Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
235. Nyamuk kepala tiga


__ADS_3

Ceklek,


"Kak Varrell, ayo masuk" ajak Vivi tersenyum semringah. Varrell sang co-*** dokter itu pun mengedarkan pandangan menatap seisi rumah yang diketahui milik kakak kekasihnya yang baru berusia 16 tahun itu. Vivi menyuruhnya untuk masuk, namun Varrell tampak ragu.


"Ayo masuk saja" desak Vivi.


"Takut ah, nanti kakakmu marah lagi" ujar Varrell. Vivi pun memutar bola matanya merasa jengah. Ia pun menarik tangan kekasihnya yang sudah 11 bulan menjalin cinta. Ini untuk pertama kalinya Varrell menginjakkan kaki dirumah itu, Varrell pun terpaksa memasuki kediaman itu dan menduduki dirinya di sofa ruang tamu.


"Siapa yang datang, Vi?" tiba-tiba Daffa datang menghampiri mereka karna sayup-sayup ia mendengar kebisingan dari pintu utama saat Daffa baru saja membuat kopi untuk dirinya sendiri dikarenakan Bibi tengah menyetrika hingga ia enggan untuk mengganggunya.


"Eh kak, ini.. anu.. aduuuh" ucap Vivi merasa bingung. Daffa pun mengerutkan dahinya, merasa bingung dengan tingkah adik iparnya itu. Varrell pun segera berdiri dari balik punggung sang kekasih.


"Saya kak. maaf sudah lancang datang kesini" ucap Varrell sedikit menunduk.


"Oh kamu rupanya, tidak masalah. duduklah" suruh Daffa bernafas lega. Varrell pun kembali menduduki tubuhnya dengan tangan yang memegang jas putih dokter.


"Vi, buatkan minum untuk kekasihmu itu. jangan suruh bibi, mereka sibuk." perintah Daffa lalu berjalan menghampiri sofa dan menduduki tubuhnya berhadapan dengan Varrell. Vivi yang melihat kakak iparnya malah menghampiri mereka, hanya bisa tercengang dan menggaruk kepala. padahal mereka ingin mengobrol berdua namun malah datang satu nyamuk yang ingin mengganggu mereka.


"Kakak kenapa disini?" bisik Vivi ditelinga kakak iparnya.


"Menjaga kalian. pergilah" ucap Daffa. membuat Vivi berdecak kesal dan pergi meninggalkan mereka menuju dapur.


"Kak Daffa menyebalkan! malah jadi nyamuk" gerutunya kesal.


Di ruang tamu, Daffa menyesap kopinya sembari memandang Varrell yang tengah menatap kedepan. enggan menatap Daffa yang terus memperhatikannya hingga Daffa pun membuka percakapan untuk menghilangkan kesenyapan antara mereka.


"Bagaimana hubunganmu dengan Vivi?" tanya Daffa menaruh cangkir kopinya diatas meja dengan sedikit bunyi dentingan.


"Alhamdulillah, baik saja kak." jawabnya. Daffa pun mengangguk paham.


"Masih jadi co-as? kapan jadi dokternya?" tanya Daffa memperhatikan jas putih yang membaluti lengan pria itu.


"Sekitar satu tahun lagi kak, selesai wisuda, inshaallah" jawabnya tersenyum getir.

__ADS_1


"Bagus. kamu ambil spesialis apa?" tanya Daffa memberi pertanyaan beruntun.


"Spesialis paru" jawabnya kembali hingga Daffa pun kembali mangut mengerti.


"Jadi apa kamu serius dengan Vivi? kalau kalian menikah, dia boleh kan melanjuti sekolahnya?" tanya Daffa menatap lebih dalam.


"Serius kak. tentu saja boleh" jawabnya sembari menelan salivanya dengan susah payah. Daffa pun memilih diam sejenak, mengumpulkan pertanyaan yang ingin ia ajukan. Vivi pun datang dengan membawa nampan yang berisi dua gelas juice jeruk dan cake diatas piring. Varrell yang melihatnya merasa terpana akan kecantikan yang terpancar dari seorang Vivi. hingga Daffa memperhatikan Varrell yang tampak begitu lekat menatap adik iparnya itu.


"Mata tolong dikondisikan" ujar Daffa mengagetkan Varrell.


"Eh apa kak?" tanyanya bingung.


"Tidak ada" ucap Daffa enggan mengulang kembali ucapannya.


"Kak Daffa tidak pernah muda saja! dasar sudah kepala tiga" gumam Vivi dalam hati menaruh nampan diatas meja.


