Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
84. Lulu terluka


__ADS_3

Acara pun telah selesai dan hari sudah larut malam, semua para tamu sudah meninggalkan resepsi pernikahan Tari dan Ferdi, begitu pun Lulu dan Rani yang telah pamit pulang. kini kedua pengantin itu sudah berada dirumah Orangtuanya Ferdi tepatnya mereka ada dikamar suami Tari.


Setiba didalam kamar, Ferdi langsung mengunci pintu kamarnya dan segera menggendong Istrinya yang sedang memandang kamar yang penuh dengan mawar itu.


"Aaaaah Ferdi, kamu buatku terkejut!" ucap Tari yang sudah digendong Ferdi.


"Sayang, aku akan memakanmu malam ini" ucap Ferdi menggoda.


"Ah sayang, gak mau ah takut" rengek Tari.


"Tenang saja, aku akan memakanmu dengan pelan" ucap Ferdi yang langsung membaringkan Tari diatas tempat tidur yang penuh mawar merah itu. Ferdi pun membuka gaun Tari namun Tari segera menghalangi tangan suaminya untuk membuka gaun itu.


"Ih jangan dulu lah, Malu.." ucap Tari segera berdiri lalu mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi.


"Sayang, kenapa harus malu sih kan kita sudah sah" teriak Ferdi mendekati pintu lalu mengetuknya.


"Nanti deh, aku mandi dulu, bau tau" sorak Tari dari dalam. sedangkan Ferdi terus bersabar menunggu istrinya segera keluar dari kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Tari keluar dari kamar mandi. dilihatnya Ferdi tengah tertidur diatas kasur karna kelelahan menunggu Tari dan juga berdiri seharian dipelaminan membuatnya sangat lelah hingga tertidur.


"Aman" gumam Tari mengelus dadanya. Tari segera menuju ruang ganti, mengambil bajunya lalu memakai pakaian santai itu. Tari segera membaringkan tubuhnya diatas kasur dan dalam sekejap ia pun terlelap dengan sangat nyenyak.


*


*


*


Keesokan harinya, Lulu sudah terbangun dari tidurnya. ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya karna sebentar lagi ia akan kembali bekerja.


Lulu berdandan dengan sangat cantik kali ini beda dari biasanya, setelahnya ia pun sarapan pagi yang telah diantar bi tuti kekamarnya. setelah sarapan, Lulu pergi ke garasi untuk mengambil mobilnya. kali ini Lulu akan mengemudikan kembali mobilnya setelah sekian lama. ia cukup yakin mengendarainya karna waktu ia mengantar Nathan yang pusing terpaksa ia membawa mobil. sejak itu Lulu kembali memberanikan diri.


"Daffa sudah berangkat, bi?" tanya Lulu yang melihat Bi ningsih sedang menyiram tanaman.


"Sudah, Nyonya.. sejak daritadi" ucapnya.


"Baiklah bi, Lulu pergi dulu yaa.. Assalamualaikum" pamit Lulu langsung mengendarai mobilnya.


"Waalaikumsalam.. sopan sekali Nyonya itu" gumam Bibi yang memegang selang air.

__ADS_1


Diperjalanan, Lulu melewati jalan motong biar cepat sampai dan tidak terjebak kemacetan. Lulu sudah tau dimana saja jalan motong yang membuat dirinya sampai ketempat.tujuan dengan cepat.


Dibelakang mobil Lulu, ada seseorang yang mengikutinya. Lulu pun merasa was-was karna daritadi Lulu sempat memerhatikan mobil itu. Lulu pun mempercepat laju mobilnya agar segera terhindar dari mobil itu. tapi sayang, mobil itu sangat cepat hingga bisa melewati mobil Lulu lalu menghalangi jalannya.


"Sial!!" gumam Lulu memukur setir mobil.


Orang itu pun keluar, ada empat orang yang berwajah sangar dan bekulit coklat datang menghampiri Lulu.


"Buka woi!" suruh preman itu.


"Mau bermain-main denganku yaa" gumam Lulu. lalu Lulu melihat pria itu yang berdiri tepat didepan pintu mobilnya dan


buugh!!


