Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love

Pengkhianatan Cinta: 2 Heart Will Love
255. TAMAT (happy/sad ending?) check it out!


__ADS_3

Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hingga hari pun berganti hari. begitulah sekiranya perubahan waktu di dunia ini yang rasanya begitu cepat berlalu. Matahari yang enggan berlama-lama menyapa manusia ataukah manusianya yang terlalu larut dalam beraktifitas hingga tidak menyadari pergantian hari yang begitu cepat? entahlah, semuanya emang sudah ditentukan oleh yang maha kuasa.


Pagi ini anak-anak tampak begitu dekat bersama suster Ayu, mereka mengabaikan sang Ibu dari kemarin. entah apa masalahnya, tidak biasanya anak-anak bersikap seperti ini. Lulu begitu sedih, ia duduk di balkon sembari menatap ke depan dengan mata yang tidak berkedip sama sekali. Lulu teringat, anak-anak mengajak suster untuk sarapan pagi di ruang keluarga, sedangkan Lulu dan Daffa makan berdua di meja makan. dan kini setelah sarapan, mereka menarik tangan suster untuk ke ruang main dengan pintu yang sengaja dikunci dari dalam. Lulu benar-benar tersisihkan dan hanya bisa mencurahkan hatinya pada suami.


"Apa salahku? mengapa mereka mengabaikanku? apa karna Ayu yang membuat mereka begitu rindu hingga menyisihkan aku?" gumam Lulu bicara sendiri. hingga tidak terasa buliran air matanya membasahi pipi chubby sang Ibu. Maklum, Lulu tidak biasa diginikan. Ia telah terbiasa menghabiskan waktu bersama anak-anak, membaca surah pendek, belajar membaca dan menulis. Namun kini ia dicueki oleh ketiga anak yang ia kandung saat dulu.


Berjam-jam Lulu menduduki tubuhnya dikursi balkon itu, berharap hari segera menjelang siang agar ia bisa pergi ke kantor suaminya. Lulu merasa jengah disini.


"Kenapa jam lama sekali? baru pukul 10 pagi" gerutu Lulu melihat ponselnya. Lulu pun bangkit, beranjak berdiri untuk memasuki kamarnya. Lulu keluar kamar, ingin mengambil air minum dan cemilan. diliriknya ruang bermain, masih tertutup rapat. Lulu mendesah kesal, menuruni tangga dengan malas namun sampai juga hingga kedasar. dengan langkah malasnya, Lulu ke dapur untuk mengambil yang ia inginkan.


"Bi, brownies semalam mana?" tanya Lulu pada Bi Tuti yang sedang mengepel lantai.


"Sudah dibawa Nona barusan, Nya" ujar Bibi. Lulu pun kembali memasang wajah cemberutnya lalu meminta air putih pada bibi. Lulu tidak ingin mengambil sendiri Karna lantai yang basah dan nantinya akan berbekas telapak kaki Lulu.


"Ini, Nya" ucap Bibi memberi segelas air putih.


"Terima kasih" Lulu pun pergi ke kamarnya, menatap ruangan itu kembali dan masih tertutup rapat.


"Ah ntahlah" geram Lulu kesal.


Suara tapak sepatu begitu menggelegar di gendang telinga Lulu, Lulu melihat kebawah, ternyata Yura sudah pulang pada jam segini dan ia pun berlari menaiki tangga. Lulu terpaku, memandang anak sulungnya yang fokus menatap anak tangga hingga Yura pun telah tiba dilantai atas.


"Kenapa pulang jam segini?" tanya Lulu. Yura tak menoleh sedikit pun.


"Rapat" jawabnya singkat tidak melihat wajah sang ibu.


Lulu pun semakin mendesah kesal, membuang nafasnya dengan kasar dan kembali berjalan memasuki kamarnya.


Bruk!!


