
"Hehehe, tidak apa-apa tapi kurangi frekuensi dan waktunya serta jangan berhubungan terlalu sering. di trimester awal kandungan masih rentan karna sedang dalam masa pertumbuhan. Satu lagi, jangan melakukan ejak*lasi didalam va*ina karna bisa akan berdampak pada janin." jelas dokter membuat Daffa manggut dan lega. sedangkan Lulu merasa malu dengan pertanyaan itu.
"Memalukan! search google kan bisa. mbah google tau segalanya" gumam Lulu dalam hati menatap tajam suaminya.
"Jangan malu nona, tentang ini juga harus ditanyakan" ujar dokter seolah tau isi pikiran Lulu.
"Benar itu yang, gak ditanya kita kan jadi gak tau. akan bermasalah pada anak kita" timpal Daffa dan diacungi jempol oleh sang dokter.
"Baiklah, saya akan beri vitamin untuk ibu, silakan ditebus di apotik ya" ucapnya memberi secarik kertas kepada Daffa.
Daffa dan Lulu pun keluar dari ruang poli kandungan, berjalan ke apotik untuk menebus resep yang telah diberikan dokter. Lulu sangat bahagia, mengelus-elus perutnya dengan penuh rasa cinta.
"Sayang, aku baru sadar lho perutku membuncit" ujar Lulu.
"Aku mengira karna kamu banyak makan, ternyata sudah ada anak kita didalamnya" ujar Daffa mendorong kursi roda.
"Iya ya, kenapa gak kepikiran kesini ya" ucap Lulu bingung.
"Karna kamu tidak merasakan mual dan tanda lainnya. hanya saja porsi makanmu meningkat" ujar Daffa yang kembali mengingat saat Lulu memakan porsi yang tidak sedikit.
"Iya yang, kamu benar" ujar Lulu.
Telah tiba diapotik, Daffa segera menebus obat. sedang Lulu masih asyik mengelus perutnya dan melupakan sejenak rasa sakit yang masih menjalar di kakinya.
"Anak ammi, sehat-sehat ya sayang, cepat tumbuh besar. Ammi tidak sabar untuk memandangmu" ucap Lulu bicara dengan jabang bayi didalam perutnya. Lulu merasa senang tak terkira atas titipan tuhan yang telah diberikan untuknya.
"Ammi??" sahut Daffa yang mendengar gumaman Lulu.
"Eh yang, cepat amat. hihi, besok anak kita manggil aku Ammi dan kamu Appi" ujar Lulu tersenyum menampak jejeran giginya yang rapi.
"Lucu sekali, boleh juga. hai ucul appi.. sedang apa kamu boy? eh girl?? eh apa yaa" ucap Daffa mendekatkan kepalanya diperut Lulu, mengajak bayinya untuk mengobrol.
"Ah sayang, belum tau lho jenis kelaminnya" gerutu Lulu memukul lengan suaminya.
__ADS_1
"Hehehehe, habisnya appi senang banget mi. ayo kita balik ke kamar" ujar Daffa yang juga sangat bahagia lalu ia pun kembali mendorong kursi roda istrinya untuk tiba di kamar inap.
Sesampai diruang inap, Daffa mengangkat tubuh istrinya dengan hati-hati dan menaruh Lulu diatasnya. kemudian Daffa meraih obat untuk kakinya serta vitamin kandungan.
"Sayang, minumlah ini dulu. kebetulan kamu tadi sudah makankan" ujar Daffa membuka bungkusan obat setelahnya memberikan pada Lulu dan segelas air putih.
"Baiklah, demi cepat sembuh untuk uculku" ucap Lulu segera meneguk obatnya.
"Terima kasih ya yang, aku begitu bahagianya Allah telah menitipkan ucul kepada kita" ujar Daffa memeluk istrinya.
"Alhamdulillah, aku beruntung mobil itu juga tidak mencelakai ucul kita" sahut Lulu memejamkan mata sejenak dipelukan Daffa. Daffa mencium kening istrinya sebagai tanda sayang yang tak terkira.
"Sekarang tidurlah, sudah pukul sepuluh malam" ujar Daffa melepaskan pelukannya lalu membaringkan Lulu agar lekas tidur.
