Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
199. Kertas penyemangat


__ADS_3

"Bi Tuti, mang Asep, apa kalian melihat istriku pulang?" tanya Daffa menatap keduanya. Bi Tuti tampak bingung, apakah ia harus menjawabnya secara jujur atau tidak.


"Heeem, anu Tuan, Nyonya belum pulang" ujar Bibi Tuti.


"Tapi," sambungnya kembali. hingga membuat Daffa menyipitkan mata menunggu kelanjutan ucapan Bi Tuti.


"Tapi apa Bi, kenapa ngomong setengah-setengah?!" ujar Daffa tidak sabar.


"Sebentar Tuan," ucap Bi Tuti segera berlari keluar meninggalkan ruang kerja. Daffa memutar bola matanya merasa jengah, entah apa yang mau dikatakan Bibi tapi ia harus bersabar menunggu kelanjutannya. Beberapa menit kemudian, Bibi kembali lagi ke ruang kerja, masuk menyelonong karna pintu tidak ditutup. Daffa terpana melihat apa yang dibawa Bibi, hingga menjadi suatu pertanyaan buatnya.


"Apa itu?" tanyanya heran.


"Ini pemberian dari Nyonya" ucapnya menaruh bingkisan itu diatas meja.


"Berarti dia memang kesini kan?" tanya Daffa lagi.


"Tidak Tuan, seorang kurir yang mengantarkan ini" ucapnya kembali. Daffa pun hanya menghela nafas panjang, jawaban yang ia inginkan tidak membuahkan hasil.


"Pergilah" usir Daffa pada mereka semua. Daffa menatap lekat bingkisan itu, merasa penasaran apa yang diberikan sang istri hingga Daffa pun mengambilnya dan membukanya dengan kasar. Daffa terenyuh melihatnya, bukan suatu barang namun suatu makanan. Snack dan Cake, ya itulah isi dari bingkisan itu.


"Snack dan Cake?" gumamnya mengeluarkan kedua makanan cemil tersebut. hingga Daffa pun menangkap sesuatu dari himpitan cake itu, sebuah kertas yang memiliki tulisan. Daffa mengambilnya dan membacanya.


Semangatlah, jangan terlalu pikirkan aku, jaga tidurmu dan jangan begadang lagi. kau sangat jelek oleh fotomu. aku hanya ingin menenangkan diri, kau sungguh jahat.


Makanlah cemilan yang ku berikan. kau ingat snack itu? snack itu adalah saat kita berebutan diatas kasur, dan cake itu adalah saat kau menginginkannya namun aku telah menghabiskannya.


See you tomorrow

__ADS_1


Begitulah isi tulisan yang tertera didalam kertas itu. Daffa tersentuh membacanya, Ada secercah cahaya yang kembali menmbangkitkan dirinya. Lulu sudah tidak marah lagi namun malah pergi entah kemana. Daffa merindukannya dan khawatir pada istri dan anaknya itu bila berada diluar. apalagi jalanan sangat ramai, Daffa pun berfikir yang macam-macam kalau terjadi sesuatu pada istrinya.


"Bagaimana aku tidak memikirkanmu? kau entah kemana bersama anakku." gumam Daffa menatap kertas tersebut.


"Mungkin saja kau berada dirumah temanmu yang tidak ku tau. mana mungkin berada dijalanan." gumam Daffa mencoba menepis pikiran buruknya pada Lulu. lalu menoleh menatap cemilan yang Lulu berikan dan segera pergi ke kamar untuk menyantap cemilan itu.


Di kamar Bi Tuti, Bibi sudah memberikan bingkisannya pada Tuan. Lulu bisa bernafas lega, dan tersenyum memikirkan suaminya. rencananya berhasil berkat bantuan seseorang yang ia bayar.


"Terima kasih ya Bi, sudah mau menjaga rahasia kita" ucap Lulu.


"Sama-sama Nyonya. Bibi bantuin Ningsih dulu untuk menyiapi makan malam" pamit Bibi segera beranjak dari ranjangnya.


"Iya bi" sahut Lulu tersenyum. Lulu bahagia tak terkira, walaupun ia menjauhkan suaminya namun Lulu juga berfikir ingin memberi secercah cahaya pada suaminya itu. tadi setelah bangun tidur siang, Lulu memesan Grab untuk membeli cake pandan dan snack di Supermarket, lalu menyuruhnya untuk dibungkusi kado sekalian menulis kata-kata yang Lulu kirimkan lewat chat. hingga akhirnya sebelum suaminya tiba di rumah, abang Grab pun tiba dikediamannya.


