
"Hahahahahaha, jenis kelaminnya .... C-----" ucap Tari ragu-ragu namun akhirnya sengaja digantung seperti jemuran๐
"C apaan!" gertak Lulu menepuk punggung tangan Tari dengan wajahnya yang begitu penasaran. Tari memandang penuh wajah sahabatnya, sengaja mengulur waktu untuk menjawab dan menikmati dahulu raut wajah penasaran itu. hingga Lulu tak mendapatkan jawaban, membuatnya jengah dan cemberut.
"Cowok!" seru Tari kegirangan.
"Apa??? cowok??" ujar Lulu kembali girang mendengarnya.
"Yaaaa....." ucap Tari kembali.
"Kalau begitu anak gue harus cewek biar ada abangnya nanti buat jagain dia" ucap Lulu tersenyum.
"Heem, sweet banget ya apalagi dari abang jadi bebeb. hahahahaha" imbuh Tari tak kalah antusiasnya.
"Iya pula kan, ah tapi itu masih lama. gue gak mau anak gue cepat gede" ujar Lulu.
"Rasanya masa bayi itu lebih nikmat ya, apalagi kalau udah balita, rame banget tu rumah. lari kesana lari kesini" ujar Tari membayangi anaknya yang nakal. ia pun terkekeh membayangi anaknya seperti itu.
"Bener banget. apalagi cewek, lihat amminya dandan aja dia juga minta didandanin, sampai-sampai bakal berserakan lagi tuh bedak. hahaha" imbuh Lulu membayangi anaknya seperti itu jika saja akan mendapatkan malaikat perempuan dihidupnya.
"Bener, pokoknya milik kita bakal diludesin ih sama dia" seru Tari. -
"Ehem-ehem! seru banget nih obrolannya" tiba-tiba Ferdi dan Daffa datang menghampiri kedua wanita itu yang sedang asyik mengobrol hingga tawa mereka menggelegar sampai ditangga. dua pria itu pun menduduki tubuhnya disamping sang istri.
"Seru dong. eh yang, anak Tari cowok lho" adu Lulu pada suaminya.
"Wah benarkah? keren dong. kalau begitu anak kita juga cowok" ujar Daffa.
"Ih enggak. pokoknya cewek!" Lulu tetap kekeuh pada pendiriannya yang menginginkan anak perempuan hingga memasang raut wajah yang cemberut membuat Daffa menelan ludahnya dengan kasar.
"Iya-iya cewek" ucap Daffa pasrah dan menatap Tari juga Ferdi.
"Dia sekarang sensitifan, apa-apa harus dituruti" ucap Daffa pada kedua suami istri itu.
"Yaaah Daff, sama aja noh dengan dia. mau tidur aja minta ditepukin dulu pantatnya. kalau enggak bakal pindah kamar, diamin gue seharian" ujar Ferdi mengadu tentang perangai sang istri yang sangat manja.
"Ih apaain sih buka coki aja!" gerutu Tari menepuk lengan suaminya.
"Ternyata ada yang lebih parah dari gue. hahaha" ujar Lulu tertawa. semua orang menatap kearahnya, apalagi Daffa yang menatapnya lekat seperti ingin menyumpel mulut sang istri.
"Sama saja parahnya!" ujar Daffa teriak ditelinga sang istri. sontak Lulu terkejut dan terdiam lalu menggosok telinganya yang pekak akibat ulah suaminya yang jahil itu.
"Ih! budeg ntar telinga gue!" gerutu Lulu kesal.
__ADS_1
"Eh kalian sudah sarapan pagi belum?" tanya Ferdi. Daffa dan Lulu saling bertatap dan dengan serempak mereka menggelengkan kepalanya pertanda bahwa mereka belum sarapan sejak jalan pagi tadi.
"Ayo kita sarapan dulu" ajak Tari meraih tangan sahabatnya dan berdiri tegak bersama-sama. mereka pun berjalan keruang makan untuk melahap sarapan pagi yang aromanya sudah tercium wangi ke permukaan hidung mereka. sontak membuat perut Lulu langsung keroncongan mendengkus aroma itu.
"Tiba-tiba aku jadi lapar cium aromanya" bisik Lulu ketelinga Daffa.
"Jaga sikap! jangan ambil porsi yang banyak. dasar gendut" peringat Daffa.
"Iya-iya, tapi gak janji" ucap Lulu menjulurkan lidahnya pada suaminya yang jelek itu. Tibalah dimeja makan, Lulu langsung disuguhi dengan kolak pisang, ubi dan bercampur dengan bubur kacang ijo beserta roti tawar yang sudah diberikan selai cokelat. sangat menggugah selera siapa saja yang menatap makanan manis itu. tampak Tari tengah menghidangkan untuk suaminya dan beralih pada mangkoknya. dengan tidak sabarnya, Lulu langsung mengambil centong dan menyendoki kolak itu menaruhnya di mangkok miliknya. Daffa menggelengkan kepala melihat tingkah sang istri yang begitu rakus. bagaimana tidak, dia mengambil porsi yang lebih banyak dari si Tuan rumah.
"Kamu ambil sendiri ya sayang" ucap Lulu tersenyum imut.
"Dasar istri tak ada akhlak" gerutu Daffa. ia pun mengambil dengan porsi yang sangat sedikit membuat Tari mengernyitkan dahinya menatap mangkok itu.
"Tambah lagi, itu sedikit banget" suruh Tari.
