
Dibawah, tepatnya di basement, Daffa dan Lulu berjalan menghampiri mobilnya namun mereka terkejut melihat Gibran dan Rani berdiri didepan mobil mereka.
"Ada apa?" tanya Daffa.
"Barang belanjaan kami, Tuan." sahut Rani.
"Oh iya, ini pergilah" usir Daffa menyerahkan paperbag berisi barang belanjaan Rani dan sebuah kresek.
"Thank you Tuan, byeee Lu" ucap Rani dan menghampiri mobil Gibran yang siap melaju.
Daffa dan Lulu memasuki mobil, membiarkan mobil yang lain keluar lebih dulu sebab mereka berada didepan mobil milik Assisten Roni yang dipegang oleh Daffa. Aman, Daffa pun menekan pedal gas mobil dan melajukannya memecah jalanan Ibukota yang ramai kendaraan apalagi ini ialah waktu pulang kerja setelah dari pagi beraktivitas.
"Sayang, aku lapar" rengek Lulu.
"Sabar yaa bentar lagi sampai rumah" ucap Daffa.
"Aku mau makan dijalanan yang. pengen rujak duduk di trotoar" pinta Lulu. seketika memdengar penuturan Lulu, Daffa terkejut bukan main. makan rujak tidak masalah, hanya saja duduk di trotoar membuatnya bingung dan tidak ingin menurutinya.
"Apa sayang? kau mau makan di trotoar?!" tanya Daffa terkejut.
"Aku cuma mau makan rujak aja di lesehan, kau yang duduk di trotoar" jelas Lulu.
"Apa?? aku?! kau gila?!" teriak Daffa yang semakin kaget.
"Ini permintaan si ucul, kau harus menurutinya! atau tidak, besar nanti dia akan mencakar wajahmu yang keriput itu!" ancam Lulu membayangi anaknya mencakar wajah sang ayah, membuat Daffa semakin merinding bila itu terjadi.
"Enak saja keriput! tapi jangan di trotoar dong, coba rayu lagi si ucul. masa tega biarin appinya makan disitu" rengek Daffa cemberut.
"No appi! no!" ujar Lulu meniru suara bayi.
"Baiklah" pasrah Daffa kembali menyalakan mobilnya setelah berdebat dengan Lulu. Daffa menekan pedal gas dan melajukannya mencari rujak disebelah kanan dan kiri jalanan.
"Aku harus mengenakan sesuatu agar wajahku tidak diketahui orang. ya, memakai topi dan kacamata." gumam Daffa dalam hati.
Beberapa menit kemudian, Daffa tiba disebuah toko pakaian pria yang lengkap. disana menjual semua pernak-pernik kebutuhan pria, tidak hanya pakaian namun accecories seperti kaca mata, topi, peralatan sholat, tasbih, dan masih banyak yang lainnya.
"Mau ngapain kesini?" tanya Lulu yang bingung. menyipitkan kedua matanya menatap toko itu.
__ADS_1
"Membeli kebutuhanku. kamu tunggu disini saja" suruh Daffa membuka pintu dan menuruninya.
"Aku ikut!" ujar Lulu melepaskan seatbelt yang membaluti tubuhnya dan membuka pintu mobil. Daffa membiarkannya saja, yang penting istrinya senang.
Di dalam toko itu, Daffa berjalan kesana kemari melihat barang-barang yang ia inginkan. Daffa mengambil kaos, celana pendek, kaca mata hitam dan sebuah topi. sedangkan Lulu duduk menunggu sang suami, namun matanya menangkap sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada dibenaknya. Lulu mengambil barang itu dan segera membayar ke kasir.
"Ini mbak, cepat bungkus" desak Lulu. Mbak itu pun segera menghitung belanjaan Lulu, dan menyerahkan paperbag padanya.
"Tiga ratus ribu" ucapnya pada Lulu. Lulu merogoh dompetnya dan membayar cepat hingga Lulu segera berlari menghampiri mobil untuk menaruh paperbag tersebut.
"Daffa harus mengenakan itu mulai dari sekarang dan seterusnya!" gumam Lulu menatap paperbag itu. setelahnya ia turun menghampiri toko itu kembali.
Dilihatnya Daffa sudah tidak ada, Lulu bingung dan mempertanyakannya pada Mbak kasir.
"Permisi Mbak, pria memakai kemeja biru muda tadi kemana ya?" tanya Lulu.
"Oh Mas ganteng tadi? pergi ke toilet, Mbak" ucapnya tersenyum.