"Bersabar appi, besok kita akan mewujudkan impianmu" ucap Lulu dengan menirukan suara bayi.


Dikamar utama tepatnya di balkon, Daffa tengah menikmati cake pandan yang diberikan Lulu sembari membaca tulisan di kertas itu. Daffa mencernanya dalam-dalam, Ada semangat yang datang membaca tulisan itu.


Bunyi ponsel membuyarkan lamunan Daffa, hingga kertas itu pun melayang ke udara tertiup oleh angin. belum sempat mengambil ponsel, Daffa teralihkan pada kertas itu.


"Shit!" umpatnya menatap kertas dari Lulu terjatuh ke bawah. Daffa memerhatikannya, berharap tidak terjun memasuki kolam renang.


"Jangan sampai kena air, plis" pinta Daffa bergumam. tanpa berlama-lama, Daffa segera turun kebawah dengan berlari dan membuka pintu samping yang berhubung dengan kolam renang juga taman. Daffa mencari kertas itu secara detai hingga ia mengeluskan dada merasa lega melihat kertas itu nyangkut diranting salah satu bunga. Daffa mendekatinya, dan segera mengambil kertas itu. Namun kecerobohan dan keterburuannya, Daffa merintih merasakan goresan duri bunga mawar itu.


"Ya ampun, kenapa sial sekali." gerutunya melihat jari tangannya terluka akibat duri. Namun Daffa menepis luka itu, hanya goresan hingga tidak begitu menyakitkan. berbeda dengan hati, terkena goresan luka sedikit saja itu sangat menyakitkan dan sulit untuk dilupakan.


----------------

__ADS_1


Mawar berduri mampu melukai seseorang yang menyentuhnya namun tidak menyakitikan.


Manusia mampu melukai pasangannya walau tidak disentuh namun terasa sakitnya hingga ke sanubari.


---------------


Seperti itulah kiranya yang diirasakan Lulu dalam empat dekade. pertama, merasakan sakitnya hati akibat pengkhianatan dari Dimas. kedua, merasa sedang dikhianati dan dimanfaatkan oleh Nathan karna ia menjadikan Lulu sebagai bahan taruhan. ketiga, merasakan perihnya saat kedua mata memandang suaminya bercumbu dengan sang kekasih yaitu Sheila. keempat, baru Lulu rasakan pada waktu kemarin saat melihat suaminya sangat dekat dengan pelakor itu. walaupun Lulu tidak tau apa yang sedang Daffa lakukan, namun ia yakin dari feeling seorang istri, pasti wanita itu sengaja menggoda suaminya apalagi melihat wajah wanita itu yang membuat Lulu semakin yakin.


Daffa telah tiba dikamar, menyimpan surat itu di bawah bantal dan kembali ke balkon untuk membuka ponselnya. Daffa berharap Lulu yang menghubunginya dan ternyata ekspetasinya benar. Lulu mengirim sebuah pesan dan dengan segera Daffa pun membacanya.


Selamat makan


"Hanya itu? dia ini" gumam Daffa sedikit kecewa lalu membalas pesan itu. setelahnya menaruh kembali ponselnya diatas meja dan menikmati pemberian dari sang istri.


Malam pun telah tiba, setelah selesai sholat, Daffa segera ke meja makan untuk makan malam. entah kenapa perutnya selalu lapar padahal ia sudah menghabiskan setengah cake dan snack. Daffa menduduki tubuhnya di meja itu. sekilas ia menatap bangku yang biasanya diduduki sang istri, apalagi melihat sekelilingnya, ia hanya sendiri berada dimeja besar itu.


"Andaikan ada kamu, aku tidak sesepi ini" gumam Daffa dalam hati menunjukkan raut wajah yang sedih. Bibi yang sedang menaruh hidangan, diam-diam mencuri pandang melihat wajah Tuannya yang kembali murung. Bibi merasa kasihan, dan ingin rasanya untuk memberitahu kebenaran. Namun di sisi lain, ia sudah berjanji pada Nyonya Lulu untuk tidak mengungkapkannya.


"Malang sekali Tuan, Ada yang terjadi dengan mereka ya? ah sangat tidak etis untuk mengetahuinya" gumam Bibi dalam hati. Daffa menyipitkan mata melihat Bibi yang tengah melamun hingga matanya menangkap sesuatu.


"Bi!"


Β°


Β°


Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa πŸ˜ŠπŸ™

__ADS_1


Yang menanti cerita Rina sahabat Lulu sudah ku publish, kalian bisa buka profilku bergambar kucing.


Terima kasih 😘


__ADS_2