
Kedua pasangan suami istri itu pun telah tiba di bandara. Roni dan Karin berpamitan kepada si empu yang punya jet alias sahabat Roni sekaligus Presdir-nya di kantor. keduanya memasuki jet, melambaikan tangan kepada Daffa dan Lulu. beberapa menit kemudian, pesawat mulai Take off. Daffa dan Lulu segera meninggalkan bandara untuk menuju perusahaan mereka.
"Sayang, kamu kasih apa ke Karin?" tanya Daffa penasaran.
"Secret!" jawab Lulu mengunci mulutnya dengan jari.
"Gitu yaa, main rahasia-rahasiaan" ujar Daffa sedikit merajuk.
"Kamu itu kepo saja! urusan perempuan" ujar Lulu hingga mereka telah tiba didepan mobil. Daffa langsung membuka kunci mobilnya dengan menekan sebuah tombol ditangannya.
Lulu memasuki mobil dengan segera, sedangkan Daffa mengitari mobil untuk ia masuki. setiba didalam mobil, Daffa memasang seatbeltnya dan menoleh pada Lulu yang duduk enteng menatap ke depan.
"Pasang seatbeltmu" titah Daffa.
"Gak lah yang, sumpek tau" tolak Lulu.
"Kita itu harus berkendara dengan aman, turuti perintah lalu lintas, nanti kenapa-napa dirimu sendiri yang rugi. ingat, disini ada anak kita" ujar Daffa memasang seatbelt untuk Lulu sembari mengelus perut sang istri yang keras kepala.
"Iya ah bawel" gerutu Lulu mencebikkan bibirnya.
"Jangan begitu, nanti ku gigit bibirmu" ucap Daffa. lalu segera menekan pedal gas mobil dan menjalankannya menuju kantor.
Hening, tidak ada percakapan lagi. Lulu asyik menoleh ke samping menatap jalanan yang padat. sedangkan Daffa tengah fokus berkendara. jalanan cukup ramai, masih banyak penduduk Ibukota yang berkendara menuju kantor dan tempat kerjanya untuk mencari pundi-pundi rupiah. ingin rasanya Lulu cepat tiba karna sudah rindu dengan Rani yang entah bagaimana kabarnya kini.
Ting,
Ponsel Lulu berbunyi, pertanda ada sebuah pesan yang masuk diponselnya. Lulu merogoh tas untuk mengambil ponsel miliknya. Lulu membuka layar, ada pesan dari Rani. Lulu segera membuka WhatsApp dan membaca pesan yang dikirimnya.
Kamu dimana? lama sekali
"Pucuk dicinta ulam pun tiba, sedang dipikirkan eh malah udah nongol" gumam Lulu menatap ponsel. Daffa menoleh sekilas menatap istrinya, mendengar gumaman Lulu membuatnya penasaran.
"Siapa yang kau pikirkan?" tanya Daffa.
"Eh, haa gak ada kok" jawab Lulu menoleh pada Daffa.
"Aku mendengar yaa, ayo siapa?" tanya Daffa.
"Hedeeeuh, Rani lho yang." jawab Lulu.
"Emang ada apa dengan Rani sampai kamu memikirkannya?" tanya Daffa.
"Rindu tau, dah lama gak jumpa" jawab Lulu.
"Istirahat nanti baru jumpa" ujar Daffa.
__ADS_1
"Haaaaaa???"
Mobil yang membawa Daffa dan Lulu telah tiba di perusahaan Mahesa 2. Halaman gedung tampak sepi hanya beberapa karyawan yang berlalu lalang keluar sembari membawa kertas. Daffa memakluminya, mungkin saja ada yang ingin memfotocopy lembaran kertas tersebut. Daffa segera memarkirkan mobilnya di Basement dan turun bersama Lulu sembari bergandengan tangan.
Daffa mengedarkan pandangannya menatap para pegawai yang tengah aktif bekerja sedangkan Lulu tersenyum kepada receptionist yang menunduk hormat padanya. kini keduanya menaiki lift menuju lantai tempat mereka bekerja.
Ting,
Pintu lift terbuka, semua pegawai terpana menatap Lulu yang begitu cantik hari ini. hingga Daffa berdehem melihat pegawai pria menatap Lulu dengan lekat, membuat Pria itu menundukkan kepala tidak berani menatap istri sang presdir.
"Kau lihat? mereka memerhatikanmu sampai segitunya. besok-besok kau jangan gunakan lipstickmu itu lagi. tambah lagi pakai pink-pink di pipi itu" omel Daffa.
"Dandananku biasa saja kok yang.. lipsticknya gak merah amat orang aku pakai yang warna oren batangnya" ucap Lulu.
"Jelas itu merah banget sayang, oren darimananya?" gerutu Daffa kesal.
