnya ke tong sampah yang berada didalam pesawat itu.


"Ini yang, minum dulu" ucap Lulu memberikan botol air minum. Daffa meneguknya hingga tersisa setengah botol.


"Permisi Tuan, Nyonya, apa butuh sesuatu untuk menghilangkan mualnya?" tanya pramugari itu yang sedari tadi memerhatikan mereka.


"Aku hanya punya minyak angin, apakah ada yang lain?" tanya Lulu


"Ada Nyonya, ini berikanlah obat pereda mual kepada Tuan, insyaallah aman Nyonya.. hanya saja Tuan akan tidur nanti untuk beberapa jam" ucapnya membagikan sebuah obat.

__ADS_1


"Ah Baiklah, terima kasih ya" ucap Lulu tersenyum. Daffa melihat obat itu, mengambilnya dari tangan Lulu dan memberikannya kembali.


"Ada apa?" tanya Lulu bingung.


"Tidak ada, hanya membaca mereknya apa" jawab Daffa.


"Kau tau obat ini? pasti tau manfaatnya kan?" tanya Lulu dan diangguki Daffa.


"Iya, marilah biar ku minum. aku juga ingin istirahat, lelah sekali" ucapnya lesu. Lulu segera membuka bungkusnya dan memberikan obat itu pada Daffa.


Beberapa menit kemudian, Daffa tertidur. Lulu membiarkannya saja, menatap wajah lesu itu tampak sedikit pucat mungkin tenaganya habis terkuras oleh mual itu.


"Selamat tidur sayang" ucap Lulu mencium kening suaminya dengan penuh rasa sayang.


Lulu menatap jendela, melihat pemandangan diluar yang tampak sedikit mendung. kaca jendela terlihat mulai basah, pertanda hujan telah turun ke permukaan bumi. Lulu memejamkan kedua matanya, berharap tidak ada badai dan perjalanan berjalan dengan lancar sampai tujuan.


Eeeemh.....


Sontak Lulu membuka kembali kedua matanya, tampak Daffa telah terbangun dari tidurnya. pengaruh obat itu, empat jam Daffa tertidur dengan pulasnya.


"Sayang kau sudah bangun?" tanya Lulu.


"Aku lapar yang" ucapnya. pramugari segera menghampiri Tuan dan Nyonyanya.


"Sudah bangun Tuan? apa anda lapar?" tanyanya ramah dan diangguki oleh Daffa. Pramugari segera pergi ke dapur dan membawakan makan siang yang sudah telah kepada Tuannya.


"Ini Tuan, selamat dinikmati. kalau butuh sesuatu panggil saya" ucapnya tersenyum ramah pada Daffa dan Lulu. Pramugari pun pergi meninggalkan mereka.


"Makanlah, sini aku suapi" tawar Lulu.


"Kamu tidak makan yang?" tanya Daffa.


"Sudah yang, satu jam yang lalu. tidurmu nyenyak sekali tidak tega aku membangunkannya" ucap Lulu tersenyum lalu mengarahkan sendok ke mulut suaminya.


"Terima kasih yang, dibalik sifat barbar mu ternyata kau lembut sekali" puji Daffa membuat Lulu terkekeh.


°


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2