
Selesai, Rani telah membuat kopi hasil racikannya. ia memberikannya pada Lulu dengan senyum semringahnya. Lulu menatap kopi itu, merasa takut apabila ia memberikannya pada Daffa.
"Ambillaah" suruh Rani.
"Apa kau gila? yang ada dia tambah marah padaku" ujar Lulu menyedekapkan kedua tangannya didada. Rani menghembus nafas kasar, ia harus menjelaskan ide ini walau sedikit gila. ditaruhnya gelas itu diatas meja dan mulai menceritakan idenya pada Lulu.
"Begini sayang, maaf ya.. mungkin ini sedikit menyakiti kalian" ujarnya.
"Haaaa????" heran Lulu menyipitkan matanya.
"Kamu beri kopi hangat ini padanya, saat mau memberikan kamu pura-pura tersandung dan menumpahi kopi ini ke baju kalian" jelas Rani.
"Gila kamu! kopi ini panas, yang ada dia marah besar. ya ampun.. ide gila!" gerutu Lulu.
"Tunggu dulu!! kulit kalian pasti dong melepuh yaa, terus kamu bersihin bajunya, buka bajunya dan obati lukanya. begitu pun denganmu, usahain tanganmu yang terkena, kalian akan saling panik deh dan dia akan perhatian samamu" jelas Rani dengan panjang lebar.
Lulu membayanginya, apakah ini akan berhasil atau tidak. tapi boleh juga dicoba, membuat Lulu penasaran walaupun berhasil 60%. Lulu mengambil gelas itu dan berjalan melewati Rani yang tersenyum senang.
"Aku akan coba, awas kalau gagal!" ucap Lulu segera pergi meninggalkan Rani. Rani mengikutinya, Lulu mengetuk pintu ruangan Daffa namun tidak ada sahutan.
"Buka saja" suruh Rani dan diangguki oleh Lulu. Lulu membuka pintu itu namun yang ia cari tidak ada, Lulu mengedarkan pandangan, mencari ditiap sudut namun tetap saja ia tidak mendapati suaminya.
Rani menunggu diluar tetapi ia melupakan sesuatu.
"Kotak p3k!" gumamnya. segera berlari ke ruang darurat untuk mengambil kotak itu. ya, ruang darurat apabila ada yang mengalami tidak enak badan. sama seperti UKS namun ini adalah versi perusahaan.
Lulu segera keluar dengan perasaan bingungnya, entah kemana Daffa berada hingga membuatnya sedikit pusing. Lulu membuka pintu, namun tidak juga melihat Rani.
"Kemana lagi dia?" gumam Lulu mencari Rani. pucuk dicinta ulam pun tiba, Rani kocar kacir menghampiri ruang presdir namun ia terkejut melihat Lulu yang masih membawa segelas kopi.
"Loh, gak jadi?" tanya Rani yang bingung.
"Orangnya gak ada" jawab Lulu.
"Waduh, kemana presdir?" tanya Rani.
"Meneketehe" jawab Lulu yang mulai jengah. Rani pun berfikir, dimana presdirnya berada. kebetulan ada yang lewat, Rani pun berinisiatif untuk menanyakannya.
"Mas, lihat presdir gak?" tanya Rani.
"Heem, kayaknya tadi pergi memasuki lift deh. kebetulan saya tadi satu lift dengan Tuan" ucapnya.
"Terus kamu lihat gak dia menekan lantai nomor berapa?" tanya Lulu yang ikut nimbrung.
"Lantai berapa yaa?? lantai puluhan gitu tapi saya lupa nomornya Nyonya" ucap si mas tersebut.
"Yasudah terima kasih ya" ucap Lulu tersenyum. pria itu pun menunduk hormat pada Lulu dan kemudian pergi ke meja kerjanya.
Lulu berfikir untuk apa Daffa ke lantai yang paling atas tersebut. Rani pun tak kalah pusing mengurusi dua orang ini namun ia tetap ingin membantu sahabatnya agar kembali baikkan lagi.
__ADS_1
"Ayo ikut aku" ajak Lulu menarik tangan Rani.
"Kemana?" tanya Rani.
"Ke lantai dua puluhan" jawab Lulu dengan tangan yang masih membawa segelas kopi. tibalah di lift, Lulu segera menekan tombol nomor akhir di gedung itu. Rani terkejut, kenapa Lulu membawanya ke lantai paling atas.
"Kenapa lantai paling atas?" tanya Rani.
"Biasanya orang galau suka menyendiri ditempat yang paling sepi" ujar Lulu saat mengingat dirinya yang pernah ke lantai paling atas untuk menghindari Daffa sebelum menikah. Rani diam saja dan menuruti ajakan Lulu. hingga tibalah dilantai itu, sangat sepi hanya beberapa pegawai yang ada disana.
"Tidak nampak dimana presdir" ujar Rani mengedarkan pandangannya ke sembarang arah.
"Kita harus naik tangga. disana ada tangga" ucap Lulu menarik tangan Rani hingga mereka pun telah tiba didepan tangga. Lulu menaikinya dan menyuruh Rani tunggu dibawah.
"Kamu mau ngapain?" tanya Rani.
"Tunggu saja disini. jangan kemana-mana" perintah Lulu lalu membuka sedikit pintu tersebut dan mengintip area luar. sayup-sayup ia melihat sosok suaminya yang tengah termenung menatap pemandangan Ibukota. Lulu berjalan mengendap-ngendap menghampiri suaminya.
