Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
176. Sandiwara didalam kolam


__ADS_3

Setelah kepergian Daffa dan mendengar pintu kamar mandi yang tertutup, Lulu langsung membuka matanya yang terpejam sedari tadi. ternyata oh ternyata.. Lulu tidak tertidur namun sengaja berpura-pura tidur agar suaminya segera menghentikan permainan itu. tubuh Lulu memang merasa lelah, namun matanya masih enggan untuk tertidur. Lulu merasa gerah sehabis percintaan mereka barusan, ia segera mengambil legging pendek dan tanktop berwarna lavender dan memakainya dengan cepat sebelum Daffa keluar dari kamar mandi. tak lupa juga Lulu memasang kimono ditubuhnya agar selesai berendam didalam kolam renang, ia tidak merasa kedinginan.


"Baik uculku sayang, let's go kita berenang!" girang Lulu melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju kolam renang dengan perasaan gembiranya.


Beberapa menit kemudian, Daffa telah selesai dengan aktivitasnya dikamar mandi. ia melangkah keluar dengan wajah bugar dan penuh semangat sebab ia telah merasa lega telah meyalurkan kecebongnya. Daffa menatap istrinya yang tertidur diatas ranjang namun sontak ia terkejut tidak melihat keberadaan sang istri.


"Lulu, kemana dia? bukankah tadi tidur?" gumam Daffa merasa heran. segera ia mencari Lulu kedalam ruang ganti, namun tidak mendapatinya. lalu Daffa berjalan menuju balkon, menggeser jendelanya kesamping namun tak mendapatinya. tetapi sayup-sayup ia mendengar percikan air dibawah, Daffa segera melihat kebawah dan ternyata Lulu sedang bermain air di kolam renang.


"Astaga, ternyata dia disana. bisa-bisanya!" gumam Daffa menatap Lulu yang bermain air sembari bernyanyi.


"Heeeeei!!" sorak Daffa dari atas. Lulu mendengarnya, mengarahkan bola mata hitamnya ke atas menuju balkon kamar mereka tetapi kepalanya tetap berada didepan seolah-olah Lulu tidak melihat suaminya yang memanggilnya dari tadi.


"Hai sayang! kamu gak dengar?" teriak Daffa namun Lulu hanya tersenyum simpul dan terkekeh keluar seolah tidak mendengar Daffa.


Daffa frustasi, ia menatap jarak lantai dasar hingga ke lantai kamarnya, lumayan sangat tinggi. Ingin rasanya Daffa langsung melompat ke kolam namun ia juga merasa ngilu membayanginya.


"Huh baiklah, kita akan melompat sayang" gumam Daffa mengedarkan pandangannya ke arah lain. ia tidak mau kalau ada tetangganya melihat ia berdiri dipembatas balkon itu.


"Sayang, lihat ini!" teriak Daffa lagi yang telah berdiri dipembatas itu. Lulu menggeleng-gelengkan kepala mendengar teriakan Daffa yang sangat mengganggu itu. Lulu menoleh keatas, sontak terkejut Daffa sudah berdiri di pembatas balkon itu.


"Sayang! apa yang kau lakukan! kau mau bunuh diri?!" teriak Lulu merasa takut segera ia langsung memanjati besi penyangga lalu berdiri ditepian kolam.


"Ya! itu sebab kau tak mendengarkanku!" teriak Daffa kembali.


"Astaga kau ini! jangan seperti anak kecil! turunlah" teriak Lulu menatap heran tingkah suaminya yang ke kanak-kanakan.


Byuuuuuur!!!!


'Aaaaaaaaaa.......

__ADS_1


Lulu berteriak sekuat mungkin melihat Daffa yang langsung melompat dari atas. kakinya gemetaran, Lulu menutup wajahnya dengan tangan tapi ia segera sadar saat Bibi menghampirinya.


"Nyonya nyonya! Ada apa?" tanya Bibi menepuk pundak Lulu.


"I..itu bi, Daffa mati" ujar Lulu dengan tangan yang masih menutup wajahnya. Bibi terheran-heran, ia menatap Tuannya yang sedang memerhatikan Lulu di kolam tersebut. Daffa mengisyaratkan untuk panik saat dirinya berakting telah meninggalkan dunia ini. Bibi mengerti dan mengikuti petunjuk Tuannya.


"Ya allah Tuaaan.... Nyonya lihatlah! Tuaan!!" ujar Bibi dengan wajahnya yang sangat panik. Lulu segera melepaskan tangannya dari wajah dan melihat Daffa yang mengapung dikolam itu.


