
Selesai makan siang disebuah restaurant, Daffa dan Lulu kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Daffa menggandeng tangan Lulu dengan penuh kasih sayang hingga mereka sudah berada diparkiran. Daffa membukakan pintu untuk istrinya, setelahnya Daffa mengitari mobilnya dan memasuki mobilnya. Daffa segera menekan pedal gas mobil lalu melajukannya memecahkan jalanan ibukota yang padat.
"Sayang, kira kira bagaimana ya ekspresi mereka kita tinggalin?" tanya Lulu memikirkan Rani dan Gibran.
"Entahlah, mungkin mereka kesal kita tinggali" jawab Daffa yang sedang fokus menyetir.
"Membayanginya saja aku sudah gemas" ucap Lulu tersenyum membayangi sahabatnya.
Hingga beberapa menit kemudian, tibalah mereka di gedung perusahaan. Daffa memarkirkan mobilnya dan mereka turun bersama-sama. Daffa dan Lulu saling menggandengkan tangan hingga semua mata semakin kebingungan dengan kedekatan mereka.
"Sayang, boleh ga aku ke meja Rani dulu?" tanya Lulu yang baru keluar dari lift.
"Boleh dong, kenapa harus minta izin segala" ucap Daffa.
"Karna kamu Presdirnya" ketus Lulu dan segera berlari menuju meja kerja Rani dan meninggalkan suaminya.
"Dasar bocah" gumam Daffa tersenyum melihat tingkah istrinya. Daffa segera berjalan lebih cepat menuju ruangannya. tetapi belum sampai di pintu ruangannya, sayup-sayup ia mendengar suara Roni yang tertawa keras.
"Kesambet apa anak itu, mending ku masuk saja" gumam Daffa yang mendengar suara Roni. ia segera membuka pintu ruangan Roni dengan diam-diam untung saja Roni tengah membelakanginya.
"Ah ya ampun sayang, buronanmu lucu sekali" ucap Roni cekikikan yang tengah memandang wajah kekasihnya didalam ponsel rupanya mereka tengah melakukan video call.
Sedangkan Daffa bersandar dipintu itu melipatkan kedua tangannya didada sedang kaki ia silangkan. dengan gaya coolnya Daffa tengah memerhatikan Roni yang keasyikan dengan kekasihnya hingga beberapa menit Roni tetap tidak menyadari kehadiran bosnya.
Dengan jahilnya, Daffa berdiri dibelakang Roni dan membuat tanduk dengan jarinya mensejajari atas kepala Roni. Karin kekasih Roni pun menyipitkan matanya yang memerhatikan kepala Roni memiliki tanduk. jelas Karin tau ada seseorang yang mengerjai kekasihnya.
"Sayang, kamu sangat lucu bila memiliki tanduk" ucap Karin cekikikan didalam ponsel.
"Ada-ada saja kamu yank, mana mungkin aku memiliki tanduk. hahaha" ucap Roni.
"Kamu tidak percaya?? coba deh periksa ponselmu, aku baru saja mengirim sesuatu di whatsapp" suruh Karin. Roni pun penasaran, ia membuka pesan Karin dan terkejut melihat fotonya yang memiliki tanduk. Roni pun segera membalikkan badannya dan kaget melihat Daffa yang berada dibelakangnya.
"Hebat ya kamu.. jam kerja bukan bekerja malah asyik video call-an" ucap Daffa dengan wajah dinginnya.
"Hehe presdir, sejak kapan anda berada disini?" tanya Roni cengar cengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sejak daritadi. asyik banget yaa sampai tidak menyadari bosmu" ucap Daffa.
"Sorry tuan.. jangan marah dong nanti tambah tua, Lulunya cari daun muda" goda Roni.
"Sial lo!" ucap Daffa menjitak kepala Roni.
__ADS_1
"Aw, canda bos" ucap Roni.
Ditempat Lulu, ia sedang memerhatikan Rani yang tengah sibuk dengan komputernya hingga tak menyadari Lulu yang menghampiri.
"Ehem! serius amat buk" ucap Lulu. Rani pun menoleh hanya menggerakkan bola matanya ke arah Lulu.
"Sial lo, ngapain kesini!" ketus Rani yang kesal.
"Nyamperin lo lah, gak mungkin samperin nenek lampir. kalau kamunya nenek lampir ya tidak apa apa" ucap Lulu sengaja membuat Rani makin kesal.
"Enak saja ngatai gue. pergi sana" usir Rani.
