
"Gitu dong masbro" ujar Roni membuat Daffa sedikit kesal. Daffa menyeberangi jalanan ditengah keramaian itu, baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba sebuah motor membunyikan klakson padanya sebab Daffa menyeberang tanpa melihat kendaraan lain lewat. sontak Daffa terkejut dan menghentikan langkahnya ditengah jalan.
"Woi! kalau nyebrang lihat-lihat! kau mau mati yaa!" teriak pengguna motor tersebut saat dirinya mengerem mendadak.
"Maaf, maaf pak" ucap Daffa mengatupkan kedua tangannya. pengguna motor itu hanya menggeleng kesal dan kembali menjalani sepeda motornya. sedangkan Daffa mengelus dadanya, dan kembali melihat kiri kanan untuk menyeberang.
"Astaghfirullah" gumamnya mengelus dada dan melanjuti perjalananya. Tibalah di Indomaret, Daffa mengambil beberapa cemilan dan minuman dingin yang ada di freezer. entah kenapa tiba-tiba ia suka pada makanan pengawet itu, padahal saat Lulu meminta, ia melarang keras karna itu cemilan yang tidak sehat. tapi kali ini, dunia berbanding terbalik, Daffa malah menginginkannya. entah apa yang terjadi padanya, yang penting salah satunya ia sangat merindukan wajah dan tingkah sang istri.
"Berapa?" tanyanya mengambil dompet.
"Seratus ribu, Tuan" jawab si kasir. Daffa pun memberikan uang pas dan mengambil kresek yang bermerek Indomaret tersebut. Daffa pun kembali melanjuti perjalanannya dengan menyeberang. kali ini ia mesti hati-hati tidak seperti yang tadi lagi sangat ceroboh.
"Ini, makanlah" ujar Daffa baru tiba di pos polisi tersebut lalu menaruh kresek itu diatas meja.
"Widih bro, mantul nih tau aja kita butuh" ujar Roni dengan girangnya. Ia pun mengambil satu snack dan minuman lalu mengopornya pada yang lain.
"Pak, ambil saja. jangan malu-malu" ujar Roni pada rekan kerja istrinya. Bapak itu pun manggut dan mengambil satu untuknya. hingga akhirnya malam ini Daffa dan lainnya bercengkerama sembari mengemil untuk menghilangkan kebosanannya.
Di kediaman Daffa dan Lulu, tepatnya di kamar Bi Tuti, Bibi memberitahu bahwa Tuannya Daffa telah pergi keluar entah kemana. yang jelas Daffa hanya mengenakan baju kaos dan celana pendek rumahan. Lulu pun terkesima mendengarnya hingga ia pun berjalan menuju kamar mereka, melihat kamar yang cukup berantakan.
"Ya ampun Daff, kenapa berantakan seperti ini. bungkusan snack di lantai, kotak cake diatas kasur, yang ada ini kasur bakal bersemut" gumam Lulu mendumel. Ia pun membersihkan kamar itu, menyapu dan mengganti seperainya. Hari-hari biasanya Lulu juga yang yang merapikan kamar dan mengganti seperai. ia tidak mau kalau pekerja rumahnya yang melakukan itu karna kamar adalah tempat pribadi tanpa orang lain memasukinya, kecuali teman dekat seperti Tari dan Rani. saat mau membuka sarung bantal, tiba-tiba Lulu melihat surat darinyaa tergeletak dibawah bantal milik Daffa. Lulu mengembangkan senyumnya di bibir mungil itu, membaca surat dan terharu bahwa Daffa tidak ingin membuangnya dan malah menyimpan dibalik bantal.
"Ternyata dia menyimpannya" gumam Lulu tersenyum. lalu menaruh kertas itu diatas nakas.
Beberapa menit kemudian, kamar pun telah bersih dan rapi. Lulu pun keluar dengan membawa sampah makanan dan membuangnya di tong sampah yang berada di dapur. setelahnya ia pun kembali ke kamar Bibi untuk melanjuti menonton horor jepang di ponselnya.
Jam terus berputar, sudah sangat larut namun Daffa belum juga pulang. Ya, mang Fais memberitahunya lewat telepon sedangkan Bibi sudah tidur sejak tadi. Lulu pun mondar mandir di kamar itu, dilihatnya jam dinding sudah menunjukkan pukul 00:25 membuatnya khawatir akan sang suami.
"Kemana dia ini! jam segini belum pulang! apa dia ke bar trus mabuk dan--- tidak! itu tidak mungkin. Aku tau sekali suamiku tidak pernah ke bar. saat dia kesepian tidak ada Sheila, ia malah mencariku di kampus. kemana lelaki bodoh ini!" gumam Lulu ngedumel disepanjang langkahnya.
Tralala tralala..
Dering ponsel berbunyi itu artinya seseorang menelpon nomornya. Lulu segera mengambil ponsel diatas nakas dan melihat siapa yang menelpon dirinya.
"Mang Fais" gumam Lulu lalu segera mengangkat panggilannya.
