Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
161. The royal palace


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Daffa sedikit memiringkan bibirnya.


"Apa kau sudah gila! sudah ada si ucul disini!" ujar Lulu kesal.


"Siapa juga yang menginginkan itu" ujar Daffa terkekeh.


"Jadi??" tanya Lulu bingung.


"Aku mau.. kamu menyanyikan sebuah lagu untukku didepan umum" ujar Daffa tersenyum ketika mengingat suara merdu Lulu yang menyanyikan lagu untuk jabang bayinya. entah kenapa Daffa juga menginginkannya.


"Ahh aku malu lhoo, mau nyanyikan lagu apa coba" rengek Lulu mendengar penuturan suaminya.


"Apa saja, makan dulu" ucap Daffa tersenyum.


Tidak ada percakapan lagi, hanya keheningan sembari menikmati hidangan restaurant itu. Lulu melahap nikmat makanannya seolah lupa akan pinta Daffa yang menginginkannya menyanyikan sebuah lagu. Lulu menepisnya sejenak, memilih menikmati sajian itu dengan lahapnya. sajian khas belanda, walau belum pernah mencoba tapi menurutnya lidahnya sangat cocok melahap makanan itu mungkin saja ada kaitan hormon kehamilannya yang tentu saja menerima makanan apapun yang penting sehat untuk sang jabang bayi yang dikandungnya.


Tak terasa hari sudah pukul sepuluh malam, Daffa dan Lulu memutuskan untuk kembali ke Hotel yang mereka tempati.


"Gendooooong.....".rengek Lulu disaat baru setengah jalan.


"Dasar manja, naiklah" suruh Daffa menjongkokkan tubuhnya. sedang Lulu menaiki punggung Daffa.


"Aaaaarkh.. beratnya" rintih Daffa berdiri tegak sedang Lulu memeluk punggung itu dan memejamkan kedua matanya.


Tibalah di Hotel yang mereka tempati, Daffa sudah tidak mendengar suara apa-apa dari istrinya. hanya hening, Lulu pasti tertidur, pikirnya. Daffa hanya menggelengkan kepala berharap Lulu tidak mengeluarkan suara khas tidurnya. sungguh memalukan bagi pencitraan Daffa sebagai seorang CEO di Indonesia.


"Sayang, ku harap kau tidak mengeluarkan orokanmu lagi" ucap Daffa mulai memasuki hotel tersebut.


"Hem" sahut Lulu membuat Daffa melirik kebelakang.


"Aaaiik.. kau tak tidur?" tanya Daffa heran namun Lulu tidak menyahuti kembali.


"Wanita ini, ingin rasanya ku makan" ujar Daffa menggelengkan kepalanya. hingga tibalah dikamar mereka, pelan-pelan ia menaruh tubuh Lulu dengan penuh hati-hati agar tidurnya tak terganggu lalu membaringkan tubuh mungil itu, menatapnya sebentar dari jarak dekat. Daffa menilik. seluruh permukaan wajah Lulu, tampak sempurna tiada noda sedikitpun tiada jerawat dan komedo, sangat mulus dengan dibaluti kulit putihnya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" ucap Daffa pelan lalu mencium kening sang istri. Daffa pun menarik lagi kepalanya namun tiba-tiba terhenti saat Lulu mengalungkan tangan dilehernya.


"Aku juga" jawab Lulu yang masih memejamkan mata. Daffa menyipitkan mata, terheran dengan Lulu yang mendengar ucapannya. pelan-pelan Daffa melepaskan kalungan tangan itu, merasa lega Lulu tidak terbangun lagi. Daffa pun segera melepaskan jaket Lulu dengan pelan setelahnya milik dirinya. Daffa meniduri dirinya tepat disamping Lulu, merengkuh dan memeluk istri tercintanya.


Hari pun sudah berganti, dentingan jam terdengar kuat saat keheningan di pagi itu. Lulu terbangun, menatap jam sudah pukul enam pagi. dilihatnya Daffa masih tertidur, Lulu mencium bibir itu, mengecupnya sejenak.


"Kau manis sekali" ucap Lulu lalu segera beranjak dari kasurnya. Lulu membuka pintu yang menghadap ke balkon, merentangkan kedua tangannya menikmati angin segar itu yang masih belum tercemari. menghirupnya dalam-dalam, memejamkan mata sejenak menikmati semilir angin yang ingin membawanya terbang. tiba-tiba Lulu kaget, sesuatu merengkuhnya dari belakang dan Lulu langsung membuka matanya.