"Ganteng?? enak saja memuji suami orang!" gumam Lulu dalam hati.
"Oh, terima kasih" ucap Lulu menatap sinis. lalu kembali duduk menunggu sang suami sembari menatap dua wanita penjaga kasir tersebut yang tampaknya tengah membicarakan Daffa. Lulu penasaran apa yang sedang di ghibahnya hingga Lulu beranjak dari duduk dan menghampiri gantungan kaca mata yang tersusun rapi hanya untuk menguping pembicaraan mereka.
"Tapi kayaknya sudah punya pacar yaa, ada wanita tadi yang duduk disitu"
"Tapi disini banyak lelaki mungkin saja pacar lelaki lain"
"Iya juga, eh itu dia sudah keluar"
"Ya ampun bening banget*"
Begitulah ghibahan mereka tentang Daffa, Lulu mendengarkannya semua hingga membuatnya sedikit kesal namun tidak memperdulikannya sebab Daffa adalah miliknya.
"Sayang, bagaimana penampilanku?" tanya Daffa menghampiri Lulu.
"Wah keren banget yang. ayo kita pergi" puji Lulu sembari menatap mereka yang melongo dan merangkul Daffa untuk meninggalkan toko tersebut.
"Yasudah ayo, kita akan makan rujak untuk ucul appi" ucap Daffa mengelus perut Lulu hingga kedua wanita tadi menjadi terperangah.
__ADS_1
"Ternyata mereka suami istri" bisik pelayan kasir itu.
Lulu tersenyum seringai, menghampiri mobil dan memasukinya. di dalam mobil, Daffa merogoh paperbagnya mengambil kaca mata, topi dan kumis palsu yang ia beli. Daffa mengenakannya hingga Lulu terperangah.
"Kenapa pakai itu semua?" tanya Lulu.
"Agar tidak ada yang mengenalku" jawab Daffa.
"Astaga, kau seperti akik-akik" ujar Lulu.
"Enak saja mulutmu! sudah perfect kan? sekarang kita jalan" ucap Daffa menekan pedal gas dan melajukan mobilnya.
Dalam beberapa menit, tibalah disebuah warung rujak. Lulu memesan satu porsi untuknya sembari menunggu di meja yang tersedia. dalam waktu berpisah, Daffa datang seolah tidak mengenal Lulu dan begitupun sebaliknya. Daffa tidak mau jika Lulu merasa malu apalagi ada orang yang tau kalau pria bersama Lulu adalah dirinya. Daffa memesan satu porsi rujak sembari berdiri menunggu pesanannya selesai.
Lulu yang tengah melahap aneka buah yang ditaburi bumbu rujak, ia terlihat menahan tawa saat menatap ekspresi suaminya yang seperti orang bingung. Daffa menatap Lulu sekilas, dalam hati pasti banyak sekali umpatan yang keluar namun hanya bisa ia pendam.
"Ini maumu kan Lu, senang kamu melihatku menderita" gumam Daffa dalam hati.
"Mas, ini rujaknya" ucap si bapak penjual rujak tersebut membuyarkan lamunan Daffa.
"Ah terima kasih pak, saya duduk disitu saja" ucap Daffa duduk di lesehan trotoar tersebut. hingga membuat si bapak bingung melihat tingkah pria itu. begitu pun dengan yang lainnya yang sedang asyik makan, menatap Daffa hingga mencibirnya.
"Pria itu kenapa malah duduk disana ya?" ucap seseorang.
"Entahlah, pria aneh" jawab temannya.
Sayup-sayup Lulu mendengarnya, tersenyum lebar melihat Daffa yang mau menurutinya dan anaknya, namun Lulu juga merasa kasihan melihat Daffa yang menjadi omongan orang-orang yang tengah memerhatikan suaminya itu. tapi mau bagaimana lagi, Ini permintaan si jabang bayi yang tiba-tiba Lulu menginginkan hal itu.
"Kamu senang nak, melihat appimu begitu?? kamu anak yang nakal" gumam Lulu menatap perutnya.
"Lihatlah perjuangan appimu saat ini, ia rela menuruti kemauanmu hingga orang-orang sini membicarakannya. kalau kau sudah lahir, kamu harus berbakti pada appimu" sambungnya Lulu dengan suara yang sangat kecil hingga orang tidak mendengarnya sembari mengelus perut itu.
Β°
Β°
Β°
__ADS_1
Maaf ya aku lambat update, pekerjaanku banyak hingga aku kelelahan dan tertidur. ππ