Lulu membanting pintu dengan kuat. Lulu pun menduduki dirinya diatas dikasur, menyalakan televisi menonton drama yang bisa membuatnya tertawa dan terhibur. Namun tidak ada ekspresi sama sekali dari raut wajah itu, walaupun drama komedy memang benar-benar lucu. Lama Lulu menonton, tidak ada yang membuatnya terhibur. Lulu semakin bosan, melihat jam didinding sudah menunjukkan pukul sebelas.


"Ah ke kantor sajalah" gumam Lulu segera bangkit. ia pun mengganti pakaian dengan dress yang begitu cantik agar sang suami semakin cinta padanya. Setelahnya Lulu merias diri dengan dandanannya yang flawless, sangat manis dan cantik, istri siapa gitu loh!


Lulu meraih tas, memakai sepatu pansus dan berjalan keluar kamar dengan pintu yang ditutup tanpa dikunci. Lulu menuruni tangga dengan cepat, berjalan menuju garasi. Lulu mengambil kunci yang tersimpan didalam penyimpanan kunci, mengambil kunci mobilnya dan menyalakan mobil itu. Lulu membuka pintu jok depan tepatnya bagian kemudi. saat Lulu ingin menyalakan mobil itu, tiba-tiba mobil berjalan seperti keong saja membuat Lulu begitu heran.


"Ada apa ini?" gumam Lulu bingung dan segera menuruni mobilnya. Lulu melihat ban mobilnya, mengerutkan kening saat melihat salah satu ban tampak bocor hingga Lulu beralih pada ban lainnya, semakin tercengang melihat ban mobil yang dibelakang juga bocor.


"Astaga, bagaimana bisa bocor keduanya??" gumam Lulu bingung. ia pun menepuk jidat merasa frustasi dengan keadaan ini.


"Motor malah dipakai Vivi lagi. oh iya, pengawal Yura!" ucap Lulu memiliki ide. segera ia berlari ke depan, tidak melihat mobil pengawal yang terparkir di pekarangan rumah itu.


"Sial!! mereka kemana lagi!" gerutu Lulu. Lulu berdecak kesal, kembali memasuki rumah dengan wajahnya yang ditekuk. Lulu berjalan cepat menuju kamarnya, menaiki tangga hingga Lulu melihat pintu kamarnya yang terbuka. Lulu menatap heran, ia berfikir anak-anaknya yang memasuki kamar itu.


"Yura" gumam Lulu tersenyum senang, ia pun mempercepat langkahnya menaiki tangga tersebut. Hingga kakinya sudah berpijak pada lantai 2, Lulu pun berlari menuju kamarnya yang terbuka. Namun alangkah terkejutnya, Lulu melihat dengan tatapan yang tidak percaya dengan pemandangan itu. jantungnya terhenti seketika, ia tak percaya pada orang yang selama ini ia percayai, ia kagumi namun kini ia malah merogoh perhiasan milik Lulu didalam laci tersebut. entah darimana ia mendapatkan kunci hingga bisa membuka laci itu.


"Ayu!!" teriak Lulu melotot. nafasnya tengah menggebu-gebu, amarahnya kini membuncah melihat pemandangan itu. Ayu yang kaget telah ketahuan mencuri pun terpaku, terdiam bahkan tubuhnya terasa kaku untuk bergerak. Lulu menatapnya tajam dari balik punggung itu, mata matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan kejahatan yang berada tepat didepan matanya. Lulu menghampiri pengasuh anaknya, menarik bahu itu untuk menghadap pada dirinya.


Ayu yang merasakan langkah Lulu semakin mendekat, ia mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya dan ketika Lulu menarik bahunya, Ayu pun langsung menyodorkan benda tajam yang melekat erat pada tangan kanannya. sedangkan tangan kiri memegang kresek yang sudah berisi perhiasan Lulu yang ia curi. Sontak Lulu pun kaget, matanya melotot melihat benda tajam itu.


"Jangan mendekat!" peringat Ayu berjalan pelan menuju pintu. Lulu pun terdiam, menatap pisau itu dan berencana untuk merebutnya dari tangan si pengkhianat. Lulu menggerakkan kakinya, bersiap untuk menendang perut Ayu. Namun rencananya gagal telak, seseorang memukul tengkuk leher Lulu dengan tangannya. Sontak Lulu pun pingsan seketika.


