Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
119. Menjenguk Anak dan Suami


__ADS_3

Kemudian Lulu segera memungut serpihan kaca yang terpecah oleh jari-jari mungilnya. entah karna perasaannya atau keteledoran darinya, jari Lulu terluka akibat memungut kaca itu hingga mengeluarkan sedikit darah.


"Aaaw..." rintihnya memegang jari yang mengeluarkan cairan merah pekat itu.


"Sial betul. hati-hati dong lu" gumamnya bicara pada diri sendiri. Lulu pun kembali memungut kaca itu walaupun jarinya terluka. menurutnya itu tidak masalah hanya luka kecil. sebaiknya membersihkan lantai yang terdapat banyak kaca gelas daripada ia mengobati lukanya dulu yang ada nanti malah orang lain yang terkena akibat tidak melihat serpihan kaca yang bertebaran.


"Selesaaaai.... huh ada-ada saja hari ini" gumamnya membuang serpihan kaca ke dalam tong sampah. setelahnya Lulu membersihkan luka dan melapisinya dengan Hansaplast agar lukanya tidak terkena debu dan dimasuki oleh bakteri.


Dirumah sakit yang ada di kota Surabaya, Daffa segera dilarikan ke ruang UGD untuk ditangani oleh Dokter dan Suster yang profesional. mereka tampak sedang membersihkan darah di kepala Daffa dan melihat luka yang cukup miris itu dan segera menjahitnya. dokter juga akan melakukan CT SCAN pada seluruh tubuh Daffa untuk memeriksa apakah ada tulang yang patah atau tidak. setelah diperiksa Dokter melihat tulang bahunya yang bergeser dan beberapa memar.


Roni dan pemuda yang menabrak Daffa sedang duduk menunggu kabar dari dokter tentang keadaan Daffa. tak berapa lama, Dokter pun keluar dan menghampiri mereka.


"Apa kalian keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Tidak dok, saya sahabatnya. bagaimana keadaan pasien?" tanya Roni.


"Tulang bahunya sedikit bergeser tetapi tenang saja kami sudah Reposisi bahu untuk mengembalikan posisi tulangnya." jelas dokter itu.


Roni pun mengusap rambutnya ke belakang merasa kasihan pada sahabatnya sekaligus atasannya itu, "Ah ya ampun.. tapi dia baik-baik saja kan dok?" tanya Roni lagi.


"Ya alhamdulillah beliau baik-baik saja. kini ia sedang tertidur karna dalam pengaruh obat bius" ujar dokter.


"Baiklah, terima kasih dok" ucap Roni dan dokter pun berlalu pergi. Roni pun menoleh pada pemuda disampingnya yang tampak takut sekali melihat wajah Roni.


"Hei kau!" panggil Roni.


"Ya tuan??" tanyanya.


"Kau harus biayai pengobatannya" seru Roni.


"Aduh.. uang saya tidak banyak tuan, itu mobil tadi punya kawan" ujarnya. Roni pun merasa kasihan juga pada pemuda itu. disatu sisi Daffa juga salah karna tidak melihat jalan sedangkan pemuda itu juga sudah berusaha menekan rem dengan mendadak.


"Baiklah, bayar setengah saja. ikuti aku" ucap Roni memberi kompensasi dan berjalan menuju administrasi untuk melakukan pembayaran.


Sesampai disana, Roni melihat jumlah perawatan Daffa diselembar kertas dan menyuruh pemuda itu mengeluarkan separuh pembiayaan. setelah membayar administrasi, Roni pun menyuruh pemuda itu untuk pergi karena urusan mereka yang telah selesai.


"Pergilah! hati-hati kalau bawa mobil" ucap Roni.


"Baik tuan, saya permisi" pamitnya.


Roni pun kembali keruang rawat dimana Daffa berada. Roni melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. sudah dua jam Daffa tertidur dan belum juga bangun.

__ADS_1


Tralala... tralalalala..


Suara ponsel berbunyi, Roni mencari sumber suara dan mendengarnya di saku celana milik Daffa. Roni pun segera merogohnya dan melihat siapa yang menelpon.


"Hallo Tuan" ucap Roni.


"Hallo Ron, om baru ingat kalau kita punya bukti bahwa wanita itu menjebak Daffa" ujar Papa Mahesa dari dalam telpon.


"Benarkah om?? syukurlah.. tapi om, sepertinya kami tidak bisa pulang hari ini" beritahu Roni.


"Kenapa? apa situasi proyek sedang kacau sekali?" tanya Papa kembali.


