Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
115. Mengadu pada sahabat


__ADS_3

Mang Asep pun membuka gerbang hingga mobil yang dikendarai Daffa memasuki pekarangan rumah. setelahnya Daffa keluar dari mobil dan berjalan menghampiri mang Asep. melihat tuannya yang berjalan gagah ke arahnya membuat mang Asep menciut.


"Mang" panggil Daffa


"Ya tuan" sahut mang Asep.


"Panggil bi Ningsih dan bi Tuti suruh mereka berkumpul diruang kerjaku" ucap Daffa dan berlalu pergi meninggalkan mang Asep yang terpaku menatap punggung tuannya.


"Waduh gawat.. akhirnya yang ku takuti terjadi" gerutu mang Asep mondar-mandir di posnya. tanpa berlama lama ia pun segera menuju tempat bibi yang sedang bekerja.


"Mbak tuti mbak ning, kita harus menghadap tuan diruang kerjanya sekarang" lapor mang Asep.


"Waduh bagaimana ini.. ini semua gara penjahat itu, pasti tuan murka kita tidak bisa menjaga rumah ini" gerutu bi Tuti.


"Atuh cepatan.. sebelum Tuan tambah murka" desak mang Asep dan mereka pun pergi meninggalkan pekerjaannya, berlari terbirit-birit dengan rasa takut bercampur gugup.


deg deg deg


terasa sekali jantung mang Asep berdetak kencang hingga ia merasakan sendiri tetapi demi tanggung jawab dan profesionalnya mang Asep menepis rasa takut itu.


tok tok


"Masuuuuuk" sahut Daffa dari dalam. bi Ningsih pun membuka gagang pintu dan memasuki ruangan tuannya dengan diikuti bi Tuti dan mang Asep. mereka pun menunduk takut didepan Daffa yang sedang memerhatikan mereka.


"Saya mau bertanya, kemana saja kalian kemarin sore??!" tanya Daffa dengan tegas.


"Sa..saya didalam pos tuan sedang membaca koran" jawab mang Asep.


"Kalau ka..mi.. sedang menyiapkan makan malam di dapur tuan" jawab bi Tuti meremas roknya karna merasa takut. Daffa pun memandang mereka dengan tatapan dinginnya melihat pekerjanya satu persatu.


"Lalu kenapa bisa ada wanita yang memasuki kamarku?!! dan kau mang Asep!" tunjuk Daffa.


"Apa kerjamu hanya membaca koran saja sehingga kau tidak tau orang lain memasuki rumahku?!!" ucap Daffa teriak.


"Ma..maaf tuan, sebenarnya semalam saya sudah mengunci gerbang dan saya melanjutkan membaca koran tapi tiba-tiba ada seorang pria yang terluka berjalan tergopoh-gopoh meminta tolong jadi saya keluar dan menolongnya. setelah itu ada seseorang menutup hidung saya dengan kain lalu saya pingsan. saya pun terbangun dan melihat sekeliling ada digudang bersama mbak tuti dan mbak ningsih tuan" jelas mang Asep dengan lancar.


"Kurang ajar sekali!!! ini pasti komplotan Sheila!! dasar jahanam" gumam Daffa meremas kertas yang ada ditangannya.


"Yasudah kalian pergilah" usir Daffa. mang Asep, bi Tuti dan bi Ningsih pun segera keluar dari ruangan Daffa dengan tergesa-gesa dan menutup kembali pintunya.


"Syukurlah.. jadi begitu ceritanya ya mang?" tanya bi Ningsih yang belum tau asal muasal mereka disekap.


"Iya, kasihan sekali tuan dan Nyonya" ucap mang Asep. mereka tahu kalau Nyonya mereka mengalami kecelakaan dari tetangga sebelah. mereka pun pergi menuju pekerjaan mereka masing-masing. kali ini mang Asep harus berhati-hati menjalani tugasnya melindungi Tuan dan Nyonyanya.


Di ruangan kerja Daffa, ia terlihat sangat kesal dan marah. ulah Sheila, Lulu sudah salah paham padanya padahal Daffa tidak tau kalau Sheila ada bersamanya.


"Aku harus mencari tau siapa yang menabrak istriku. awas kalian" gumam Daffa dan beranjak berdiri menuju kamarnya untuk mengambil pakaian Lulu.


Didalam kamar, Daffa membuka lemari dan mengambil baju ganti untuk dua hari selama disana. ia memasuki pakaian itu kedalam tas dan setelahnya Daffa memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Daffa teringat semalam ia berendam pasti busa itu masih menempel ditubuhnya.

__ADS_1


Setelah selesaii mandi, Daffa memakai baju santainya dan mengambil tas berisi pakaian tak lupa juga pembalut karna Daffa ingat Lulu masih datang bulan. Daffa pun berjalan menuju pintu tetapi saat memegang gagang, ia menghentikan langkahnya sejenak.