Ayu tersenyum seringai, begitu pun orang yang bersamanya. ternyata Ayu begitu berbeda dari perkiraan Lulu.


"Akhirnya rencana kita berhasil" ucap Ayu tersenyum puas sembari melihat perhiasan yang begitu banyak sudah berada digenggamannya.

__ADS_1


***


Kini Lulu berada didalam sebuah tempat yang begitu asing. Ayu dan temannya tampak meminum minuman kaleng sembari tertawa lepas mengingat kejadian tadi. sudah menjelang sore, Lulu belum juga tersadar. Ayu dan temannya pun memilih pergi meninggalkan tempat itu. Merasa bosan dan jenuh berada disana berjam-jam lamanya.


Hari pun sudah semakin gelap, jam menunjukkan pukul tujuh malam. Lulu terbangun dari tidur panjangnya, mengerjap-ngerjapkan mata tidak bisa melihat apapun.


"Kenapa gelap sekali? dimana aku?" gumam Lulu mencoba untuk beranjak bangun menduduki tubuhnya. Namun Lulu merasa kesusahan, meringis kesakitan merasakan lehernya yang kaku. mungkin saja terkilir akibat pukulan mendadak itu.


"Aaagh!! sakit sekali" rintih Lulu memegang tengkuk lehernya. Lulu menduduki tubuhnya pelan-pelan sembari memegang leher itu.


"Apa yang terjadi padaku? aaaagh!" rintih Lulu kembali. Lulu pun teringat, ia bisa menyembuhkan lehernya yang terasa kaku hingga akhirnya leher Lulu pun kembali lebih baik seperti semula. Lulu merogoh saku dress yang ia kenakan, meraba saku untuk mengambil ponsel. Namun sayang, ponsel itu tidak ada didalam sakunya membuat Lulu semakin erang merasa kesal dan teramat kesal dengan kejadian hari ini. Hingga Lulu teringat akan Ayu yang mencuri perhiasannya dan mencoba untuk membunuhnya. Lulu pun terduduk menghempaskan bokongnya pada sofa itu. Seketika Lulu menangis mengingat orang yang ia percaya telah berkhianat. Lulu pun teringat pada ketiga buah hatinya hingga Lulu tersentak dan kembali berdiri.


"Yura, Lio, Fio! astaga anakku!" ucap Lulu khawatir. Lulu pun berjalan dengan cepat sembari meraba area sekitarnya. tempat itu benar-benar gelap hingga membuatnya bingung sedang berada disana.


"Nak, tunggu ammi.. hiks hiks" lirih Lulu menangis hingga tangannya pun menyentuh handle pintu. Lulu segera membukanya, untung saja pintu itu tidak terkunci hingga Lulu lebih leluasa untuk keluar dari sana.


Lulu tersenyum tipis, kembali meraba area sekitarnya hingga kakinya tersentuh sebuah tangga membuat Lulu tersungkur kedepan.


"Shit!" umpatnya kesal. Lulu kembali berdiri, menaiki tangga yang memiliki beberapa anak. Hingga Lulu pun mendapati sebuah pintu yang terbuat dari besi. Lulu mengedor pintu itu dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang menggelegar. Lulu kembali meraba mencari letak handle pintu tersebut. Lulu mencoba mendorong pelan, senyum tipis terukir di bibir itu.


"Tidak terkunci. tapi ini dimana?" gumam Lulu lalu mendorong pintu itu dengan kuat.


Lulu merasakan desiran angin yang begitu kencang, menggoyangkan rambut dan bajunya ke kanan kiri. tempat itu sangat gelap, Lulu hanya bisa melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi sejajar dengan posisinya kini. gedung itu pun juga gelap, membuat tubuh Lulu bergidik ngeri membayangi suasana yang mencekam ini.


