Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
78. Melihat Rumah Baru


__ADS_3

Lulu sedang bersantai didalam kamar Daffa yang sudah menjadi kamar miliknya, Lulu terlihat sedang menonton horor komedi di ponselnya. terkadang ia tertawa terkadang merasa geregetan melihat setannya yang tidak terlalu menyeramkan itu. sedang asyik menonton, tiba-tiba pintu kamar dibuka.


Raut wajah Lulu pun langsung datar dan terlihat dingin melihat Daffa yang datang dan dia lebih memilih duduk disofa dan melanjutkan menontonnya tanpa menghiraukan Daffa.


"Kenapa dia seperti tidak melihatku?" gumam Daffa heran. lalu ia pun meletakkan tas kerjanya diruang kerja yang masih berada didalam kamar tapi hanya dibatasi oleh pintu.


Merasa sangat gerah dan tubuhnya yang sangat lengket, Daffa segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. melihat suaminya sudah tidak didepan mata, Lulu pun pergi ke lemari untuk mengambil baju santai untuk suaminya. walaupun ia tengah marah, Lulu tetap menjalankan tugasnya sebagai Istri.


"Lebih baik ku mengambil bajunya daripada dia berdrama lagi" ucap Lulu bicara sendiri.


Setelah itu ia kembali melanjutkan menontonnya. Daffa pun telah selesai mandi dan melihat pakaiannya sudah tergeletak diatas kasur. ia pun menoleh menatap Lulu


"Dia menyadariku pulang tapi tidak menyapaku. dasar aneh" gumam Daffa dalam hati mengeleng-gelengkan kepalanya.


~


~


Hingga makan malam pun tiba, Lulu sudah selesai membantu Bibi menyiapkan makan malam. kini semuanya sudah berkumpul dimeja makan termasuk Daffa.


Selesai makan, Papa Mahesa pun ingin mengatakan sesuatu pada Anak dan Menantunya.


"Jadi kapan kalian akan pergi berbulan madu?" tanya Papa. membuat Daffa tersentak dan hampir menyemprotkan minumannya. sedangkan Lulu hanya bersikap biasa saja tetap tenang akan pertanyaan itu. padahal dalam hatinya, Lulu juga tak kalah kaget. Daffa pun menoleh melihat Lulu tapi ia heran Lulu tidak berekspresi sedikitpun.


"Bahkan ia tidak kaget" gumam Daffa dalam hati.


"Daaf?????" panggil Papa membuyarkan lamunan anaknya.


"Daffa belum tau, Pa.. pekerjaan dikantor sangat banyak, iya kan Lu?" ucap Daffa dan meminta tanggapan dari Lulu.


"Iya benar, Pa.. dikantor memang banyak pekerjaan" ucap Lulu membenarkan.


Papa pun manggut-manggut mengerti,


"Baiklah. ohya Ma, mana kunci rumahnya?" tanya Papa pada Mama Sonya.


"Ini, Pa." ucap Mama menyerahkan kunci rumah itu. Papa pun mengambilnya dan menyodorkan pada Lulu.


"Lulu sayang.." panggil Papa Mahesa.


"Ya, Pa?" sahut Lulu.


"Ini pemberian dari Mama dan Papa, hadiah pernikahan kalian.. ini kunci rumah kalian, dan pemilikan rumah atas nama kamu, nak" ucap Papa Mahesa kepada Lulu.


"Ya ampun, pa.. tidak perlu repot-repot.." ucap Lulu.

__ADS_1


"Ambillah nak, itu hadiah untukmu" ucap Mama Sonya.


"Baiklah Ma, Pa, Lulu terima.. terima kasih ma, pa" ucap Lulu.


*


*


*


*


Keesokan harinya, Mama dan Papa mengajak Lulu dan Daffa ke rumah baru mereka. Rumah yang sangat cantik dan megah seperti istana yang ada di khayangan. Lulu yang melihatnya pun merasa takjub memandang rumah yang bisa disebut dengan Mansion itu. memiliki halaman yang luas dengan dihiasi tanaman-tanaman berwarna hijau, merah, putih hingga kuning. Tanaman bunga yang sangat cantik dan indah.


"Waaaah.... Mansionnya mewah sekali" gumam Lulu takjub.


"Ayo masuk sayang" ajak Mama Sonya. mereka pun masuk kedalam mansion tersebut dengan langkah gontainya dan Lulu makin takjub dengan barang-barang didalamnya.


"Bagaimana sayang?? Apa kamu suka?" tanya Papa Mahesa.