"*Hallo mang"
__ADS_1
"Hallo Nyonya, Tuan sudah pulang"
"Ah syukurlah, terima kasih mang*"
Lulu pun mematikan panggilan teleponnya, kini perasaannya telah lega mendengar kabar kalau Daffa telah pulang. Lulu menduduki tubuhnya diatas kasur lalu menuangkan air putih kedalam gelas untuk menetralisirkan perasaannya.
"Saatnya kita tidur nak, besok kita akan menghajar wanita ituu lagi. ammi yakin dia pasti akan kembali" gumam Lulu menatap perutnya sembari tersenyum seringai. Lulu pun membaringkan tubuhnyaa disamping Bi Tuti. akhirnya Lulu bisa tidur dengan pulas tanpa beban dipikiran.
Daffa yang baru masuk ke kamar pun merasa tercengang melihat kamar yang sangat rapi dan seprai yang telah diganti. Daffa mengerutkan dahinya, berfikir siapakah yang membersihkan ruangan ini.
"Apa bibi yang membersihkannya? tapi kenapa bisa? aku tidak menyuruhnya" gumam Daffa yang masih berdiri diambang pintu. lalu melangkahkan kaki menuju kasurnya. tiba-tiba Daffa teringat akan surat dari sang istri, Daffa mengangkat bantal dan bernafas lega bahwa surat itu masih berada pada tempatnya.
"Ah syukurlah, surat itu masih disini" gumamnya.
"Lebih baik tidur, masa bodo dengan kamar ini" ucap Daffa menahan nguap lalu membaringkan tubuhnya hingga ia pun tertidur dengan sangat pulas.
*
*
Lulu mendengkur, ia terbangun ketika mendengar kicauan burung dari luar dan itu membuatnya terjaga. Lulu mengucekkan kedua matanya, sayup-sayup melihat Bibi yang tengah berdoa. Lulu terenyuh, ia belum melakukan sholat subuh, Lulu pun segera mengambil ikat rambut yang ada didekat bantal lalu mengikatnya.
"Sudah bangun Nyonya?" tanya Bibi menatap ke arahnya.
"Sudah bi, kenapa tidak membangunkanku? kita bisa sholat berjamaah" ujar Lulu menuruni ranjang.
"Segan Nyonya, Nyonya tidurnya enak sekali" ucap Bibi terkekeh.
"Tidak apa kok Bi, sholah itu lebih wajib daripada tidur" ucap Lulu tersenyum.
"Yasudah Nyonya, kalau gitu saya ke dapur dulu untuk menyiapkan sarapan pagi" pamit Bibi.
"Bibi buat menu apa?" tanya Lulu.
"Heem, bubur ayam Nyonya" ucapnya. seketika membayanginya membuat Lulu sangat tergiur.
"Nanti bawain dua mangkok ya" pinta Lulu yang berdiri diambang pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Siap Nyonya" ucapnya lalu membuka pintu kamar. sedangkan Lulu segera memasuki kamar mandi untuk berwudhu.
Lulu melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk, setelah selesai melakukan sholat wajib tersebut ia pun berdo'a kepada Allah SWT.
"Ya Allah, maafkan dosa hambamu ini yang telah menjauhi suami. hamba tau ini salah, tapi ini pilihan hamba untuk membuatnya sadar dan enggan melakukannya lagi. jauhilah perusak rumah tangga hamba ya Allah, sebab hamba ingin menciptakan rumah tangga yang harmonis, penuh cinta dan kasih seperti rasul terhadap istri-istrinya. jadikanlah hamba seorang istri dan Ibu yang baik saat kelak nanti. Aamiin" ucap Lulu berdoa lalu mngusap wajahnya dengan tangan yang masih berbaluti kain suci berwarna putih itu. Lulu pun mengambil Al-qur'an dan mengaji.
Tidak terasa sudah pukul tujuh pagi, Lulu segera mandi untuk membersihkan dirinya. setelah mandi, ia memakai baju Bibi untuk pergi ke kantor. setelahnya Lulu duduk manis sembari menunggu Bibi mengantarkan sarapan paginya.
"Semoga wanita itu datang agak kesiangan" gumam Lulu.
Bibi telah selesai memasak sarapan pagi. sebelum Tuannya keluar, ia segera menyiapkan sarapan dan susu untuk Nyonya-nya. Bibi pun mengantarkan nampan berisi dua mangkok dan dua gelas ke kamarnya untuk sang Nyonya.
Tok tok,
"Masuk bi" sahut Lulu. Bibi pun masuk dan melihat majikannya tengah berdiri menatap jendela kamar.
"Ini sarapannya Nyonya" ujar Bibi menaruh nampan diatas meja.
"Terima kasih Bi" ucap Lulu berjalan menuju meja untuk melahap sarapan paginya. Bibi pun segera keluar kamar namun saat mau menutup pintu tiba-tiba Daffa mengagetkannya.
"Bibi," panggil Daffa mengejutkannya.
"Astaga, apa Tuan sempat melihat Nyonya?" gumam Bibi dalan hati.
"Bi!"
Β°
Β°
Β°
Wadidaw, apakah ketahuan?
Next part!
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya yaa ππ
__ADS_1