
Tiba-tiba Yura meninju perut yang keroncongan tersebut.
"Aduuuuh.... Ra, kok ditinju sih nak?" ringis Daffa memegang perutnya.
"Cacingnya berisik! harus ditinju biar diam" jawab Yura mendengkus kesal.
"Emang Yura dengar cacingnya ribut?" tanya Lulu yang sedang membuka bungkusan nasi padang itu.
"Tentu saja. sangat nyaring dan memekikkan telinga Yura" ujarnya menghampiri sang Ibu, menelan salivanya dengan cepat melihat lauk rendang dan kuah gulai yang menggiurkan.
"Gak pakai ditinju juga kali, Ra" gerutu Daffa menduduki dirinya disofa tepat disamping sang istri. sedangkan Yura tak menghiraukan ucapan sang appi dan mulai melahap nasinya yang sangat sangat nikmat tiada tara.
"Kita makan berdua ya, Ra. kamu sendiri yang makan gak akan habis" ucap Lulu melihat porsi nasi itu yang begitu banyak. tidak mungkin juga untuk seorang Yura bisa menghabiskan porsi nasi sebanyak itu.
"Tenang Ra, kita makan dua bungkus bertiga" sahut Daffa pada putrinya.
"Oke pi" ucapnya setuju. Mereka bertiga pun melahap nasi padang itu dengan nikmat. Meminum air putih yang sudah dibungkus dengan plastik bening. Yura yang kepedasan pun langsung menyeruput air putih tersebut.
"Si kembar gimana? entar nangis kamu tinggal lama" tanya Daffa memikirkan si kembar.
"Enggak kok, asal diberi mainan mah enteng wae tu bocah" ujar Lulu. Daffa pun manggut-manggut mengerti.
Hening, mereka kembali menikmati makan siang dengan nikmat. Hingga beberapa menit kemudian pun bungkusan nasi itu sudah tiada lagi nasi yang tersisa.
"Kenyang mi" ucap Yura.
"Alhamdulillah, perut kenyang hati pun?"
"Senang" sambung Yura hingga Ibu dan anak itu pun tertawa pelan. Daffa tersenyum, menggelengkan kepala merasa bahagia melihat anak istrinya itu.
"Sayang, boleh gak kalau aku pergi melayat?" tanya Lulu pada Daffa. Daffa yang tengah main sama Yura pun sontak terkejut akan pertanyaan sang istri.
"Melayat??" Daffa tampak heran.
"Iya, Nathan meninggal" ujar Lulu sedikit sedu.
"Na..thaan?" Daffa tampak berfikir, mencoba mengingat siapa nama itu.
"Mantan kamu yang bekerja sama dengan Sheila itu yaa?" tanya Daffa setelah mengingat semuanya. Lulu pun mengangguk-ngangguk pelan.
"Astaga... dia meninggal? kamu tau darimana?" tanyanya.
"Grup Wa kampus" jawab Lulu cepat.
__ADS_1
"Innalilah, pergilah asalkan sama Tari" ucap Daffa mengizinkan.
"Itu pasti. kalau gitu kami pulang dulu yaa" pamit Lulu.
"Yaaa ammi, bentar amat" gerutu Yura.
"Appi mau kerja sayang, kasihan adek ditinggal lama" ujar Lulu. Yura pun mengangguk walapun bibirnya sedikit manyun. Lulu dan Yura pun pergi meninggalkan ruangan suaminya dan berjalan gontai menuju lift.
Setiba dirumah, Lulu menaruh mobilnya tepat didepan garasi. Ayura berlari menuju pintu utama dan mendapati keduanya yang tengah menangis kencang membuat Bibi dan Suster kewalahan. Lulu pun berlari menghampiri mereka melihat anaknya yang histeris seperti itu.
"Kenapa menangis sayang?" ujar Lulu memeluk kedua buah hatinya.
"Ammi lama! katanya sebentar! huaaaa....." ujar Fio sesegukkan.
"Maafkan ammi, gak perlu nyusahkan suster dan bibi juga nak" ucap Lulu mengelus punggung anaknya. Lulu mencoba untuk menenangkan keduanya.
"Pergilah" usir Lulu dengan lembut kepada suster dan bibi.
"Cup.. cup.. jangan nangis lagi, sekarang ammi udah pulang" ucap Lulu.
Hiks hiks hiks
"Besok Fio ikut jemput kakak" pintanya sudah sedikit tenang.
"Iya iya baiklah. tapi nanti ammi boleh pergi lagi kan?" tanya Lulu pada si kembar dan Ayura yang mengelus punggung adiknya. Mereka yang memeluk paha Lulu pun seketika menengadahkan kepalanya menatap ammi.