"Huuuh.." desahnya menghembuskan nafas kasar melihat koper yang dibawa Lulu kemarin.


Daffa segera keluar dan memasuki mobil Papanya untuk menuju rumah sakit. diperjalanan, Daffa memikirkan suatu hal yang harus dilakukannya.


"Sepertinya aku harus menambah satu orang penjaga lagi" gumamnya.sendiri fokus pada menyetir.


Di rumah sakit, Daffa berjalan gagah memasuki lobi menenteng tas pakaian istrinya. sontak Daffa menghentikan langkahnya karna merasa ada seseorang yang memanggil.


"Daffa....." panggil seseorang dibelakangnya. Daffa menoleh ternyata Ferdi dan Tari yang memanggil dan berjalan cepat ke arah Daffa.


"Kamu disini ngapain? siapa yang sakit?" tanya Tari.


"Lulu" jawabnya singkat.


"Apaa?!! Lulu kenapa?" tanya Tari terkejut.


"Kecelakaan. kalian sendiri ngapain disini?" tanya Daffa balik.


"Kami mau periksa kandungan, kata dokter istriku hamil" jawab Ferdi tersenyum.


"Syukurlah, selamat yaa.. aku keruang Lulu dulu" ucap Daffa dan berpamitan.


"Tunggu! kami ikut" ucap Tari menghentikan langkah Daffa.


"Tidak sayang, sebentar saja setelah itu kita periksa lagi" ucap Tari yang tetap kekeh ingin menjenguk sahabatnya terlebih dahulu.


"Baiklah" ucap Ferdi menuruti mau istrinya. mereka pun berjalan melewati lorong rumah sakit dan memasuki lift.


"Kenapa Lulu bisa kecelakaan?" tanya Tari yang ingin tahu.


"Ada yang sengaja mencelakakannya" jawab Daffa sendu memasang wajah dinginnya.


"Astaga.. perasaan Lulu tidak punya musuh" gumam Tari terperangah.


"Ada. mantan kekasihku" ucap Daffa.


"Ya ampun.. gila benar" ucap Ferdi.


"Yang sabar ya bro.. sepertinya mantanmu itu harus dipenjara" usul Ferdi.


"Benar yang, aku geram sekali dengan wanita itu walau tidak tau wajahnya seperti apa!" ucap Tari kesal.


Ting


Pintu lift pun terbuka dan mereka bertiga pun keluar dari lift dan mengikuti langkah kaki Daffa.


Ceklek,

__ADS_1


Daffa pun masuk ke kamar rawat istrinya dan diikuti oleh pasangan suami istri itu.


"Tariiiiii......" panggil Lulu sumringah.


"Luluuuuuu....." sahut Tari dan berjalan cepat menuju sahabatnya itu dan langsung memeluknya.


"Lulu, kamu kenapa bisa kecelakaan?" tanya Tari sendu memegang tangan sahabatnya.


"Hiks hiks taar... ini semua gara dia" jawab Lulu kembali memeluk Tari sambil menangis.


"Cup cup sudah jangan nangis.. kata suamimu ini semua ulah mantannya" ucap Tari.


"Mereka bermain dibelakangku" adu Lulu menghapus air matanya. seketika Tari menatap tajam ke arah Daffa. Daffa terpaku, ia terduduk mendengar penuturan Lulu. Daffa tidak tau harus berbuat apa agar istrinya percaya. ia hanya bisa menggelengkan kepalanya pada Tari yang menatapnya tajam.


"Lu, jangan salahkan suamimu terus.. kita tidak tau sebenarnya apa yang terjadi" ucap Mama Sarah yang sedang mengupas apel yang dibelikan Papa Adi.


"Benar nak, kita harus cari bukti dulu" timpal papa Adi.


"Yaaaang.. percayalaah..." ucap Daffa memegang tangan istrinya.


"Lepaskan! pergi sana!" usir Lulu.


"Ma, ini pakaian Lulu" ucap Daffa pada mertuanya.


"Terima kasih nak.. Lulu sayang, ayo kita mandi dulu" ajak mama Sarah. Lulu pun mengangguk.


"Cepat sembuh ya Lu, kita pamit dulu" ucap Tari.


"Cepat sekali" cemberutnya.


"Nanti kami kembali lagi setelah kamu mandi yaa, tante om.. Tari dan Ferdi pamit dulu" ucapnya lalu menyalami orang tua Lulu.


"Terima kasih ya nak" sahut mama dan lalu membawa Lulu ke kamar mandi.


Tari dan Ferdi pun keluar ruangan tanpa menoleh pada Daffa, Daffa pun mengikuti mereka dan menghentikannya.


°


°


°


°


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2