Keesokan paginya, Daffa sudah terbangun kemudian menatap sang istri yang masih terlelap. Daffa harus keluar, untuk membeli sarapan dan juga buah-buahan untuk memenuhi nutrisi sang istri dan anaknya. dengan langkah gontainya ia berjalan menyusuri koridor yang terlihat mulai ramai, sesekali Daffa tersenyum menyapa orang-orang yang menatapnya.
Setiba diluar rumah sakit, Daffa mengedarkan pandangan dimana ia harus membeli sarapan dan buah.
"Jeruk, apel, mangga, jambu biji, ini sajalah" gumamnya mengambil buah yang sudah dibungkus kedalam keranjang. Daffa pun mengelilingi supermarket, mencari apa lagi yang dibutuhkan sang istri.
"Susu! ya susu hamil, semoga Lulu menyukainya" ucap Daffa sumringah melihat jejeran susu hamil yang ada ditempatnya. Daffa mengambil semua rasa untuk sang istri agar Lulu tidak bosan mencoba satu rasa. setelahnya Daffa kembali ke kasir untuk membayar barang belanjannya.
Ditempat Lulu tepatnya diatas kasur ruang rawat, ia terbangun kemudian menatap sekeliling tidak melihat Daffa sama sekali. Lulu pun turun dari ranjang, berjalan tergopoh-gopoh menuju kamar mandi.
"Daffa kemana yaa? aduh sesaknya" gumam Lulu segera masuk dan menduduki tubuhnya di kloset pembuangan kotoran.
Daffa telah tiba, membuka pintu kamar dan tidak melihat Lulu diatas ranjang. Daffa pun menuju toilet yang pintunya tertutup lalu mengetuknya.
tok tok
"Sayang, kamu didalam?" teriak Daffa.
"Iya yang, emmmh..." sahut Lulu sambil mengedan mengeluarkan pup-nya.
__ADS_1
Daffa lega, ternyata Lulu tidak kemana-mana. kini ia menduduki tubuhnya di sofa sambil mengupas apel untuk ia berikan pada sang istri. Lulu telah selesai pup, berjalan menghampiri Daffa yang tengah serius mengupas mangga.
"Sayang, kamu ngapain?" tanya Lulu sambil berjalan.
"Eh yang, kenapa gak bilang-bilang sudah keluar" ujar Daffa kaget melihat istrinya. segera menghampiri Lulu lalu menggendongnya, menduduki sang istri diatas sofa.
"Ini, aku beli sarapan dan buah untukmu. makanlah dulu agar segera minum obat" ucap Daffa membuka box makanan yang ia beli tadi.
"Daffa perhatian sekali" gumam Lulu dalam hati menatap lekat sang pujaan.
"Jangan memandangku terus, nanti makin cinta padaku" ledek Daffa yang melihat Lulu melamun memandang wajahnya.
"Is pede amat sih! suapin.. aaak" ucap Lulu membuka mulutnya. satu suapan masuk, Lulu melahapnya dengan sangat nikmat.
"Heemm, enak banget. sekarang kau harus makan juga" ucap Lulu mengambil box makanan satu lagi yang dikhususkan memang untuk Daffa. namun Daffa lebih memprioritaskan istrinya terlebih dahulu.
"Buka mulutmu" pinta Lulu menyodorkan sendok di depan mulut Daffa. hingga mereka pun saling menyuapi pasangan dengan sedikit obrolan yang membuat Lulu tertawa.
"Jangan tertawa terlalu kencang, nanti kau tersedak" peringat Daffa.
"Kau lucu sekali, gigimu banyak nodanya. hahaha" ejek Lulu tertawa. Daffa sangat geram, ia tangkup kepala Lulu lalu mendorong ke wajahnya hingga Daffa pun membungkam mulut itu dengan mulutnya. mata Lulu terbelalak, sebab Daffa langsung melakukannya. namun, Lulu tetap menikmati hingga mereka saling memejamkan mata dan ******* dalam-dalam. beberapa menit mereka berpagutan, Daffa berpindah posisi menyelusuri leher jenjang itu hingga turun semakin turun meninggalkan bekas disekujur tubuh itu hingga akhirnya Daffa mencium perut Lulu dengan penuh kelembutan.
Tok tok tok
°
°
°
°
Jangan lupa beri VOTE, LIKE, HADIAH nya ya kakaak kalau menyukai ceritaku😊 tapi sebelumnya, di upgrade dulu apliksinya bgi yg blum 🙏
__ADS_1