Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
178. Melewati balkon


__ADS_3

"Lama amat sih yang, ngapain aja di dapur" tanya Lulu dengan wajah cemberutnya.


"Ngocok" ketus Daffa.


"Whaaaaat!!!!!" ucap mereka serempak mencondongkan badan ke depan menatap Daffa yang sedang mengelap meja.


"Kenapa? jangan kotor pikiran kalian!" ucap Daffa menatap mereka berdua secara bergantian.


"Lalu??" tanya Lulu penasaran.


"Ya aku mengocok jusnya lah agar larut semua" jawab Daffa.


"Ooooh begitu" ucap Lulu dan Roni secara serempak.


"Ngaduk kek, ini malah ngocok. piyee tooh" gerutu Lulu.


"Suka-suka ane, weeeek" ejek Daffa menjulurkan lidahnya hingga ia telah selesai membersihkan meja dan pergi ke dapur untuk menaruh kain lap yang sudah kotor tersebut.


Tiba di dapur, Daffa berpapasan dengan Bibi yang ingin mengambil air minum untuk dirinya. Bibi bingung melihat Tuannya membawa kain lap kotor tersebut.


"Tuan, kenapa pegang kain itu?" tanya Bi Tuti.


"Ini, habis bersihkan air di meja" jawab Daffa menaruh kain tersebut dan mencuci tangannya di wastafel.


"Waduh Tuan, kenapa tidak suruh Bibi saja?" tanya Bibi yang merasa tidak enak hati.


"Tidak apa kok Bi" ujar Daffa dan langsung pergi meninggalkan dapur.


"Tuan ini ada-ada saja" gumam Bibi.


Setiba di ruang keluarga, Daffa kembali membaringkan tubuhnya dipangkuan Lulu dan menaruh kakinya di pangkuan Roni hingga Roni yang fokus chatan dengan istrinya merasa terkejut dengan ulah Daffa.


"Sial lo! kaki tolong dikondisikan! gak sopan" ujar Roni mendorong kaki Daffa.


"Aaaaarkh Ron! siapa suruh kau disitu. duduk di karpet saja" ketus Daffa.


"Masa tamu duduk di karpet" gerutu Roni.


"Kau tamu gak diundang jadi duduk dibawah"ucap Daffa menendang paha Roni.


"Apa kalian tidak bisa diam? Ribut saja! lebih baik aku ke kamar" gerutu Lulu merasa jengah dengan kedua pria itu. Lulu pun bangkit namun kepala Daffa memberatkan pahanya. ia segera mendorong Daffa hingga ia tersungkur ke lantai.

__ADS_1


Pppfffft...


Hahahahahahah..


"Kena lo kan" ejek Roni tak ada akhlak.


"Sial lo!" umpat Daffa pada Roni.


"Sayang, jangan tinggalkan aku" ucap Daffa.


"Lanjut saja ributnya, jangan nyusul ke kamar!" ucap Lulu menegaskan pada suaminya.


"Baiklah" pasrah Daffa dan kembali menduduki tubuhnya di kursi sembari menonton televisi lalu mencari channel yang berfilm barat.


Sedangkan Lulu, sebelum ke kamar ia berjalan menuju ke dapur untuk membuat susu hamil miliknya. menuangkan dua sendok susu rasa strawberry lalu merebus air setelahnya menuangkan air panas tersebut ke dalam gelas yang berisi susu bubuk tersebut. Selesai, Lulu juga mengambil cemilan dan menaruhnya diatas piring dengan beragam cemilan yang akan ia santap sambil bersantai. Lulu berharap ia akan tenang sendirian dikamar tanpa ada keributan yang diperbuat suaminya.


"Sabar ya sayang, appimu selalu saja membuat ammi emosi. sekarang kita ke kamar ya biar tenang, nanti ammi kasih kamu susu ini rasa strawberry" ucap Lulu menatap perutnya seolah sedang berbicara pada sang jabang bayi yang entah sedang apa didalam sana. yang jelas, si jabang sedang bersemayam dengan tenang sembari berkembang dari minggu ke minggu.


Kini Lulu berjalan menaiki tangga, membawa nampan untuk menemani malamnya di kamar. dengan pelan dan hati-hati namun pasti hingga akhirnya ia telah tiba di depan kamar, membuka pintu lalu menutupnya. Lulu segera berjalan ke atas kasur, namun ia terlupakan sesuatu, ditaruhnya nampan diatas nakas kemudian melirik pintu yang ada dibelakangnya.


"Lebih baik aku kunci saja pintu ini agar monster itu tidak mengganggu" gumam Lulu segera menghampiri pintu dan menguncinya.


