
Pagi tiba tetapi matahari tidak muncul pagi itu krna hujan yang mengguyur deras dipermukaan tanah ibukota. Daffa dan Lulu masih bermalas-malasan bangun saking enaknya tidur mendengar alunan air yang bersentuh tanah. Setengah jam kemudian,
Duuuuuuur!!!
Lulu tersentak bangun mendengar suara petir yang menggelegar digendang telinganya. membuat Lulu terkejut langsung memeluk dada suaminya.
"Jangan takut sayang" sahut Daffa mengelus kepala istrinya.
"Petirnya besar sekali" ucap Lulu.
"Oh ya ini jam berapa? kita harus kerja" sambung Lulu melihat jam didinding.
"Santuy saja.. kita seharian disini hari ini" ucap Daffa. lalu menghimpit tubuhnya Lulu membuat Lulu ternganga.
"Mau ngapain lagi ha?" tanya Lulu.
"Memakanmu" jawab Daffa.
"Makan apa?" tanya Lulu polos.
Daffa mengusap wajahnya kasar melihat istrinya yang begitu polos itu,
"Maksudku mencicipi anumu lagi" ucap Daffa penuh goda.
"Astaga, jangan.. aku masih ngantuk" elak Lulu.
"Kamu harus bekerja sayang. bukan dikantor tapi disini" ucap Daffa lalu menghap bibir Lulu membuat Lulu membulatkan matanya. maka pagi itu mereka melanjutkan pergumulan hebat itu hingga jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Aaaaah....melelahkan" gumam Lulu yang sudah merasakan lelah pagi itu.
"Lelah berganti nikmat kan sayang?" tanya Daffa.
"Eeemh, aku lapar" adu Lulu memegang perutnya. daritadi ia sudah merasakan lapar tapi saking nikmatnya permainan Daffa, Lulu menepis rasa lapar itu. cacingnya benar-benar tidak bersahabat.
"Baiklah, kita makan dulu. aku akan kebawah membawakanmu sarapan" ucap Daffa.
"Terima kasih sayang, emmmuach" ucap Lulu tersenyum lalu mencium pipi suaminya.
"Nakal".ucap Daffa lalu turun dari ranjang mereka.
Daffa turun dari tangga dan menuju dapur. Bibi yang sedang menyiapkan makanan untuk majikkannya, kebetulan sekali Daffa menemui mereka.
"Wah bi, kebetulan kalian sedang menyiapkan sarapan kami" ucap Daffa.
"Iya tuan, ini sudah hampir siang pasti tuan dan Nyonya sudah lapar" ucap bi Tuti.
"Terima kasih bi, biar Daffa yang bawa saja" ucap Daffa lalu membawa nampan itu.
Dengan berhati-hati membawa nampan yang penuh itu, Daffa mengetuk pintu untuk memanggil Lulu agar membuka pintunya.
__ADS_1
Ceklek,
"Aduh sayang, ini banyak sekali" ucap Lulu kaget pasti Daffa kesusahan membawanya.
"Biar kamu cepat besar" ketus Daffa membuat Lulu cemberut.
"Aku emang sudah besar kok" ucap Lulu melipat tangannya di dada.
"Biar makin besar" goda Daffa.
"Gendut dong???" ketus Lulu.
"Hahahahahaha.. benar. pasti lucu melihat badannya yang gempal" ucap Daffa membayangkan istrinya memiliki tubuh yang gendut.
"Yaudah aku gak mau makan" ucap Lulu merajuk.
"Yaelah merajuk pula. tidak kok sayang, aku hanya bercanda, ayo makan.. nanti sakit lagi" ucap Daffa menenangkan istrinya. Lulu pun langsung sumringah mendekati sarapan itu dan langsung melahapnya dengan penuh kenikmatan.
"Nafsu makanmu besar tapi dadamu datar" ucap Daffa meledek.
"Apaan sih, pergi saja balik sama Sheila itu!" ucap Lulu kesal. ia merasa dadanya tengah dibandingkan oleh Sheila yang montok itu.
"Maaf sayang, aku gak bermaksud" ucap Daffa, Lulu pun merajuk dan langsung meninggalkan suaminya yang duduk dibalkon.
"Salah ngomong lagi" gumam Daffa. lalu menyusul istrinya ke dalam kamar. Daffa menyusuri matanya disetiap sisi kamar, tetapi tidak melihat keberadaan istrinya. ingin menuju pintu kamar tetapi matanya sontak tertuju pintu kamar mandi yang tertutup. Daffa pun mendekatinya lalu mengetuk pintu itu.