"Aw ah! pergi sana!" usir Lulu yang segera duduk di bangkunya. sedangkan Daffa memasuki ruang kerja khusus CEO.
Lulu kesal, ia terus berdecak dengan mulut yang komat kamit dengan segala penuh umpatan yang keluar dari mulutnya. Lulu menyalakan komputer sembari bersedekapkan tangannya pada dada, menunggu loading komputer yang lamban tersebut.
"Woi!" seru seseorang mengejutkan Lulu.
"Astaga Ran, kau slalu saja mengagetkanku" ujar Lulu mengelus dadanya.
"Sebal gue sama bos lo" ujar Lulu memutar bola matanya merasa jengah.
"Lah, emang ada apaan? baru honeymoon sudah berantem" ucap Rani.
"Gak apa-apa. kepo lo! pergi sana , kerja!" usir Lulu.
"Baik deh, tapi kok kamu tampil beda sekarang ya?" tanya Rani memerhatikan wajah Lulu.
"Emang ada apalagi? bibir gue merah iya? kalian itu sama saja" gerutu Lulu.
"Kamu benar banget Lu, bibirmu merah banget lho" ucap Rani terkesima.
"Benar tebak gue, kalian sama saja. sudahlah pergi sana sebelum bos lo datang" ujar Lulu mengusir Rani. ia merasa kesal dengan Daffa dan Rani, selalu memojoknya dengan bibir yang begitu merah. padahal Lulu hanya memakai lipstick yang berwarna orange, yang dibelinya saat di Belanda. Lulu kesal, ia pun mengusir Rani.
"Iya-iyaa gue pergi. lo cantik banget, sumpah" ujar Rani memuji Lulu. setelahnya ia pergi meninggalkan meja Lulu dan berjalan menuju meja kerjanya.
Lulu melupakan sesuatu, yaitu rutinitas wajib membuat kopi untuk suaminya. kebetulan juga Lulu ingin meminum ice susu coklat untuk melegakan rasa kesalnya yang memanasi dada akibat ulah Daffa dan Rani. ia pun segera menuju pantri dengan langkah gontainya.
Setiba di pantri, Lulu mulai meracik kopi dan susu coklat, tidak perlu mencicipi rasanya karna sudah tau takaran yang sesuai dengan rasa manisnya.
"Perfect! kopi yang manis dan coklat yang manis pula. kini masuki es-nya" gumam Lulu. lalu ia mencari letak lemari es ternyata ada disebelah Ibu-ibu yang tengah mengolesi donat dengan cream.
__ADS_1
"Heeem, enak banget ya bu.. ada donat" ujar Lulu merasa tergiur melihatnya.
"Iya nyonya. apa nyonya mau?" tanya Ibu tersebut.
"Tentu bu, nanti bawain ya ke meja kerja Lulu" ucap Lulu dengan semringah.
"Baik nyonya, sekarang mau ambil apa?" tanyanya.
"Mau ambil ice, bu. hehe" ucap Lulu cengengesan.
"Hehe, mari saya ambilkan" tawarnya membuka pintu lemari ice dan mengambil ice tersebut menyerahkannya pada Lulu. Lulu mengambilnya dengan senang hati lalu memasukinya kedalam gelas tersebut.
"Hmmmm mantap." gumamnya. lalu menyerahkan sisa ice tersebut pada Ibu itu.
Lulu membawakan minumannya dengan nampan dan menyelonong masuk ke ruangan Daffa yang tengah sibuk mengurus pekerjaannya yang ditinggalkan oleh Roni. Daffa menatap Lulu yang baru saja masuk dan menghampirinya. menggeleng-gelengkan kepala menatap bibir Lulu yang masih kemerahan.
"Ini, minumlah" ujar Lulu menaruh kopi diatas meja.
"Setelah ini, segera bersihkan bibirmu yang merah itu" perintah Daffa namun Lulu tidak menghiraukannya dan segera keluar menuju pintu.
"Keras kepala!" gumam Daffa menatap kepergian istrinya.
Lulu merasa jengkel, ia menduduki tubuhnya sembari menyesap susu coklat dengan cepat hingga ia merasakan coklat itu memenuhi kulit sekitar bibirnya. Lulu segera mengambil cermin didalam tas, merabanya hingga ia dapati cermin berukurkan segi empat itu.
Lulu bercermin dan terkejut melihat bibirnya yang merah menyala.
"Ya ampun, bibirku kenapa jadi merah?" gumam Lulu terkejut.
"Ternyata benar apa kata Rani dan Daffa. aaaah!!" gumamnya kembali mengambil tissue dan membersihkan bibirnya.
"Kok bisa merah ya? padahal kemarin warnanya orange"
°
°
°
°
°
Hai readers 😊
Jangan lupa Like, Koment dan Hadiah poin-nya yaa 🙏😉
__ADS_1