
"Wah nama yang bagus" girang Lulu bertepuk tangan. Ia pun segera berdiri dari kursi rodanya dan menghampiri Tari yang tengah tersenyum menatap bayinya. Lulu begitu bahagia melihat sahabatnya yang sudah melahirkan putra pertama mereka.
"Hai Rayshaka, selamat datang ke dunia sayang" ucap Lulu mengelus kepala bayi itu.Tari tersenyum, segera ia menutup kembali sangkar gunungnya.
"Apa aku sudah boleh melihat baby boy?" tanya Daffa yang tidak dapat melihat sang bayi karna Ferdi yang menutupi tubuh Tari dengan badannya.
"Sayang, aku sudah selesai menyusuinya" ucap Tari.
"Lihatlah, tapi jangan iri dengan ketampanannya" ujar Ferdi yang merasa bangga dengan bayi mungilnya.
"Untuk apa aku iri, anakku lebih tampan dari siapapun" balas Daffa.
"Hus kalian ini! baby Rayshaka sedang bobo" bisik Lulu memukul lengan suaminya.
"Permisi, pasien kita bawa keruang rawat inap dulu yaa" ucap suster yang tiba-tiba melerai kehebohan mereka diruang itu. Daffa, Lulu dan Ferdi pun membiarkan suster membawa pasiennya keruang rawat inap. mereka mengikutinya, dengan baby Rayshaka yang tengah digendong oleh Lulu. hingga tiba di ruang inap, suster pun pergi meninggalkan mereka semua.
"Kak Fer, mau gendong baby Rayshaka?" tanya Lulu.
"Tentu, kemarilah Shaka" ujar Ferdi mengambil anaknya dari Lulu. Pintu diketuk, sontak semua mengarah padanya. Ferdi pun menghampiri, dan membuka pintu itu untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek,
"Disini ruangan kalian, wah cucu ku" ujar Mamanya Ferdi. ternyata orang tua Ferdi dan Tari yang mendatangi kamar itu. Daffa pun mengajak Lulu untuk kembali, merasa tidak enak bila berada diantara keluarga yang berbahagia itu. Lulu berpamitan pada Tari yang tengah berselonjor di ranjang dan berpelukan padanya.
"Tar, kita pulang dulu ya. nanti pasti kesini lagi" pamit Lulu.
"Ah Lu, terima kasih sekali ya sudah mau mengantarkan kami" ucap Tari memeluk Lulu.
"Itu pasti, untung saja kami belum pergi saat itu. yasudah kami balik dulu ya" ucap Lulu dan diangguki olehnya. Daffa dan Lulu pun berpamitan pada Ferdi dan orang tua mereka. Lulu menduduki tubuhnya di kursi roda, membiarkan Daffa yang mendorongnya hingga tiba dimobil.
"Sayang" panggil Lulu.
"Hm, iya yang?" sahut Daffa.
"Aku jadi takut" lirih Lulu.
__ADS_1
"Takut apa hm?" tanya Daffa penasaran.
"Melahirkan. itu sangat mengerikan" ucap Lulu membayangi saat Tari yang kesakitan terus menerus. tidak dapat dibayangi bagaimana sakitnya melahirkan itu membuat bulu kudu Lulu merinding. Daffa pun mencoba untuk menenang sang istri.
"Begitulah perjuangan seorang Ibu sayang. kamu kan tau sendiri, melahirkan itu pasti sakit tapi seluruh wanita tetap menginginkannya. jangan diingat-ingat lagi. selesai melahirkan, sakit juga akan hilang. lihatlah Tari, ia langsung tersenyum melihat buah hatinya" jelas Daffa panjang lebar.
"Kamu benar. sakit itu akan hilang setelah melihat buah hati kita hadir" ucap Lulu mengelus punggung tangan suaminya yang tengah mendorong kursi roda itu.
"Kamu ingat kata dokter? berhubungan anu akan membuat jalan bayi lebih gampang untuk keluar. juga harus diselingi jalan pagi seperti yang kita lakukan tadi" ucap Daffa.
"Benar banget yang. tapi kenapa harus berhubungan? kasihan si ucul bakal kena semprot lagi" gerutu Lulu.
"Karna ucul wajib didatangi sayang. jangan membantah! siap ini kita kunjungi ucul" ucap Daffa tersenyum seringai.
"Enggak! capek tau. malam aja deh" pinta Lulu.