"Sayang, kamu didalam??" tanya Daffa menempelkan telinganya di pintu.
tok tok
"Sayaaaang?????" panggil Daffa lagi. Lulu pun membuka pintunya dan segera menarik tangan suaminya ke dalam.
"Aduh sayang, kenapa kau menarikku?" heran Daffa. Lulu menutup pintunya kembali dan melepaskan kimononya yang membaluti tubuh telanjang itu. Daffa merasa sedang digoda, ia menelan air liurnya dengan kasar.
"Kamu tau kan cara membesarkannya?" tanya Lulu dengan suara sensualnya menatap mata Daffa penuh arti sedangkan tangannya berusaha membuka kancing celana suaminya.
"Tentu" ucap Daffa menatap mata Lulu seolah olah ia tengah dihipnotis oleh istrinya. tanpa menunggu lama, Daffa langsung merem*s kedua da** sang istri hingga terjadilah prmainan itu sekali lagi dikamar mandi hingga akhirnya mereka pun mandi bersama.
Kini Daffa dan Lulu sedang berpakaian, setelahnya Lulu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. tiba-tiba Daffa datang dan memeluk istrinya dari belakang.
"Ternyata kamu sangat nakal" bisik Daffa mencium rambut istrinya yang wangi.
"Supaya kau diam tidak membandingkanku lagi" ucap Lulu santai masih fokus pada rambutnya.
"Maaf, aku benar ga bermaksud" ucap Daffa membalikkan tubuh istrinya menghadap padanya.
"Baiklah, aku memaafkanmu kali ini" ucap Lulu memegang kedua pipi suaminya.
"Jadi sekarang, kita benaran tidak bekerja?" tanya Lulu kembali.
__ADS_1
"Tidak. ada Roni yang mengurus. kamu tenang saja sayang" ucap Daffa.
Dikantor, Sheila datang menginjakkan kakinya digedung itu. dengan gaya angkuhnya ia berjalan berlenggak lenggok membuat semua mata wanita sinis melihatnya. sedangkan para Pria, mata mereka tidak berkedip sedikit pun. kali ini pertama kalinya Sheila datang dengan memakai baju yang sangat terbuka.
Hingga ia pun menaiki lift menuju lantai yang ditempati dua penipu itu. Roni yang baru keluar dari ruangannya, tidak sengaja melihat Sheila yang datang. membuat Roni tidak suka.
"Mau apalagi wanita itu!" gumamnya dalam hati lalu mendekati Sheila.
"Ada apa kamu kesini!" ketus Roni.
"Mau menemui sekretarisnya! awas kau!" ucapnya mendorong Roni.
"Apa urusanmu dengannya?" tanya Roni mengikuti langkah kaki Sheila.
"Menghajarnya! berani sekali dia merebut Daffa dariku!" ucap Sheila geram.
"Hahahah kau sudah tau rupanya kalau dia istri presdir?" tanya Roni mengejek.
"Seorang Sheila apa sih yang tidak tahu, minggirlah kau!" ucapnya memasang wajah devilnya.
"Percuma kau kesana nona, sepasang suami istri itu tidak masuk kantor. mereka pasti sedang memadu kasih" ucap Roni.
"Mereka sedang ***-***" bisik Roni ditelinga Sheila. mendengar itu amarah Sheila kembali membuncah.
"Kurang ajar kau!! tidak usah memanas-manasiku! aku tau Daffa cinta mati padaku. tidak mungkin dia mau menyentuh si jelek itu" ucap Sheila berang.
"Terserah kau nona, kau itu hanya sampah. dipakai orang lalu dibuang, hahahahaha" ucap Roni menyindir Sheila. ya, kata itulah yang cocok untuk seorang Sheila yang cantik, montok tapi bekas. Sheila geram, ia tau apa maksud perkataan Roni. dengan amarah yang sudah membuncah ia menampar pipi Roni dengan kuat.
Plaaaaaak!!!!
"Kurang ajar kau kata-kataiku! lihat saja, akan ku hajar kekasihmu" ancam Sheila membuat Roni tertawa terbahak-bahak. Roni tampak tidak khawatir sama sekali membuat Sheila mengerutkan dahinya.
"Silakan apa yang mau kau lakukan nona" ucap Roni santai. Sheila tak menanggapinya, kini sasarannya bertambah satu orang lagi. ia keluar dari gedung itu dengan perasaan marah karna ulah Roni yang memojokknya.
Sedangkan Roni kembali keruangannya sambil memikirkan ancaman Sheila tadi.
"Kau tidak tau saja kekasihku seperti apa" gumamnya.
°
°
°
°
°
°
__ADS_1