"Sangat suka, Pa.. Ini seperti istana" ucap Lulu. Mama dan Papa pun tersenyum mendengarnya.


"Dasar norak" gumam Daffa dari belakang yang tak terdengar oleh mereka.


"Ohya, Mama mau tunjukkan kamar kalian dimana, Ayoo" ajak Mama dan mereka pun menaiki tangga mengikuti sang Mama.


"Taraaaa..... Ini kamar kaliaaan" ucap Mama dengan senyum sumringahnya.


Kamar yang sangat indah sudah didekorasi khusus untuk pengantin baru itu. langit-langit atap yang bergambar awan warna biru muda dan putih dan dinding yang sudah dilapisi dengan kertas dinding yang menurut Mama itu sangat bagus.


"Wah ma,, kamarnya bagus.. Lulu suka" ucap Lulu senang.


"Syukurlah sayang.. Mama juga senang bila kamu menyukainya" ucap Mama Sonya.


Lulu yang asyik dengan kamarnya sedangkan Daffa tengah melihat jam tangan yang melingkari lengannya.


"Ma, Pa, kami harus kembali ke kantor" ucap Daffa. Lulu pun kembali memasang raut wajah datar mendengar suara suaminya itu. tetapi didepan mertuanya, Lulu bisa menyembunyikan kekesalan dalam raut wajahnya.


"Baiklah nak, Mama dan Papa pun juga mau kembali pulang" ucap Papa.


"Yaudah kami permisi dulu ma, pa.." pamit Daffa lalu meraih tangan istrinya. sontak Lulu kaget dengan sentuhan itu. spontan ia pun melepaskan pegangan itu.


"Baiklah hati-hati yaa" ucap Mama Sonya.


Didalam mobil menuju perjalanan ke kantor, hanya ada keheningan yang menghiasi suasana didalam benda berjalan itu. Lulu hanya diam tanpa kata sedikitpun melihat jalanan yang mulai lengang dari kemacetan. ya wajar saja, di jam segini semua orang sudah memulai aktivitasnya. Melihat Lulu yang hanya diam saja, Daffa pun memecah keheningan.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Daffa menunggu jawaban istrinya.


hening, Lulu tidak menjawab.


"Stop!" ucapnya.


Treeeeeeet...... mobil pun berhenti.


"Kamu mau apa berhenti disini?" tanya Daffa tetapi tidak dijawab Lulu dan membuka pintu mobil. ia pun keluar lalu menutupnya kembali dengan keras.


"Ada apa lagi wanita ini, sikapnya berubah" gumam Daffa setelah istrinya pergi. dan ia pun memerhatikan Lulu yang tengah memberhentikan taksi.


"Ke perusahaan Mahesa 2, pak" ucap Lulu.


"Baik, Non" sahut pak supir. lalu taksi pun berjalan menuju gedung itu. setelah Lulu telah pergi, Daffa pun kembali menekan pedal gas mobilnya dan melajukan kendaraan itu.


Tibalah dikantor, Lulu langsung menaiki lift dan menuju meja kerjanya.


"Hai Lu, kenapa baru tiba?" sapa Rani.


"Aku kesiangan Ran, apa presdir sudah datang?" tanya Lulu.


"Kamu beruntung Presdir belum datang, Ayo cepatan buatin kopinya" suruh Rani.


"Ah rasanya gue malas sekali" keluh Lulu.


"Lo mau nuruti malas atau kena hukum sama presdir??" ucap Rani. tetapi mendengar itu, Lulu merasa tidak takut sama sekali dan berekspresi biasa saja yang ia tunjukkan.


"Baiklah, gue ke pantri dulu. lo ada mau nitip gak?" tanya Lulu yang sudah dua langkah berjalan.


"Hmmmm... bawain gue bakwan saja deh, sepertinya Ibu petugas pantri sedang membuat bakwan" ucapnya.


"Ohya?? ya ampun... aku sudah lama tidak makan bakalan" ucap Lulu ngiler membayangkannya.


"Biasa saja kali.. Ayo cepetan sebelum presdir datang" ucap Rani mengingatkan Lulu. Lulu pun segera berjalan terburu-buru menuju pantri. bukan karna kopi untuk Daffa, melainkan ia tengah menginginkan bakwan yang sudah lama ia inginkan.


"Aaah.... aku ingin bakwan" gumam Lulu


Β°


Β°


Β°


|

__ADS_1


Jangan lupa Like, Koment dan Votenya yaa πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™


__ADS_2