"Ya ya, baiklah. hari ini kita mau habiskan waktu dirumah saja atau jalan-jalan?" tanya Daffa. Lulu pun berfikir sejenak ingin pergi kemana, sudah sangat lama ia berada dirumah membuatnya jengah dan bosan. hingga Lulu pun mendapatkan ide, ia menginginkan suasana alam biru yang membentang luas dengan panoramanya indah dan memukau.
"Heem, aku pengen ke pantai" rengek Lulu. Ya, rasanya sudah cukup lama ia tidak ke pantai semenjak honeymoon ke korea. Lulu merasa betah melihat pemandangan alam biru, karna dalam sekejap beban pikiran seseorang pasti akan hanyut dan menghilang seperti ditelan air laut hingga ke dasar.
Daffa pun menyanggupinya, asalkan kebosanan sang istri akan lenyap dengan berlibur ke pantai. Daffa juga merasa iba melihat sang istri yang hanya dirumah saja, justru itu ia menawarkan apakah kita jalan-jalan atau dirumah.
"Is enak aja bilang bau. kamu yang bau" gerutu Lulu.
Kini Daffa dan Lulu telah berada dirumah. Mereka baru saja selesai mandi berdua. tidak ada yang namanya kunjung mengunjungi karna sebelumnya Lulu sudah mengancam untuk nanti malam tidak ada jatah kalau saja Daffa melakukannya saat tadi.
"Sayang, sepertinya kita ajak Bibi yuk untuk ke pantai. masa kerja terus gak ada liburannya" ucap Lulu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
"Bagus juga. sekalian suruh Bibi siapkan bekal siang untuk kita semua" suruh Daffa.
"Wah seru banget pasti. aku akan menelpon Bibi" ucap Lulu meraih gagang telepon yang ada diatas nakas.
Tit tit tuh
"Hallo" sahut Bibi.
__ADS_1
"Hallo bi, bersiap-siaplah memakai baju santai. setelahnya siapkan bekal makan siang kita" ucap Lulu membuat si Bibi heran.
"Emang Nyonya mau mengajak kita kemana?" tanya Bibi bingung.
"Ada deh. turuti saja perintah Lulu" ucap Lulu lalu mematikan telepon secara sepihak. Lulu pun kembali mengeringkan rambutnya, setelah selesai ia pun mengenakan baju pantai hingga sebetis.
"Jangan berdandan, nanti juga hilang bedaknya kena air" ucap Daffa.
"Iya.cuma bedak tabur dan lipstick sedikit aja kok" ujar Lulu memutar bola matanya.
Lulu dan Daffa telah selesai bersiap-siap. menuruni tangga dengan pelan dan penuh hati-hati, tidak ingin terburu-buru hingga kecerobohan pun terjadi apalagi menyangkut sang jabang bayi yang terkena imbasnya nanti. pelan namun pasti, akhirnya pasangan suami istri itu telah tiba dibawah. Lulu berjalan ke dapur terlebih dahulu berniat untuk membantu bibi mempersiapkan semuanya. tampak Bibi Tuti yang sedang memasuki nasi kedalam wadah, dan Bi Ningsih yang memasuki lauk pauk kedalam wadah yang berbeda. sedangkan Lulu berjalan untuk mengambil beberapa piring dan sendok.
"Nyonya mau ngapain?" tanya Bi Tuti.
"Siapkan piring dan sendoknya bi. air minum kita beli diluar aja ya" ucap Lulu.
"Emang kita mau kemana Nyonya?" tanya Bi Ningsih.
"Biasanya kalau kita berpakaian begini, mau kemana?" tanya Lulu. Bi Ningsih dan Bi Tuti pun saling bertatapan, saling bertanya lewat adu mata mereka hingga mereka pun serempak menggelengkan kepalanya.
"Hadeeeeuh Bibi, yasudah nanti juga tau kok. yang penting kalian pasti tau apa maksud Lulu membawa bekal itu" ucap Lulu.
"Hmm, reppesing ya Nyonya?" tebak Bi Ningsih.
"Pinteeer.... tapi kemananya kita lihat saja nanti" ucap Lulu membuat mereka saling tersenyum.
"Tapi Nyon, Bibi belum menyetrika" ujar Bi Tuti.
"Masalah rumah tu entar aja deh bi. gak masalah kok" ucap Lulu dan diangguki oleh mereka.
"Nyonya ini baik sekali" gumam Bi Tuti.
Β°
Β°
__ADS_1
Β°
Gak sabar Lulu mau melahirkan? nanti kita loncat lagi π