Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
245. Membujuknya dengan ini?


__ADS_3

"Apa aku harus datang lagi kesini?" gumam Dimas tersenyum lebar menatap punggung Ayu.


"Ya! itu harus! dia sangat manis dan pemalu" gumamnya. Dimas pun menaiki motornya, dan meninggalkan pekarangan rumah itu sembari tersenyum.


Didalam rumah, Ayu berjalan menaiki tangga menuju kamar si kembar. Ayu berjalan cepat sembari menatap gelang milik anak asuhnya itu. sayup-sayup ia mendengar seruan Daffa yang mengatakan hal buruk tentang Dimas. Ayu terdiam sejenak, menguping dari balik pintu yang terbuka.


"Kamu tau, dia aja menatapmu sampai kamu masuk rumah. aku tau pasti dia merencanakan sesuatu untuk bisaa mendapatimu kembali melalui Ayu" ucap Daffa kesal.


"Diamlah, Daff! kalau iya dia mau merebutku darimu pasti dari dulu ia akan melakukannya!" berang Lulu lalu menubruk badan suaminya dan berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Namun langkahnya terhenti sebab melihat Ayu dari balik dinding itu.


"Ayu?" ucap pelan Lulu menatap Ayu yang tengah menunduk.


"Nyonya, maaf.. lelaki itu sebenarnya ingin memberi gelang milik Lio yang terlepas tepat didepan tokonya" ucap Ayu memberikan gelang tersebut. Lulu pun mengambilnya dan menatap gelang itu.


"Bagaimana bisa gelang itu ada ditangannya?" tiba-tiba Daffa menghampiri mereka yang sedari tadi mendengar penjelasan Ayu.


"Hmm, waktu itu saat mau mengambil barang yang ketinggalan ke toko, saya titipkan anak-anak pada pemuda itu.. sedangkan Nyonya pergi ke toilet bersama Yura" jelas Ayu yang pastinya itu berbohong. Ia tidak mau kalau Tuannya tau bahwa Lio sempat menghilang. Daffa pun menatap Ayu dan istrinya secara bergantian, lalu berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Lulu menatap punggung suaminya, kemudian ia berjalan memasuki kamar si kembar untuk memasangkan gelang itu pada Lio yang tertidur. Ayu mengekorinya sembari menatap punggung majikannya itu.


"Nyonya, maaf saya berbohong pada Tuan" ucapnya dengan pelan.


"Tidak apa, malah itu lebih baik daripada dia tau pasal Lio yang hilang" ucap Lulu memasangkan gelang itu.


"Nyonya, pria itu saja kaget melihat nyonya dan tuan berada dirumah ini" adunya.


"Iya yu, saya percaya kok.. saya yakin Dimas tidak seperti yang ada dipikiran Tuan" ucap Lulu tersenyum. Ayu pun membalas senyuman itu.


"Jadi dia sudah punya toko? toko apa?" tanya Lulu kepo.


"Distro pakaian pria, Nyonya. dia juga tampan" jawab Ayu sedikit tersenyum tipis.


"Heeem... mulai tertarik yaa" ujar Lulu menerka-nerka dari balik wajah yang bersemu merah itu.


"Ah nyonya, mana mungkin. saya salut saja, dia sangat baik mau mengantarkan gelang itu" ucap Ayu polos.

__ADS_1


"Tapi Yu, bagaimana dia bisa tau alamat dan namamu?" tanya Lulu heran dan bingung.


"Itu karna Lio yang memberitahunya. dia juga bilang saya jomblo, Astaghfirullah" ujar Ayu menepuk jidatnya sembari menatap bocah lelaki yang terlelap sangat nyenyak. Lulu pun terkekeh mendengarnya, anaknya memang betul-betul usil. Seketika Lulu teringat akan dirinya yang tempo lalu menulis alamat dan nomor ponsel milik Tari didalam secarik kertas untuk Ferdi. Lulu pun menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat kejadian itu sembari tertawa pelan, membuat Ayu begitu heran.


"Kenapa Nyonya?" tanyanya.


"Eh, tidak ada. saya merasa lucu aja. mungkin itu jalannya agar kamu cepat-cepat nikah" ucap Lulu.


"Ah Nyonya, walaupun umur saya 27 tahun tapi belum kepikiran untuk menikah" ujarnya.


"Kamu sudah tua, mending sama Dimas itu saja. tidak terlalu jauh dengan kamu, dia masih 33 tahun kok" ucap Lulu tersenyum simpul.


"Saya tidak mengenalnya, belum tau dia lelaki seperti apa" ujar Ayu membuat Lulu terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Dimas itu brengsek, tapi dulu. sekarang aku gak tau sifatnya seperti apa, apakah ia masih suka bermain wanita? mengingat dia yang sepertinya sudah cukup tajir. kasihan sekali Ayu bila memasuki lubang yang sama seperti yang ku alami dulu" gumam Lulu dalam hati.


"Nyonya kenapa?" tiba-tiba suara Ayu membuyarkan lamunan Lulu. Lulu pun tersentak dan menatap wajah pengasuhnya tersebut.