"Waduh, kopinya tidak hangat lagi" gumam Lulu memegang gelasnya.
Rani yang penasaran pun segera naik dan mengintip Lulu dari celah pintu.
"Oooh ternyata ada Presdir disana" gumam Rani yang masih mengintip.
Daffa, ia menatap ke bawah dari atas sana. orang-orang dan kendaraan tampak sangat kecil seperti semut. tidak ada pepohonan didepannya, hanya ada gedung yang menjulang tinggi yang berjejeran di Ibukota itu. Daffa termenung memikirkan ucapan Lulu bahwa kemarin Lulu bertemu dengan mantannya. hatinya sakit, rasanya seperti teriris-iris. beginikah rasanya saat orang yang kita sayang masih bertemu dengan mantannya?? sekejap Daffa pun juga merasakan apa yang dirasakan oleh Lulu waktu itu saat dirinya masih bersama Sheila. namun dengan perasaan yang ditutupi, Daffa sangat salut pada istrinya yang tidak menunjukkan rasa sedih didepannya.
"Kenapa bisa sampai disini" gumam Daffa ddidalam hati.
Dua meter jarak mereka, Lulu berusaha untuk tersandung. tapi dengan apa? tidak ada bebatuan atau apapun yang bisa membuatnya terjatuh hingga Lulu punya rencana untuk meng-keseleokan kakinya yang kebetulan memakai high heels.
Aaaaaw...
Rintihnya keseleo hingga kopi yang ia bawa menyembur ke pakaian Daffa hingga Daffa merintih kepanasan akibat kopi yang masih hangat itu. begitu pun tangannya juga terkena air hangat kopi hingga memerah.
"Aduuuh perihnya" rintih Lulu mengibaskan tangan dan tangan satunya memegang pergelangan kaki.
"Aku berharap ini ampuh. Rani.... ide gilamu membuat tanganku terluka" gumam Lulu dalam hati.
"Sa..sayang,, kamu tidak apa?" tanya Daffa meniup tangan istrinya.
"Tidak, tubuhmu pasti melepuh juga. aku buka bajumu" ujar Lulu terbata-bata membuka kancing baju milik Daffa, ternyata benar kulit perutnya terkena siraman air hangat kopi tersebut.
"Ya Allah, maaf yang" ucap Lulu menatap wajah suaminya yang sayu menahan perihnya itu.
"Tidak apa. kakimu, tanganmu," ucap Daffa terpotong.
"Tidak apa, tidak masalah, aku akan ke bawah ambil obat" ucap Lulu segera pergi namun langkahnya terhenti sebab Daffa menarik tangannya.
Eeemmmh..
__ADS_1
Daffa mencium bibir yang bergemetaran itu, Daffa tampak kasihan dengan istrinya yang gugup. mata Lulu melotot melihat Daffa yang mencium bibirnya.
Disana, dibalik pintu, Rani yang mengintip langsung ternganga melihat mereka yang tengah berciuman. Rani menelan salivanya dengan kasar namun ia tersenyum melihat pemandangan langka itu.
"Mataku ternodai" gumam Rani yang enggan matanya berkedip.
Ditempat Lulu, ia segera melepaskan pagutannya dan segera pergi meninggalkan Daffa sembari tersenyum gembira.
"Akhirnya...." gumam Lulu berjalan cepat menahan sakitnya kaki yang keseleo. Daffa tersenyum memandang istrinya, lalu menatap perutnya yang kemerahan.
Dibalik pintu, Lulu mengatur nafasnya saat telah berhadapan dengan Rani yang tersenyum sumringah.
"Lelah banget" ujar Lulu dengan perasaannya yang dag dig dug.
"Berhasil juga kan?" tanya Rani dengan bangganya.
"Syukur deh. tapi ide gila lo ini ya ampun, kaki gue ke seleo" ujar Lulu.
"Gue gak nyuruh yaa hanya berpura-pura kesandung" ujar Rani mengangkat sebelah alisnya.
"Ya ya ya, mari sini kotak obatnya" pinta Lulu.
"Ini, enak banget yaa habis berciuman" ledek Rani.
"Sial lo! ngintip ya! pergi sana!" usir Lulu.
"Cie cie yang baikkan, saat senang baru mengusir gue" ujar Rani.
"Apaan sih, pergi sana! kami mau berduaan dulu" ujar Lulu mengusir Rani.
"Ya ya, baiklah. byeeee" ucap Rani segera pergi meninggalkan Lulu. Lulu kembali menghampiri Daffa dengan membawa kotak obat. Daffa menduduki tubuhnya disebuah kursi yang tidak terpakai namun masih terlihat bagus sembari mengibas perutnya.
"Sayang, ini obatnya. akan ku obati" ucap Lulu yang mulai mengobati luka perut suaminya. hingga beberapa menit kemudian, telah selesai dan bergantian Daffa yang mengobati tangan istrinya.
"Terima kasih" ucap Lulu memandang wajah itu. Daffa hanya tersenyum memandang lekat wajah istrinya hingga angin yang kencang membuat rambut Lulu menutupi wajahnya.
"Masih marah?" tanya Lulu.
"Tidak, asal kamu tidak bertemu lagi dengannya" ucap Daffa merapikan rambut Lulu yang diterpa angin. Lulu segera memeluk suaminya yang bertelanjang dada.
Β°
Β°
Β°
Tiga bab yaa.. π
Semoga besok bisa tiga bab lagi π
__ADS_1