"Kau sudah bangun sayang?" tanya Daffa memeluk Lulu dari belakang memegang perutnya dengan kedua tangan Daffa.


"Seperti yang kau lihat" ketus Lulu. Daffa membalikkan tubuh istrinya, menduduki tubuhnya dan menaruh Lulu diatas pangkuannya. mereka saling bertatapan, saling menelusuri wajah, dan tiba-tiba terjadilah ciuman panas di pagi itu dengan hasrat yang menggelora.


"Eeemh" desah keduanya melahap pagutan itu dengan buasnya. cukup lama dikursi itu, Daffa mendirikan tubuhnya dan membawa Lulu ke ranjang hingga terjadilah perseteruan sengit di ranjang itu.


Merasa puas dengan percintaan pagi itu dan berakhir dikamar mandi, kini keduanya tengah mengenakan baju karna Daffa ingin mengajak istrinya berjalan-jalan menelusi kota Amsterdam lalu menelusuri kota lainnya dengan menggunakan mobil yang ia sewa.


"Are you ready?" tanya Daffa.


"Belum. aku belum berdandan, masa cuma gini saja dengan wajahku yang polos" ujar Lulu mengambil foundation miliknya.


"Berdandan itu wajib apalagi buat suami" ucap Lulu mengedipkan sebelah matanya kepada Daffa dibalik cermin.


"Yasudah sekarang jangan berdandan, nanti malam pas mau tidur berdandanlah untukku" ujar Daffa.


"Aaaaaish, gak gitu juga kali" seru Lulu mencebikkan bibirnya.


Lulu pun telah selesai berdandan, tidak menor dan tidak terlalu mencolok, hanya diolesi bedak, lipstik dan sedikit eyeliner, sangat sempurna. kemudian ia segera meraih tasnya dan mengajak Daffa untuk segera pergi.


"Aku sudah siap, ayoo" ajak Lulu memegang tangan suaminya yang tengah menonton televisi.


"Kau cantik juga, ayolah" seru Daffa membuat Lulu tersenyum manis. kini keduanya telah berada didalam mobil, Daffa menekan pedal gas lalu menancap mobil itu memecahi jalanan yang mulai padat.


"Kita mau kemana?" tanya Lulu.

__ADS_1


"The royal palace" jawab Daffa.


"Tempat apaan tuh?" tanya Lulu mulai meraih ponsel dan mencari nama tempat itu.


"Nanti juga tau" ujar Daffa yang fokus pada menyetir. tak mendapatkan jawaban dari sang suami, Lulu berinisiatif sendiri mencari tempat yang disebutkan Daffa.



"Waaaah..... keren banget nget nget!!" sorak Lulu memekikkan telinga.


"Heboh amat yang, lihat apa?" tanya Daffa menutup sebelah telinganya.


"Ini! Ini kan tempatnya?" tanya Lulu menunjukkan ponselnya. Daffa pun mengangguk sebagai jawaban.


"Keren juga, ada bunganya" ujar Lulu tersenyum lalu melihat-melihat gambar yang terdapat di Mbah Google.


Tak terasa akhirnya mobil pun telah tiba ditempat tujuan, Lulu segera membuka pintu dan menatap taman itu. taman yang terdapat bunga dan ada sebuah istana didepannya. banyak orang-orang yang berlalu lalang ditanah luas sekitaran istana kerajaan belanda.


"Ayo kita jalan-jalan sepuasmu, asal kau dan my baby bahagia dan tidak membuatku mual" ujar Daffa merangkul bahu Lulu.


"Si ucul pasti senang banget didalam, ya kan sayangku?" ujar Lulu menatap perutnya.


"Iya ammi, besok kalau aku sudah lahir, aku ingin jalan-jalan lagi" jawab Lulu meniru suara bayi.


"Hahahahahaha..... kau ini jadi tidak waras ya, bertanya iya, menjawab pun iya" ucap Daffa terkekeh melihat istrinya yang sangat polos.


"Kau ini! kita itu harus sering mengajak anak kita mengobrol walaupun masih didalam rahimku. itu akan bagus untuk perkembangannya esok" ujar Lulu menceramahi suaminya. Daffa pun terdiam, tidak berkutik lagi hanya cengengesan mendengar celotehan istrinya.


"Hehehe, kamu benar sayang. istri dan ibu yang terbaik" ujar Daffa.


"Tentu dong" ucap Lulu bangga.


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2