"Ciee kesal nih.. gimana tadi sama pak Gibran, asyik dong yaa makan berdua" goda Lulu.
"Biasa saja. sudah ih jangan ganggu" ucap Rani merajuk, ia kesal Lulu meninggalkannya berdua dengan Gibran entah kenapa hatinya tidak karuan saat itu.
"Hemm lo ngusir ya?? padahal gue mau ngajak lo ntar malam makan gratis lho bareng Tari.. tapi yasudahlah gak jadi" ucap Lulu dan berlalu pergi meninggalkan Rani.
"Makan gratis sama Tari?? aaaaah... gue mau Luuuuu...." teriak Rani menyusuli Lulu. Lulu telah tiba dimeja kerjanya dan kembali menghidupkan komputernya. tiba-tiba Rani datang dengan ngos-ngosan.
"Huh lo cepat amat jalannya sih" gerutu Rani.
"kenapa kesini? tadi ngusir" ketus Lulu menatap sinis Rani.
"Ada syaratnya" ucap Lulu.
"Haa.. pakai syarat juga?? apaan?" tanya Rani.
"Lo ajak juga Gibran" ucap Lulu.
"Apaaa????!" teriak Rani membuat semua yang ada disana menoleh pada mereka.
"Hus santai dong, Iya. ajak juga pak Gibran" ucap Lulu.
"Gak mau ah, ntar lo tinggalin lagi" ucap Rani.
"Kali ini enggak. kalau mau turuti syaratnya" tegas Lulu.
"Baik deh, byeee" ucap Rani pasrah dan kembali ke meja kerjanya.
"Gue akan comblangi kalian, hahaha" gumam Lulu dalam hati. tiba-tiba Lulu teringat untuk membuatkan kopi suaminya, Lulu segera ke pantri untuk membuat kopi kesukaannya. setelah selesai, Lulu kembali memasuki ruangan suaminya.
__ADS_1
tok tok tok
"Masuuuuk" sahut dari dalam.
ceklek,
Lulu pun masuk dan menghampiri suaminya yang tengah serius didepan laptop.
"Hai sayang" sapa Lulu membawa gelas berisi kopi.
"Hai juga sayangku, kemarilah" suruh Daffa menoleh pada istrinya. Lulu menaruh kopinya diatas meja dan mendekati suaminya.
"Ada apa sayang?" tanya Lulu dan tiba-tiba Daffa menjatuhkan istrinya kepangkuannya.
"Terima kasih sudah bawakan kopi" ucap Daffa menyelipkan rambut Lulu ke telinga.
"Sudah tugasku melayanimu" ucap Lulu memeluk Daffa menaruh kepalanya didada bidang suaminya itu.
"Tugasmu dengan tongkat saktiku kapan hm?" tanya Daffa mencium rambut Lulu. Lulu segera berdiri, berjalan kebelakang kursi dan memeluk Daffa dari belakang.
"Aaah sayang, lima hari lagi" jawab Lulu menatap rambut suaminya.
"Lamaaa..... tongkatku udah meronta ronta" rengek Daffa.
"Tenang sayang" ucap Lulu dengan santainya lalu menghampiri Daffa dan menduduki tubuhnya di pangkuan itu lalu segera menghabisi Daffa dengan penuh kegairahan. Daffa membiarkan istrinya yang mengerjakan itu sedang dirinya duduk manis melingkarkan tangannya dipinggang Lulu. Lulu merasa sesuatu yang berbeda, seperti benda keras yang sedang ia duduki. ia menoleh ke bawah dan merasakannya benda apa itu.
"Astaga..." gumamnya kaget. lalu turun dari pangkuan Daffa, Lulu segera merapikan penampilannya yang sedikit berantakan lalu segera melangkah keluar tiba-tiba Daffa menghentikannya.
"Kau mau kemana sayang?" tanya Daffa memegang tangan Lulu.
"Aku harus bekerja, minumlah kopimu nanti dingin" ucap Lulu.
"Kau harus bertanggung jawab" ucap Daffa. Lulu memutar bola matanya merasa jengah, ia harus bertanggung jawab telah membangunkannya. Lulu pun segera menuruti keinginan suaminya, sedang Daffa tersenyum puas menatap Lulu yang menurutinya.
"Ternyata pelajaran dari Tari sangat menguntungkan" gumam Daffa dalam hati sambil tersenyum.
Β°
Β°
Β°
__ADS_1
Maaf ya guys ceritaku mulai membosankan. aku baru update karna otakku lagi buntu banget.
jangan lupa Like koment Votenya yaa πππ