"Daff!! daff!! ya allah Bi.. panggilkan mang Asep siapkan mobil!" perintah Lulu dengan perasaan panik dan sedihnya. Lulu menepuk nepuk pipi suaminya namun Daffa tidak kunjung bangun hingga air mata Lulu menetesi pipinya dengan sangat deras. Lulu menoleh ke belakang ternyata Bibi masih berada disana.


"Bibi! kenapa masih disitu! saya suruh panggilkan mang Asep!!" teriak Lulu memarahi Bi Ningsih.


"Tidak perlu kau marahi bibi, sayang" sahut Daffa yang langsung bangun memeluk Lulu dari belakang. Lulu terkejut, terperangah, sedangkan Bibi terkekeh melihat ekspresi Nyonyanya. Lulu segera menoleh ke belakang, melihat Daffa mengedipkan mata padanya.


"Ah Daffa!!! tidak lucu!!!!" teriak Lulu memukul-mukul dada suaminya. sedangkan tawa Daffa pecah didalam kolam itu menertawakan ekspresi istrinya yang tampak panik hingga menangis.


"Hahahahahahahaha, kena prank deh!" ucap Daffa tertawa.


"Itu sebabnya kau membohongiku dan meninggalkan ku" ucap Daffa ditelinga Lulu hingga Lulu merasa geli.


"Aaaah... menyebalkan!" ucap Lulu kembali memukul dada suaminya.


"Hahahahahahah, enakkan kena prank?" ucap Daffa kembali tertawa memperlihatkan lesung pipi dikedua pipinya.


"Gak lucu ya! kau jahat!" teriak Lulu mencubit perut suaminya hingga Daffa merintih kesakitan.


"Aaaw yang, sakit tau" rintih Daffa memegang perutnya.


"Lebih sakit hatiku! bisa-bisanya pura-pura mati. bagaimana kalau aku serangan jantung dan si ucul juga ikut serangan jantung hm?? tinggallah kau sendiri" omel Lulu mencubit-cubiti lengan suaminya.

__ADS_1


"Iya iya maaf, gak ulangi lagi. jangan nangis dong" ucap Daffa menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya.


"Jangan sentuh aku!" berang Lulu segera meninggalkan Daffa dan menduduki tubuhnya ditepian kolam yang paling rendah yaitu kolam renang untuk anak-anak mereka nanti saat sudah tumbuh balita.


Daffa mengusap wajahnya kasar, segera menyusul Lulu, menaiki tangga penyangga dan berjalan menghampiri Lulu yang tengah merajuk bersedekapkan tangannya didada dengan bibir yang manyun.


"Sayang, maaf ya.. gak ulangi lagi, janji" ucap Daffa dengan lembut namun Lulu hanya diam saja tidak menyahutinya. Daffa frustasi, segera ia dekatkan wajahnya di depan perut sang istri, mencoba untuk membujuk sang anak yang masih didalam kandungan.


"Ucul appi, maafkan appi yaa sudah membuat ammi marah. bujuk ammi dong nak supaya tidak marah lagi sama appi. appi janji gak buat begitu lagi, nanti kalau kamu sudah lahir kita main kuda-kudaan ya, kamu boleh nanti jambak rambut appi tapi jangan kuat-kuat yaa.. sakit tau. nanti rambut appi rontok, ammi gak mau lagi sama appi. appi kan sediih" ucap Daffa panjang lebar berbicara dengan jabang bayinya didalam perut.


Mendengar omongan Daffa, Lulu terkekeh lalu menyentuh rambut sang suami. Daffa menengadahkan kepalanya menatap Lulu yang tersenyum, lalu ia bangun dan mengecup kening sang istri.


"Gak marah lagi kan?" tanya Daffa memandang lekat wajah itu. Lulu tersenyum sembari menggeleng pertanda ia tidak marah lagi pada suaminya.


"Terima kasih sayang, emmuuach" ucap Daffa dengan girang lalu mencium pipi Lulu dan beralih pada sang anak.


"Kamu hebat nak! ammi langsung tersenyum pada appi" ucap Daffa mencium perut Lulu hingga berkali-kali membuat Lulu terkekeh merasa kegeliaan.


"Ih ih udah ah, geli tau" ujar Lulu terkekeh, duduk bergeliat didalam air yang rendah itu.


Dari kejauhan, seseorang menatap mereka sembari membawa nampan berisi jus dan cemilan. ia merasa senang melihat pasangan suami istri itu.


"*Semoga mereka selalu bahagia seperti itu, bercanda tawa walau kadang suka ribut dalam hal kecil. majikanku sangat menggemaskan"


°


°


°

__ADS_1


°*


__ADS_2