"Bu..bukan om. masalah proyek telah selesai. hanya saja.... Daffa kecelakaan om" adu Roni memandang sahabatnya itu.


"Aaa..apaa????!!!! Daffa kecelakaan??!" teriak papa Mahesa terkejut membuat Roni menjauhi ponselnya dari telinganya. disana, Mama Sonya yang mendengar teriakan papa tak kalah terkejut mendengar kabar anaknya kecelakaan. Mama Sonya pun segera mendekati Papa Mahesa.


"Hallo.. Roni, siapa kecelakaan?" tanya Mama merebut ponsel suaminya.


"Daffa tan, tapi...." belum selesai Roni melanjutkan perkataannya, panggilan telepon sudah terputus oleh mama Sonya. mungkin mama kini sedang histeris, pikirnya.


"Waduuh.. seharusnya aku jangan beritahu dulu" gumam Roni memukul jidatnya. ia pun melihat Daffa yang tak kunjung bangun lalu menduduki tubuhnya.


Kruyuk kruyuk


"Perihnya.. baru ingat belum makan. aduh daff, gue tinggal dulu yaa" pamit Roni dan berlalu pergi mencari makanan.


Diluar rumah sakit, Roni melihat ada pedagang bakso dan pecel lele yang berjualan diseberang jalan. tanpa berlama-lama, Roni segera kesana menyeberang dengan hati-hati agar tidak keteledoran seperti Daffa.


"Mas, baksonya satu yaa.." pinta Roni dan pergi kesebelah untuk membeli pecel lele. Roni memang memiliki nafsu makan yang besar apalagi sudah lama ia tidak memakan pecel lele.


"Pak, saya pesan pecel lelenya dua yaa dibungkus saja" pintanya.


"Siap mas"


"Saya kesebelah dulu, nanti saya jemput" ucapnya dan kembali ke pedagang bakso tadi. saking laparnya, Roni memakan cepat bakso itu dengan lahap.


Roni kembali keruangan Daffa dengan membawa tentengan plastik. Roni membuka pintu dan terkejut tidak melihat Daffa dikasurnya.


"Kemana dia?" gumamnya mencari Daffa.


Ceklek,

__ADS_1


"Astaga daff, kau dikamar mandi?" tanya Roni kaget.


"Yaiya emang kemana lagi? aaaw bahuku" gumamnya.


"Kau istirahat saja. bahu mu hanya bergeser tadi. apa lukamu sakit??" tanya Roni memegang perban dibahu Daffa.


"Aaw sial!! yaiya sakit!" teriak Daffa memukul lengan Roni.


"Hehe, ohya ini aku beli pecel lele. ku suapin yaa.. tanganmu kan belum bisa bergerak" ucap Roni mengingatkan.


"Ya ampun.. harus kau yang suapi? jijay banget gue" gerutu Daffa membayangi Roni menyuapi dirinya.


"Jadi harus siapa donk kalau bukan gue?" timpal Roni menaikkan sebelah alisnya.


"Gue saja. tangan kiri punya kok" ucap Daffa yang tidak mau Roni menyuapinya.


"Yaelah, terserah lo deh" pasrah Roni dan membuka bungkusan miliknya dan Daffa.


"Ni makan..dihabisin" ujar Roni memberi bungkusan itu.


"Terima kasih sob" ucap Daffa setelahnya mereka menikmati makanan itu dengan lahap.


Dua jam kemudian, beberapa orang memasuki rumah sakit setelah mendapatkan keberadaan orang tercintanya dirawat disana. mereka tampak tergesa-gesa dan menanyakan ruang rawat anaknya berada.


tok tok


Mendengar ketukan itu, Roni segera membuka pintu dan terkejut melihat Mama Sonya, Papa Adi dan Lulu sudah didepan matanya.


"Ron, jangan menganga nanti lalat masuk. dimana putraku??" ucap Mama Sonya berlalu masuk meninggalkan Roni yang terpaku.


"Daffa sayaaang....." teriak Mama Sonya menghampiri anaknya.


"Mama..papa... lu..lu.." teriaknya senang melihat orang tuanya dan beralih melihat istrinya yang datang membuat Daffa semakin gembira dan segera turun dari ranjang. sedangkan Lulu bersikap biasa saja karna masih marah pada suaminya itu tetapi mendengar suaminya kecelakaan, Lulu pun terkejut dan segera ingin menemui suaminya hingga mereka pun berangkat ke surabaya dengan menggunakan jet pribadi Papa Mahesa.


"Ku kira parah sekali, ternyata hanya luka sedikit"


°


°


°

__ADS_1


°


°


__ADS_2