"Tidak apa, segini aja. lebihnya dimangkok Lulu tu" ucap Daffa.
"Ambil sajalah Daf, seperti orang lain saja. jangan pandang punya Lulu, gak masalah ambil banyak. semuanya pun sikat aja" ujar Ferdi.
"Wah benarkah??? boleh dong bawa pul--" celoteh Lulu yang tidak tau sopan. bisa-bisanya ia barbar di rumah orang. Daffa pun menutup mulut sang istri dengan tangannya.
"Kau buat malu. jangan ngomong seperti itu" bisik Daffa. Lulu mengangguk, Daffa pun melepaskan tangannya kembali dari mulut sang istri. kini mereka pun melanjuti sarapan pagi dengan penuh kenikmatan.
"Kita pulang dulu Tar, sehat terus jaga kandunganmu yang menanti hari" ucap Lulu memeluk sahabatnya.
"Iya, kamu juga ya. hati-hati dijalan" ucap Tari hingga Daffa dan Lulu pun keluar dari pintu utama sembari melambaikan tangan. Kini keduanya memasuki mobil, mang Fais segera menyalakan mobil. Namun tiba-tiba Lulu mendengar suara teriakan dari dalam. bergegas ia menyuruh Daffa untuk keluar dari mobil.
"Aaaaaaaah....yaang, sakit" rintih Tari yang tiba-tiba perutnya mulas. sebenarnya sejak sarapan tadi, Tari juga sudah merasakan mulas seperti ingin membuang air besar namun ia tahan karna tidak begitu sesak.
"Mang, Tunggu! sayang ayolah keluar" desak Lulu. Daffa menurutinya, dan menyuruh Lulu untuk tetap di mobil. Daffa langsung berlari ke perkarangan rumah itu, mendapati Ferdi yang udah cemas dan menunggu penjaganya untu mengeluarkan mobil dari bagasi.
"Cepaaat!!" teriaknya.
"Fer, ayo ke mobil gue aja" desak Daffa. segera Ferdi berlari sambil menggendong sang istri menuju mobil milik Daffa.
"Mang, ke rumah sakit terdekat!" perintah Daffa dan langsung dituruti oleh mang Fais.
"Sakit yaaang" rintih Tari yang tengah menahan sakit.
"Yang kuat Tar, bentar lagi sampai" ucap Lulu tak kalah cemas, ia pun berkeringat menatap sahabatnya yang kesakitan seperti itu. Lulu tercenung, membayangi dirinya berada diposisi seperti itu.
"Eeeemh," rintihnya menahan sakit hingga menggigit tangan suaminya yang sedang mengelus perut sang istri.
__ADS_1
"Sabar yang. itu rumah sakitnya sudah dekat" ucap Ferdi.
"Gak tahan, eeemh" rintihnya sedikit mengedan. Tari memegang erat tangan suaminya, hingga banyak cakaran yang membaluti lengan Ferdi. Ferdi tak masalah, asalkan rasa sakit itu dilampiaskan padanya.
"Ayo cepat. kita sudah sampai. mang, bantu Nyonya turuni mobil." perintah Daffa segera keluar mobil untuk memanggil suster agar segera membawa brankar. sedangkan Ferdi tergopoh-gopoh menggendong sang istri hingga brankar pun sudah berada didepan matanya. lekas, ia pun menaruh Tari diatas brankar itu.
"Ayo cepatan sus! istri saya mau melahirkan" teriak Ferdi. mereka pun berjalan cepat menuju ruang persalinan. Lulu dan Daffa masih tertinggal cukup jauh namun masih bisa melihat Ferdi dari kejauhan beberapa meter.
"Sayang, aku mau lihat Tari" ucap Lulu berjalan sekuat tenaga mempercepat langkahnya.
"Jangan paksakan jalanmu cepat seperti itu. kau hamil besar" peringat Daffa.
"Yasudah, kau gendong saja aku" ketus Lulu.
"Kamu sangat berat. ah, itu ada kursi roda. kenapa tidak kepikiran" gerutu Daffa segera mengambil kursi roda itu. tanpa disuruh, Lulu langsung mendudukinya. Daffa pun berjalan cepat agar tidak ketinggalan jejak.
Tari sudah berada diruang persalinan. dokter meminta agar suaminya menemani sang istri karna itu adalah permintaan Tari melalui Dokter tersebut. Ferdi pun langsung menghampiri istrinya dan bersiap untuk memberinya semangat. sedangkan Daffa dan Lulu menunggu diluar dengan perasaan yang cemas.
"Semoga keduanya selamat dan sehat ya yang" pinta Lulu.
"Aamiin" sahut Daffa.
Oeeeek..... oeeeek... oeeeek....
Suara bayi pun terdengar hingga luar ruangan. Daffa dan Lulu menghembuskan nafas dengan kasar karna sudah merasa lega mendengar suara merdu itu. pintu terbuka, ternyata Ferdi yang muncul dengan raut wajahnya yang gembira.
"Ayo masuk" ajaknya pada Daffa dan Lulu. Daffa pun mendorong kursi roda istrinya dan menghampiri Tari yang tengah menyusui sang anak.
"Cowok bro?" tanya Daffa.
"Tentu. jagoanku" ucapnya lirih dengan wajah yang penuh keringat.
"Sayang, siapa namanya?" tanya Tari mengelus kepala sang putra.
"Rayshaka Ahmad"
ยฐ
ยฐ
ยฐ
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah bunganya ya ๐๐
__ADS_1