Preman itu terjatuh ke tanah karna Lulu yang tiba-tiba membuka pintu dengan kencang dan kuat. Lulu pun menendang Pria yang lain dan tangannya memukul wajah pria yang lainnya lagi, membuat mereka terpental. Pria yang terjatuh tadi segera berdiri lalu ingin memukul perut Lulu, Lulu yang siap dengan serangan empat orang itu pun langsung menendang adik kecil milik pria yang ingin meninju perut Lulu.


"Kurang ajar kau!" geram preman yang lain.


"Ayo kemarilah hajar aku!" ucap Lulu menantang. Pria itu pun diam-diam mengambil pisaunya dan lalu menyerang Lulu, Lulu yang mengelak pun na'as bahunya terkena pisau hingga ia berdarah tapi masih bisa ia tahan.


"Aaaaw" rintih Lulu memegang bahunya.


"Berhentilah tertawa!!!!! hiyaaaaaaak....."


bugh bugh bugh puaaaak.....


terjatuhlah mereka dengan pukulan Lulu yang keras itu. ternyata keasyikan tertawa, keempat pria itu belum siap mendapati serangan.


"Rasain!!" ucap Lulu yang melihat mereka sudah tersungkur ditanah. hingga Lulu mendekatinya dan kembali memukul mereka hingga menendannya.


"Aampun ampun...." pinta salah seorang pria.


Lulu pun segera pergi menaiki mobilnya menuju kantor, tapi sebelum itu ia singgah ke apotik untuk membeli perban, betadine dan alat untuk mengobati lukanya. setelahnya ia melajukan mobilnya ke gedung perusahaan itu.


Lulu pun keluar dari lift sambil memegang bahunya menutupi luka agar tidak terlihat dengan yang lain.


"Lulu, kamu kok bisa telat" ucap Roni yanh menyamperin Lulu.


"Saya kesiangan, Maaf tuan" ucap Lulu menahan sakit.

__ADS_1


"Kamu kenapa kok pucat? ada apa lenganmu?" tanya Roni yang memandang wajah Lulu yang pucat dan berkeringat.


"Saya tidak apa apa, tuan. permisi" pamit Lulu dan segera duduk dikursinya. Roni yang curiga pun mengikuti Lulu secara diam-diam tanpa sepengetahuan Lulu, saat Lulu melihat lukanya, Roni menganga ia sangat terkejut melihat luka Lulu.


"Ya ampun, pantasan dia pucat" gumam Roni. Roni pun mendekatinya setelah memerhatikan Lulu dari balik dinding.


"Lulu, biar saya obati" pinta Roni.


"Eh eh bapak, apa yang diobati?" ucap Lulu terkejut dan menyembunyikan lukanya.


"Jangan pura-pura Lulu! kamu terluka!" ucap Roni lalu melihat luka dilengan Lulu.


"Ya ampun, ini harus dibawa ke rumah sakit" ucap Roni. Lulu pun terkesiap melihatnya.


"Tidak perlu, saya bisa obati sendiri" tolak Lulu.


"Baiklah, kebetulan aku ahli dalam bidang ini, biar saya yang mengobati" ucap Roni dan Lulu pun mengangguk-angguk.


Disaat Roni sedang serius mengobati luka Lulu, Daffa pun keluar dari lift bersama kekasihnya Sheila. dari jauh Daffa dapat melihat bahwa Lulu dan Roni saling berdekatan. dalam pandangannya dari jarak jaauh itu, Daffa melihat Roni seperti menatap dada Lulu dengan lekat. padahal nyatanya tidak, kenyataannya Roni sedang mengobati bahu Lulu. wajar saja kalau dari jauh seperti menatap dada.


"Dasar Assisten dan istri kurang ajar!" gumam Daffa dalam hati.


Daffa pun merasa panas dan marah tapi bisa bersikap tenang apalagi disampingnya ada Sheila yang menggandengnya. Daffa pun berjalan dengan gagahnya hingga melewati Lulu dan Roni. Daffa enggan melihat mereka apalagi Roni yang seperti mesum.


"Aku sedang terluka, tapi dia hanya bersikap aku ini tiada dan tak menoleh sedikitpun" gumam Lulu dalam hati dan matanya mulai berkaca-kaca.


Padahal Daffa mengira mereka sedang bermesraan, makanya Daffa enggan untuk menoleh.


Β°


Β°


Β°


Β°


Dukung aku dengan Vote, Like and Koment.


Terima kasih πŸ˜ŠπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2