
Mobil yang mengangkut pasangan itu melaju lamban seolah sedang disengaja. menikmati jalanan senja yang sudah mulai sepi atau memadu kasih berdua didalamnya. Lulu memeluk suaminya dengan penuh cinta sesekali Daffa mengecup keningnya akan tetapi juga fokus pada jalanan.
"Sayang, ini sudah lebih tujuh hari kan?" tanya Daffa pada istrinya.
"Tujuh hari apanya? kita saja sudah tiga bulan menikah" jawab Lulu. sebenarnya lulu tau apa yang dimaksud suaminya.
"Datang bulanmu lhooo" jelas Daffa.
"Hehehe emang kenapa kalau sudah?" tanya Lulu menggoda suaminya.
"Aku akan memakanmu!" jawab Daffa tersenyum.
"Hadeeeeeuh.. ntar istrimu yang cantik ini tiada dong kalau kamu makan" ucap Lulu sok polos.
"Awas ya kamu.. minggir dulu aku akan melajukan mobil ini dengan cepat" suruh Daffa yang mungkin tidak sabar untuk sampai di rumahnya.
Sesampai dikediaman Daffa dan Lulu, Daffa memasuki mobilnya dipekarangan rumah lalu bersama-sama turun dari mobil dan memasuki istana mereka dengan senyum gembiranya. Daffa celingak celinguk mencari keberadaan Orang tuanya akan tetapi ia tidak mendapatkannya membuat Lulu keheranan.
"Sayang kamu cari apa?" tanya Lulu memerhatikan suaminya.
"Mama Papa yang, mungkin mereka sudah pulang" jawab Daffa. Daffa pun tersenyum jahil, ia melirik tangan istrinya dan segera berlari menarik tangan itu menuju kamar mereka.
"Sayang jangan lari-lari dong" ucap Lulu kaget dan ikutan berlari.
"Ayo cepaat.." desak Daffa dan tibalah mereka memasuki kamar utama Daffa segera menutupnya dan langsung melahap rakus yang diinginnya daritadi.
"Sayang, tanganmu kan masih sakit jangan dulu lah" tolak Lulu melirik bahu itu.
"Tidak sakit asal kamu tidak menyentuhnya" jawab Daffa hingga ia menggiring Lulu diatas kasur hingga terjadilah sesuatu yang membuat mereka merasa lelah dan setelahnya beristirahat menatap langit-langit kamar.
"Yang, kamu mau anak berapa?" tanya Lulu.
"Aku mau lima" jawab Daffa membayangi anaknya yang banyak memenuhi isi rumah ini dengan kebisingan.
"Banyak amat! dua saja cukup" ucap Lulu.
"Sedikit amat yang, lima deh biar ramai istana kita ini" ucap Daffa.
"Enak ya ngomong lima, mengeluarkannya susah tau" gerutu Lulu kesal lalu mengarahkan tubuhnya kesamping kanan untuk membelakangi Daffa hingga dalam sekejap Lulu tertidur dengan sendirinya.
"Yang" panggil Daffa.
__ADS_1
"Yang" panggilnya sekali lagi namun tak dapat sahutan dari Lulu, hingga terdengarlah suara yang tidak mengenakkan ditelinga.
"Yaaaaah dia tidur" gerutu Daffa.merasa begitu lelah Daffa pun juga memejamkan matanya hingga ia tertidur dengan pulas.
Beberapa jam kemudian, Lulu terbangun karna perutnya yang perih seperti orang yang sudah menahan lapar berhari-hari.
"Lapar sekali" gumamnya hingga Lulu memakai bajunya kembali dan berjalan kebawah untuk menyuruh Bibi membawa makan malam mereka ke kamar. untung saja Lulu masih melihat Bibi yang sepertinya ingin memasuki kamar. ya karna kini sudah jam sepuluh malam waktunya Bibi untuk beristirahat.
"Bibii Ningsih" panggil Lulu. Bibi pun menoleh ke arah suara
"Ya nyonya" sahut bibi.
"Bi, makan makannya masih ada kan?" tanya Lulu.
"Sudah nyonya, saya panaskan dulu yaa" ucap Bibi dan berlalu kedapur.
beberapa menit kemudian, masakan pun telah dipanaskan Lulu segera menyuruh Bibi untuk beristirahat sedangkan ia mengambil nasi juga lauk pauk diatas piring. Tidak lupa ia membuat kopi kesukaan suaminya dan susu coklat hangat untuk dirinya. setelah selesai, Lulu menaruh semuanya diatas nampan dan membawanya dengan hati-hati.
