Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
246. Perampok motor


__ADS_3

"Ammi ngapain?" tanya Lio terpaku melihat amminya yang tampak kaku dan wajahnya yang begitu pucat.


"Eh, gak ada. ammi baru selesai mandi" jawab Lulu tersenyum kecut. Lio pun berlari menghampiri Lulu, memeluk pahanya dengan erat.


"Ada apa sayang?" tanya Lulu mengelus rambut putranya sembari menatap Daffa. Lio melepaskan pelukannya pada Lulu, menatap Lulu yang berada tepat diatas kepalanya. Lio pun memamerkan lengan mungilnya, menunjukkan gelang couple yang terpasang lekat pada lengan bocah tengil itu.


"Ini mi, ammi dapat dimana?" tanya Lio.


"Dapat dibawah kasur kamar Lio, ayo temani ammi pakai baju" ujar Lulu lalu mengajak putranya untuk keruang ganti karna tubuh Lulu yang sudah kedinginan membuatnya ingin segera berpakaian. Sedangkan Daffa mendengkus kesal, hasratnya yang mulai membuncah tidak dapat tersalurkan lagi karna kehadiran sang putra yang mengganggu. Dengan terpaksa Daffa berlari ke kamar mandi untuk menunaikan kewajibannya mengocok arisan. Daffa begitu lega, susu kental manis rasa vanillanya sudah keluar dengan jumlah yang cukup banyak, Daffa pun kembali menutup ubi kayu dengan sangkarnya, melangkahkan kaki untuk keluar dari kamar mandi.


"Lega banget aaah..." gumamnya.


**


Malam ini pada waktu dinihari tepatnya pada pukul tiga pagi, rintik-rintik hujan begitu deras berjatuhan ke tanah. Suara hujan yang begitu nyaring dan enak didengar pasti akan membuat siapapun akan mengantuk dan mudah terlelap. Sama halnya dengan Daffa dan Lulu, mereka saling berpelukan dan tampak terlelap dengan begitu pulas. Dinginnya malam, mengharuskan Lulu mengecilkan suhu Ac yang membuatnya begitu dingin pada malam itu.


Tiga jam kemudian, langit masih terlihat mendung dan air hujan masih turun ke bumi namun tidak sederas dinihari tadi. dengan malasnya, Lulu pun harus bangun dari tidurnya untuk mengurus suami dan buah hati.


"Bangun! mandi lagi!" Lulu menguncangkan tubuh suaminya agar segera bangun dari tidur panjangnya. Daffa merasa enggan untuk bangun, ia pun meraih guling lalu memeluknya membuat Lulu sedikit kesal.


"Bangun! aku akan urus anak-anak dulu" ucap Lulu tepat ditelinga sang suami. Namun sebelum ke kamar anaknya, Lulu terlebih dahulu mengambil perlengkapan pakaian kantor suaminya dari dalam lemari. Setelahnya Lulu pun keluar dari kamar, menghampiri kamar Yura yang berada tepat disebelah kamar utama.


"Yura???" teriak Lulu dari balik pintu. Namun tidak ada sahutan dari sang putri.


Ceklek,


Lulu memasuki kamar Ayura yang pintunya tidak terkunci. Matanya langsung memandang Ayura yang masih terlelap diatas ranjangnya. Lulu berjalan cepat, membuka kain gorden memperlihatkan langsung rintik hujan yang menyapa pagi itu.


"Ra, bangun sayang.. kamu harus sekolah" ucap Lulu ditelinga putrinya.


"Masih ngantuk mi" ucapnya dengan suara khas bangun tidur.

__ADS_1


"Buruan mandi, ngantuknya nanti juga hilang" ucap Lulu dengan lembut. Yura pun beranjak bangun, menduduki tubuhnya sembari mengucek kedua matanya yang tampak buram. Dilihatnya jendela, hari tampak mendung dan masih hujan. dengan malasnya ia pun kembali berbaring dengan mata yang masih terpejam.


"Hujan, Mi. enakkan tidur" ucapnya lalu menjatuhkan diri dikasur empuk itu. Lulu menghembus nafasnya dengan kuat, menarik tangan Ayura agar ia lekas bangun.


"Bangun...! kok bandel banget sih." gerutu Lulu menarik tangannya dengan kuat.


"Ah ammi! mengganggu saja" gerutunya menyibakkan selimut lalu berdiri menuju kamar mandi. Lulu pun tersenyum puas, melihat tangan anaknya yang tidak memegang handuk, segera Lulu mengambilkannya dan memberikan handuk itu pada Yura.


"Hei, ini handukmu!" panggil Lulu dari pintu. Yura membuka pintu sedikit, meraih handuk ditangan ammi Lulu.