Satu persatu lampu menyala kerlap-kerlip berwarna warni. Lampu tumbler namanya, lampu mini yang memiliki panjang beberapa meter dan lampunya yang berwarna-warni. Lulu tercengang menyaksikan itu lalu disusul oleh lampu pijar yang berwarna putih hingga memperlihatkan semua anggota keluarga dan teman-teman yang berdiri menatap Lulu sembari mengejutkannya.


...Surprise........


Lulu tercengang, terpaku, terkejut, semua bercampur aduk yang ia rasakan. Lulu menutup mulutnya yang menganga, mata yang melotot melihat sekitarnya.



"Bajuku, kenapa berubah menjadi dress putih dan tanpa lengan? kenapa aku baru menyadarinya?" gumam Lulu bingung.


Ehem!! Ehem!!


Daffa berdehem membuyarkan lamunan sang istri. Lulu pun kembali menatap sang suami.


"Sayang, kamu pasti terkejut dengan kejutan ini bukan? aku merencanakan ini semua dari kemarin hingga aku bekerja sama dengan Ayu, buah hati kita dan pada semuanya yang menghadiri acara ini-" ucap Daffa berhenti sejenak. Lulu pun terperanjak, ia kaget hingga melototkan mata menatap suaminya.


"Apa!!" teriak Lulu pelan.


"Ssssst, ammi. Appi, kenapa bertele-tele? ayo sampaikan" bisik Yura yang dapat didengar oleh Lulu. Lulu pun dengan polosnya semakin bingung.


"Sayang, terima kasih sudah bersamaku dan anak-anak kita selama sepuluh tahun ini. dari awal pernikahan, aku begitu ingat bahwa kita sering bertengkar, hingga kamu mendiamkanku selama sebulan lebih. Aku juga salah selama itu masih belum memahami perasaanku. Hingga pada akhirnya aku sadar dan kamu menerimaku kembali. Aku sungguh terharu, Lu. lika liku rumah tangga kita lalui bersama hingga Ayura mewujudkan keinginan kita untuk melengkapi keluarga yang kita bina. Aku begitu bahagia bersama kalian berdua, ditambah lagi dengan kehadiran si kembar yang membuat hidup kita telah sempurna." ucap Daffa dari dalam lubuk hatinya hingga ia mengeluarkan setetes air mata dari pelupuk matanya. Begitu pun Lulu, ia terharu mendengarkan ungkapan itu membuat matanya berkaca-kaca.


Daffa menepuk kedua tangannya seolah memanggil seseorang. Seseorang itu datang dengan membawa satu set kotak perhiasan dan memberikannya kepada Daffa. Lulu terkejut melihat seseorang itu adalah Ayu yang mengedipkan sebelah mata kepadanya.


"Ayu??" gumam Lulu bingung. hingga ia pun beralih kepada suaminya. Daffa berlutut, membuka tutup kotak perhiasan yang berwarna merah berbentuk hati. Lulu terperangah melihat satu set perhiasan yang terbuat dari berlian. melihatnya saja membuat siapa saja begitu tertarik.


"Maukah kamu selamanya bersamaku? bersama ketiga buah hati kita hingga kita berdua memiliki cucu, cicit dan bersama-sama mencapai syurganya Allah?" tanya Daffa menatap mata Lulu dengan lekat. dengan cepat Lulu pun mengangguk, hingga air mata yang ia tahan tadi pun terjatuh membasahi pipinya.


"Tanpa kamu tanya, aku pasti bersedia untuk selalu bersama kamu dan buah hati kita" ujar Lulu tersenyum haru. Lulu pun berlutut, memeluk ketiga buah hatinya yang turut terharu.


"Ammi, Yura sayang ammi" lirih Yura dipelukan sang Ibu.

__ADS_1


"Lio juga Mi" lirih Lio pula.


"Fio juga sayang dan cinta sama ammi. maafkan kami beberapa hari ini mencueki ammi karna itu idenya appi" ujar Fio menunjuk appinya yang tersenyum kecut.