Lulu menaruh hidangan makan malam dimeja yang ada dibalkon, dilihatnya Daffa masih tertidur pulas diranjangnya. Lulu segera menghampiri dan menggoyangkan tubuhnya untuk bangun.
"Sayang, bangun...." panggil Lulu. akan tetapi Daffa tetap tidak terbangun setelah beberapa kali Lulu menggoyangkan tubuhnya.
"Dasar manusia ini susah sekali untuk bangun" gerutunya. Lulu pun berfikir mencari ide agar suaminya itu bangun. ia melirik kearah tujuannya dan tersenyum seringai.
"Makanya bangun.. daritadi disuruh bangun cuma emh emh doang" ledek Lulu melipat tangannya didada.
"Ah sayang, aku masih ngantuk" rengek Daffa segera memeluk bantalnya.
"Kita makan malam dulu setelah itu tidur" suruh Lulu.
"Iya baiklah, celanaku mana? kau melemparnya sangat jauh sekali" gerutu Daffa mencari celana dilantai dan mendapatinya di kursi rias.
"Hehe" cengenges Lulu dan mengambil celana suaminya menyerahkan padanya. Daffa pun segera memakai celana itu dan baju kaus yang telah diberikan Lulu.
Kini mereka menikmati makan malam berdua diatas balkon sambil mengobrol dan menikmati hembusan angin malam yang merasuki kulitnya.
"Sayang, aku suka permainanmu" ucap Daffa membuat Lulu tersedak oleh makanannya.
"Ya ampun ini sayang" ucap Daffa memberi air putih dan Lulu segera meneguknya.
"Apa-apaan sih yang malah ngomongi itu" ucap Lulu malu-malu.
__ADS_1
"Hahahaha.. bener lho... nanti main lagi yaa, kamu yang harus bekerja ekstra malam ini" suruh Daffa.
"Aah sayang, aku gak mau" tolak Lulu.
"Harus mau. kamu sudah lama libur bekerja kan? dan sekaranglah saatnya kamu harus bekerja" tegas Daffa dengan senyum jahilnya menatap wajah istri yang bersemu merah.
"Baiklah tapi bentar saja. badanku lelah sekali" rengek Lulu.
"Ntar ku pijit" ucap Daffa dan mereka kembali melanjutkan makan malam.
Setelah makan malam, Lulu membereskan alat-alat makan itu dan membawanya ke dapur akan tetapi Daffa mengambil alih nampan itu dan menaruhnya diatas meja. segera ia mengarahkan Lulu keatas kasur dan menghempaskan tubuh istrinya.
"Sayang, harus sekarang?" tanya Lulu.
"Iya yang, lihatlah ia kembali berulah lagi" rengek Daffa. begitu pun Lulu reflek melihat itu dan menelan salivanya dengan susah. Daffa tersenyum miring melihat ekspresi wajah istrinya dan segera menerkam Lulu dengan buasnya. hingga permainan sekali lagi terjadi dan Lulu harus bekerja keras hingga jam sudah menunjukkan pukul satu malam membuat Lulu lelah dan terkapar disamping suaminya memeluk tubuh itu dengan penuh cinta.
"Terima kasih sayang" ucap Daffa mengecup kening Lulu.
"Sudah puas kan?" tanya Lulu dibalik ketiak suaminya.
"Kamu belum tidur? ku kira udah" ucap Daffa.
"Ketiak mu bau, mana mungkin bisa tidur" ejek Lulu menatap wajah suaminya.
"Siapa suruh cium ketiak ku, dasar kamu ini" ucap Daffa kembali mencium kening istrinya membuat Lulu terpana akan perlakuan Daffa.
"Sayang, apakah kita akan berbulan madu? kita akan kemanapun yang kamu mau asal pulang nanti sudah ada keturunanku didalamnya" ucap Daffa mengelus perut Lulu.
"Benarkah????? aku ingin ke seluruh dunia" ucap Lulu antusias.
"Baiklah, beberapa hari lagi kita pergi sekarang aku harus mengecek perusahaan dan membantu Roni mengurus pekerjaan" ucap Daffa.
"Oke yang, asyiiiiiikk......" ucap Lulu semangat. melihat istrinya bahagia, ia juga turut bahagia. karna kebahagiaan istri merupakan prioritas utamanya sebagai suami.
°
°
°
°
__ADS_1
°