Lulu pun meninggalkan kamar si kembar dan berjalan menghampiri kamarnya, Lulu tampak melamun memikirkan Ayu yang sepertinya diincar oleh Dimas.


"Ah mungkin saja hanya sekedar memberikan gelang itu. siapa tau dia sudah menikah dan memiliki anak. mengapa pikiranku terlalu jauh?" gumam Lulu sembari menggigit kukunya.


Bruk!!


Lulu yang melamun pun tidak melihat jalan hingga ia menubruk pintu kamarnya yang tertutup. Lulu mengelus dahinya, merasa sedikit sakit terkena jedotan itu.


"Aduuuuh.. perihnya." rintih Lulu meringis lalu membuka pintu kamarnya. Lulu mengedarkan pandangan, tidak terlihat dimana suaminya berada. Sayup-sayup ia mendengar percikan air yang terjatuh dilantai, Lulu menoleh menatap pintu kamar mandi dan menganggukkan kepalanya bahwa Daffa tengah mandi didalam sana.


"Oh, dia mandi" gumam Lulu mengerti. Lulu pun berjalan menuju balkon, menduduki tubuhnya dikursi itu sembari melihat pemandangan alam sekitar.


Tak berapa lama ayah beranak tiga itu keluar dari kamar mandi dengan handuk biru tua yang meliliti pinggangnya, tangan kanan yang memegang handuk kecil mengusap rambut klimis hitam pekat dan berponi milik Daffa. Apalagi wajahnya yang terlihat sangat segar, tiada berminyak, tiada kusam dan tiada jerawat sedikit pun. hanya saja bulu-bulu tipis yang tumbuh di sekitar dagunya. Sayup-sayup Daffa mendengar senandung nyanyian dengan suaranya yang merdu, Daffa menoleh ke asal suara, tampak Lulu yang sedang karaoke di Aplikasi Wesing. Dimana aplikasi itu ialah tempat adu suara dan berkolaburasi didalamnya. Suara cempreng dan suara merdu bergabung menjadi satu di Aplikasi tersebut.


"Nyanyi pula" gumam Daffa membuang handuk kecilnya diatas kasur, sedangkan dirinya melangkahkan kaki menuju ruang ganti untuk berlekas memakai pakaian santainya.

__ADS_1


Lulu sudah mulai merasa bosan di balkon itu, tidak terasa sudah cukup lama ia berada disana. Lulu menyimpan kembali ponsel kedalam saku baju yang ia kenakan, memasuki kamar dan terkejut melihat suaminya yang sudah berselonjor diatas kasur sembari menonton televisi.


"Sudah selesai mandi?" tanya Lulu.


"Hm" jawabnya singkat tanpa menggerakkan bibirnya. Lulu pun memutar bola matanya, menuruni sebelah bibirnya lalu mengambil handuk dan berjalan dengan malas memasuki kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Lulu telah selesai membersihkan dirinya. Kulit mulus yang terlihat dari leher hingga atas dada lalu dari paha hingga mata kaki, membuat Daffa menelan air salivanya dengan susah payah. Daffa menetralkan perasaanya kembali, menatap layar tv tanpa menoleh pada Lulu sedikit pun.


"Dia masih marah padaku? dari tadi begitu mengacuhkanku!"


"Apakah aku harus--- , apa dengan cara ini aku membujuknya agar dia tidak marah lagi?"


Lulu bergumam dalam hati, memandang Daffa yang tidak menatapnya sedikit pun. Hingga Lulu memiliki ide agar sang suami tidak marah lagi padanya. Lulu tersenyum seringai, lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri sang suami yang teramat ia cintai.


Lulu tiba-tiba menduduki suaminya tepat dipangkuan Daffa, memegang kedua pipi suaminya dengan kuat lalu mendorong kepalanya untuk ******* bibir ranum nan seksi itu, sangat menggiurkan. Daffa tersentak, ia tercengang hingga melototkan kedua matanya. Serangan Lulu begitu tiba-tiba, Daffa tak menyangka sang istri seagresif itu padanya.


Eeemmh,


Dengan rakusnya Lulu melahap bibir itu, rambutnya yang basah membuat air menetes sedikit demi sedikit membasahi baju Daffa. Daffa semakin mengerang, Lulu semakin agresif hingga ia berpindah tempat menelusuri tengkuk leher suaminya. Tiba-tiba ubi kayu mengeras, pertanda ia ingin lebih dari ini. Dengan segera Daffa mendorong tubuh Lulu diatas kasur, meraih handuk yang meliliti tubuhnya lalu melepaskan handuk tersebut.


Ceklek,


Lulu dan Daffa menoleh pada pintu yang baru saja handle-nya ditekan lalu sedikit demi sedikit pintu terbuka dan mempelihatkan sosok Lio dari celah pintu. Lulu terkejut, ia langsung meraih handuknya dan secepat kilat berdiri tegak dengan perasaan gugupnya.


Sial,


"Ammi ngapain?"


°


°


°

__ADS_1


__ADS_2