"Astaga yaang.. ternyata kamu yang membuat aku menderita tanpa anak-anak" ucap Lulu memukul lengan suaminya dengan pelan. Daffa pun terkekeh, menghapus air matanya yang mengalir lalu memeluk anak dan istrinya dengan berlutut didepan sana.


Semua orang pun ikut terharu melihatnya, mereka begitu bahagia melihat keluarga itu yang penuh cinta dan kasih sayang. Mama Sarah memeluk mama Sonya, sedangkan papa Mahesa memeluk papa Adi dengan rasa haru yang membuncah.


"Tak sia-sia kita menjodohkan anak kita" ujar papa Mahesa.


"Sudah ku bilang, Daffa yang terbaik walau awalnya benci hingga menjadi cinta" ujar papa Adi tersenyum. Mereka tau benar bagaimana perasaan anak mereka masing-masing. Vivi yang ikut terharu pun sontak memeluk kekasihnya yang seorang dokter muda spesialis paru, yang tak lain adalah Varrell.


"Eeeeeits!!!" teriak teman-teman Lulu dan Daffa yang tak lain adalah Tari, Rani, Karin dan pasangan mereka. sedangkan Ayu, Dimas, Bibi dan Mamang hanya diam sembari terkekeh menyaksikan hebohnya mereka. Lulu dan Daffa yang mendengar kehebohan itu langsung menoleh ke belakang dan beranjak berdiri.


"Apaan kak?" tanya Vivi polos.


"Married dulu.... baru berpelukan" sorak mereka serempak hingga tertawa lepas menggelegar diatas gedung itu. Vivi dan Varrell pun menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal, merasa malu jadi bahan tontonan.


"Minggu depan aku akan melamar Vivi" seru Varrel menatap kedua orangtua kekasihnya.


"Cieeee.... cieee... buruaaan!!" sorak Lulu dengan kuat.


"Aman itu kak. ayo cepatlah potong kuenya!" ujar Varrell setengah berteriak.


"Potong! potong!!" seru semua orang bertepuk tangan.


"Ayo ammi, appi, cepat potong!" sorak Yura yang ikutan tidak sabar.


"Baiklah, sebelumnya kita pasang pemanis dulu buat bidadari surgaku" ucap Daffa tersenyum. Daffa pun membuka kotak perhiasannya, memasang kalung dileher Lulu yang bertulisan DafLu melekat pada Love yang memiliki permata. Lalu beralih pada cincin berlian dan juga gelang yang melingkari pergelangan mungil itu.


Kini beralih memotong kue yang begitu tinggi, menggunakan pisau panjang untuk memotongnya. Lulu dan Daffa pun saling suap-suapan lalu beralih pada sang buah hati yang melengkapi hidup mereka. tak lupa juga pada kedua orangtua yang begitu mereka sayangi dan berusaha keras membesarkan Daffa dan Lulu.


"Happy anniversary ke 10 tahun sayang" ucap Daffa menatap sang istri. Lulu pun tersenyum hingga Daffa mengecup dahi sang istri yang teramat ia cintai.


"Mau anak lagi? "


"Haaaah????"


"Tutup mulutmu! atau aku makan sekarang"


"Oh tidak."


"Baiklah, ucapkan perpisahan dulu pada readers yang telah setia mengikuti kita selama 10 tahun ini."


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Kini Daffa, Lulu dan buah hati mereka pun hidup dengan bahagia, damai dan tentram. Cinta yang begitu kuat diantara mereka pun tidak akan mempan untuk pelakor atau pebinor yang mencoba masuk dari celah rumah tangga mereka. Kekuatan cinta dan kasih sayang mereka yang akan merobohkan segala bentuk kejahatan yang ingin merusak rumah tangga itu.


Pengkhianatan cinta, yang berawal penuh pengkhianatan kini telah berubah saat kedua hati tumbuh menjadi cinta dan Tuhan pun mempersatukan mereka, Daffa dan Lulu.


...****************...


...TAMAT...


😊😊

__ADS_1


__ADS_2