"Kemana lagi?" tanya Lio dan Fio secara serempak sedikit mencebikkan bibirnya.
"Iya mi, mau kemana?" sahut Yura.
"Jenguk orang meninggal. anak-anak gak boleh ikut lho" peringat Lulu menatap mereka satu persatu.
"Kenapa? apa ada hantunya?" tanya polos Lio.
"Iya, hantu si yang meninggal masih disana. ammi takut hii kalau anak kecil disapanya pasti nanti akan sakit" ujar Lulu menakuti anaknya. Fio bergidik ngeri dan menggeleng kencang.
"Ih kami gak ikut 'lah, Mi. Fio takut" ujarnya mendelik dan disetujui Lio.
"Biar nanti Yura jaga adik. Kita main lagi kan sayang? oh iya, kakak bawa banyak lollipop" ujar Yura lalu merogoh permen itu didalam tas. sontak si kembar pun langsung kegirangan.
"Yeaaaaay..... mana kak, mana?" desak mereka gak bersabar. Lulu sangat gemas lihat tingkah mereka, hingga Lulu memberikan dua kecupan dipucuk rambut si kembar. Ayura menunjukkan lollipopnya ada enam bungkus, seketika si kembar langsung menyambarnya tanpa pamit terlebih dahulu.
Lulu merogoh ponsel di saku bajunya, membiarkan anaknya menikmati permen. yang penting mereka enteng dan tidak heboh seperti tadi.
__ADS_1
*Jam dua ini dia dikuburkan
Sebentar lagi dong. ayo bersiap-siap..
Tari, Lulu, mana respon kalian? kalian datang kan? apalagi Lulu kamu kan mantannya*
Lulu pun membalas pesan beruntun itu,
*Iya aku datang, tapi tanya Tari dulu
Lulu, aku datang kok. kita pergi sama yaa
Oke siip, ayo siap-siap*
Sekian, itulah pesan beruntun dari grup chat Wa teman sekelas Lulu. walaupun mereka tidak dekat sama Nathan, tapi Nathan sering bermain ke kelas Lulu. Lulu pun beranjak dari duduknya dan berpamitan pada sang buah hati untuk ke kamar. Beruntungnya mereka mengangguk sembari makan permen dan menonton upin ipin di tv ruang keluarga.
Sesampai dikamar, Lulu mencoba untuk menelpon Tari.
"Hallo Lu" sahutnya dari seberang sana.
"Gimana? bisa melayat?" tanya Lulu untuk memastikan.
"Bisa. ini lagi pakai baju. lo ikutkan?" tanya Tari.
"Iya, ntar gue jemput yaa.. byeee" ucap Lulu. hingga panggilan pun diputuskan karna Lulu harus sigap untuk bersiap-siap.
Kini Lulu dan Tari telah tiba dikediaman orangtua Nathan, papan bunga berjejeran ditepi jalan dan banyaknya teman dekat dari Nathan turut melayat dan mengantarkannya ke pusara, tempat terakhir yang akan ia tempati. Mayat Nathan bersiap-siap untuk dimasuki ke ambulans rumah sakit polisi, mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir. Lulu dan Tari mendengar gosipan teman-temannya bahwa si Nathan terkena penyakit yang menyerang kekebalan tubuh yaitu HIV/Aids. Sontak Lulu terkejut dengan pernyataan mereka, Nathan yang malang pasti dia begitu menderita mendekap di penjara itu. Apalagi orangtuanya yang kurang memerhatiin Nathan, membuat Nathan tidak semangat untuk hidup dan lebih memilih memendam penderitaannya.
Kini mereka semua telah berada di pusara, tempat peristirahatan terakhir pada manusia yang telah meninggalkan dunia ini. tampak Ibunya menangis histeris, merasa sangat berdosa menjadi orangtua yang tidak peduli pada anaknya. Mungkin disana Nathan tersenyum senang, ia tidak lagi merasakan sakit dan terbebas dari beban bathinnya. Namun sayang, Nathan gak sempat untuk meminta maaf pada Lulu dan Daffa ataupun orang yang selama ini pernah ia sakiti secara langsung.
Saat penguburan selesai, tiba-tiba seorang polisi mendatangi Lulu dan Tari membuat keduanya begitu bingung.
"Kamu Lulu?" tanyanya setelah melihat foto diponselnya. entah darimana polisi tersebut mendapati foto milik Lulu.
"Iya pak, ada apa?" tanyanya bingung.
°
°
°
"
__ADS_1