"Silakan minum sayang" ucap Vivi tersenyum menatap kekasihnya.


"Ehem!!" sontak mereka terkejut dengan kehadiran orang ketiga itu.


"Sayang sayang pala lo peyang" gumam Daffa dalam hati.


"Varrell" panggil Daffa kembali. Varrel pun menatap calon kakaknya itu.


"Ya kak?" sahutnya.


"Kakak minta satu pada kamu, jangan pernah sakiti adik iparku ini. bila kamu mencintainya, jaga dia jaga perasaannya. jangan kamu rusak dan menduakannya. bila kamu tidak mencintainya lagi, lepasin dia baik-baik. dia masih labil, belum mengerti cinta" ujar Daffa panjang lebar menatap serius kekasih adik iparnya itu.


"Baik kak, saya mengerti dan paham. lagian gak pernah berfikir untuk berbuat jahat padanya" ucap Varrell yang tak kalah seriusnya. Vivi yang mendengarnya pun tersenyum malu-malu, apalagi mendengar nasihat kakak iparnya yang begitu menyayangi dirinya.


"Baiklah, saya permisi dulu." ucap Daffa segera beranjak dari duduknya sembari membawa cangkir kopi. Daffa pun melangkahkan kaki meninggalkan mereka namun seketika terhenti sebab Vivi yang memanggilnya.


"Kakak" panggil Vivi. Daffa pun menatap adik iparnya.

__ADS_1


"Kak, jangan beritahu kak Lulu yaa" ucap Vivi namun Daffa hanya tersenyum getir tak menjawab ucapan adiknya. Ia pun kembali berjalan meninggalkan sepasang dua sejoli itu.


"Pasti dia akan memberitahunya. ah kak Lulu, akan banyak pertanyaan nanti kalau dia tau" gumam Vivi mengoceh.


"Tenang saja. aku siap kok menghadapi semuanya" ujar Varrell menggenggam tangan Vivi. membuat Vivi tersenyum getir lalu memeluk kekasihnya.


Di kamar, Daffa memasuki kamar miliknya bersama sang istri. tampak Lulu tengah menyusui Fio, sedangkan Yura sudah tertidur disamping sang ammi. Daffa pun menaruh kopinya diatas nakas, lalu melihat Lio yang tertidur pulas didalam ranjangnya.


"Anak bujang appi" gumam Daffa mengelus pipi bayi itu sembari tersenyum.


"Jangan ganggu! dia baru saja tertidur" ucap Lulu dengan suaranya yang pelan. Daffa pun menghentikannya, menatap Fio yang tengah menyedot gunung sang ammi.


"Setelah Fio, aku lagi yang mimik ya" ucap Daffa tersenyum seringai, berbisik ditelinga sang istri dengan nada bicara sensualnya.


"Sinting kamu! awas ah" gerutu Lulu. lalu menutup kembalu gunungnya dengan sangkar lalu beranjak berdiri untuk menaruh Fio kedalam ranjangnya. Daffa pun langsung memeluk Lulu dari belakang, memerhatikan Fio yang sedang ditaruh dengan hati-hati.


"Mereka bibitku yang sangat lucu" ucap pelan Daffa lalu mengecup tengkuk leher sang istri. membuat Lulu bergeliat kegelian.


"Jangan mulai lagi! kamu harus berpuasa seperti dulu" ucap Lulu menatap tajam pada suaminya yang menatap dirinya dari samping.


"Iya tau. aku hanya ingin mencium aromamu" ujar Daffa sedikit mendesah.


"Awas nanti tongkat akan keras lagi" peringat Lulu.


"Aku akan menyelesaikannya sayang" ucap Daffa lalu membalikkan tubuh sang istri untuk menghadap kearahnya. Lulu menatap mata itu, mata yang penuh nafsu seakan ingin menerkam mangsanya. Lulu memundurkan langkahnya sedikit menjauh, namun Daffa yang mengerti akan gerakan Lulu langsung mendorong tubuhnya hingga menempel pada tubuh Daffa. Lulu tersentak, matanya melotot, Daffa tersenyum seringai dan langsung ******* bibir sang istri. Lulu yang hanya diam, tidak merespon permainan Daffa, hingga ia pun luluh dan membuka mulutnya lebar-lebar membiarkan ular merah muda itu menelusuri dalam mulutnya hingga hasrat mereka semakin menggelora. tubuh Daffa sudah mulai mengerang, tongkatnya sudah keras namun Daffa menepisnya dan melanjuti perciuman panas itu.


"Ammi....." panggil Yura. sontak Daffa dan Lulu pun terkejut dan melepaskan pagutannya.


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2