
Tidak terasa hari sudah menjelang sore, waktu menunjukkan pukul 4. Daffa mengajak anak dan istrinya untuk kembali pulang ke kediaman mereka. Di dalam mobil, anak-anak sudah pada tepar, merasa kelelahan seharian ini berjalan-jalan mengelilingi Dufan dan menikmati wahana-wahana yang menegangkan.
Mobil melaju kencang memecah jalanan Ibukota yang tidak terlalu padat pada sore itu. Angin sepoi-sepoi menggoyangkan pucuk rambut Lulu, bergoyang kesana kemari menikmati desiran angin yang menyegarkan. Hening, Lulu keasyikan menonton drakor di Youtube pada ponselnya yang bermerek I-phone bergambar apel itu. Hingga tak jarang, ia juga sesekali tertawa menyaksikan adegan lucu yang membuat siapa saja pasti akan tertawa ngakak seperti yang baru saja Lulu alami. Daffa menoleh sekilas, menaikkan salah satu alis tebalnya ke atas lalu beralih pada kemudi bundar itu agar ia kembali fokus dalam berkendara.
"Gila, ketawa sendiri gak ngajak-ngajak" ucap Daffa memecah keheningan di mobil itu.
"Apaan sih, fokus aja bawa kami pulang" ujar Lulu dengan mata yang masih fokus menatap layar pipih itu.
"Pulang kemana? ke komplek atau ke-" ucap Daffa menatap sang istri.
"Ke Korea" ketus Lulu.
"Aaaaiish, pasti ketemu cowo klemer-klemer itu lagi" tebak Daffa.
"Enak saja bilang anak orang klemer-klemer! berotot juga mah itu" ucap Lulu membela oppa-oppanya.
"Otot darimana, gayanya saja kayak perempuan pakai lipstick gitu" gumam Daffa. sedangkan Lulu langsung tertawa melihat adegan tersebut dan tidak mempedulikan omongan suaminya.
"Yu, kamu suka drama korea gak?" tanya Lulu pada Ayu yang sedang memerhatikan jalanan.
"Eh, gak nyonya. saya doyannya serial India" jawab Ayu cepat. sepertinya Ayu memang mendengarkan pembicaraan mereka tadi walaupun ia tengah melamun menatap jalanan. Lulu pun manggut-manggut paham.
"Saya juga suka India, tapi lebih suka Korea. hihihi" ujar Lulu terkekeh. Sedangkan yang diajak bicara hanya tersenyum. Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa mereka telah tiba di kediaman itu. Lulu dan Daffa mengernyitkan dahinya, merasa bingung siapakah gerangan seseorang yang datang ke rumahnya dan meminta mohon pada penjaga untuk memasuki rumah.
Daffa menghentikan mobilnya tepat dibelakang punggung orang itu. Saat pria itu menoleh kebelakang, alangkah terkejutnya Lulu dan Daffa melihat orang yang tidak asing itu mendatangi mereka. Sedangkan Ayu tampak berfikir keras, seolah ia pernah bertemu dengan pria tersebut.
"Lu, apa-apaan itu!" tanya Daffa menatap Lulu dengan tajam. Ayu mendengarkan, tampak mulai bingung dengan Tuannya yang berubah menjadi devil.
"Aku gak tau yang. aku gak pernah bertemu dia lagi sejak Yura lahir" jawab Lulu dengan tenang walaupun dalam hatinya ia takut melihat wajah suaminya yang memerah seperti menahan amarah.
"Itu buktinya, kenapa dia disini!" geram Daffa.
Tok tok tok
__ADS_1
Pintu mobil diketuk oleh penjaga, Daffa membuka kaca jendelanya dan menatap mang Fais yang sedang menyapa dirinya.
"Ada apa?" tanya Daffa dingin.
"Tuan, seseorang itu ingin bertemu Ayu. maaf saya tidak mengajaknya untuk masuk karna saya tau harus mendapatkan izin dari Tuan dulu bila seseorang datang mencari pelayan rumah ini" jelas mang Fais. Daffa pun tampak berfikir, ia menatap Ayu entah mengapa ia heran bagaimana bisa Dimas mencari seorang Ayu.
