
Dua minggu kemudian, Alhamdulillah kini psikologis Ayura sudah membaik, ia telah kembali ceria seperti biasanya. tidak mengingat kejadian beberapa waktu silam yang begitu menyayat hati seorang anak kecil seperti Yura. Hari-hari, Ayura selalu dikawal pengawal Daffa, membuat Yura sedikit malas bila terus dikawal. Namun demi keselamatannya, Ayura pun mengangguk, menerima alasan itu. Tidak hanya Ayura, Sakha, Aamira dan Shera pun sudah mulai membaik dari sebelumnya. Mereka enggan untuk sekolah, terus termenung mengingat kejadian itu hingga Ibu mereka memutuskan untuk memanggil psikiater anak.
Kini ke empat anak itu sedang mengikuti mata pelajaran oleh Ibu guru. Di kelas Ayura dan Sakha mereka sangat fokus memerhatikan bu guru yang sedang menerangkan mata pelajaran matematika. sangat rumit bukan? mata pelajaran yang kurang disukai oleh para murid namun ada juga yang menyukai mata pelajaran itu.
Tok tok,
Tiba-tiba seorang pria dewasa mengetuk pintu kelas itu dengan ditemani seorang anak lelaki yang mengenakan pakaian karate berwarna putih, anak-anak yang tadinya memerhatiin papan tulis kini teralihkan pada seseorang yang mengetuk pintu kelas. Ibu guru menghampiri orang itu, pria dewasa tersebut menjelaskan sesuatu tentang niat dan tujuannya. Karena kepala sekolah telah mengizinkan, Bu guru pun menyuruh mereka untuk memasuki kelas.
"Assalamualaikum dan selamat pagi anak-anak" sapanya menyampai kata sambutan.
"Waalaikumsalam dan selamat pagi juga" sahut mereka serempak termasuk Yura dan Sakha.
"Disini bapak ingin merekrut atau mengajak adek-adek semua untuk mengikuti latihan karate yang bapak bimbing sendiri. Jika adek-adek ada yang berminat untuk membela diri dan pandai dalam menguasai ilmu bela diri, boleh mendaftar pada bapak. Gratis tidak dipungut biaya. namun dalam perbulannya tentu saja kalian hanya membayar 500 ribu setiap bulan." jelas bapak itu.
Murid-murid pun saling berdiskusi, apakah mereka turut ikut atau tidak. begitu pun dengan Sakha dan Yura, dengan semangatnya mereka mengangguk cepat dan mengacungkan tangan kanan mungil itu.
"Pak, kami ikut!" teriak Yura mengacungkan tangannya.
"Mau ikut latihan karate? ini sangat bermanfaat untuk kalian bisa bela diri" ujar bapak tersebut. tanpa berpikir panjang, Ayura dan Sakha pun mengangguk cepat.
"Baiklah. nama kalian siapa?" tanyanya.
"Ayura Izzati Mahesa dan Rayshaka Ahmad" ucap Yura menatap mata bapak itu.
"Nama yang bagus." sahutnya tersenyum sembari menulis didalam buku catatannya. Hingga anak-anak lain pun turut mengacungkan tangannya dengan penuh semangat. hanya 70% anak yang ingin mengikutinya dan sisanya tidak mengacungkan tangan entah apa alasan mereka.
"Kita akan mulai besok hari pada pukul tiga sore yaa.. jangan lupa beritahu orangtua untuk meminta izin. jika tidak diizinkan, tidak masalah karna disini bapak tidak memaksa. Terima kasih atas waktu anak-anak semua dan juga bu guru karna kami sudah cukup menganggu proses pembelajaran.Assalamualaikum" ucapnya dengan sopan lalu beralih pada bu guru yang sedang berdiri didepan pintu. Bapak itu pun mengucap terima kasih banyak sudah diberi waktu luang kepada ibu guru.
__ADS_1
Proses pembelajaran pun kembali dimulai, anak-anak yang tadinya riuh kini kembali menatap papan tulis itu.
Hari sudah semakin terik, Ayura telah kembali kerumahnya bersama pengawal yang selalu setia bersamanya. Yura berlari kencang menuju ammi yang sedang serius mengajarkan si kembar menghafalkan surah-surah pendek Al-qur'an. Hingga kehadiran Ayura membuat Ammi dan adiknya terkejut.
"Kakak, mengganggu saja" gerutu Fio.
"Ammi, Yura ikut karate boleh yaa" ucap Ayura meminta izin pada Lulu.
"Boleh, tentu saja sayang" jawab Lulu tersenyum.
"Asyiiiik!! tapi besok mulainya, Mi. jam tiga kalau gak salah. Kita bayar 500 ribu sebulan" ujar Yura kegirangan.