"Ini yang namanya surga dunia, duduk disini sendiri, menyantap cemilan dan menonton film favorite tanpa ada yang mengganggu" gumam Lulu dengan senyum semringahnya.


Ya begitulah, kadang kesendirian lebih membuat kita merasa nyaman tanpa ada yang mengganggu, dan tanpa ada kebisingan sama sekali. Apalagi kalau kita sedang emosi dan kesal, kesendirian lebih ampun mengobati rasa kesal dan emosi karena itu akan meredakan perasaan kita dan membuat kita sedikit tenang.


Dibawah, tepatnya di ruang keluarga, Daffa dan Roni sedang fokus menonton film romantis barat, apalagi saat ini ada adegan uwu-uwunya membuat Daffa dan Roni ternganga, dan mata yang enggan untuk berkedip. Daffa menelan salivanya dengan susah payah, sedang Roni hampir saja salivanya terjatuh akibat terhanyut akan adegan panas itu.


"Sial brooo... gue butuh istri sekarang" ucap Roni memandang lekat layar petak tersebut.


"Apalagi nasib gue brooo... mesti ngeluarin kecebong dari luar" ujar Daffa.


"Kok bisa?" tanya Roni menatap Daffa.


"Bini gue hamil, jadi ya gitulah, berhubungan tidak sesering dulu" jelas Daffa.


"Sungguh malangnya nasibmu sob, ternyata benar perkiraan bini gue, Lulu emang tengah hamil" ucap Roni.


"Kok bisa tau?" tanya Daffa yang penasaran.


"Lo ingat waktu party di pantai? porsi makan bini lo gede banget makanya bini gue nebak seperti itu" jelas Roni hingga Daffa pun manggut-manggut mengerti.

__ADS_1


"Yasudahlah, gue balik dulu pengen jagain bini gue" pamit Roni segera berdiri.


"Pergilah! lagian tamu gak diundang juga" usir Daffa membuat Roni sedikit jengkel. ia segera berjalan menghampiri pintu utama lalu menyalakan mobil dan menancapnya hingga meninggalkan kediaman Daffa.


Setelah kepergian Roni, Daffa segera mematikan televisi dan menyusul sang istri yang berada didalam kamarnya. menaiki tangga dengan cepat, berlari secepat kilat untuk menemui istrinya yang menggemaskan.


Ceklek,


Pintu tidak bisa dibuka, artinya pintu telah dikunci oleh Lulu. Daffa menggaruk kepalanya menatap pintu tersebut.


"Sayaaang, buka doong" panggil Daffa namun Lulu tidak menyahutinya.


"Sayaaang, oh sayaaaangku" teriak Daffa kembali.


Didalam kamar, Lulu menutup telinganya dengan bantal. suara Daffa yang nyaring memekikkan telinga Bumil tersebut. Lulu tidak ingin menyahutinya dan membiarkan Daffa berteriak sampai merasa lelah sendiri.


Daffa frustasi, ia berfikir sejenak cara memasuki kamar tersebut. Daffa segera berjalan menuju kamar sebelah, ia berencana untuk melewati balkon dari kamar itu.


"Kita lihat saja sayang, siapa yang akan menang" gumam Daffa tersenyum seringai. ia berlari memasuki kamar tersebut dan menuju balkon menggeser jendelanya dan menatap tembok yang akan ia langkahi.


Daffa segera berjalan dengan pelan memegang erat tembok tersebut layaknya seekor cicak yang sedang berjalan didinding. hingga dengan pelan namun pasti dan langkah yang penuh hati-hati akhirnya Daffa bisa bernafas lega. ia menatap istrinya yang sedang berselonjor sambil tertawa menonton drama korea tersebut ditambah lagi dengan cemilan yang tengah ia pegang, sangat menyenangkan sekali.


"Senang diatas penderitaan orang lain" gumam Daffa mengintip istrinya. untung saja Lulu belum menutup gordennya hingga Daffa bisa melihat istrinya walaupun tampak tidak terlalu jelas.


Daffa mengendap-ngendap agar Lulu tidak melihatnya, ia mencoba untuk menggeser jendelanya ke samping, Daffa langsung bersyukur sebab kali ini Tuhan mendukungnya seratus persen karna ternyata jendela itu tidak terkunci. Daffa membukanya dengan pelan, hingga Lulu masih tidak menyadarinya.


"Hai sayang" panggil Daffa yang telah masuk ke kamar itu.


"Sayang, kenapa kau bisa ada disitu?" tanya Lulu terbengong.


"Aku bisa melewati jalan manapun sayang" ucap Daffa tersenyum seringai. Lulu menatap jendela yang ada dibelakang suaminya, tampak terbuka hingga membuat Lulu menganga.


"Aku bahkan lupa menguncinya"


°


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2