Kini semuanya sudah berada di meja makan, Suster dan Bibi pun juga ikut sarapan pagi dimeja makan tersebut. Segelas air putih, susu, dan kolak campur bubur kacang ijo serta roti yang diberi selai cokelat, membuat sarapan pagi itu begitu menggiurkan. Ditambah lagi cuaca sangat dingin, hangatnya hidangan membuat tenggorokan mereka juga terasa hangat.


Semuanya telah selesai sarapan, hujan pun juga sudah reda pertanda semua umat bisa melakukan aktifitas pada senin ini dengan baik dan lancar. Yura menggapai tas yang ada dikursi, memasangnya lalu menyalimi punggung tangan sang Ibu lalu beralih pada Suster Ayu yang masih menyuapi si kembar. Sedangkan Bibi pergi ke dapur untuk mencuci bekas alat makan yang telah kotor.


"Mi, Yura berangkat. Assalamualaikum" pamitnya mencium tangan Lulu lalu beralih pada Suster.


"Hati-hati, belajar yang benar. jangan bandel" peringat Lulu.


"Kakak, belikan lollipop yaa" teriak Fio.


"Oke bos" sahutnya tersenyum.


Yura dan Daffa pun menaiki mobil, Lulu dan si kembar melambaikan tangan pada mereka hingga mobil pun tidak terlihat lagi pada pandangan. Lulu pun tersenyum, membawa kembali si kembar untuk memasuki rumah.


"Ayo kita masuk, sekarang kita belajar menulis. tahun depan kan kalian masuk PAUD, jadi harus belajar dari sekarang sama ammi" ucap Lulu menatap kedua putra putrinya.


"Oke ammi" sahutnya lalu berlarian memasuki rumah. Lulu pun tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bocah itu.


Disisi lain, seseorang tengah memerhatikan mereka dari balik pohon yang ia panjati dengan memakai teropong untuk melihat lebih jelas anak-anak Lulu dan Daffa, hingga ia memerhatikan seragam sekolah yang dikenakan Yura. Seketika ia tau dimana letak sekolah itu berada. Seseorang itu pun kembali menuruni pohon itu, dan berjalan cepat sembari menutupi kepalanya dengan hoodie yang ia kenakan.


"Jadi itu anak-anak mereka? hebat sekali sudah memiliki tiga anak" gumamnya kesal dan tetap terus berjalan.

__ADS_1


"Aku harus menjalani rencanaku! tapi dengan siapa? kendaraan pun tidak ada!" gerutunya berdecak kesal.


"Ahaaaa!! Aku tau pada siapa yang bisa bekerja sama denganku" ucapnya sendiri sembari tersenyum sinis.


"Aku tidak memiliki uang ataupun ponsel, apakah aku harus menjambret?" gumamnya berfikir keras. hingga ia melihat sepeda motor akan melewatinya, seseorang itu pun melambaikan tangannya ke depan tubuh untuk menghentikan motor itu.


"Bisakah antarin saya sampai ke depan?" tanyanya sedikit memohon.


"Oke, silakan naik" ucap pengendara motor itu. Namun, bukannya menaiki motor, seseorang itu langsung memukul pemuda itu dengan siku tangannya, sontak ia pun pingsan menerima serangan mendadak tersebut.


"Bagus! aku akan menyeretnya. Aman, disini tidak ada orang" ucapnya tersenyum sinis lalu menyeret pemuda itu hingga tertidur direrumputan. dengan segera, seseorang itu pun menaiki motor dan melajukannya dengan cepat.


Hari sudah semakin siang, waktunya Lulu menjemput Ayura dengan mobilnya. sedangkan Daffa, tidak bisa menjemput Ayura karna ia harus mengurus perusahaan dengan sendiri tanpa bantuan Roni. sebab Roni tengah sakit hingga tidak bisa memaksanya untuk bekerja.


Lulu pun keluar dari garasi dengan menggunakan mobilnya, melaju pelan hingga ia melihat segerombolan emak-emak tengah bergosip di seberang depan rumahnya.


"Mang, mereka kenapa ramai-ramai?" tanya Lulu pada mang Asep.


"Itu Nyonya, tadi pagi ada seseorang yang dirampok. Motornya dibawa pergi oleh seseorang yang tidak dikenal" ucap Mang Asep.


"Astaghfirullah.. sudah cek Cctv mang?" tanya Lulu menatap ruang jaga security yang didalamnya terdapat layar tv yang menampilkan cctv.


"Sudah, tidak ada apa-apa. hanya saja ada seseorang yang berjalan cepat seperti terburu-buru. Itu emak-emak pada ngomongi wanita di cctv tersebut. mereka yakin pasti dia yang merampok sebab pemuda itu ingat jelas ciri-cirinya, Nyonya" jelas mang Asep dengan panjang lebar.


"Siapa orang itu yaa? wanita?"


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2