"Suruh dia masuk, dan minggirkan motor itu!" perintah Daffa dan diangguki oleh penjaga itu. Daffa menutup kembali kaca jendela mobilnya, menanti seseorang itu untuk memasuki motor buntutnya ke pekarangan rumah.
"Yu, kamu mengenal pria itu?" tanya Daffa dari balik spion.
"Tidak, hanya saja seperti pernah ketemu" jawabnya sembari memainkan tangan.
"Kenapa pria itu ingin menemuiku?" gumam Ayu dalam hati. Sedangkan Lulu tengah menatap suaminya.
"Aku sudah bilang, dia ingin bertemu Ayu dan aku tidak tau apa-apa tentang ini" ucap Lulu.
Daffa mendengarkan walau tanpa menoleh pada istrinya.
"Yu, turunlah dan temui orang itu" perintah Daffa.
"Baik Tuan" turutnya lalu membuka pintu dan menuruni mobil untuk menjumpai pria asing tersebut. Sedangkan Daffa hanya berdiam, menatap mereka dari dalam mobil. Sedangkan Lulu merasa jengah pada suaminya, ia pun menuruni mobil sembari menggendong Fio yang tertidur didalam dekapannya.
"Eh kamu mau kemana?" tiba-tiba Daffa menarik tas mini yang dikenakan Lulu.
"Masuk kerumahlah!" ketus Lulu.
"Kau tidak boleh masuk sebelum dia pergi!" tegas Daffa.
"Hallo.... berfikirlah tuan Daffa.. dia hanya ingin bertemu Ayu!!" geram Lulu membuka pagutan tali tas yang melingkari lehernya lalu melepaskannya begitu saja. Lulu pun berjalan menghampiri mereka untuk memasuki kediaman tersebut.
"Shit!!" umpat Daffa membanting stir. Ia pun keluar mobil, dan membuka pintu belakang untuk menggendong kedua buah hatinya.
Disisi lain, Dimas yang berbicara pada Ayu merasa terkejut melihat mantannya masuk menyelonong kedalam rumah itu. kemudian ia melihat Daffa yang menggendong dua bocah ditangan kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Kenapa ada mereka?" gumam Dimas terheran.
"Mereka majikan saya. jadi ada apa anda kemari?" tanya Ayu membuang wajahnya ke arah lain.
"Ini, gelang anak yang kamu bawa itu tertinggal di depan tokoku" ucap Dimas memberikan gelang titanium balita yang memiliki ukiran nama Filio dan Fiona. Ayu melihat telapak tangan itu, membulatkan mata melihat gelang milik Lio yang berada ditangan orang tersebut.
"Oh ya ampun, pantasan saja gelang ini saya cari tidak ada" ucap Ayu mengambil gelang tersebut. sedangkan Dimas hanya tersenyum melihatnya.
"Mungkin bocah itu sengaja melepaskannya agar kita bisa bertemu lagi disini" ucap Dimas menatap lekat wajah manis dihadapannya. sontak Ayu terperangah dan menatap wajah pria tampan itu yang sudah memiliki rambut tipis disekitar dagunya.
"Maaf, anda ngawur. silakan pergi dan terima kasih atas gelang ini" ucap Ayu lalu melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Namun Dimas malah menahan tangan wanita itu membuat Ayu harus menghentikan langkahnya.
"Tunggu, Ayu. apa kamu bekerja dengan Lulu?" tanya Dimas yang mulai ingin tau.
"Nyonya? pantasan saja tuan tampak kesal melihat pria ini" gumam Ayu dalam hati.
"Ya. saya baby sitter anaknya" jawab Ayu enggan menatap pria itu.
"Kebetulan sekali, ternyata disini rumah mereka. jadi anak lelaki itu anaknya?" tanya Dimas kemudian.
"Tentu saja" ketus Ayu. Dimas pun manggut-manggut mengerti.
"Pantasan wajah anak itu gak asing. Ohiya, salam kenal ya, aku Dimas" ucap Dimas menjabat tangan milik Ayu.
"Sudah tau. permisi, saya masuk dulu" ucap Ayu lalu melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan pria tersebut.
"Apa aku harus datang lagi kesini?"
°
°
°
__ADS_1