"Organisasi karate yaaa datang ke sekolah?" tanya Lulu balik dan diangguki oleh Yura.
"Syukurlah. menurut ammi, kita harus pandai bela diri untuk menjaga dan melindungi diri kita dari orang jahat. Yura kalau minat harus serius ya nak, ikuti instruksi guru karatenya. kalau Yura sudah pandai, jangan gunakan untuk melawan orang yang tidak bersalah, jangan menyalahgunakannya. Bela diri hanya ditunjukkan saat diri kamu berada didalam ancaman" jelas Lulu memberi arahan pada sang putri.
"Iya mi, Yura paham sekali" ucap Yura memeluk ibunya.
"Aaaah ammi" rengek Yura cemberut lalu berlari ke tangga menuju kamarnya berada. saking senangnya, Yura pun berloncat-loncat diatas kasur.
***
Hari terus berganti dengan sangat cepat, waktu begitu cepat berlalu meninggalkan hari sebelumnya yang begitu banyak kejadian dan kenangan. Suster Ayu semakin hari semakin lengket dengan Dimas, si mantan Lulu yang berkhianat padanya. Lulu pun mulai mempercayai Dimas sejak ia menyuruh para pengawalnya untuk menyelidiki Dimas setiap waktu dan dalam jangka waktu dua minggu. tentunya itu rencana Lulu tanpa sepengetahuan orang lain. Lulu tidak ingin Suster Ayu terjebak dan terperosok kedalam lubang yang sama saat Lulu merasakan sakitnya di khianati dan diselingkuhi. Begitu pun Daffa, ia juga memerhatikan Dimas yang tidak pernah melirik istrinya sedikit pun hingga membuat Daffa juga turut mempercayainya. Dimas memang begitu mencintai suster Ayu sejak pertama kali bertemu didepan tokonya pada tempo lalu. tidak ingin mantannya berseteru dengan sang suami, Dimas pun bertekad untuk tidak melirik Lulu walaupun mereka tengah mengobrol bersama.
Hari ini Lulu mendapat kabar dari Ayu bahwa Dimas telah mendatangi kediaman orangtuanya yang berada di Bogor. Ayu memberitahu bahwa Dimas sangat nekad melamar Ayu didepan orangtuanya langsung. Hingga orangtuanya itu pun merestui niat pemuda tersebut karna mereka juga tau bahwa Ayu memang telah memiliki kekasih melalui curhatannya lewat telepon.
"Jadi kapan menikah?" tanya Lulu.
__ADS_1
"Seminggu lagi, Nyonya. maka dari itu Ibu menyuruh saya untuk meninggalkan pekerjaan sementara untuk mengurus pernikahan" ujar Ayu.
"Gercep amat si Dimas. tapi saya senang akhirnya ada yang mempersuntingmu" ucap Lulu tersenyum lalu ia pun memeluk pengasuh anaknya yang setia menjaga si kembar.
"Tapi setelah menikah, apakah kamu bekerja lagi?" tanya Lulu menatap wajah itu.
"Dimas hanya mengizinkan sampai saya mengandung" ujarnya. Lulu pun manggut-manggut mengerti.
"Jangan mengandung dulu ya, saya dan anak-anak sangat merindukanmu dan menginginkanmu lebih lama lagi disini" canda Lulu memeluk Ayu.
"Aah Nyonya, saya usahain kok tetap bekerja jika tuntutan jabang bayi tidak menyusahkan saya" ujar Ayu tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu untuk pulang ke Bogor ya, Nyonya. Dimas sudah menunggu" pamit Ayu beranjak berdiri. Lulu pun mengangguk, dengan wajah sedunya merelakan Ayu untuk meninggalkan rumah ini.
"Susteeeeeer!!!" teriak ketiga bocah yang menuruni tangga dengan cepat namun tetap berhati-hati.
"Hati-hati turunnya!" teriak Lulu menghampiri anaknya dengan cepat hingga Lulu pun menggendong si kembar dengan kedua tangannya. begitu pun Ayu juga ikut menggendong Ayura.
"Suster jangan pergi" pinta Fio dan Lio dengan wajah yang sendu hingga buliran air matanya ikut menetes deras ke permukaan pipi.
"Suster gak lama kok, nanti balik lagi kesini" ucap Ayu mengelus kepala bocah itu.
"Janji?" tanya Fio mengusap air matanya.
"Janji!" ucap Ayu dengan lantang memanggut jari kelingkingnya pada jari bocah itu. Fio, Lio dan Yura pun memeluk suster dengan waktu yang cukup lama.
°
__ADS_1
°
°